Bab 9-Kenangan

1545 Words
Dinda masih terisak di dalam taksi, sementara dua sahabat itu menggenggam erat tangannya. Ketiga sahabat duduk di jok belakang, sementara kendaraan roda empat itu melaju kencang meninggalkan area Mal. "Din, ngapain lo tadi diem aja? Harusnya jangan lo biarin tuh pelakor. Suami lo itu ganteng dan tajir, udah pasti itu cewek mau morotin doang," cicit Ayu. Dia masih tidak terima melihat Putra bersama wanita lain. "Iya, Din. Lo jadi istri jangan lemah. Masak lo biarin suami seganteng Putra jalan sama perempuan lain? Lo kan istri sahnya," tambah Revi. Dinda masih terdiam sambil terisak. Dadanya terasa nyeri mengingat betapa cantiknya pacar suaminya. Entah kenapa hatinya seperti diremas-remas mengingat betapa manjanya gadis itu kepada suaminya. Apalagi Putra yang biasanya dingin dan acuh terlihat begitu perhatian pada wanitanya. Ah, apa mungkin Dinda cemburu? Apa mungkin dia telah jatuh cinta pada suami kutubnya itu? "Kita ke mana ini, Mbak?" tanya sopir taksi. "Ke perumahan Royal Residence, Pak," jawab Revi. "Tidak, jangan! Kita ke kampus Unesa saja, Pak," sahut Dinda sambil menghapus air matanya. "Ngapain ke kampus lagi, Din?" tanya Ayu heran. "Mas Putra akan menjemput gue satu jam lagi," jawab Dinda membuat Revi dan Ayu saling memandang. Namun, kedua sahabat Dinda itu tidak lagi menanyakan apa pun. Mereka tidak ingin terlalu memaksa Dinda karena mereka tahu jika sahabatnya itu sedang syok. Ayu dan Revi yakin jika Dinda pasti akan bercerita sehingga mereka tidak mendesaknya. Suasana kampus Unesa sudah sepi saat taksi yang ditumpangi ketiga sahabat itu tiba di depan pintu utama. Mereka segera turun dan duduk di kursi taman. Embusan angin tampak merontokkan beberapa daun kering yang berjatuhan di halaman kampus tempat mereka menuntut ilmu itu. "Kalian sudah tahu bukan, bagaimana hidup gue yang sebenarnya," ucap Dinda lemah setelah ketiganya duduk di taman depan kampus Unesa. "Apa maksud lo, Din?" tanya Revi tak mengerti. Gadis manis bertubuh mungil itu mendekat ke arah Dinda dan merangkul pundak sahabatnya. "Wanita itu adalah pacar Mas Putra dan mereka saling mencintai," jawab Dinda dengan kedua matanya berkaca-kaca. "What? Jadi--" Ayu membungkam mulutnya sendiri tanpa berniat meneruskan ucapannya. Kini dia tahu mengapa sahabatnya menolak ajakannya untuk melabrak wanita itu tadi di Mal. "Kelembutan, keromantisan dan perhatian yang kalian lihat dari suami gue adalah sandiwara. Kehidupan gue bersamanya tidak seindah yang kalian lihat. Semua penuh kepura-puraan." Dinda memejamkan mata, mencoba menahan air matanya agar tidak terjatuh lagi. Dinda menceritakan semua kepada dua sahabatnya. Tentang perjodohan, sikap dingin Putra dan niat lelaki itu untuk bercerai darinya nanti setelah tujuan utama tercapai. Revi dan Ayu ikut menangis, keduanya memeluk erat tubuh rapuh Dinda. "Maafin kami, Din! Kami benar-benar gak nyangka kalau Putra seperti itu. Terus rencana lo apa?" tanya Revi setelah melepas pelukannya. Dinda menggeleng. "Lo mencintai Putra?" tanya Ayu sambil menatap lekat kedua mata sahabatnya. "Gue nggak tau dan juga nggak ingin tahu. Jatuh cinta padanya sama saja menggores luka baru di hati. Dia selalu membuat hati gue sakit." Dinda menghapus cairan bening yang mulai muncul di sudut matanya. "Udah, Din. Lo jangan nangis. Kami pasti bantu lo buat hadapi semua ini. Jika lo perlu bantuan kami, kami akan selalu siap mendukung lo," ucap Ayu memberikan semangat. "Terima kasih, Beb. Kalian memang benar-benar sahabat yang bisa diandalkan," balas Dinda. Ketiganya kembali berpelukan. "Oiya, Din. Lo udah tahu belum kalau minggu depan Satriyo pulang?" tanya Revi mengalihkan topik pembicaraan. Dinda terkejut dan memandang sahabatnya itu penuh tanya. "Dari mana lo tahu?" tanya Dinda. "Aku baca di IG storynya Bang Arya. Satriyo ngetag abangku, kalo dia akan pulang minggu depan pas liburan semester," jelas Revi. Arya adalah Kakak laki-laki Revi kebetulan teman seangkatan Satriyo saat masih SMA. "Oh," balas Dinda dengan pikiran menerawang. Entah kenapa bayangan Satriyo kembali hadir dalam benaknya. Pria tampan berambut gondrong yang pernah mengisi hatinya itu memang belumlah tergantikan posisinya di hati. Namun, semenjak hidup bersama Putra, gadis itu merasa berdosa telah menyimpan perasaan pada lelaki lain selain suaminya. Meskipun Putra menganggap pernikahan mereka hanya sandiwara, tetapi tidak bagi Dinda. Baginya janji suci pernikahan adalah hal yang sakral. Sebagai seorang wanita, tentu Dinda ingin menikah hanya sekali. Namun, bisakah dia bertahan dengan lelaki sedingin kutub utara seperti Putra. "Apa lo masih cinta pada Satriyo?" tanya Revi membuyarkan lamunan Dinda. "Entahlah, Rev. Gue gak tahu," balas Dinda lirih. "Kalo lo emang udah gak nyaman dengan pernikahan ini, mending jujur sama mertua lo, Din. Mereka pasti ngerti. Pernikahan itu untuk mencari kebahagiaan. Jika lo gak bahagia, ngapain dipertahankan. Apalagi Putra gak pernah menghargai elo," tutur Ayu bijak. "Betul, gue sependapat dengan Ayu," sahut Revi. "Semua tak semudah itu. Kalian gak tahu kalau hutang Papa gue pada Papi itu sangat besar. Kalau gue lari dari pernikahan ini, terus Papi menarik dananya dari perusahaan Papa, gue bisa apa? Gue hanya ingin membahagiakan Papa, meskipun itu akan mengorbankan kebahagiaan gue sendiri. Hanya Papa satu-satunya yang gue punya sekarang," ujar Dinda sambil kembali menitikkan air mata. Semenjak kepergian mamanya, Dinda memang hanya memiliki sang Papa sebagai sandaran hidupnya. Hanya lelaki paruh baya itu yang begitu tulus menyayanginya meski terkadang suka memaksakan kehendak. Namun, Dinda yakin, papanya hanya ingin membahagiakan dirinya. "Bagaimana seandainya Satriyo ingin balikan sama elo, Din?" tanya Revi. "Itu tidak akan mungkin. Gue gak mau berandai-andai, Rev. Satriyo sudah gak ingin mengingat gue. Dia udah gak cinta sama gue." Dinda membuang pandangannya dari kedua sahabatnya. "Kenapa lo berpikir begitu? Bukannya Satriyo sangat mencintai elo?" tanya Ayu. "Kalau dia cinta sama gue, dia gak akan minta kami putus. Kita akan baik-baik saja meskipun harus LDR, tapi nyatanya apa? Dia mutusin gue. Mungkin di New York dia sudah punya cewek lain, siapa yang tahu? Udahlah gue tak berharap lagi pada masa lalu. Gue jalanin aja takdir ini," ucap Dinda lirih. Revi dan Ayu hanya terdiam tak berniat membahas Satriyo lebih dalam lagi. Tampaknya Dinda juga sudah putus asa dengan kisah cintanya dengan Satriyo. Tak berapa lama sebuah mobil mewah berhenti di depan kampus. Dinda segera berpamitan pada dua sahabatnya. "Jangan lupa pesta topeng di rumah Linda minggu depan. Usahakan Putra mengizinkan elo ikut. Lo harus ikut, Din. Lo butuh hiburan," ucap Ayu mengingatkan. "Iya, iya gue ngerti. Mas Putra pasti ngizinin. Justru dia senang kalau gue pergi party. Dia pasti bakal sibuk sendiri dengan pacarnya. Dia tidak pernah mengekang gue," jawab Dinda enteng. Setelah cipika-cipiki dengan kedua sahabatnya, Dinda masuk ke mobil Putra. Mobil mewah itu kemudian melesat membelah jalanan kota Surabaya. Tidak ada obrolan diantara keduanya. Meski hati Dinda masih sakit mengingat pertemuannya dengan pacar suaminya di Mal, tetapi gadis itu enggan membahasnya. Dia cukup tahu diri, jika Putra memang tidak pernah menganggap serius pernikahan mereka. Sementara Putra yang tidak tahu kalau istrinya melihat dirinya bersama Safira di Mal bersikap biasa. Sikap dingin dan acuh sudah menjadi tabiatnya saat hanya berdua dengan Dinda. Tak berapa lama, mobil mereka sudah memasuki kawasan Royal Residence. Di sore hari seperti ini, taman-taman di tengah komplek perumahan tampak ramai. Banyak anak-anak bermain bola, sepeda bahkan lari-lari. Suasana hening di dalam mobil. Mereka bagaikan dua orang yang tidak saling mengenal. "Ini, terima kasih," ucap Dinda saat mobil berhenti di depan rumah sambil menyerahkan kartu kredit kepada Putra. "Hemm," jawab pria itu seraya menerima kartu kredit dari Dinda. Dinda membuka pintu mobil dan berjalan masuk, tapi dia terkejut karena tiba-tiba tangan kekar Putra menggenggam tangannya serta menggandengnya mesra. "Dasar jago akting," umpat Dinda dalam hati. Meski sangat kesal, tetapi gadis itu tidak punya pilihan lain selain mengikuti sandiwara Putra. "Duh, yang baru pulang jalan-jalan. Kalian kemana saja tadi? Ayo, cerita sama Mami!" sambut Erlin ketika anak dan menantunya memasuki pintu utama. Dinda dan Putra saling berpandangan memberi kode. "Kami habis jalan-jalan ke Mal dan belanja. Iya kan, Sayang?" Putra menoleh ke arah Dinda yang masih kebingungan menjawab pertanyaan mertuanya. "I-iya, Mi. Tadi Dinda habis beli baju buat ke pesta ulang tahun teman," tambah Dinda sedikit gugup. Gadis itu merasa sangat berdosa harus berbohong pada mertua yang sudah sangat baik terhadapnya. Namun, dia tidak punya pilihan lain. "Ya udah, sekarang kalian istirahat dulu," ucap Erlin. Putra dan Dinda mengangguk kemudian naik ke lantai atas. Malam pun tiba. Sebelum tidur, Dinda masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ketika keluar, dia terkejut melihat Putra tidur di sofa. Gadis itu menutup mulutnya sambil menahan senyum. "Rupanya lelaki dingin itu benar-benar takut khilaf jika tidur satu ranjang denganku," gumamnya lirih. Dinda kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Suara dengkuran halus Putra sudah terdengar mengalun, rupanya lelaki itu sudah kelelahan seharian menghabiskan waktu bersama pacarnya. "Ah, mengapa begitu menyakitkan jika mengingatnya," pikir Dinda. Sampai beberapa saat, gadis itu masih sulit memejamkan mata. Lalu tangannya meraih ponsel dan berselancar di dunia Maya. Ingatannya kembali pada beberapa tahun yang lalu ketika masih menjadi anak putih abu-abu. Beberapa foto unggahannya tiga tahun yang lalu kembali di ingatkan oleh aplikasi biru itu. Foto saat terakhir dirinya bersama Satriyo di Danau kebun bibit Wonorejo. Hati Dinda bergetar mengingat kenangan masa lalu itu. Saat-saat kebersamaannya dengan lelaki yang pernah mengisi ruang hatinya. Lelaki berhati lembut dan penyayang yang membuatnya mengenal arti cinta dan persahabatan. Dia juga lelaki yang telah menggoreskan luka di hati sehingga membuatnya mengerti bagaimana rasa sakit kehilangan dan ditinggalkan. "Apakah Satriyo akan mencariku saat dia pulang nanti? Apakah masih pantas untukku mengharapkan lagi cinta Satriyo?" batin Dinda sambil tersenyum getir, tak terasa ponsel di tangan terjatuh. Harusnya dia melupakan semua. Hidupnya sudah berubah, meskipun pernikahan ini hanyalah sebuah sandiwara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD