Suasana pagi hari di kawasan perumahan Royal Residence cukup ramai. Suara lalu-lalang kendaraan yang memulai aktivitas pagi itu sudah mulai terdengar. Untuk ibukota seperti Surabaya memang pemandangan pagi seperti itu sudah biasa. Jalanan cenderung ramai dan macet di jam-jam berangkat ke sekolah maupun ke kantor.
Di salah satu rumah yang terletak di perumahan elit itu, terdengar denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring menandakan penghuni rumah sedang menikmati sarapan bersama. Obrolan hangat yang didominasi oleh Erliana Adinata membuat suasana ruang makan menjadi hidup.
Setelah tiga hari menginap di rumah Putra, Surya Adinata dan istrinya memutuskan untuk pulang ke rumah mereka setelah sarapan. Tidak lupa Nyonya Adinata berpesan pada Dinda untuk rutin meminum vitamin penyubur kandungan darinya. Hal itu membuat Putra dan Dinda saling memandang.
Lagi-lagi Dinda merasa berdosa karena telah membohongi kedua mertuanya. Bagaimana mungkin dia bisa hamil, jika Putra saja tidak pernah menyentuhnya. Ah, andaikan bisa jujur, ingin sekali gadis itu menumpahkan keluh kesahnya kepada Erlin. Wanita paruh baya itu sangat menyayanginya seperti ibu kandung sendiri.
"Pagi ini kami pulang. Papi harap kalian bisa segera mewujudkan keinginan kami," ucap Surya di tengah-tengah menyantap sarapan.
"Keinginan yang mana, Pi?" tanya Putra setelah meminum segelas air putih sambil menatap lekat lelaki paruh baya di depannya.
"Keinginan untuk segera menimang cucu, dong. Memang apa lagi," timpal Erlin membuat Dinda yang sedang mengunyah makanan jadi tersedak.
"Hati-hati kalau makan, Sayang," ucap Putra memberikan segelas air putih kepada Dinda.
Erlin yang melihat keromantisan anak dan menantunya tersenyum bahagia. Lain halnya dengan Surya yang sudah mengetahui kelakuan Putra di luar rumah. Lelaki paruh baya itu terlihat geram dengan kepura-puraan anaknya. Namun, dia hanya diam tanpa berniat membongkar kelakuan Putra di depan istrinya.
"Kayaknya Dinda belum siap untuk punya anak, Mi. Usianya masih terlalu muda. Iya, kan, Sayang?" Putra menginjak kaki Dinda di bawah meja, memberi kode pada wanita itu agar mendukung ucapannya.
"I-iya, Mi. Dinda masih belum siap," jawab Dinda gugup. Wanita itu meringis menahan sakit karena kakinya diinjak lelaki kutub itu.
"Dinda, tidak baik menunda kehamilan. Dulu usia Mami saat melahirkan Putra juga baru dua puluh tahun dan masih kuliah. Kamu tenang saja, Mami akan selalu mendampingimu nanti. Jangan lupa vitamin dari Mami di minum tiap hari, ya, Sayang!" Erlin memegang tangan menantunya dan tersenyum.
"I-iya, insya Allah, Mi."
Setelah sarapan bersama, Surya Adinata dan istrinya pamit pulang. Putra terlihat lega melihat kedua orang tuanya sudah pulang ke rumah mereka. Dia merasa kurang bebas jika kedua orang tuanya menginap terlalu lama. Lelaki itupun kemudian bersiap ke kantor.
"Mas, aku minta ijin untuk malam Minggu nanti mau ke pesta ulang tahun teman," ucap Dinda ketika Putra hendak keluar rumah. Lelaki itu berhenti dan menoleh kepada Dinda.
"Iya, pergilah! Minta tolong Alan mengantarkanmu," jawab Putra datar, lalu melangkah keluar.
"Terima kasih, Mas!"
***
Telepon Dinda berdering saat dia masih mematut diri di depan cermin. Malam itu, Dinda akan mendatangi pesta ulang tahun Linda, teman kuliahnya. Konsep pesta adalah pesta topeng, dimana peserta yang hadir harus memakai topeng yang telah disediakan bersama undangan pesta.
Para undangan wanita wajib memakai gaun berwarna putih sedangkan para pria menggunakan jas atau baju dan celana hitam. Beruntung beberapa hari yang lalu, Dinda dan teman-temannya sudah membeli gaun putih sehingga dia tidak repot mencari gaun lagi.
"Halo Dinda, gue dan Ayu sudah menunggu di depan water park." Suara Revi di seberang telepon.
"Iya, ini gue udah mau berangkat. Tunggu, ya!" Dinda menutup teleponnya. Sebelum berangkat, wanita itu menatap pantulan dirinya di cermin dan tersenyum, lalu membalikkan tubuhnya. Namun, dia terkejut ketika melihat Putra tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu kamar. Lelaki itu memandang takjub penampilan Dinda.
"Ternyata wanita ini cantik juga kalau berdandan," pikir Putra. Selama ini pria kutub itu hanya melihat Dinda dengan wajah naturalnya tanpa polesan, serta menggunakan tunik dan celana panjang sebagai busana wajibnya ke kampus.
Putra tidak menyangka kalau Dinda terlihat sangat cantik dengan riasan tipis dan gaun pesta yang elegan. Tanpa sadar, ternyata dia telah terkagum pada istrinya sendiri.
Heeiiii ... kemarin-kemarin ke mana? Baru nyadar kalau istrimu cantik?
"Kenapa melihatku seperti itu? Terpesona, ya!" hardik Dinda.
"Aku terpesona? Jangan mimpi! Penampilan kamu tuh, aneh," kilah Putra berbohong. Dia gengsi mengakui kalau Dinda memang terlihat cantik malam ini.
"Mata kamu tuh yang aneh," jawab Dinda sewot sambil berlalu dari hadapan Putra. Dia sampai lupa menanyakan kenapa jam segini suaminya sudah pulang padahal biasanya dia akan pulang larut malam atau bahkan menjelang pagi.
Sementara itu sepeninggal Dinda, Putra segera mandi dan bersiap karena malam ini dia akan menemani sang pacar mendatangi pesta ulang tahun sepupu Safira.
Putra mengenakan jas dan celana hitam. Tidak lupa dia memasukkan topeng ke dalam saku jasnya, lalu bersiap berangkat. Putra tidak tahu kalau pesta yang akan dia hadiri bersama Safira adalah pesta yang sama dengan pesta ulang tahun teman kuliah Dinda.
Sebelum menuju lokasi pesta, lelaki itu terlebih dahulu menjemput Safira. Wanita itu juga tampak cantik dan seksi dengan gaun putih yang mengekspos bagian d**a dan paha. Putra sempat menelan saliva melihat penampilan kekasihnya yang menantang itu.
***
Dinda dan dua sahabatnya tiba di lokasi ketika jarum jam menunjukkan pukul delapan malam. Pesta yang bernuansa out door dengan lokasi taman yang luas itu bisa memuat ratusan tamu.
Setelah acara tiup lilin, doa dan penyerahan hadiah, tibalah saatnya acara makan-makan kemudian dilanjutkan acara dansa. Semua acara berlangsung lancar.
Meskipun Putra dan Dinda berada dalam satu lokasi, tapi sepertinya mereka berdua belum saling bertemu. Selain karena banyaknya peserta juga karena warna pakaian dan topeng yang dipakai membuat mereka tidak mengenal satu sama lain.
Tibalah acara dansa, dimana mereka akan mencari pasangan masing-masing dalam cahaya lampu yang remang-remang.
"Lo gak ikut dansa, Din?" tanya Revi.
"Nggaklah. Bagaimanapun juga gue kan sudah menikah. Kalian saja yang dansa sana! Siapa tahu ketemu pangeran pujaan hati," ledek Dinda sambil duduk di kursi dekat kolam renang.
"Ah, elo bisa aja, Din," balas Revi sambil tertawa.
"Ayolah, Din! Kita bersenang-senang aja malam ini. Lo juga tahu kalau Putra sekarang pasti sedang bersenang-senang dengan pacarnya," ujar Ayu sambil menarik lengan Dinda. Wanita dengan tubuh tinggi semampai dengan dua lesung di pipi kanan dan kirinya itu memaksa Dinda ikut berdansa. Dua sahabat itu tidak rela kalau Dinda tenggelam dalam kesedihan karena rumah tangganya yang tidak sehat.
"Iya, iya, baiklah!" ucap Dinda akhirnya. Gadis itu berdiri mengikuti dua sahabatnya menuju area dansa.
"Nah begitu, dong! Ini baru temen gue!" ujar Revi berbinar. Tiga sahabat itu kemudian membaur dalam kerumunan para Pedansa.
Seorang lelaki tiba-tiba mendekati Dinda dan melingkarkan tangan kirinya di pinggang ramping wanita itu kemudian tangan kanannya meremas jari kiri Dinda. Tangan kekar lelaki itu merengkuh kuat pinggang Dinda, hingga mengikis jarak antara keduanya.
Jantung Dinda berdebar dua kali lebih cepat tatkala tatapan lembut lelaki bertopeng itu seakan mencongkel kedua bola matanya. Harum parfum lelaki itu seperti tidak asing baginya. Reflek kedua tangan Dinda mulai melingkar nyaman di bahu pria bertopeng itu.
Sejenak Dinda merasa nyaman dan menyandarkan kepalanya pada d**a bidang lelaki bertopeng itu. Tidak ada obrolan di antara keduanya, hanya saling terdiam dalam sunyi dengan pandangan yang bertaut. Dinda seperti tidak asing dengan sosok pria di depannya. Namun, dia tidak tahu siapa.
Lelaki bertopeng itu seperti mendapatkan lampu hijau, karena Dinda terlihat nyaman berdansa dengannya. Kemudian dia mencoba mendekat ke wajah Dinda dan berniat mendaratkan kecupan lembut di bibir mungil wanita itu. Namun, seketika Dinda mendorong d**a lelaki itu dan mundur beberapa langkah.
"Jangan kurang ajar," ancam Dinda membuat lelaki itu mengurungkan niatnya untuk maju mendekati Dinda.
"Siapa kamu!" tanya Dinda.