Evan mulai melepaskan tali pengikat baju handuknya dan membukanya di depan Annisa. Menyisakan hanya celana dalam boxer ketat yang menutupi area terlarang miliknya., sehingga benda itu terbentuk nyata di depan Annisa.
Melihat hal itu, cepat-cepat Annisa beristighfar dan menutup matanya. Tanpa pikir panjang, ia pun segera turun dari tempat tidur dan langsung berlari ke arah kamar mandi. Kemudian mengunci pintu dari dalam.
Evan benar-benar murka dibuat Annisa. Dia sampai bertopang pinggang dan melihat ke langit-langit kamar apartemennya, seraya memainkan lidahnya.
Dasar jalang tidak tahu diri ....
Evan lalu berjalan ke arah Annisa dan mulai menggedor-gedor pintu kamar mandi.
"Buka Annisa. Annisa! Buka aku bilang. Buka Annisa ...!" teriak Evan. Dia terus memukul-mukul pintu kamar mandi dan menyuruh Annisa untuk membukanya.
Namun Annisa tidak mau membukanya. Dia hanya terus menangis seraya duduk dan bersandar pada pintu kamar mandi.
"Kau benar-benar tidak mau keluar Annisa? Baiklah, tunggu saja. Aku akan mendobrak pintu ini," ancam Evan.
Annisa sudah tidak peduli lagi dengan ancaman Evan. Dia tetap tidak mau membuka pintu. Pikirannya benar-benar kalut dan semrawut. Dia tidak punya cara lain lagi untuk melindungi tubuhnya. Untuk mempertahankan kesucian dirinya.
Selama ini, Annisa selalu menjaga tubuhnya dari sentuhan laki-laki. Tak ada satu orang pun yang pernah menyentuhnya. Jadi apa yang tadi dirinya akui di depan Evan, itu memang benar adanya. Bukan sebuah kebohongan seperti yang Evan sangkakan.
Annisa mau, jika pun nanti ia harus menyerahkan kesucian dirinya, maka dengan cara dan pada orang yang memang berhak untuk mengambilnya. Dengan cara yang halal dan yang Tuhan ridhoi. Bukan dengan jalan haram seperti ini.
Akan tetapi, mana mungkin Evan mau mengerti keinginan Annisa itu. Sebab dirinya hanyalah pria bebas yang sudah sangat jauh dari agama. Sholat saja sudah tidak pernah lagi. Jadi tidak akan masuk dan tercerna lagi, apa pun yang Annisa katakan padanya. Sudah bebal dan mental kembali.
Evan mendekatkan telinganya kepada daun pintu kamar mandi. Mencoba untuk mendengar apa yang wanita penghiburnya itu lakukan di dalam sana.
Namun lama telinganya merapat pada pintu kamar mandi, Evan tidak mendengarkan ada suara apa pun, sehingga dahinya mengernyit tanda sedang berpikir.
Apa dia sudah mati? Sial sekali aku kalau sampai dia mati, sementara aku belum sempat untuk menikmati tubuh indahnya itu.
"Annisa? Annisa buka pintu. Annisa!" Evan kembali berteriak kencang.
Namun kali ini sepertinya bukan teriakan penuh kemarahan, tapi lebih kepada rasa cemas. Dia mendorong-dorong pintu kamar mandi dengan bahunya, tetapi tetap sia-sia. Pintu kamar mandi apartemen elitnya itu terbuat dari bahan yang luar biasa kuat. Jadi mustahil untuk didobrak.
Tiba-tiba saja Annisa terbatuk., sehingga Evan menarik napas panjang karena lega. Kemudian ia duduk di depan pintu kamar mandi seraya menyandarkan kepalanya pada daun pintu tersebut.
Jadilah mereka sama-sama duduk di depan pintu kamar mandi, tapi pada ruang yang berbeda. Persis seperti pasangan yang sedang marahan.
Setelah satu jam berlalu, Evan pun tersentak dari tidurnya. Ternyata saking lamanya dia duduk di depan pintu, membuat dirinya tertidur tanpa sadar. Dia lalu bangkit dan kembali mencoba untuk mendengar suara Annisa dari arah luar.
Kali ini hening. Tak ada suara apa-apa.
Apa dia juga ketiduran?
Evan pun berjalan menjauhi pintu kamar mandi dan mengambil pakaian. Dia kemudian memakai baju dan celananya, serta tidak lupa jam tangan bermerek terkenal seharga Lamborghini itu.
Evan lalu keluar apartemen dan berlalu meninggalkan Annisa yang masih mengurung diri di dalam kamar mandi karena takut padanya.
Tiga puluh menit Evan pergi, tak lama dia sudah kembali lagi. Dia kembali dengan membawa makanan dan minuman yang ia beli dari resto di sekitaran apartemennya.
Namun saat ia meletakkan makanan di atas nakas yang terdapat banyak uang tersebut, ia pun kembali menoleh ke arah pintu kamar mandi. Pintu itu masih tertutup rapat seperti sedia kala, sehingga dirinya benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan perempuan bayarannya itu.
Evan pun berjalan lagi mendekati kamar mandi. Dia kembali mengarahkan daun telinganya merapat pada pintu. Persis seperti orang yang sedang menguping.
"Mau sampai kapan kau di sana? Apa kau tidak lapar? Mungkin kau manusia super yang bisa bertahan hidup tanpa makan ya? Terserah kau sajalah!" teriak Evan. Ia kemudian kembali ke dekat meja.
Namun sebanyak apa pun Evan berbicara, Annisa tetap tidak berucap sepatah kata pun. Dia terus diam dan diam., sehingga terbesit sedikit rasa khawatir di hati sang CEO.
Dia bisa sakit kalau terus di kamar mandi? Apa dia sudah tidak waras?
Evan membuka makanannya dan mulai menyantapnya.
"Wah, ini enak sekali. Hmmm ... maknyus ...," Evan sengaja membesarkan volume suaranya agar Annisa mendengarnya. Siapa tahu, gadis keras kepala itu bakal keluar, pikirnya.
Namun, dugaan Evan salah besar. Sebab hingga pukul dua belas malam, Annisa tidak kunjung keluar. Bahkan suaranya saja tidak lagi terdengar sedikit pun. Setidaknya adalah batuk atau bersin, yang bisa membuat Evan tenang, dan tahu jika Annisa masih bernapas di dalam sana, tapi kini yang ada hanya hening dan sepi.
Evan baru saja selesai mengganti pakaiannya dengan piyama tidur. Dia lalu kembali menoleh arah pintu kamar mandi. Setelah menarik napas dalam, ia pun berjalan mendekati pintu tersebut.
"Heh, aku mau buang air kecil. Kau buka pintunya. Annisa! Annisa ...! Kau tuli ya? Aku mau ken—"
Tak berselang lama dari Evan berteriak, derit suara pintu dibuka pun terdengar. Evan langsung melihat ke arah Annisa yang sudah berdiri tepat di hadapannya. Gadis berkerudung itu tampak pucat dan lesu seperti sedang sakit.
"Kau buat apa di dalam sin—"
Namun, belum juga Evan selesai bertanya, tubuh Annisa sudah lebih dulu terhuyung ke arahnya., sehingga Evan dengan cepat menyambut tubuh wanita malang itu dan memeluknya. Dia segera menggendong Annisa dan menidurkannya di atas ranjang.
Evan membuka kerudung dan menyentuh dahi Annisa. Barulah ia tahu jika wanita penghiburnya itu ternyata sedang demam.
Evan kemudian mengambil handuk kecil dan air es di kulkas. Dia pun mulai mengompres dahi Annisa. Berharap dengan dikompres, suhu tubuh Annisa bisa kembali normal.
"Salahmu sendiri. Untuk apa kau mengurung diri di kamar mandi. Sakit kan?" Evan masih bisa-bisanya memarahi Annisa yang sudah tampak tak berdaya itu.
Setelah mendapatkan kompres dari Evan, Annisa pun membuka mata perlahan. Dia langsung melihat kepada Evan yang tengah duduk disisi tempat tidur.
Namun, jarak Evan yang begitu dekat dengannya, membuat Annisa terkejut dan mengira jika Evan sudah mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Annisa pun terduduk dan segera mengambil kerudungnya. Dia melihat Evan dengan tatapan penuh kecurigaan. Tatapan yang bermakna tuduhan.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Ck, kau pikir aku sudah menidurimu? Ku cium saja belum."
Evan berjalan ke arah meja dan mengambil makanan untuk Annisa. Meski pun kejam, tapi Evan tidak lupa untuk memberikan Annisa makan. Ia lalu membawakan makanan itu kepada Annisa yang masih duduk seperti orang ketakutan itu.
"Kau makan dulu. Ini sudah hampir pukul satu dini hari. Kau kan belum makan sejak tadi."
Annisa melihat Evan tanpa berkedip. Dia seakan tengah bertanya-tanya. Apakah pria yang saat ini berdiri di depannya benar-benar tulus memberinya makan, atau akan ada maunya?
Bagaimana jika setelah makan, dia kembali menyentuh ku?
"Tenang saja. Aku tidak akan menyentuhmu malam ini. Yah, anggap saja dispensasi karena kau tengah sakit, tapi besok kalau kau sudah sehat, kau harus menuntaskan tugasmu. Ok?" Evan mencolek dagu Annisa yang dengan cepat ditepis oleh wanita pemilik mata bulat itu. Evan pun tersenyum genit seraya menaikkan kedua alisnya.
Dasar buaya ....
Annisa mulai menyantap makanannya. Dia makan dengan begitu lahap karena sudah menahan lapar sejak tadi pagi.
Sebab saat Annisa dan sang paman tiba di kota, dirinya memang belum sarapan sama sekali Namun, langsung dibawa oleh pamannya ke rumah sang mucikari, yang kemudian menjual dirinya kepada Evan.
Annisa mengira jika Evan adalah bos pemilik restoran makanan siap saji, seperti yang pamannya katakan saat di desa. Yang akan menjadi tempat ia bekerja nanti.
Nyatanya, Annisa dijual sebagai p*****r dan kemudian dibawa oleh Evan ke apartemen elitnya, untuk melayani dirinya sebagai wanita penghibur.
Kini Annisa sudah terjebak dalam pekerjaan yang salah. Meski dia sudah jelas-jelas ditipu oleh pamannya Namun, tetap saja, Annisa yang harus bertanggungjawab atas semua yang terjadi.
Sang paman sudah menerima sejumlah uang dari mucikari, kemudian kini sang mucikari sudah menerima uang dari Evan. Bahkan dalam jumlah yang tidak sedikit, dua miliyar rupiah.
Uang dua M, jangankan memilikinya, melihatnya saja Annisa tidak pernah. Tetapi jika dia mau melayani Evan dalam satu malam saja, maka Evan siap untuk memberikannya lebih dari pada itu.
Tiba-tiba saja dua bola mata Annisa mengarah kepada uang yang ada di atas nakas, di dekat lemari pakaian.
Tumpukan uang yang masih tersegel di dalam plastik itu, memiliki tinggi kira-kira sekitar 50 cm dan lebar 80 cm, dengan dua warna yang berbeda. Ada pink keunguan dan ada yang biru tosca. Warna yang sangat dicintai oleh para jalang di luar sana.
Jika aku punya uang sebanyak itu, aku pasti bisa melunasi hutang-hutang ibu. Bahkan masih lebih lagi.
Tiba-tiba saja melintas dibenak Annisa untuk melakukan apa yang Evan harapkan untuk ia lakukan. Melayani sang casanova dengan suka rela, dan uang sebanyak itu bisa ia bawa pulang.