Satu Malam Lagi, Ya...

1366 Words
Baru saja pikiran sesat itu melintas di kepala Annisa, dirinya sudah lebih dulu tersadarkan. Ah, aku pasti sudah tidak waras. Kenapa aku mau menjual kehormatan dan harga diriku demi uang? Annisa menarik napas dalam. Setelah menyantap habis makanannya, ia lalu bangun dan membersihkan tangan serta mulutnya ke kamar mandi. Kemudian mengeringkan tangannya dan kembali ke dekat ranjang. Akan tetapi, baru saja Annisa berbalik hendak keluar dari kamar mandi, Evan sudah lebih dulu berdiri di depannya. Pria tampan itu menatap dirinya dengan tatapan yang begitu dalam, sehingga Annisa takut dan sudah berancang-ancang untuk lari lagi. "Kau sudah sehat?" tanya Evan, yang kemudian disalah artikan oleh Annisa. Annisa mengira jika Evan bertanya perihal kesehatannya, itu berarti Evan akan mengambil hak atas dirinya. Tanpa pikir panjang, dengan cepat Annisa bergerak hendak menjauhi Evan. Tetapi dengan cepat juga Evan memegang tangannya, lalu menarik dirinya, sehingga ia berputar menjadi menghadap kepada CEO kaya raya itu. Kini posisi Annisa benar-benar sudah berada dalam pelukan Evan, membuat pandang mereka bertemu dan wajah mereka menjadi begitu dekat. Detak jantung Annisa dan Evan sama-sama meningkat karena debaran. Annisa pun kini pasrah dan menutup matanya. Hembusan dan gerakan tulang rusuk Evan begitu terasa di d**a Annisa. Napas mereka yang seirama seolah menjadi bukti, jika mereka saat ini sama-sama memendam perasaan yang bergejolak. Evan menginginkan Annisa, tapi Annisa menolak. Namun, lama Annisa menunggu Evan untuk melakukan sesuatu kepada dirinya, gadis berhijab itu justru tidak merasakan apa-apa. Yang ada, ia justru merasakan sedikit demi sedikit, pelukan tangan Evan di pinggangnya perlahan mulai mengendur dan kemudian lepas begitu saja. Annisa membuka mata dan melihat ke arah Evan yang sudah berlalu menjauhinya dan terus keluar kamar. Sehingga membuat dahi Annisa mengernyit tanda heran dan berpikir. Ada apa dengannya? Annisa pun berjalan dengan mengendap-endap dan mengintip dari balik pintu kamar. Mencoba mencari tahu apa yang pria kaya itu lakukan setelah tadi tidak jadi menyentuh dirinya. Ternyata Evan sedang menonton televisi pada ruang tengah. Dirinya tampak biasa saja, membuat Annisa semakin tidak mengerti. Sebelum aku jatuh pingsan, dia begitu bernafsu. Kenapa sekarang tiba-tiba dia berubah? Annisa benar-benar tidak paham dengan sikap Evan. Padahal tadi Evan begitu menggebu-gebu untuk menidurinya, sekarang Evan tampak seperti orang yang tidak memiliki nafsu. Sungguh aneh sekali, pikir Annisa. "Kalau mau keluar, keluar saja. Tidak perlu mencuri-curi pandang seperti itu. Kenapa, kau mau kita melakukannya sekarang? Maaf, tapi aku tidak selera melihat wajahmu yang seperti kucing betina mau beranak itu," hina Evan. Annisa terperanjat saat mendengar kalimat lantang Evan. Separah itukah wajahnya saat ini hingga sang casanova saja enggan untuk menyentuhnya? Menyedihkan. Annisa berjalan ke arah cermin. Dia lalu memperhatikan wajahnya dengan sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan. Tidak jelek ... hanya sedikit kusam. Memang dasar dianya saja yang aneh. Tadi saja, dia memujiku dengan mengatakan aku cantik dan sempurna, sekarang lain lagi. Mungkin kalau dia selesai meniduriku, dia akan mengatakan hal yang lebih kejam lagi. Sudah bisa ku duga. Ck. Setelah menatap dirinya di cermin, Annisa pun mulai mengantuk. Dia lalu membentang sajadahnya di atas lantai, dan mulai membaringkan tubuhnya pada hamparan sajadah tersebut, dengan menjadikan tasnya sebagai bantal. Dalam hitungan detik, ia pun sudah terlelap. Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Tiba-tiba saja lampu kamar ada yang mematikan, tetapi Annisa tidak menyadarinya lagi. Sebab ia sudah masuk ke dalam alam bawah sadarnya. Ternyata Evan yang telah mematikan lampu kamar. Dia berdiri seraya bersedekap tangan. Melihat penuh rasa heran kepada Annisa yang sudah tertidur nyenyak di atas sajadah. Evan benar-benar tidak habis pikir, tempat tidurnya begitu luas, tapi mengapa gadis malang itu lebih memilih untuk tidur di lantai? Evan pun kemudian berinisiatif untuk mengangkat Annisa ke tempat tidur. Perlahan ia mulai meletakkan tangannya pada tekuk Annisa dan belakang dengkul gadis manis tersebut. Lalu membawanya ke atas ranjang tempat tidur. Meskipun kalau boleh jujur, Evan sangat tergiur melihat bentuk tubuh molek Annisa. Namun tidak terbesit sedikit pun di dalam hatinya untuk melakukan hal itu malam ini. Mengingat Annisa yang tadi sempat jatuh pingsan di pelukannya, membuat Evan menjadi kasian pada dara manis itu. Mungkin malam besok atau lusa, pikir pria pemilik hidung mancung tersebut. Evan menutup pintu kamar dan menyalakan lampu tidur. Ia lalu membuka kerudung Annisa perlahan dan menyelimuti gadis cantik itu agar tidak kedinginan. Berjalan ke sisi ranjang lainnya dan mulai merebahkan tubuhnya di samping Annisa. Posisi Annisa yang menghadap kepadanya, membuat Evan juga mengubah posisi tidurnya, menjadi menghadap kepada Annisa. Kesempatan baginya untuk terus memandangi wajah Annisa hingga puas. Sebab jika dalam keadaan terjaga, mana mungkin Annisa membiarkan Evan menatapnya begitu lama. Dia pasti akan berkata : Tuan, zina mata. Evan tertawa geli saat mengingat kembali, bagaimana tadi Annisa berlari ketakutan ke sana ke mari, seperti ayam yang hendak disembelih. Belum pernah Evan bertemu perempuan yang segila itu dalam mempertahankan harga diri, meski sudah diperlihatkan setumpuk uang yang sangat banyak. Tak sedikit pun menggoyahkan keimanan Annisa. Sebab selama ini, jangankan wanita malam, wanita siang pun jika Evan mau, dia pasti bisa dapatkan. Bahkan ia pernah melakukan hal terlarang itu dengan istri orang. Padahal suami wanita itu, sama kayanya dengan dirinya. Tetap saja, wanita itu tergiur juga dengan yang namanya uang. Selagi kau punya uang, kau pasti bisa mendapatkan apapun yang kau mau. Begitulah prinsip Evan. Namun, kini tampaknya prinsip itu mulai terpatahkan. Sebab Annisa tidak sama dengan jalang-jalang yang ia temui di luar sana. Annisa bahkan tidak gentar sedikit pun saat Evan menawarkan dirinya lebih dari dua miliyar rupiah, asalkan Annisa mau memuaskan hasrat sang casanova. Benar-benar keteguhan prinsip hidup yang luar biasa. Kau cantik, baik, tapi kenapa kau bisa ada di tempat yang salah? Sembari merapikan rambut Annisa dengan ujung jarinya, Evan pun mulai berpikir tentang Annisa. Tentang bagaimana wanita baik-baik seperti Annisa, bisa berada dalam ruang lingkup yang salah. Annisa bahkan mengatakan, jika dirinya belum pernah disentuh sama sekali oleh laki-laki manapun. Jadi, jika sampai tadi Evan jadi melakukanya, itu artinya Evan adalah laki-laki pertama yang menikmati keindahan tubuh Annisa. Benarkah itu ? . . Pagi pukul enam, Annisa terbangun dan membuka mata. Dirinya pun terkejut bukan main saat melihat Evan dalam posisi yang begitu dekat dengannya. Bahkan dahi mereka bertaut dan tangan Evan merangkul memeluk dirinya. "Astaghfirullah ...," jerit Annisa spontan. "Apa yang sudah aku lakukan?" tanyanya lagi. Annisa panik luar biasa. Sebab ia mengira jika dia dan Evan sudah ... ah, tidak mungkin, pikir Annisa. Dia lalu bergegas bangkit dan hendak menuju kamar mandi. Namun, belum juga ia beranjak dari atas tempat tidur, Evan terjaga dan langsung memegang tangannya, membuat mata Annisa membulat sempurna dan segera menoleh ke arah sang CEO. "Kau mau ke mana?" tanya Evan dengan posisi mata terbuka sedikit, memicing. "E ... saya, saya mau sholat subuh, Tuan," jawab Annisa gugup. "Oh, ya sudah," Evan melepaskan pegangan tangannya dari lengan Annisa. Cepat-cepat Annisa berlalu ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Namun setelah wudhu ia pun melanjutkan dengan mandi. Sebab ia tidak tahu apa yang terjadi selama ia tidur. Bisa saja bukan, pria arogan itu melakukan sesuatu kepada dirinya tanpa ia ketahui. Ah, membayangkannya saja membuat Annisa stres. Apalagi kalau sampai hal itu benar-benar terjadi, bisa gila dia. Meski tak pasti terjadi atau tidak, doa niat mandi junub tetap Annisa bacakan sebelum mengguyurkan air ke atas kepalanya. Untuk berjaga-jaga saja, dari pada sholatnya tidak sah, pikirnya. "Asalamu'alaikum warahmatullah ...," Annisa mengakhiri sholatnya. Setelah membacakan zikir dan berdoa sejenak, Annisa menoleh ke belakang. Melihat kepada Evan yang masih tergeletak di atas tempat tidur dengan posisi tengkurap. Annisa menghela napas panjang. Dia lalu membuka kain sholatnya dan menyimpannya kembali ke dalam tas. Dia juga mengemasi barang-barang miliknya yang lain, sehingga Evan yang tadinya tertidur, langsung terbangun dan duduk setelah mendengar suara krasak krusuk. "Kau mau ke mana?" tanya Evan. "Saya harus balik ke rumah mami, Tuan," jawab Annisa santai. "Balik ke rumah laknat itu, buat apa?" Evan tersenyum miring. "Tuan kan membayar saya hanya untuk satu malam," Annisa mengingatkan pelanggannya itu. Pelanggan yang belum mendapatkan haknya sama sekali. Hanya satu kecupan saja di jidat. Itu pun dilakukan saat dirinya terlelap. "Kau mau dilelang lagi? Astaga ...," Evan tersenyum miring. Annisa terdiam dan menundukkan kepalanya, sehingga Evan menyesal sudah melontarkan kata-kata seperti itu. "Tinggallah satu malam lagi, aku akan membayarmu lagi pada Mami Jessica." "Satu malam lagi?" tanya Annisa terkejut. "Hmm ...," Evan tersenyum dan mengangkat kedua alisnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD