Jangan Coba-Coba Lari Dari ku

1359 Words
"Baik, saya akan kirimkan bukti pembayarannya," Evan menutup panggilan teleponnya. Setelah melunasi tagihan kepada Mami Jessica karena mem-booking Annisa lagi, Evan pun mengarahkan pandangannya kepada Annisa. Dia yang masih rebahan dan bersandar pada sandaran tempat tidur, melihat kepada Annisa yang terus saja berdiri mematung di dekat pintu kamar. "Heh, ke mari ...!" Evan menepuk kasur. Memerintahkan Annisa untuk mendekat padanya. Annisa menggeleng cepat. Dia pun berlalu keluar kamar, berjalan cepat menuju ke pintu dan mencoba untuk menebak kode pembukanya. MAAF, AKSES DITOLAK Meski terus gagal, Annisa tetap mencobanya dan tidak patah semangat sedikit pun. Pokoknya, dia harus bisa keluar dari apartemen Evan, pikirnya. Namun, sebanyak apa pun Annisa memasukkan kode, pintu tetap tidak terbuka. Annisa pun mulai menangis. Dia seperti terjebak dalam permainan yang mengerikan. Yang kapan saja bisa menghancurkan dunianya dan juga cita-citanya. Ya, cita-cita Annisa tidaklah muluk-muluk. Dia hanya ingin mempertahankan kesucian dirinya, untuk nanti diberikan hanya kepada pria yang menjadi suaminya. Pria satu-satunya yang bisa menikmatinya dan menjadi imam untuknya dan juga anak-anaknya. Namun, sepertinya cita-cita itu sebentar lagi akan sirna. Sebab Evan sudah memperpanjang bookingan atas diri Annisa. Dan sekarang atau pun nanti malam, Evan pasti tetap akan menyentuhnya. Hal itulah yang membuat Annisa begitu frustasi. Sampai berpikir untuk menebak kunci pintu yang mustahil sekali bisa ia tebak itu. "Kau mau coba sejuta kali pun tidak akan bisa. Sudahlah, tinggal saja denganku. Aku tidak akan memakanmu. Cepat buatkan aku kopi," perintah yang punya kuasa. Apa? Kopi? Barusan dia menyuruhku? Annisa berbalik dan melihat kepada Evan. Pria berahang tegas itu berdiri bersandar pada tiang pintu kamar, sembari bersedekap tangan di d**a. Angkuh sekali. "Selesai aku mandi, kopinya sudah harus ada di atas meja," Evan pun berlalu masuk ke dalam kamar. Annisa terperangah mendengar titah Evan pada dirinya. Dia tidak percaya jika Evan bisa sebegitu semena-menanya kepadanya. Ia merasa, kini ia lebih mirip pembantu Evan ketimbang pelacurnya. Namun, tidak masalah selama dia tidak menyentuhku. Toh aku datang ke sini memang ingin bekerja sebagai pramusaji bukan? Annisa pun akhirnya berjalan ke dapur dan mulai mencari kopi juga gula. Dia tampak kebingungan melihat dapur semewah itu. Dapur apartemen Evan mungkin lebih mahal dari rumahnya di kampung. Dapurnya saja, belum lagi ruang lainnya. Ah, Annisa tidak mau menghitungnya, tidak penting. Yang terpenting sekarang, dia harus membuatkan Evan kopi. Kalau tidak, bisa-bisa Evan marah dan melakukan hal yang tidak Annisa mau Evan melakukannya. Namun, setelah gelas, kopi dan gula ada, Annisa mulai bingung dengan air panasnya. Dia mencari ke sana kemari, pot yang bisa ia jadikan sebagai wadah untuk memanaskan air, tapi tidak ia temukan. Annisa pun mulai bingung, dan disaat yang bersamaan, Evan pun datang. "Kenapa?" tanyanya tiba-tiba, membuat Annisa terkejut luar biasa. Annisa sampai memegang dadanya saking shock-nya. "E ... itu, air panasnya, Tuan. Saya tidak tahu harus masak di mana," jawab Annisa gugup. "Sini ...," Evan menarik tangan Annisa dan membawanya kepada bagian dapur lainnya. "Ini air panasnya." Evan menunjuk sebuah kettle listrik kepada Annisa. Annisa pun mengambil gelas yang sudah berisi kopi dan gula tadi, dan mulai menuangkan air panas dari cerek listrik tersebut. Annisa mengaduk kopi tersebut dan menyerahkannya kepada Evan dengan posisi kepala menunduk. Dia tidak mau melihat wajah Evan. Antar takut Evan tergoda, atau dianya yang justru akan tergoda karena melihat ketampanan Evan. Sebab Annisa tahu, setan saat ini tengah menari-nari mengitari mereka. Yang sudah seharian suntuk berduaan di kamar apartemen. Kalau ustad bilang, jangan berduaan, nanti yang ketiganya adalah setan. "Makasih ya?" ucap Evan. "Sama-sama, Tuan." Annisa kemudian berlalu keluar dapur dan berjalan mengambil tasnya yang ada di depan pintu. Evan hanya memperhatikannya saja. "Kau tidak sarapan?" tanyanya pada Annisa. Evan lalu menarik kursi meja makan dan langsung duduk. "Kemari ...," pinta Evan. Annisa yang masih berdiri mematung di depan pintu sembari memeluk tas lusuhnya itu, masih belum mau beranjak dari tempatnya berdiri. "Kau tuli? Aku bilang kemari ...!" ulang Evan dengan intonasi bicara yang lebih tegas. Akhirnya Annisa pun mematuhi perintah sang pria kaya raya itu. Dia terus melangkah perlahan mendekati meja makan. "Kau taruh tasmu di sana. Aku hilang selera makan saat melihatnya," hina Evan. Annisa pun meletakkan tasnya di atas sofa, kemudian kembali ke meja makan. "Duduk ...," perintahnya lagi. Annisa menarik kursi yang ada di depan Evan, dan langsung duduk. Evan mengambil roti dan mulai mengolesinya dengan selain coklat. Setelah semua permukaan roti terlapisi, ia pun menyodorkan roti itu kepada Annisa. "Makan ...." "Tuan, saya bis—" "Ambil ...." Annisa pun mengambil roti itu dari tangan Evan. Dia lalu membaca doa di dalam hati dan mulai memakannya. Evan melihat jam di dinding ruangan, sudah pukul sembilan pagi. Sebentar lagi dia ada meeting. Jadi mau tidak mau, Annisa harus ia tinggal untuk sementara waktu. "Sebentar lagi aku ada meeting. Kau ... jangan ke mana-mana. Awas saja kalau kau sampai kabur. Aku akan melaporkanmu pada Mami Jessica. Orang-orangnya pasti akan mencarimu. Kau tidak mau kan, kalau sampai orang-orang Mami Jessica menangkapmu?" ancam Evan. Annisa hanya diam dan terus mengunyah rotinya. Dia benar-benar sudah buntu dan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Kalau pun dia kabur, dia mau kabur ke mana? Uang tidak punya, jalan tidak tahu. Mau ke mana? Ibu kota begitu luas. Yang ada, kalau sampai salah jalan, dia bisa nyasar dan tak tahu jalan pulang. Lalu bagaimana kalau dia bertemu dengan orang jahat, kemudian diperkosa, dimutilasi dan dibuang ke sungai. Seperti yang sering dia lihat diberita-berita saat menonton televisi tetangganya dikampung. Ih, membayangkannya saja Annisa ngeri. Walau pun saat ini, Annisa juga sedang bersama dengan orang yang tidak baik, setidaknya selama sehari ini, dia merasa sedikit aman. Walau pun dia tidak tahu, kapan pria arogan itu kumat dan akan menyentuhnya. Evan berjalan ke arah kulkas dan membukanya. Ia mulai mengamati sesaat isi kulkas tersebut, yang ternyata kosong dan tak ada apa-apa. Hanya beberapa bir kalengan dan roti serta makanan ringan. Kalau aku tinggalkan dia sendiri, nanti dia makan apa? Evan menutup kembali pintu kulkasnya. Dia kemudian berjalan ke kamar dan sesaat kemudian sudah keluar lagi. "Kau sudah selesai? Ayo ikut aku," ajaknya. "Kemana, Tuan?" "Belanja ...." Annisa begitu bahagia saat mendengar kata belanja dari mulut Evan. Bukan, bukan belanjanya yang membuat Annisa girang, tapi karena ia akan keluar dari apartemen dan punya kesempatan untuk kabur. Meski tadi dia sempat berpikir jika kabur adalah pilihan yang buruk, tapi siapa tahu nanti dia berubah pikiran. Lalu kabur, terus ke stasiun kereta dan akhirnya bisa pulang ke kampungnya. Membayangkan kampungnya, membuat Annisa jadi senyum-senyum sendiri. Evan pun dibuat heran oleh gadis berhijab itu. "Kau kenapa? Jangan berpikir jika kau bisa kabur dariku ya? Sudah ku bilang tadi. Orang Mami Jessica ada banyak di luar sana. Wajahmu itu, sudah ditandai oleh mereka," Evan mewanti-wanti. Raut wajahnya yang serius dan datar, membuat Annisa menjadi takut. Ekspresi wajah Annisa yang tadinya sumringah karena bahagia, mendadak kembali murung lagi. Evan langsung menghadap ke arah pintu dan dia pun tersenyum tipis. Merasa puas karena sudah membuat Annisa kecut dan tak berdaya. Ia lalu memasukkan kode pintu dan sesaat kemudian pintu pun terbuka. Mereka berjalan keluar secara bersamaan. Namun, sebelum melangkah menuju lift, Evan menautkan tangannya terlebih dahulu kepada Annisa, sehingga Annisa terkejut dan melihat spontan ke arah Evan. Akan tetapi, pria angkuh itu seolah tidak mau tahu dengan respon Annisa. Dia terus berjalan dan menarik wanita penghiburnya itu hingga masuk ke dalam lift. Bahkan di dalam lift pun, Evan tidak melepaskan pegangan tangannya dari Annisa, sehingga membuat Annisa tidak nyaman dan mulai sedikit berontak. "Lepaskan, Tuan," pinta Annisa. "Sst ... berisik. Kau bisa diam tidak?" Sesaat pintu lift pun terbuka. Evan terus menarik Annisa hingga mereka sampai di parkiran. "Masuk ...." Evan membukakan Annisa pintu mobil jok depan penumpang. Setelah menutupnya, ia segera masuk dan duduk pada jok driver. Evan mulai menggerakkan mobilnya, keluar dari gedung apartemen elit tersebut. Kemudian melaju sedikit kencang menuju ke tempat yang menyediakan bahan masakan kelas premium. Tak butuh waktu lama, mereka sudah berada di depan gerai, yang keseluruhan dinding depannya itu terbuat dari kaca transparan, sehingga apa yang ada di dalam super market tersebut, dapat terlihat dengan begitu jelas dari arah luar. Tiba-tiba saja, Annisa membuka pintu mobil dan langsung berlari keluar, sehingga Evan terkejut juga panik, dan segera membuka safety belt-nya lalu berlari mengejar Annisa. "Hei, tunggu ...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD