Melindungi Mu Adalah Tugas Ku

1404 Words
Evan mengira jika Annisa Ingin kabur darinya. Padahal Annisa hanya ingin segera melihat sayur mayur dan buah-buahan yang ada di dalam super market tersebut. Dikarenakan sudah dua hari ini Annisa tidak makan sayur, jadi saat melihat tumbuhan hijau tersebut membuat ia begitu bahagia. Biasanya kalau di kampung, setiap hari ia dan sang ibu makan sayuran yang di petik dari perkebunan yang ada di belakang rumah. Jadi begitu melihat yang hijau dan segar-segar begitu, jiwa kampungannya langsung bergejolak. "Kau kenapa?" tanya Evan saat dirinya sudah di dekat Annisa. Annisa hanya menggelengkan kepada dan tampak tersipu malu. "Ayo masuk," Evan menarik tangan Annisa. Mereka pun masuk ke dalam market dan mulai melihat-lihat aneka macam sayur dan buah. "Ambil saja apa yang kau mau. Lalu letakkan ke dalam keranjang ini." Evan mendorong troli ke arah Annisa. Annisa hanya melihatnya saja. "Cepat, sebentar lagi aku harus meeting," ucap Evan sedikit keras. "Oh, iya Tuan." Annisa mulai mengambil sayur-sayur dan semua kebutuhan dapur untuk dia memasak makan malam nanti. Tidak lupa ayam dan daging, juga beberapa jenis buah. Setelah semua masuk ke dalam troli, Evan pun mendorongnya menuju ke arah meja kasir.. Namun, saat mereka melewati lorong yang memajang buah-buah dalam kemasan kaleng, entah bagaimana, tiba-tiba pelayan yang sedang menyusun kaleng-kaleng tersebut menjatuhkan susunan kalengnya. Mengarah tepat ke atas kepala Annisa, membuat Evan terkejut dan dengan cepat dia melindungi Annisa dengan punggungnya, agar tidak ketiban kaleng-kaleng tersebut. Melihat apa yang Evan lakukan, Annisa terkejut luar biasa. Annisa tidak bisa bayangkan bagaimana sakitnya punggung Evan yang di timpa oleh puluhan kaleng dengan berat 500 gram per itemnya itu. "Astaghfirullah, Tuan ...." Annisa sampai menutup mulutnya. Melihat kepada wajah evan yang seperti sedang menahan rasa sakit. "Tuan ... Tuan baik-baik saja?" tanya Annisa panik. Dia sampai memegang wajah Evan dan melihat ke arah punggung sang casanova. "Pak, maaf ya. Saya tidak sengaja," ucap pelayan "Kau ini bisa kerja tidak? Kalau tadi dia yang kena, bagaimana? Kau mau tanggung jawab, ha?" Evan membentak petugas market. Annisa tidak bisa berkata-kata lagi. Mau membela pelayan market, nyatanya pria itu memang salah. Tidak dibela, kasihan juga melihat raut wajahnya saat di bentak oleh Evan. Kecut bagaikan termakan jeruk purut. Tak lama atasan pelayan market itu pun datang. Dia adalah manager di super market tersebut. Ia pun langsung meminta maaf kepada Evan dan Annisa atas insiden yang terjadi, dan akan memberikan diskon 20 persen sebagai ganti rugi dari perusahaan mereka. Akhirnya, setelah membuat kesepakatan, mereka pun berdamai. Namun, tidak tahu jika tadi yang ketiban kaleng-kaleng itu adalah Annisa, mungkin akan panjang urusannya. Setelah membayar tagihan, dan belanja mereka di bawa masuk ke mobil oleh petugas market, Annisa dan Evan pun masuk ke dalam mobil. Melihat Evan yang seperti masih menahan rasa sakit, membuat Annisa merasa sangat bersalah. Dia ingin menawarkan Evan untuk pergi ke rumah sakit, tapi bibirnya begitu sulit untuk berbicara. Masih takut-takut. "Sakit sekali ya, Tuan?" tanya Annisa. "Menurutmu? Ya sakitlah. Namanya juga ketiban kaleng berat. Masa tidak sakit," jawab Evan ketus. Annisa pun terdiam. Setelah pertanyaan mendapatkan respon yang kurang bersahabat dari Evan, ia pun memilih untuk tidak berkata apa-apa lagi. Evan langsung menggerakkan mobilnya kembali ke apartemen elitnya. Dan begitu mereka sampai di sana, Evan dan Annisa langsung turun. Evan mengeluarkan semua belanjaan mereka dan meminta security untuk membawanya ke kamarnya. Sementara dia dan Annisa berjalan dengan tangan kosong. Sampai di depan pintu apartemen, Evan memberikan security tersebut dua lembar uang berwarna merah muda. Setelah itu memasukkan kode pintu dan segera berlalu ke kamarnya. Sementara Annisa, dia mengangkat belanjaan dan membawanya ke dapur. Mencuci dan memasukkannya ke dalam kulkas. Namun, entah mengapa perasaan Annisa tidak tenang sama sekali. Dia terus memikirkan tentang punggung sang pria kaya raya itu. Apakah dia terluka? Atau mungkin memar? Apa sebaiknya aku periksa? Tapi bagaimana kalau sampai dia marah lagi? Dia begitu mengerikan saat marah. Berbagai pertanyaan muncul di benak Annisa. Membuat dia bingung sendiri tentang apa yang harus ia lakukan. Membiarkan saja pria itu, atau menghampirinya? Belum juga dilema Annisa hilang, dia sudah mendengarkan suara Evan. Evan memanggilnya dengan berteriak keras. Persis seperti majikan yang memanggil pembantunya. "Ya Tuan ...?" ucap Annisa saat dia sudah di depan pintu kamar Evan. "Ambilkan air hangat. Terus, di lemari atas ada handuk kecil. Di laci meja rias ada salap," pinta Evan. "Baik, Tuan." Annisa pun segera menyiapkan semua yang Evan minta. Setelah semua lengkap, Evan pun mulai membuka bajunya di depan Annisa. Membuat Annisa mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Kompresi ...!" perintah Evan. Namun, karena pikirannya tengah melalang buana entah ke mana, membuat Annisa tidak mendengar titah Evan dan Evan pun menoleh ke arahnya. "Heh, kau tuli? Aku bilang kompresi lukaku." "Oh, maaf Tuan." Annisa langsung memasukkan handuk kecil ke dalam air hangat, memerasnya dan mulai mengompres punggung Evan. Setelah itu ia pun mulai mengolesi lebam-lebam di punggung Evan dengan salap luka. "Sudah, Tuan ...," ucap Annisa pelan. "Ya sudah, kau keluar sana." usir Evan. Annisa menutup salap dan menyimpannya lagi ke dalam laci meja rias. Setelah itu dia mengambil wadah air hangat dan handuk untuk di bawa ke dapur. Namun, sebelum dia keluar, Annisa mengatakan sesuatu yang membuat Evan terkejut. "Maafkan saya ya Tuan? Semua ini karena saya. Seharusnya tadi Tuan tidak melindungi saya. Sebab saya tidak berarti apa-apa, sedangkan Tuan, Tuan itu sangat berharga di mata orang lain. Sekali lagi maaf ya, Tuan." Annisa pun berlalu keluar kamar. Mata Evan yang tadinya tertutup, tiba-tiba saja kembali terbuka setelah mendengarkan kata-kata Annisa. Dia tidak menyangka jika gadis desa itu bisa berkata seperti itu. Sejak kapan dia pintar berpuisi? Terus, sejak kapan juga aku bilang dia tidak berharga? Apa karena aku pernah mengatakan jika dia p*****r, jadi dia mengira jika aku tidak menghargainya? Kalau dia tidak berharga, untuk apa juga aku mengorbankan punggungku untuk melindunginya tadi? Dasar bodoh .... Annisa duduk dengan menekukkan kakinya di sudut dapur. Lalu mulai menangis sesenggukan di sana. Dia merasa sedih sekali. Entah apa yang membuat ia begitu nestapa? Apakah dia mulai meratapi nasib dirinya? Menangisi keadaan hidupnya saat ini yang begitu rendah di mata orang lain, terutama di mata Evan. Nisa mau pulang, bu .... . . Annisa sudah selesai membuat makan siang. Semua masakannya sudah terhidang di atas meja. Evan tampak keluar kamar dan berjalan ke arah meja makan. Setelah tadi dia membatalkan meeting-nya karena sakit gara-gara melindungi Annisa, ia pun tertidur lama. Pukul 12 lewat barulah ia terbangun dan merasa lapar. Evan melihat Annisa yang sedang sholat di dekat sofa ruang tengah. Kemudian menarik kursi meja makan dan duduk. Dia langsung mengambil piring dan mulai menyendok nasi dan lauk. "Assalamualaikum warahmatullah ...." Annisa mengakhiri sholatnya. Melihat Annisa melipat kain sholatnya, Evan pun mulai bersuara. "Kau sudah makan?" tanyanya. Meski kasar, ternyata dia perhatian juga. Kumat-kumat, seperti kata Annisa. "Belum, Tuan ...." "Kenapa? Kau tidak mau makan makanan mahal?" ucap Evan menyindir Annisa. "Harganya saja yang mahal, rasanya kan sama saja, Tuan." jawab Annisa. Evan terdiam dan tersenyum simpul mendengarkan kata-kata Annisa. Annisa berjalan ke dapur dan mengambilkan Evan air putih dan gelas. Kemudian meletakkannya di depan pria kaya itu. "Duduk ...," perintah Evan. "Untuk apa, Tuan?" tanya Annisa. "Tadi kau bilang kau belum makan. Ya sudah, duduk. Nanti kau sakit, aku juga yang repot." Annisa pun menuruti titah Evan. Dia lalu duduk di depan Evan dan mulai menyendok nasi dan lauk. Membaca doa dan mulai menyuapi makanan ke mulutnya. Suasana mendadak hening. Hanya suara sendok mereka yang terdengar. Tidak Evan, tidak Annisa, sama-sama membisu. Membuat keadaan terasa begitu canggung. Namun, tak lama Annisa pun kembali bersuara. "E ... Tuan, saya minta maaf sekali lagi atas kejadian tadi." "Lupakan saja. Itu sudah tugasku melindungimu." Annisa terdiam dan dahinya mulai bertaut heran. Dia melihat spontan ke arah Evan. Apa maksud Evan dengan mengatakan jika itu adalah tugasnya? Menyadari jika keceplosannya membuat Annisa bingung, Evan pun dengan cepat menjelaskan maksud kalimatnya itu. "E ... maksudku, kau 'kan sudah aku booking untuk menjadi wanita penghiburku, jadi yah ... e ... aku ... aku 'kan harus menjagamu. Kalau tidak nanti mami Jessica bisa marah padaku. Paham?" Annisa kembali terdiam. Dia terus melihat kepada Evan yang membuat pria arogan itu menjadi salah tingkah. "Apa? Kau paham tidak maksudku?" nada suara Evan meninggi, menutupi gengsinya. "Paham, Tuan." "Bagus ...." Evan pun lalu bangkit karena dia sudah selesai makan. Namun, baru juga ia melangkah menjauhi meja makan, tiba-tiba saja ia kembali berhenti dan menoleh ke arah Annisa. "Nanti malam layani aku ...," ucap Evan santai dan kemudian berlalu pergi begitu saja, membuat mata Annisa membulat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD