7. Accidental Date

1772 Words
Minggu pukul 14.00 di kampus. Sherry, Pak Derry, para dosen dan mahasiswa -yang ditunjuk sebagai panitia- berkumpul untuk persiapan akhir seminar. Sherry menyibukkan diri dengan mengecek segala sesuatu keperluan seminar, mulai dari susunan acara, ruangan, konsumsi, perlengkapan, dan tidak lupa berkoordinasi dengan vendor hotel tempat seminar akan dilaksanakan besok. Panitia sepakat memilih Hotel Blue Moon, salah satu hotel megah di kota tersebut, sebagai lokasi seminar. Hal ini dikarenakan seminar dilangsungkan selama 3 hari berturut-turut dengan beberapa kegiatan indoor maupun outdoor. Dengan cekatan Sherry mengecek semua persiapan bersama panitia yang lain, agar seminar berjalan sempurna. Sherry berniat menuju Hotel Blue Moon ketika dirasa persiapan di kampus sudah selesai dan sesuai rencana. Ya, panitia perlu mengangkut barang-barang keperluan seminar seperti seminar kit, prosiding hardcopy, dan lain-lain yang jumlahnya pun tidak sedikit. Sedangkan dosen-dosen yang lain sudah pamit undur diri sejak beberapa waktu yang lalu dengan alasan keperluan keluarga. Seperti inilah rutinitas Sherry, seringkali “dikorbankan” untuk mengurus ini itu di kampus pada waktu weekend karena dia belum berkeluarga, sehingga tidak ada alasan untuk hengkang dari kewajiban kerjanya. “Ada yang bawa mobil nggak nih?” tanya Sherry kepada para mahasiswa yang dia tunjuk sebagai panitia. ”Wow …” Sherry terbengong ketika pertanyaannya tadi direspon dengan hampir seluruh mahasiswa mengangkat tangannya. “Mahasiswa milenial ya, kuliah bawa mobil sendiri. Saya kuliah S1 sampe S2 jalan kaki lho dek. Mentok juga naik sepeda atau kendaraan umum. Lha kalian enak banget bawa mobil pribadi.” “Kan Ibu kuliahnya di Belanda, negara maju, Bu. Yang memang budaya jalan kakinya tinggi. Lha kalau di Indonesia mana ada, Bu?” sanggah Novi salah satu mahasiswinya dan dibalas dengan tawa semua orang di situ. “Ya sudah berarti gak usah semua mobil ikut ke hotel. Mungkin empat mobil cukup buat ngangkut barang-barang ini,” jelas Sherry kemudian mengkoordinir pembagian tugas mengangkut keperluan seminar ke Hotel Blue Moon. Adalah Novi, Dimas, Rangga, Ardy, Devi, Rakha, dan Ajeng mahasiswa yang turut serta pergi ke hotel. “Ibu sama saya aja, pakai mobil saya. Nanti saya antar Ibu ke kampus lagi ambil mobil.” Dimas menawarkan diri untuk mengantar Sherry. “Nggak ngrepotin nih, Dim?” “Ya nggak lah Bu, masa sama dosen sendiri merasa direpotin sih.” “Oke baiklah,” Sherry menerima ajakan Dimas dengan senang hati. Setelah semua armada siap dengan muatan masing-masing, Sherry memberikan komando untuk segera berangkat menuju Hotel Blue Moon. Novi dan Devi, Rangga dan Ardy, serta Rakha dan Ajeng dalam grup mobil yang berbeda-beda. Sherry pun masuk ke mobil Dimas. Hanya berdua dengan mahasiswanya itu, dengan muatan prosiding yang penuh di bagasi belakang tentunya. Tak ada yang aneh bagi Sherry. Baginya, dia bersama mahasiswanya mengurusi seminar jurusan. Namun siapa sangka, Dimas setengah mati menahan diri karena jantungnya yang terus berdebar tidak karuan. ‘Oh shitt..jantungkuuuu..tolong bersahabatlah denganku kali ini,’ racau Dimas dalam hati. “Dim, kamu udah mulai nyusun skripsi?” Pertanyaan Sherry memecah keheningan di dalam mobil yang dikemudikan Dimas. “Baru bab satu, Bu. Setelah ini saya akan mengajukan permohonan dosen pembimbing.” “Good! Nggak usah lama-lama skripsinya. Tapi tetep harus berkualitas.” “Pasti lah Bu. Kalau Ibu jadi pembimbing saya, mau nggak Bu?” Dimas bertanya setengah menggoda namun masih tetap berdebar-debar. “Ya bisa saja kalau topiknya sesuai kebidangan saya. Tapi kan keputusan plotting pembimbingan dari jurusan, jadi para dosen tinggal menjalankan saja,” terang Sherry. “Memangnya topik skripsimu apa, Dim?” “Tentang manajemen kualitas restoran Bu. Kebetulan keluarga saya mempunyai bisnis restoran dan katering. Jadi saya bisa ambil studi kasus di restoran keluarga saya sendiri,” tutur Dimas. “Wahhh bagus kalau gitu. Bisa sekalian diaplikasikan ilmu teorinya di kondisi riil perusahaan. Begini contoh mahasiswa yang membuat saya bangga,” puji Sherry. Sontak kata-kata itu membuat telinga Dimas memerah. Dia lalu memilih memalingkan mukanya untuk menyembunyikan malu, sambil tetap fokus menyetir. Tidak tahukah Sherry bahwa mahasiswa di sebelahnya itu juga laki-laki, yang diam-diam menaruh hati padanya. Sekuat tenaga Dimas mengatur nafas dari gugupnya, sampai keringat dingin menjalar di tubuhnya. Akankah dosen cantiknya itu bisa jatuh hati padanya? Tapi Dimas terlalu takut untuk mengungkapkan perasaan, karena status mereka yang notabene adalah dosen-mahasiswa. Dan lagi, awal pertama perkenalan mereka dahulu yang terbilang bukan awal mula yang baik. Dimas juga tidak ingin menyusahkan Sherry dengan pengakuannya. Cukuplah Dimas menjadi pemuja untuk Sherry. Mungkin jika takdir baik berpihak padanya, Dimas punya kesempatan untuk mengutarakan perasaannya. Tanpa sadar rombongan Sherry beserta panitianya sudah sampai di Hotel Blue Moon. Mereka segera menurunkan prosiding dan lain-lain ke hall tempat acara besok akan diselenggarakan. Persiapan paling akhir ada di hotel tersebut. Tamu-tamu peserta seminar menginap di kamar-kamar yang sudah dibagi oleh panitia. Hal ini dilakukan untuk mempermudah kelancaran acara selama 3 hari ke depan. Terdapat 4 kamar yang dialokasikan untuk tempat beristirahat sementara bagi panitia mahasiswa dan juga dosen. Dua kamar untuk mahasiswa (terpisah pria dan wanita), sisanya untuk panitia dosen yang juga terpisah pria dan wanita. Dengan semangat yang masih tersisa, Sherry terus mengkoordinir seluruh anak buahnya untuk mempersiapkan yang terbaik. Jam dinding menunjukkan pukul 20.30. “Oke! Sepertinya semua sudah beres ya? Kalau begitu kita bisa pulang dan istirahat. Jaga kesehatan buat 3 hari kedepan ya adek-adek,” Sherry menyemangati para mahasiswanya. “Siap, Bu.” Serempak mereka menjawab dosen cantiknya itu. Semua panitia pun bergegas menuju kendaraan masing-masing dengan tujuan berbeda-beda, yaitu pulang. Sherry masih berdua dengan Dimas di parkiran mobil basement. “Ibu saya antar pulang ke rumah Ibu saja? Biar mobil Ibu dititipkan Pak Satpam? Soalnya ini sudah malam kan,” Dimas menawari. Pada dasarnya dia punya modus ingin mengantarkan dosen cantiknya pulang ke rumah dan menjemputnya besok pagi. “Lha besok gimana berangkatnya kalau mobil saya masih di kampus?” “Besok saya jemput Ibu lagi di rumah, nanti mobil Ibu biar saya dan teman-teman yang urus, ” Dimas menawarkan dengan senyum terpampang di wajahnya. Sengaja dia menambah kata teman-teman agar tidak begitu kentara akan niat aslinya. “Boleh banget tuh Dim. Tapi nggak ngrepotin nih? Beneran?” Sherry masih ragu. “Beneran, Bu. Nggak percaya amat sih sama saya,” Dimas meyakinkan dan sangat berharap Sherry menerima tawarannya. “Oke deh. Tapi saya laper Dim. Mampir makan malam dulu mau nggak? Saya yang traktir deh. Sebagai rasa terima kasih ke kamu.” “Siap, Bu.” Dimas berusaha untuk tidak bersorak saking senangnya. “Ya Tuhan, demi apa aku bisa dinner bareng Bu Sherry. Kesempatan emas buat PDKT terselubung,” batin Dimas. “Kita makan di Cafe Monopoli aja gimana Dim? Lokasinya nggak jauh dari perumahan tempat saya tinggal.” “Saya sih terserah Ibu aja, yang penting makan." Dimas menampakkan deretan giginya, tersenyum meringis. "Ya sudah Bu mari kita berangkat.” “Yuk,” sahut Sherry singkat lalu masuk ke mobil Dimas. Sesampainya di Cafe Monopoli, mereka berdua mengedarkan pandangan mencari tempat duduk yang masih kosong. Pelayan datang lalu mengantarkan Sherry dan Dimas menuju seat di pojokan dekat dengan jendela yang mengarah keluar. Spot romantis jika mereka berdua datang sebagai sepasang kekasih. Pelayan pun menyodorkan buku menu setelah Sherry dan Dimas duduk dengan nyaman di kursinya masing-masing. Mereka duduk berhadapan satu sama lain dengan lilin aroma terapi menyala di meja mereka. Suasana romantis yang tak ayal membuat jantung Dimas berdebar lagi. Dimas hanya bisa merutuki kegugupannya kali ini. “Mau makan apa, Dim?” Sherry membuka suara sambil membolak-balikkan buku menu dan akhirnya menjatuhkan pilihan pada menu lasagna dan lemon tea ice. “Saya pesan spaghetti bolognese aja mbak, sama cappucino ice,” kata Dimas sambil menyodorkan buku menu kepada pelayan. “Baik saya catat pesanannya ya, Mas, Mbak. Silakan ditunggu. Terima kasih,” kata pelayan tersebut lalu meninggalkan meja. “Hihihi ... Dipanggil mbak sama pelayannya. Nggak tahu aja tu kalau saya udah tua,” ujar Sherry dengan terkekeh. “Tapi kan memang Ibu masih muda. Cuma beda tiga tahun dari saya kan. Orang juga nggak akan nyangka lho Bu kalau Ibu tuh dosen. Biasanya kan dosen tuh udah tua-tua.” “Ya ya ya. Sampai-sampai saya digodain mahasiswa waktu pertama kali datang ke kampus,” sindir Sherry mengingat awal pertemuan mereka. “Uhuk uhuk uhuk,” Dimas tersedak air ludahnya sendiri, merasa tersindir akan kalimat Sherry. “Hahahaha … Santai aja kali, Dim. Masih takut sama saya?" goda Sherry. Wajah Dimas memerah karena tersedak dan juga malu. Dia hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena kikuk. Selanjutnya obrolan santaipun terjadi antara mereka. Sesekali obrolan terhenti saat keduanya melihat notifikasi handphone masing-masing. Dimas kini sudah bisa menguasai ketegangan hatinya. Dia sudah mulai nyaman berkomunikasi dengan wanita yang dipujanya. Sesaat dia ingin melupakan kalau Sherry adalah dosennya. Dimas ingin interaksi nyaman seperti ini berlangsung lama. Mungkin saja nanti malam dia tidak akan bisa tidur nyenyak karena masih terbayang-bayang wajah Sherry. Tanpa Sherry sadari, Dimas sempat mencuri foto saat makan malam bersama tadi. Selesai dinner bersama, Dimas lalu mengemudikan mobilnya sesuai dengan arahan Sherry sebelumnya. Dan sampailah mereka di depan rumah Sherry. Waktu menunjukkan pukul 22.00. “Saya langsung pulang ya, Bu. Besok saya jemput,” kata Dimas dari kemudi mobilnya. “Oke, Dim. Makasih ya. Hati-hati di jalan.” Sherry melambaikan tangannya saat Dimas mulai melajukan mobil. Bibir Dimas tak henti-hentinya menyunggingkan senyum sepanjang perjalanan pulang. 'Oh God, apa aku benar-benar jatuh cinta pada perempuan itu?' 'Kalau saja dia bukan dosenku..' 'Adakah kesempatan untukku memilikinya?' 'Tuhan, apa aku sudah gila? Aku sekedar penasaran atau memang menyukainya?' ‘Tapi dia dosenku.’ 'Dosakah ini?' 'Bolehkah aku berharap lebih? Tuhan, tolonglah hamba Mu ini. Aku menginginkannya.' Dimas bermonolog dalam hati, mengungkapkan perasaan dan tanya pada diri sendiri. Seorang Dimas Kalandra Saputra, anak kedua dari keluarga pengusaha kaya raya di bidang kuliner,resto, supermarket,dan lain-lain, yang sukses di kota Yogyakarta, sudah lama dia bermain-main dengan lawan jenis hanya dengan status nyaman “friendzone” atau bisa juga “friend with benefit”. Hanya sebatas teman, tanpa melibatkan hati. Tidak sedikit perempuan yang sudah dia cium -walau tidak sampai menjurus ke hubungan badan- padahal tidak pernah berkomitmen menjalin hubungan seperti pacar. Pernah sekali Dimas jatuh cinta dan berkomitmen menjalin hubungan dengan seorang gadis, tapi kandas di tengah jalan karena sang gadis memutuskannya tanpa alasan yang jelas lalu pergi tanpa kabar hingga saat ini. Karenanya, setelah dicampakkan, Dimas tidak mau memiliki hubungan yang disebut pacar, karena baginya itu hanya merepotkan dan membuatnya sakit hati. Dimas hanya membalas dendam atas harga dirinya yang ternoda karena ditinggalkan seorang gadis. Baginya semua gadis sama saja, hanya bisa menyakiti hatinya. Namun sekarang, seperti karma datang menghampiri Dimas. Siapa sangka perempuan yang bisa meluluhkan hati Dimas adalah dosennya sendiri? Membuat Dimas merasakan jatuh cinta lagi setelah sekian lama ia sakit hati. Seseorang yang selama beberapa bulan ini dikenalnya, Sherry Queensha Manggala.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD