Sabtu malam pukul 20.30.
Sherry tiba kembali di rumahnya. Kali ini dua mobil sudah terparkir di sana. MPV Hitam milik ayahnya, dan SUV putih milik ibunya. Sementara mobil Sherry berwarna merah, warna kesukaannya.
“Sherry kok jam segini baru sampe sih sayang?” Hanna, ibu Sherry tergopoh-gopoh menyambut kedatangan putri semata wayangnya.
“Sherry masih ada kerjaan Mi. Tadi niatnya mau sore kesininya, tapi nanggung di depan laptop,” ujar Sherry berbohong kepada ibunya. Tidak tega dia membeberkan apa yang sudah dia lihat tadi sore.
“Halo anak kesayangan papi,” sapa Rendy yang tak lain adalah ayah Sherry.
“Halo, Pi.” jawab Sherry singkat. Dia tak ingin melihat wajah ayahnya saat ini, namun dia juga tak ingin ibunya tahu apa yang terjadi tadi sore.
“Sherry mandi dulu ya, Mi. Sekalian ganti baju.” Ucap Sherry lalu pergi ke kamarnya, meninggalkan kedua orang tuanya yang masih berdiri di carport.
Kucuran air dari shower membuat badan Sherry segar. Badannya yang lengket dan berbau air laut pun hilang, berganti dengan aroma green tea favoritnya. Sudah satu jam Sherry habiskan di kamar mandi pribadinya, hingga terdengar suara ibunya mengetuk pintu.
“Sher, mandinya lama amat sih sayang? Kamu udah makan belum? Itu di meja makan udah disiapin makanan. Mami Papi mau tidur duluan ya, soalnya udah ngantuk nih,” teriak Hanna dari luar kamar mandi.
“Iya, Mi. Tidur duluan aja gak apa apa. Nanti Sherry beresin makanannya kalau udah selesai,” Sherry pun ikut berteriak dari dalam kamar mandi.
Benar saja, waktu sudah menunjukkan pukul 21.30. Sudah tergolong malam untuk orang tua Shery. Dan rumahpun sudah sepi karena Bi Minah selaku ART sudah pulang. Besok pagi pukul 05.00 beliau datang lagi untuk memasak dan menyiapkan segala kebutuhan tuan rumah. Tempat tinggal Bi Minah hanya berselang beberapa rumah, sehingga tidak masalah jika harus bolak balik dari rumah ke tempat majikannya.
Sherry sudah selesai mandi lalu menuruni tangga menuju meja makan. Dibukanya tudung saji, terlihat oseng cumi cabai hijau yang menggiurkan.
“Wah, Bi Minah emang juara deh, masakan favoritku nih. Bisa makan sepuasnya,” Sherry tersenyum lalu mulai makan malam sendiri. Biasanya anak gadis sudah tidak mau makan apapun setelah jam 7 malam. Namun berbeda dengan Sherry. Dia makan sesuka hati dan kapanpun ia mau. Beruntunglah, dia tipikal gadis yang susah gemuk walaupun sudah banyak makan. Perawakan Sherry adalah “body goal” bagi para gadis. Dia tinggi, putih, sexy, dan cantik, ditambah lagi status lulusan S1 dan S2 Belanda, membuat Sherry terlihat sangat sempurna. Sherry pun gemar berolahraga seperti lari, gym, bahkan beladiri. Anak tunggal dari Rendy Abrian Manggala dan Hanna Pramesti Setyowati ini tak jarang dijadikan ajang perjodohan bagi orang tua Sherry sendiri dan kolega bisnisnya yang mempunyai anak laki-laki single. Apalagi usia Sherry sudah hampir 25 tahun, usia yang cukup matang untuk berumah tangga. Namun nyatanya, Sherry masih belum memikirkan tentang pernikahan. Dia masih berambisi untuk melanjutkan S3. Dan tanpa orang lain tahu, Sherry memendam trauma karena ayahnya sendiri yang sering berselingkuh. Hal ini mengakibatkan Sherry takut menikah. Satu-satunya hubungan asmara yang pernah ia jalani adalah pacaran semasa SMA dengan Zayn, yang kandas sebelum Sherry memutuskan kuliah di Belanda.
Sherry makan dengan lahap, seolah lupa dengan kejadian tadi sore yang hampir merenggut nyawanya. Dia memilih untuk melupakan kejadian menjijikkan antara ayahnya dan seorang perempuan bernama Susi. Tidak ingin mood-nya terganggu lagi, Sherry makan sambil memasang headset mendengarkan lagu-lagu kesukaannya. Campuran antara lagu barat dan Korea. Karena kegandrungannya dengan lagu dan drama Korea, menjadikan Sherry ingin melanjutkan S3 di Korea. Sebuah mimpi yang sangat ingin ia wujudkan. Nyatanya, Sherry memang sudah apply beasiswa S3 di Korea, berharap lamarannya entah kapan dapat diterima.
Selesai makan, Sherry merapikan meja makan dan mencuci piring bekas makannya. Walaupun ada ART, namun Sherry sudah terbiasa hidup mandiri, membereskan tempat tinggal dan merapikan segala sesuatu miliknya. Jadi urusan cuci piring bukan hal yang sulit untuknya. Lampu ia matikan tatkala sudah selesai merapikan meja makan dan dapur. Sherry kembali menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.
Sesampainya di kamar, Sherry membuka laptopnya dan memilih untuk melanjutkan pekerjaan demi mengalihkan pikirannya dari hal yang memuakkan tadi. Namun nyatanya, dia masih penasaran dengan nama Susi. “Siapa dia sebenarnya? Lalu tadi pas kejadian, kenapa rumah sangat sepi? Bi Minah pergi kemana? Mengapa mereka melakukan zina di kamar ART? Kok gak sekalian check in di hotel aja sih? Gak tau sikon banget. Libido tuh dikontrol!!” Gerutu Sherry dilanda rasa penasaran dan sesak.
Dia lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang, membenamkan wajah di bantal dan menggeram frustasi. Pada akhirnya dia memilih untuk memejamkan mata setelah sebelumnya menutup laptop sembarangan, ingin mengistirahatkan jiwa raganya, sejenak melupakan kejadian sialan tadi sore.
"Dasar laki-laki sukanya bikin sakit hati perempuan aja. Nggak Papi, Zayn juga. Aaaggrrrrrhh!"
“Niat ke pantai biar lupa sama masalah papi, malah ketemu cowok sialan itu.”
“Oh come on Sher..harusnya kamu udah ngelupain cinta monyetmu tujuh tahun lalu.”
Sherry bermonolog kesal dengan kondisi yang ia hadapi saat ini.
Minggu pagi.
Sherry turun ke ruang makan hendak sarapan bersama kedua orang tuanya. Menu sarapan lezat sudah tersedia di meja makan. Papi mami Sherry pun sudah duduk di kursi makan masing-masing. Tampak Bi Minah masih sibuk hilir mudik dari dapur ke meja makan, menyajikan beraneka sayur dan lauk, yang menurut Sherry agak berlebihan untuk sarapan. Bi Minah tidak sendiri, dia dibantu seorang gadis belia yang usianya kira-kira masih di bawah Sherry.
“Pagi, Mi, Pi.” sapa Sherry sambil mencium pipi kedua orang tuanya.
“Pagi, Sayang. Ayo sarapan bareng.” balas Hanna dengan senyuman.
Sherry duduk di dekat ibunya.
“Itu siapa sih, Mi?” tanya Sherry penasaran saat melihat gadis yang membantu Bi Minah.
“Ohhh, itu Susi. Keponakan Bi Minah. Sudah hampir satu bulan dia ikut bekerja di sini sayang. Kamu sih jarang pulang kesini, jadi gak kenal Susi kan,” jelas Hanna kepada anaknya.
Deg deg deg.
“Jadi ini yang namanya Susi? Keponakan pembantu Mami? Ya Tuhaannn! Bisa-bisanya papi niduri tu bocah,” gerutu Sherry dalam hati. Tanpa sadar dia memandang Susi dengan tatapan tajam seperti hendak menerkam gadis tersebut.
“Anak mami kenapa sih?” tanya Hanna lembut sambil membelai rambut Sherry. Benar-benar tidak ada kecurigaan muncul dalam diri Hanna melihat ekspresi putrinya seperti itu.
“Gak papa kok, Mi.” Sherry menjawab lalu menoleh ke arah papinya. And you know what?? Rendy kini sedang mencuri pandang ke arah Susi dengan mata m***m lelaki.
“Oh shitttt! How dare you Daddy!” geram Sherry dalam hati. Sontak saja suasana hatinya memburuk.
“Aku sarapan di kamar aja ya, Mi. Sambil laptopan. Masih ada kerjaan yang deadline-nya besok Senin,” Sherry beralasan supaya bisa beranjak dari tempat memuakkan itu.
Tanpa kata lagi Sherry menaiki tangga membawa piring sarapan dan gelas menuju ke kamarnya. Terdengar suara pintu kamar Sherry yang ditutup dengan kasar. Brakkk!
“Tuh anak kenapa sih? Sejak pulang kemarin kok agak aneh sikapnya?” tanya Rendy tanpa rasa bersalah. Dia tidak tahu kalau Sherry sudah memergokinya selingkuh dengan Susi.
“Entahlah, Pi. Mungkin lagi stress banyak kerjaan di kampus,” terka Hanna.
Di kamar Sherry.
Sherry meletakkan piring dan gelasnya di meja samping tempat tidurnya. Dia lalu merebahkan tubuhnya. Nafsu makannya hilang seketika.
“Oh God! What should I do? He must be crazy to do that,” Sherry mengumpat dalam hati. Tidak habis pikir dengan kelakuan ayahnya.
“Masih mending kalau selingkuhan nya itu cantik, sexy, kaya. Lha ini? Keponakan Bi Minah aja diembat. F**k,” Sherry tak henti-hentinya mengumpat karena emosi.
Drrrrt drrrrt drrrrt.
Handphone Sherry bergetar, membuat Sherry kaget setengah mati.
“S**t!!! Bikin kaget aja sih!” umpat Sherry lagi sebelum menjawab panggilan ponselnya.
“Halo. Iya Pak Derry ada apa?” Sherry menjawab telepon masuk, yang ternyata dari ketua jurusan tempat dia bekerja. Intinya Pak Derry menanyakan bagaimana persiapan akhir untuk seminar internasional besok pagi, karena Sherry didaulat sebagai koordinator sie acara perhelatan akbar jurusannya itu.
Setelah menutup telepon, Sherry bergumam lagi. “Ah aku mau ke kampus ajalah abis ini. Daripada liat Susi bikin badmood. Mending ngurusin acara buat besok deh.”
Menjelang siang, Sherry menghampiri orang tuanya yang sedang asyik menonton TV di ruang keluarga.
“Mi, Pi, abis ini Sherry pulang ke rumah ya. Mau ke kampus juga ngurusin seminar besok,” tutur Sherry kepada orang tuanya. Sejujurnya dia sedang tidak ingin berlama-lama di sini. Dia hanya ingin melarikan diri dari masalah ayahnya. Rasa penasarannya kemarin terhadap sosok Susi terjawab sudah. Sherry berasumsi sendiri bahwa sore kemarin Bi Minah pulang ke rumahnya, dan mempercayakan urusan dapur kepada Susi. Mami pun belum pulang dari kantor, jadi di rumah sepi, hanya ada papi dan Susi. Pasalnya, ayahnya tersebut sudah pensiun dini dari kantornya beberapa bulan yang lalu. Sekarang kegiatan Rendy adalah bekerja sama dengan rekannya menjadi developer yang membangun perumahan. Rendy juga merangkap sebagai pengusaha property sejak dia masih bekerja di kantor pemerintahan. Maka, saat Rendy dan Susi hanya berdua di rumah, kesempatan untuk berbuat m***m terbuka lebar. Pikiran itu terus membayangi Sherry membuatnya semakin kesal dan benci kepada ayah kandungnya itu.
Setelah selesai berkemas, Sherry berpamitan kepada kedua orang tuanya lalu mulai mengemudikan mobilnya menuju kampus tempat dia mengajar.