5. Masalah Sherry

1452 Words
Langit jingga menemani Sherry yang masih bergulat dengan pikirannya sendiri. Deburan ombak membasahi kaki sampai ke lutut Sherry. Dia tidak sadar bahwa semakin lama air laut semakin tinggi. Sherry masih termenung menerawang jauh memandangi lautan di depannya. Air mata pun tak kunjung kering, masih membanjiri pipinya. Bagaimana tidak, kejadian beberapa jam lalu membuatnya tidak bisa berpikir jernih lagi. Tanpa sadar, Sherry semakin menenggelamkan badannya, membiarkannya tersapu ombak. Matanya mulai terpejam, kesadarannya perlahan menghilang. Hingga sepasang tangan berusaha sekuat tenaga menariknya dari gulungan ombak yang semakin lama semakin besar. “Sherry!!! Sadarlah..Ya Tuhan..kamu kenapa??” Zayn masih bergumam dan berdoa agar Sherry tidak apa-apa, sambil dia terus melakukan CPR dan memberi nafas buatan untuk Sherry. Ya, Sherry tadi sudah hampir tergulung ombak kalau saja Zayn tidak menyelamatkannya. Dan kini, Sherry masih tergeletak di pinggir pantai belum sadarkan diri. Laki-laki tersebut masih berusaha sekuat tenaga memberikan nafas buatan. Beberapa saat kemudian Sherry membuka mata dan memuntahkan banyak air laut yang ditelannya. Sherry terbatuk-batuk dan masih mengatur nafas dengan tersengal-sengal. “Syukurlah kamu sudah sadar. Kamu baik-baik aja?” tanya Zayn dengan senyum sangat lega melihat Sherry sudah sadar. Sherry duduk, memandang sekitarnya dengan sangat bingung. Saat ini matahari sudah enggan menampakkan cahayanya. Mentari sudah terbenam di ufuk barat. “Apa ... yang ... ter ... jadi? Kamu?? Kenapa kamu ada disini?” Tanya Sherry masih terengah-engah. Dan dia bertambah bingung saat mendapati dia bersama laki-laki yang sudah bertahun-tahun tidak ditemuinya, sekarang berada di sebelahnya sedang menepuk-nepuk pundaknya agar air laut tidak bersisa lagi di kerongkongan Sherry. “Kamu tadi hampir terseret ke tengah laut. Aku dari tadi sudah meneriakimu waktu kamu tidak berhenti dan terus jalan. Akhirnya ya seperti yang kamu lihat sekarang, kamu hampir mati tenggelam,” jelas Zayn dengan nafas tersengal juga. Sejujurnya dia tidak begitu ingat kejadian tadi. Apa benar dia tanpa sadar menuju ke tengah laut? Apa memang Sherry berniat bunuh diri? Dan Sherry pun tersadar dengan pikiran terakhir sebelum pingsan. Air mata pun kembali menetes di pipi Sherry, membuat Zayn yang berada di sampingnya kebingungan. "Kamu kenapa Sher? Ada yang sakit? Kamu nggak apa-apa kan?" Zayn menarik Sherry dalam dekapannya. Mencoba meyalurkan ketenangan pada Sherry. Sherry tidak menolak perlakuan tersebut dan masih terisak. Beberapa saat kemudian barulah dia tersadar dan melepaskan diri dari rangkulan laki-laki itu. "Sorry, dan makasih udah nyelamatin aku." Sherry menegakkan tubuhnya dan membuat suasana menjadi kikuk untuk keduanya. "Kamu bawa baju ganti nggak? Bajumu basah semua ini. Nanti sakit lho." "Bawa kok. Ada di mobil." "Ya udah, kamu ganti baju dulu. Aku tunggu di situ ya. Aku juga mau ganti bajuku dulu." Sherry hanya menjawab dengan anggukan. Zayn berucap sambil mengusap puncak kepala Sherry dengan sayang, membuat empunya merasa sedikit risih dengan perlakuan itu. Keduanya lalu berdiri dengan Sherry dibantu oleh Zayn. Mereka berpisah ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. ------ Sherry melangkah keluar dari kamar mandi tempat dia mengganti bajunya, menuju sebuah tempat duduk dimana seorang lelaki sudah menunggunya. Dengan sedikit ragu Sherry mendekat. Sang lelaki tersenyum lalu menepuk tempat di sebelahnya, mengisyaratkan Sherry untuk duduk di situ. Setelah Sherry duduk, lelaki itu membuka suaranya. "Minum dulu nih tehnya. Biar badan kamu lebih hangat," Sherry pun meminum teh di depannya dan masih enggan untuk bicara. "Sudah hampir tujuh tahun kita nggak ketemu Sher, malah nggak sengaja ketemu di sini, tempat favorit kamu. Dan sepertinya kamu tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Ada masalah apa sih sampai kamu sekalut tadi Sher?" "Kamu nggak perlu tahu, Zayn. Dan nggak usah sok peduli!" jawab Sherry. Zayn tersenyum simpul. "Kamu masih galak kayak dulu Sher. Menggemaskan dan itu yang aku kangenin." "Udah deh nggak usah ngerayu segala," Sherry menjawab dengan ketus. "Aku mau pulang aja. Makasih udah nolongin aku," Sherry hendak beranjak dari tempat duduknya, namun dengan cepat Zayn menarik lengan Sherry hingga menabrak d**a bidangnya. Pelukan erat ia berikan pada Sherry seolah ingin menyalurkan kerinduan yang lama terpendam. "Aku kangen kamu, Sher. Jangan pergi lagi." Zayn mengatakannya sembari mengecup puncak kepala Sherry. "Zayn ... Please, lepasin." Kemudian dengan berat hati Zayn melepaskan pelukannya. "Oke kalo kamu mau pulang. Aku anterin ya." "Aku kan bawa mobil sendiri." "Ya nggak papa, pake mobil sendiri-sendiri, aku ikutin sampai rumah kamu," Zayn masih berusaha bernegosiasi. "Ya udahlah. Terserah kamu aja," Sherry pun akhirnya mengalah. Mereka lalu menuju tempat parkir dan mengendarai mobil masing-masing. "Nggak usah ngebut-ngebut ya. Udah malem soalnya." "Iya iya, bawel amat sih," Sherry masih dengan jutek menanggapi Zayn yang menurutnya sok perhatian. Sedangkan Zayn hanya mengulum senyumannya. Di dalam mobil, Zayn masih betah tersenyum sendiri. Mulai menyalakan mesin mobilnya mengikuti mobil Sherry dari belakang. Rupanya keisengan Zayn pergi ke pantai malah memberikan keberuntungan baginya. Siapa sangka dia akan bertemu Sherry. Sementara di dalam mobil Sherry, perempuan itu dengan susah payah menata hatinya kembali. Niat awal tujuan ke pantai adalah untuk menghindari masalah di rumah orang tuanya, namun kenyataannya kini malah seperti dipermainkan takdir karena bertemu kembali dengan seseorang di masa lalunya saat Sherry hendak mengakhiri hidupnya. Sungguh jalan Tuhan yang masih belum Sherry pahami. Flashback On Sabtu pukul 15.00 di kediaman orang tua Sherry. Sherry memarkirkan mobilnya di carport,bersebelahan dengan mobil MPV hitam milik ayahmya. “Ah, di rumah cuma ada papi nih. Mobil mami belum ada,” gumam Sherry sambil mengaktifkan hand break mobilnya. Hari Sabtu adalah hari kumpul keluarga,antara Sherry dan kedua orang tuanya. Sherry adalah anak tunggal, namun dia memilih untuk tinggal sendiri di rumah yang dibeli dari hasil jerih payah belajar dan bekerjanya selama ini. Ya, rumah yang bisa dia beli dari sisa uang beasiswa di luar negeri, upah kerja part time selama studi S1 hingga S2 di Belanda, dan juga gaji Sherry sekarang sebagai dosen. Dari sisi gaji memang nominalnya tidak terlalu tinggi. Ukuran standar untuk gaji lulusan S2. Namun tabungan beasiswa Sherry yang banyak membantu mewujudkan rumah impian tersebut. Dan ditambah suntikan sedikit dana dari kedua orang tuanya. Selama 6 tahun Sherry tinggal sendiri di Belanda, menempuh kuliah strata 1 dan langsung ke strata 2 karena prestasi Sherry yang cemerlang. Karena sudah terbiasa hidup sendiri, Sherry pun tidak kesulitan untuk mandiri walaupun rumahnya sekarang satu kota dengan orang tuanya. Dan kini sudah hampir 7 tahun Sherry hidup sendiri, karena belum genap 1 tahun dia resmi bekerja sebagai dosen di salah satu universitas swasta di Yogyakarta ini. Sherry memang tidak menjanjikan kepada orang tuanya jam berapa dia bisa pulang ke rumah. Karena belakangan ini banyak sekali pekerjaan di kampus, sehingga menyita banyak waktu dan energi Sherry. Niat hati Sherry ingin memberikan kejutan untuk orang tuanya. Namun didapatinya carport rumah hanya ada mobil ayahnya. Sedikit kecewa Sherry melihatnya. Dia pun keluar dari mobil, mengunci mobil lalu berjalan menuju pintu rumah. “Lho, kok pake dikunci segala sih?” gerutu Sherry saat mengetahui pintu rumah tersebut terkunci. Padahal dia berasumsi ada ayahnya di rumah, karena mobil yang terparkir di carport. Sherry pun mengeluarkan kunci duplikat yang dimilikinya. Dengan santai dia melangkah masuk ke dalam rumah. “Kok sepi ya? Papi ada di rumah gak sih?” tanyanya pada diri sendiri. Lalu sayup-sayup terdengar suara desahan dan erangan lirih. “Suara apa itu?” Sherry masih menerka-nerka asal usul suara. Dan entah mengapa, langkah kaki Sherry tidak terdengar. Sama seperti maling mau mencuri. Desahan tadi kira-kira berasal dari kamar ART di bagian belakang dekat dapur. Sherry semakin penasaran dan berjingkat-jingkat menuju kamar itu. Suara desahan semakin terdengar, karena Sherry menempelkam telinganya di pintu. “Ahhh ... Aahhhhh …Aahhhh … Papi ... Shhhhh … Aaahhhhh …” desah si wanita “Sshhhh ... Aahhhh ... Susi ... Ahhhh.” Terdengar suara pria yang tak lain adalah ayah Sherry. Sherry terkaget dengan apa yang didengarnya. Dari celah jendela yang tidak tertutup rapat oleh korden di dekat pintu kamar, dia bisa melihat adegan tak senonoh ayahnya bercinta dengan perempuan lain di rumahnya sendiri, sementara ibunya masih belum pulang dari kantornya. Sherry menahan tangis lalu buru-buru pergi dari sana. Dia tidak ingin ayahnya tahu jika dia memergokinya sedang berzina. Sherry menutup pintu depan lalu tancap gas dengan berlinang air mata. Dia memacu mobilnya, dan sampailah dia di pantai. Tempat favoritnya sejak dahulu. Masih menangis, Sherry berjalan ke tengah laut nekad hendak mengakhiri hidupnya. Bagaimana tidak. Sudah berapa kali dia mengetahui perselingkuhan ayahnya, ibunya pun juga tahu. Tidak jarang orang tuanya bertengkar hingga hampir bercerai. Namun pada akhirnya rujuk kembali. Nyatanya, sang ayah tidak juga kapok dengan kelakuan buruknya. Hal itulah yang membuat Sherry malas untuk tinggal satu atap dengan kedua orang tuanya. Dia ingin kedamaian, bukan melulu mendengarkan pertengkaran. Hingga pada saat ini ... Pikiran Sherry mulai tidak karuan, kesadarannya kian menghilang, hingga sepasang tangan merangkul dan membawanya menjauhi ombak. Itulah pertemuan Sherry dengan laki-laki yang tidak pernah Sherry duga sebelumnya akan bertemu kembali setelah sekian lama, Zayn Adhitama Saputra sang mantan kekasih. Flashback End
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD