4. Tak Sengaja Bertemu

1480 Words
Announcement! Open recruitment Urgently needed: Commitee for international conference Requirement: Student Good in English both speaking and writing Having organizational skill, leadership, high responsibility, good attitude Position for: sponsorship division, MC, public relation (PR) division, accommodation, event organizer, etc (all division). For further information please contact: Sherry Queensha Manggala, M.Sc Sherry membuat pengumuman di grup chat kelas yang diajarnya. Kali ini dia didaulat menjadi ketua panitia seminar internasional yang diadakan oleh jurusan tempat Sherry mengajar. Dia membutuhkan tim panitia yang terdiri atas dosen dan mahasiswa. Oleh karena itu, dia membuka lowongan panitia kepada seluruh kelas. Dimas membuka ponselnya lalu mengirim pesan. [Rakha, ayok ikutan daftar jadi panitianya Bu Sherry ~ Dimas] [Ngapain ngajak-ajak? Sendirian aja sana hahahaha ~ Rakha] [Kampret lo ... Biar dapet nilai plus dari Bu Sherry dong. Aku tahu nilaimu pas-pasan. Makanya kuajak ikut kepanitiaan. Siapa tahu dapet rekomendasi buat ke depannya. Mau nggak? ~ Dimas] [Iya juga sih ya. Ini kamu antaranya mau ngejek atau ngasih saran kok nggak ada bedanya ya? Tapi kuterima niat baikmu Dim. Aku ikut deh. Kapan mau daftar? Sekalian ajak Ardy sama Rangga tuh.~ Rakha] [Nah gitu dong. Mantab kan. Ntar jam satu siang kita ke ruangan Bu Sherry ya.~ Dimas] [Ok deal ~ Rakha] Beberapa menit menjelang pukul 13.00 Dimas sudah menunggu Rakha tidak jauh dari ruangan Sherry. Lalu ponsel Dimas berbunyi tanda notifikasi pesan baru. [Dim, sorry to say aku ada urusan mendadak nih. Ntar mintain recruitment form aja sekalian buat temen-temen.~ Rakha] [Buat aku, Ardy, Rangga, Novi, Devi, sama Ajeng ya. ~Rakha] [Tenkyu ya bro.~ Rakha] “Haish, dasar pada mau enaknya sendiri nih bocah. Pada takut ama Sherry paling ya? Ah ya udah kesempatan buat ngobrol berdua. Hahaha,” Dimas yang tadinya sedikit kesal dengan pembatalan tiba-tiba dari Rakha menjadi bersemangat untuk menemui dosen cantiknya hanya berdua saja. Tok tok tok. Suara pintu ruangan diketuk. “Masuk,” jawab Sherry dari dalam ruangannya. “Selamat siang, Bu.” Dimas menyapa Sherry terlebih dahulu. “Kenapa Dim? Kamu sepertinya jadi rajin menghadap saya?” Sherry memicing curiga. “Anu, saya mau daftar jadi panitia seminar internasional yang Ibu umumkan di grup tadi,” Dimas menerangkan maksud kedatangannya. “Oh mau ikut jadi panitia? Boleh banget. Yang mau daftar kamu sendiri atau ada teman-temanmu juga Dim?” tanya Sherry sembari mengambil kertas formulir kepanitiaan. “Itu ... Sebenarnya ada tujuh mahasiswa termasuk saya Bu yang mau daftar. Tapi mereka titip ke saya. Boleh tidak Bu?” ucap Dimas sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sebenarnya dia takut akan dimarahi lagi. “Boleh. Ini formulirnya. Silakan diisi lalu dikembalikan kepada saya secepatnya. Memangnya kenapa mereka titip formulir ke kamu Dim?” Sherry penasaran. “Itu ... Anu Bu ...” Dimas menggantung kalimatnya. Dia bingung harus berkata apa. “Mereka takut sama saya?” tebak Sherry. “Kok tahu, Bu? Eh." Dimas menutup mulutnya karena keceplosan mengatakan hal yang sebenarnya. “Hahahahaha.” Sherry tertawa mendengar kejujuran Dimas. Sementara Dimas hanya nyegir kuda dan mengusap-usap rambutnya. “Kamu sendiri tidak takut sama saya, Dim?” goda Sherry. “Saya tidak takut sama Ibu, tapi saya menghormati Ibu.” Jawab Dimas sok bijak. “Bener sih Dim, nggak usah takut sama saya. Saya orangnya tuh nggak galak. Hanya disiplin. Jadi selama kamu nggak salah dan selalu disiplin, ya nggak perlu takut akan hukuman kan,” terang Sherry. “Iya, Bu. Saya paham. Lagipula Bu Sherry orangnya ramah kok.” “Makasih lho Dim sudah bilang saya ramah.” Kembali Sherry menggoda mahasiswanya itu. “Ah Ibu bisa aja.” Dimas berusaha untuk sesantai mungkin, padahal detak jantungnya sudah tidak karuan. “Ya sudah itu formulirnya dibagi ke teman-temanmu, saya kasih lebih itu. Siapa tahu ada yang mau daftar lagi. Kalian bisa dapat pengalaman kalau ikut seminar itu. Jadi panitia sekaligus kirim paper research saja untuk dipresentasikan,” terang Sherry lagi. “Baik, Bu. Saya infromasikan ke teman-teman. Terima kasih sarannya. Saya permisi, Bu.” Dimas berpamitan keluar dari ruangan Sherry. Pada akhirnya Dimas beserta keenam temannya resmi menjadi panitia seminar bersama Sherry dan beberapa dosen yang lain. Mereka lebih sering bertemu untuk rapat dan koordinasi mengenai segala sesuatu yang dibutuhkan untuk seminar. Dan tentu saja berimbas ke hubungan personal antara mereka dengan Sherry. Rakha, Ardy, Rangga, Devi, Novi, Ajeng, dan Dimas adalah panitia inti, tangan kanan Sherry dalam mengurusi acara besar tersebut. === Beberapa bulan berlalu sejak pertemuan pertama Dimas dan Sherry. Tanpa terasa ujian akhir semester pun sudah terlewati. Dimas tidak main-main menunjukkan keseriusannya dalam belajar guna mendapatkan nilai sempurna. Dia hanya tinggal menunggu hasil pencapaiannya yang ia yakini akan sesuai dengan harapannya. Saat ini dia sedang memandangi layar laptopnya, terpampang sistem informasi akademik yang menunjukkan performansinya selama satu semester. Senyum mengembang di bibir Dimas, pertanda nilai semester ini sempurna untuknya. Ya, indeks prestasi (IP) 4 sesuai tuntutan Sherry. “Akhirnya salah satu tiket buat ndeketin Sherry berhasil aku dapatkan,” Dimas berkata sendiri sembari menyunggingkan senyum kemenangan. Niat awal Dimas bersikeras mendekati Sherry adalah karena rasa penasaran. Belum pernah ada perempuan yang menyepelekan Dimas, karena selama ini dia yang dikejar-kejar oleh para gadis. Ditambah lagi kenapa Sherry tiba-tiba muncul di mimpi Dimas, padahal mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Beberapa bulan sering berkomunikasi dengan Sherry membuat Dimas dekat dan akrab dengan dosennya tersebut. Ditambah lagi ia ikut berpartisipasi dalam kepanitiaan seminar internasional yang diketuai oleh Sherry. Dimas tidak sadar bahwa rasa penasarannya sudah berubah menjadi benih-benih cinta. Perasaan yang mungkin tidak normal karena terhalang status antara seorang dosen wanita dan mahasiswanya. Tok tok tok. Lagi, Dimas mengetuk pintu ruangan Sherry untuk menghadap. “Masuk” sahut Sherry dari dalam ruangan. “Bu, saya mau menyerahkan daftar nilai saya semester ini,” Dimas menyodorkan kertas yang berisikan nilai mata kuliahnya dimana nilai A terpampang di semua mata kuliah tersebut. “Wow, saya nggak nyangka kamu berhasil dapat IP 4 Dim. Lalu berapa IPK kamu sampai semester ini?” Sherry bangga dengan hasil kerja keras mahasiswanya tersebut. “Sampai semester ini IPK saya 3,80 Bu.” Dimas menjawab dengan bangga. “Almost perfect. Congratulation for you. Lalu, semester ini kamu sudah akan skripsi?" tanya Sherry kemudian. “Iya, Bu. Saya sudah memasukkan skripsi di KRS saya. Tapi saya masih stuck untuk topiknya,” Dimas belum menemukan judul yang cocok untuk skripsinya. “Kamu bisa baca referensi jurnal dan skripsi-skripsi sebelumnya yang ada di perpustakaan baik yang berupa hardcopy ataupun digital,” Sherry menerangkan dengan bijaksana dan ramah. “Saya senang jika semua mahasiswa rajin seperti kamu,” imbuh Sherry kemudian. Dia tidak tahu bahwa telinga Dimas sudah kemerahan karena malu dipuji dosen pujaan hatinya. “Oh iya, bagaimana perkembangan sponsorship untuk seminar kita? Sudah ada yang approved?” Sherry beralih bertanya mengenai seminar yang mereka kerjakan. “Sudah banyak yang deal untuk menjadi sponsor seminar, Bu. Nanti akan saya laporkan detailnya saat rapat. Pokoknya beres, Bu. Tinggal nunggu hari H pelaksanaan seminarnya,” Dimas menerangkan. “Bagus kalau bagitu. Tapi jangan sampai menjadi panitia ini adalah halangan untuk kalian mengerjakan skripsi ya. Saya harap malah dapat menjadi pengalaman, dan siapa tahu besok pas seminar ada networking untuk penelitian dan apply kerja.” Kata-kata Sherry sungguh berwibawa dan menunjukkan intelektualitas tinggi. Satu hal lagi yang membuat Dimas kagum adalah sifatnya yang ternyata begitu ramah dan baik pada kolega dan juga mahasiswanya. Kesan galak yang diberikan saat awal pertemuan hanya sebagai tameng agar para mahasiswa tidak menyepelekan dia. Terbukti seluruh mahasiswa menghormati dan senang diajar oleh Sherry. Sherry termasuk dosen favorit di jurusannya. === “Halo, Kak. Gimana udah dibaca belum proposalnya? Ikutan jadi sponsor ya. Harus itu. Bantuin adikmu yang paling ganteng dan cerdas ini lho,” Suara Dimas sedang menelepon kakaknya, Zayn. Dimas tidak memberitahukan bahwa salah satu sponsor seminar adalah perusahaan orang tuanya yang dikelola oleh Zayn, sang anak sulung. “Udah k****a, besok kamu minta sendiri aja ke bagian keuangan butuhnya berapa. Nanti ku acc,” jawab Zayn enteng. “Aseekkkk! Beruntung banget punya kakak pengertian, murah hati dan rajin menabung hahaha,” Dimas malah menggoda kakak laki-lakinya. “Dasar bacotan lo. Udah kututup teleponnya. Kakak mau pergi dulu. Nggak usah dicari,” kata Zayn kemudian. “Mau kemana emangnya kak? Ikutan dong,” rengek Dimas. “Kagak boleh ikutan. Kakak mau healing dulu. Bye,” Lalu telepon dimatikan sepihak oleh Zayn. === Zayn memarkirkan mobilnya di lahan parkir terdekat. Menikmati pantai di sore hari mungkin adalah pilihan yang tepat karena tidak banyak orang yang datang. Apalagi sekarang bukan musim liburan, pengunjung pantai tidak seramai waktu libur. Zayn ingin menyendiri melepas penat. “Hah! Pantai ini malah bikin aku keinget Sherry,” Zayn bermonolog sambil tersenyum getir lalu menolehkan pandangan ke suatu arah. “Ya Tuhan, kenapa aku sampai berhalusinasi ada Sherry di ujung sana?” Zayn mengucek-ucek matanya namun sosok yang dikira halusinasi itu tetap ada. “Sherry? Kamukah itu?” Sambil setengah berlari Zayn menuju tempat dimana Sherry berada. “Sherry, awas!” Zayn meneriaki Sherry.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD