3. Mulai Beraksi

2243 Words
Beberapa hari telah berlalu sejak Sherry memberikan tugas esai. Saat ini Dimas berkutat di meja belajar di kamarnya dengan laptop dan kertas folio bergaris. Hari ini adalah hari Minggu malam, yang berarti tinggal beberapa jam lagi batas pengerjaan tugas yang diberikan Sherry. “Adekku kemasukan jin apaan ya? Tumben rajin?” Suara kakak laki-laki Dimas mengejutkan Dimas hingga tanpa sengaja mencoret tugas esai-nya. “Kakaaaakkkk!!! Arrgghhh sial! Bikin kecoret nih!” Dimas meluapkan kemarahan kepada kakaknya sementara sang kakak tertawa terbahak-bahak. “Huahahahaha … Lagian tumbenan ngendon di kamar, nulis di kertas folio. Kayak anak SMA aja lo.” “Nyinyir aja kayak biang gosip!” Dimas masih sewot. “Ngerjain apaan sih serius amat? Bikin surat cinta? Kalau bikin surat cinta pake kertas pink, jangan folio bergaris gitu,” Sang kakak masih belum kapok mengejek Dimas. “Yang terhormat Zayn Adhitama Saputra, saya minta Anda tidak mengganggu pekerjaan saya karena nantinya bisa berakibat fatal untuk masa depan saya,” Dimas sudah lelah menghadapi keisengan kakak laki-lakinya yang ternyata bernama Zayn tersebut. “Hahaha lebay amat jadi cowok!” Giliran Zayn tertawa terbahak-bahak lagi. “Ya lagian punya kakak cowok satu aja isengnya kebangetan!” sungut Dimas. “Ini tugas kuliah harus ditulis tangan di kertas folio bergaris. Antisipasi mahasiswa kalau pada nyontek tahu nggak?” “Pasti dosennya udah tua kolot gitu ya? Makanya ngasih tugas di kertas folio garis. Udah pengalaman dari jaman penjajahan paling. Hahahaha,” Zayn berkelakar masih mengejek dosen Dimas. “Kakak salah besar. Dosen Dimas ini masih muda, cantik pula. Seumuran ama kakak.” Dimas membela dosennya sambil masih menulis di kertas folio bergaris. “Oh ya? Pantesan dibela-belain rajin nugas seharian. Tapi pasti masih cantikan pacar kakak lah,” Kini giliran Zayn yang membandingkan. “Pacar dari Hongkong! Jomblo akut nggak usah ngaku-ngaku punya cewek deh kak. Pamali, ntar malah nggak ada yang mau lho.” “Kampret lo!” Zayn menoyor kepala Dimas namun Dimas malah tertawa terbahak-bahak. “Kakak tuh bukan jomblo ya! Hanya menunggu momen yang tepat buat jadian,” “Hilih bilang aja terjebak masa lalu. Lagian mau nembak nunggu momen tepat apaan. Sampe tuh gigi pada ompong juga nggak akan dirasa tepat momen-nya. Ditikung cowok lain baru tahu rasa kak,” Dimas dengan sok bijak menasehati kakaknya. “Sok bijak jadi adek. Nggak tahu ceritanya nggak usah sok tahu lo,” Zayn lalu melenggang pergi karena kesal karena dinasehati oleh adiknya. “Hahahahaha,” Kini giliran Dimas tertawa puas karena berhasil membuat kakak laki-lakinya berhenti mengusilinya. “Ah, akhirnya selesai juga tugas negara ini,” Dimas bermonolog puas karena tugas kuliahnya sudah selesai. Waktu menunjukkan pukul 22.00. “Waktunya tidur, pasang alarm dulu biar besok nggak kesiangan ngumpulin tugas.” === Tiba di kamarnya sendiri, Zayn menghempaskan tubuhnya ke kasur empuk miliknya. Perkataan Dimas sebelumnya mengganggu pikirannya. Ditikung cowok lain baru tahu rasa. Kalimat ini terdengar menyeramkan bagi Zayn. Dia yang mempunyai suatu kisah di masa lalu hingga kini masih belum menemukan akhir bahagianya. Diambillah sebuah handphone, lalu dibuka galeri foto. Sebuah foto hasil screenshot dari social media Zayn amati, lalu tersungginglah sebuah senyum. “Hai Sherry, bagaimana kabarmu sekarang? Kamu ada dimana? Aku kangen,” gumam Zayn sambil mengelus foto di telepon genggamnya. Sherry, nama yang tanpa sengaja terkait dengan Dimas dan Zayn, dua bersaudara yang saling tidak mengetahui bahwa gadis yang diimpikannya adalah sosok yang sama. Dari sinilah cinta segitiga yang rumit dimulai. === Kriiiinnggggggggg! Kriiiiiiiiinnggggg! Kriiiiinnngggggggg! Bunyi alarm jam terdengar nyaring di telinga. Jam menunjukkan pukul 05.00, dua jam sebelum waktu pengumpulan tugas dari Sherry. Dimas masih di alam mimpinya, menghiraukan suara berisik yang memekakkan telinga. Tangannya pun meraih jam weker tersebut lalu mematikan alarmnya. Setelah itu, ia kembali menutup mata dan mendengkur. Beberapa waktu kemudian Dimas terbangun dan menggeliat tanpa dosa. Perlahan ia mengerjapkan mata mengingat-ingat hari apa ini, lalu kegiatan yang harus dilakukan. Dan tiba-tiba ia terlonjak. “Mampussss ... jam berapa ini?” Sontak Dimas bergegas melihat waktu menunjukkan pukul 06.30, yang berarti tinggal 30 menit lagi pengumpulan tugas. Secepat kilat Dimas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, lalu buru-buru menyambar baju di lemari, sepatu, tas, dan tak lupa ponselnya. Ia lalu menuruni tangga berniat menuju garasi. “Kakak kunci motor dimana?” tanyanya tiba-tiba pada Zayn yang sedang membaca sesuatu di tablet. “Di tempat biasanya lah,” jawab Zayn tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya. “Motor aku pake ya. Aku berangkat dulu,” pamit Dimas sambil terburu-buru lalu memutar gas motor sport-nya. “Tuh anak kelakuannya aneh banget dari kemarin,” Zayn terheran-heran. === Dimas berlari dari parkiran menuju ruangan kerja Sherry. Di tengah perjalanan, ia berpapasan dengan Ibu penjaga kantin yang sedang kesusahan berjalan. Nampak si ibu kesakitan namun tetap memaksakan diri untuk berjalan. Dimas bimbang antara mengejar waktu mengumpulkan tugas atau menolong ibu penjaga kantin tersebut. Naluri kemanusiaan Dimas lebih dominan saat ini. Akhirnya Dimas memutuskan untuk menolong Ibu tersebut, memapah hingga sampai ke klinik kampus yang terletak tak jauh dari tempat Dimas berada saat ini. Selesai menolong Ibu penjaga kantin, Dimas melanjutkan misinya mengumpulkan tugas di loker milik Sherry. Naas, waktu telah menunjukkan pukul 07.35, sudah lewat dari batas waktu pengumpulan tugas. Nampak beberapa mahasiswa mengantre di depan ruangan Sherry, memohon untuk diijinkan mengumpulkan kertas folio mereka masing-masing. Sayangnya pendirian Sherry kuat, tidak ada satupun kertas folio yang diterima. Para mahasiswa yang notabene adalah teman-teman seangkatan Dimas tersebut harus menelan kekecewaan karena bakal mendapat nilai 0 di tugas perdana ini. Dengan langkah lunglai mereka pergi meninggalkan ruangan Sherry dengan hati kecewa. Dimas memberanikan diri masuk ke ruangan Sherry. Ia yakin Sherry tidak setega itu terhadap mahasiswanya. Mungkin Sherry hanya bermaksud memberikan efek jera kepada mahasiswa yang teledor dalam mengerjakan tugas dan kewajibannya. Yang Dimas tahu, ada sisi humoris dalam diri Sherry. Terbukti sewaktu dia menghadap untuk meminta maaf dulu, Sherry tidak semengerikan yang ia bayangkan. Tok tok tok. Bunyi pintu diketuk. Baru saja Dimas memegang knop pintu, aura dingin sudah meyelimuti ruangan. “Selamat pagi, Bu Sherry.” Dimas memberi salam sambil menutup pintu di belakangnya. “Jika kamu mau mengumpulkan tugas, sudah tidak bisa saya terima Dimas,” tutur Sherry tenang namun penuh dengan penekanan. “Tapi saya punya alasan mengapa saya terlambat, Bu.” Entah keberanian dari mana, Dimas agak meninggikan nada bicaranya dan penuh dengan penekanan pula. “Alasan apa?!! Bangun terlambat? Ban bocor? Apalagi? Alasan klise yang sudah kadaluarsa. Kenapa sih makin kesini moral mahasiwa makin tipis saja,” Sherry mengatakannya dengan amarah. “Tahu aja sih kalau aku memang bangun kesiangan. Tapi kan kalau nggak nolongin ke klinik dulu nggak bakalan telat.” Batin Dimas yang tidak berani ia utarakan. “Kenapa diam? Nggak bisa kasih alasan kan? Sekarang lebih baik kamu keluar dari ruangan saya!” Sherry menunjuk pintu keluar yang menandakan pengusiran terhadap Dimas. “Baik, Bu. Saya minta maaf,” Akhirnya hanya kalimat itu yang berhasil keluar dari mulut Dimas. Ia lalu beranjak keluar ruangan dan memasukkan kembali tugasnya ke dalam tas. === Siang hari waktu istirahat makan siang tiba. Suasana kantin ramai karena sedang jam makan siang. Sherry menengok kanan kiri mencari tempat duduk kosong untuk menyantap makan siangnya. Kebetulan bangku di sebelah Dimas kosong dan hanya tersisa itu saja di kantin yang penuh sesak itu. Sherry terlalu gengsi untuk duduk di sana, namun Dimas sudah berdiri menghampiri Sherry dan mengajak untuk duduk di sebelahnya. “Mari duduk di sini, Bu. Yang lain sudah penuh kan. Silakan duduk, Bu.” ajak Dimas sopan. Tak ayal Sherry pun mendudukkan diri di sebelah Dimas. “Terima kasih,” kata Sherry singkat. Tidak ada percakapan apapun, Dimas dan Sherry sibuk dengan makan siang dan gadget masing-masing. Hingga seseorang mendekati meja mereka. “Mas, ini ada sedikit makanan dari saya. Ucapan terima kasih karena sudah menolong saya tadi pagi,” ucap seseorang tersebut yang ternyata adalah Ibu penjaga kantin yang dipapah Dimas ke klinik. “Oh tidak perlu repot-repot, Bu. Saya ikhlas kok nolongnya.” “Mohon diterima, Mas. Hanya seadanya saja. Saya mohon maaf jika kurang berkenan. Dan sekali lagi terima kasih sudah menolong saya,” ucap Ibu itu lagi. “Baik, Bu. Saya terima makanannya. Terima kasih ya, Bu.” Akhirnya Dimas menerima pemberian Ibu tersebut. Setelah Ibu penjaga kantin berlalu, Sherry membuka suaranya. “Apa itu alasan kamu terlambat mengumpulkan tugas saya? Karena menolong Ibu kantin tadi?” “Ibu nguping ya?” tanpa beban kata-kata itu meluncur dari mulut Dimas. Lalu seketika Dimas memukul mulutnya sendiri. Sherry tertawa mendengar kepolosan Dimas tersebut. “Bagaimana kuping saya tidak dengar, kalian ngobrolnya di sebelah saya,” kata Sherry setelah selesai tertawa. “Iya, Bu. Saya tadi ke klinik dulu mengantar Ibu kantin. Saya kasihan melihat beliau jalan sambil kesakitan,” jujur Dimas. “Lalu sekarang dimana tugas kamu? Kenapa belum diserahkan kepada saya?” tanya Sherry dan menengadahkan tangan meminta kertas folio Dimas. “Beneran Bu boleh ngumpulin tugas?” tanya Dimas tidak percaya. “Mau mengumpulkan tugas atau tidak? Sebelum saya berubah pikiran. Saya hitung sampai tiga. Satu ...” “Ini Bu tugas saya,” Dimas buru-buru menyerahkan tugasnya ke tangan Sherry sebelum hitungan ke tiga. “Ok saya terima tugas kamu. Bukan awal yang buruk sih untuk mendapat IP 4.” “Terima kasih, Bu Sherry.” kata Dimas lalu refleks mencium tangan Sherry seperti seorang anak menyalami ibunya. “Eh eh eh! Nggak usah cium tangan segala. Saya bukan ibu kamu,” Sherry berkata sambil menjauhkan tangan kanannya dari Dimas. “Kamu memang bukan ibuku tapi calon pacarku,” batin Dimas. “Maaf, Bu. Saya terlalu senang.” Kalimat itu yang akhirnya terucap dari Dimas. Lalu keduanya pun tertawa lepas tanpa beban. Ada getar tersendiri di hati Dimas. Perasaan yang lama sekali tidak pernah dia rasakan. === Sore hari pukul 17.00 Sherry beranjak meninggalkan ruangannya menuju tempat ia memarkir mobil. Sherry melajukan mobilnya di jalanan dengan kecepatan 50 km/jam. Tidak ada yang salah, hingga sesuatu terjadi. Duaarrr! Ban mobil Sherry meletus. Mobil yang Sherry kendarai oleng ke kiri dan menabrak pohon. Untungnya jalanan sedang sepi, sehingga tidak berimbas ke pengguna jalan yang lain. Sherry segera turun memeriksa ban mobilnya. Beruntunglah Sherry tidak terluka. Dilihatnya ban mobil sebelah kiri depan meletus, dan kap mobil sedikit penyok karena menabrak pohon yang akibatnya mobil Sherry tidak bisa dikemudikan lagi. Panik? Tentu saja. Karena salah satu kekurangan Sherry adalah tidak paham mesin. Sherry mondar mandir sambil menelepon bengkel langganannya. Matahari sudah terbenam, namun pihak bengkel belum juga datang. Sebuah motor sport melaju kencang melewati Sherry. Beberapa saat kemudian motor sport itu kembali ke arah Sherry. “Bu Sherry?” Ternyata pengendara motor sport itu adalah Dimas. “Eh ternyata kamu Dimas. Saya kira orang jahat,” Sherry lega karena tadinya mengira orang jahat yang mendatanginya. “Mobil Ibu kenapa?” Dimas turun dari motor dan mengecek mobil Sherry. “Astagaaa ... ini kenapa Bu? Ibu nggak apa-apa kan? Ada yang luka?” Dimas memberondong dengan pertanyaan bernada khawatir. “Saya nggak apa-apa kok Dim. Ban mobil saya tiba-tiba pecah, jadi oleng. Untungnya tadi masih bisa direm walaupun akhirnya menabrak pohon,” jelas Sherry. Beberapa saat kemudian mobil derek dari bengkel langganan Sherry tiba. Setelah mobil dievakuasi, tinggal Sherry dan Dimas berdua. “Ibu pulang naik apa? Saya antar saja ya?” tawar Dimas. “Saya bisa pesan taksi online kok Dim. Kamu bisa pulang duluan.” Tolak Sherry secara halus. Dia tidak mau berhutang budi pada mahasiswa tengil macam Dimas. “Ini sudah malam, Bu. Bisa bahaya untuk perempuan seperti Ibu. Saya antar saja ya?” Dimas menawarkan diri lagi. Sejujurnya Sherry pun takut jika harus menunggu lagi. Dan akhirnya ia menerima tawaran Dimas untuk diantar pulang. Dengan diboncengkan motor sport kepunyaan Dimas, akhirnya Sherry memutuskan untuk pulang. Awal perjalanan, Sherry hanya diam. Dimas sesekali mengajak ngobrol untuk mengatasi kecanggungan. Akhirnya obrolan demi obrolan meluncur begitu saja dengan santai. Dimas sengaja berkendara dengan kecepatan sedang dengan modus agar bisa berlama-lama bersama Sherry. Dan lagi, mau tidak mau Sherry harus mendekatkan wajahnya agar suaranya bisa terdengar oleh Dimas yang memakai helm. Beberapa menit kemudian mereka berdua sampai di kediaman Sherry. “Oh jadi di sini rumah Ibu. Kok gelap Bu rumahnya?” Dimas bingung mendapati rumah yang mereka tuju dalam keadaan gelap gulita. “Ya kan saya baru saja sampai Dim, gimana mau nyalain lampu rumah?” jawab Sherry. “Lho Ibu tinggal sendiri? Nggak takut, Bu? Orang tua Ibu dimana?” Lagi-lagi keluar rasa ingin tahu Dimas. “Dasar kepo! Ngapain tanya-tanya hal pribadi?” Sherry menjawab dengan sedikit sewot. ‘Duh keluar lagi mode juteknya,’ batin Dimas. “Maafkan saya Bu kalau lancang. Ya sudah kalau begitu saya pamit pulang ya, Bu.” “Oke Dim. Terima kasih banyak ya. Maafkan saya merepotkan kamu,” Sherry Kembali ke mode bicara normal. “Iya Bu sama-sama. Tidak perlu sungkan sama saya Bu. Selamat malam Bu, saya permisi dulu.” Pamit Dimas lalu menyalakan mesin motornya. “Hati-hati di jalan ya, Dim.” Sherry berkata sambil tersenyum. Dimas melajukan motornya meninggalkan rumah Sherry. “Ternyata baik hati juga mahasiswa tengil itu.” Kalimat itu terucap dari mulut Sherry, mengambil kesimpulan atas apa yang terjadi hari ini. Dimulai dari Dimas yang rela terlambat mengumpulkan tugas karena menolong Ibu kantin, kemudian barusan saja menolongnya yang sedang kesusahan. Sherry tiba-tiba teringat sosok seperti Dimas, mantan kekasihnya sewaktu SMA, yang entah mengapa nama belakangnya sama. Saputra. Sorot matanya pun mirip. Namun, Sherry segera menepis ingatan itu. Dia ingin benar-benar melupakan lelaki yang pernah mengisi hari-harinya semasa remaja. Sekarang, Sherry hanya ingin fokus pada karirnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD