Tok tok tok.
Suara pintu ruangan diketuk seseorang.
“Masuk!” sahut Sherry dari dalam ruangannya.
Dimas masuk dengan sangat pelan dan hati-hati. Kali ini nyalinya hilang bagai ditelan bumi.
“Ada keperluan apa datang kemari?” Suara tegas Sherry terdengar begitu mengintimidasi lawan bicaranya.
“Saya kesini mau minta maaf, Bu.” Dimas menunduk tidak berani menatap dosen cantik tersebut.
“Minta maaf soal apa?” Sherry terus memancing keberanian Dimas.
“Ehmmm ... soal tadi, Bu. Maafkan saya tidak tahu kalau Ibu adalah dosen saya,”
“Ohhh, jadi kalau misalkan saya bukan dosen kamu, kamu nggak bakalan minta maaf dan terus melecehkan saya? Begitu?”
“Bukan begitu, Bu ... saya …saya ...” Perkataan Dimas terputus.
“Apa kamu sudah terbiasa berbuat seenak jidatmu sendiri? Mengganggu orang lain dan melecehkan perempuan yang kamu anggap lemah?! Sudah berapa orang yang jadi korban tingkah laku burukmu itu?” Sherry mulai memainkan aktingnya, dia ingin balas dendam kepada Dimas karena telah menggodanya. Sebenarnya dia tidak begitu marah, namun sepertinya asyik mengerjai mahasiswanya itu.
“Bukan, Bu ... Saya tidak bermaksud seperti itu. Maafkan saya, Bu.” Dimas membungkukkan badannya berkali-kali. Hilang sudah gaya keren playboy ala Dimas. Dia sudah kehabisan kata-kata manis rayuan mautnya. Entah kemana perginya pesona Dimas, hilang begitu saja di hadapan dosen barunya.
“Saya bukan tipikal seorang yang pemaaf. Jadi untuk sekarang lebih baik kamu keluar dari ruangan saya,”
“Tapi, Bu ... Saya benar-benar minta maaf. Saya mengaku salah. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi, Bu.” Dimas memohon kepada Sherry untuk memaafkannya.
Beberapa detik hanya hening melanda, lalu ...
“Hahahaha,” Sherry sudah tidak bisa menahan tawanya.
“Haduh dek, kamu tuh tadi pagi gaya-gayaan ngajak kenalan, sekarang nyalimu kemana hah?” Pecah sudah tawa Sherry, dia sudah tidak bisa berpura-pura galak lagi.
Dimas hanya bisa melongo. Dia merasa dikerjai oleh dosennya. Namun di sisi lain dia merasa lega karena Sherry tidak marah besar dengannya.
“Ibu tidak marah? Mau memaafkan saya kan, Bu?” pinta Dimas.
“Siapa bilang saya tidak marah? Siapa saja jelas akan marah jika kamu goda seperti tadi. Kamu tahu? Hal itu bisa masuk kategori pelecehan seksual dan bisa ditindak pidana,” kata Sherry.
“Ampun, Bu. Jangan laporkan saya ke polisi. Saya akan lakukan apapun untuk menebus kesalahan saya, Bu.” mohon Dimas.
“Ok saya maafkan kamu tapi dengan syarat,” kata Sherry kemudian.
“Syarat apa, Bu?” Dimas penasaran.
“Nilai kamu semester ini harus A semua,”
“Apaa?!” Dimas tidak sengaja berteriak karena kaget dengan persyaratan yang diajukan dosennya tersebut.
“Kamu berani neriakin saya?!" Sherry terpancing emosi mendengar teriakan Dimas.
“Maaf Bu saya keceplosan. Kaget, Bu.” Dimas hanya bisa nyegir kuda.
“Bagaimana? Bisa penuhi syarat saya tidak?” Kalau tidak, siap-siap semester depan hidupmu penuh dengan penderitaan. Atau mau pilih saya laporkan ke polisi?” Sherry kembali menantang.
“Jangan dong, Bu. Iya, Bu saya usahakan. Untuk menebus kesalahan saya,”
“Baik kalau begitu. Saya akan mengawasi kamu. Semester depan kamu menghadap saya untuk melaporkan prestasi kamu. Dan ingat, kamu tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama baik kepada saya ataupun orang lain. Kalau kamu tidak bisa memenuhi IP 4 maka kamu harus menerima hukuman dari saya. Sekarang beritahu saya berapa NIM kamu?” Sherry menanyakan nomor induk mahasiswa Dimas sambil membuka daftar presensi. Dimas lalu menyebutkan NIM-nya.
“Dimas Kalandra ... Saputra,” Sherry sedikit tercekat menyebut nama belakang Dimas. Nama yang tidak asing baginya. Namun kemudian Sherry menetralkan perasaannya dan memilih untuk berpikir bahwa nama Saputra adalah nama yang umum.
“Iya, Bu itu nama saya,”
“Ok kalau sudah tidak ada keperluan lagi, kamu boleh keluar dari ruangan saya. Dan sekali lagi ingat ya, jangan pernah ulangi kesalahan serupa seperti tadi. Kamu harus belajar menghargai orang lain. Paham?” ucap Sherry menasehati Dimas.
“Baik, Bu. Saya mengerti. Sekali lagi maafkan saya, Bu. Saya akan berusaha mencapai IP 4 di semester ini,” Dimas berjanji kepada Sherry.
“Hmmm,” hanya gumaman yang Sherry berikan, setelah itu Dimas keluar dari ruangannya.
=====
Dimas berpegangan pada tembok di sebelah kanannya. Kakinya serasa lemas tak bertenaga. Saat ini dia sedang berdiri tidak jauh dari ruangan Sherry setelah tadi selesai menghadap dosennya tersebut.
“Gilak auranya serem banget sumpah!” Dimas bergumam sendiri masih dengan bersandar di tembok sambil memegangi dadanya.
“Cantik-cantik galak amat yak. Cewek model begituan kayak apa sama pacarnya? Tapi bikin penasaran juga sih. Liat aja Sherry, tantanganmu bakal aku menangkan. Selain itu, aku bakal berusaha ndeketin kamu bagaimanapun caranya. Nggak peduli kamu dosenku atau bukan,” Dimas bertekad mewujudkan mimpinya menjadi kenyataan, menjadikan Sherry miliknya. Rasa penasaran Dimas tidak terbendung. Baru pertama kali ia memimpikan gadis asing, pertama kali pula dia merasa tidak istimewa di hadapan kaum hawa. Padahal biasanya dia dikejar-kejar gadis cantik yang ujung-ujungnya hanya berstatus friend with benefit. Paras rupawan Dimas, otak cemerlang, aktif berorganisasi dan juga keturunan konglomerat membuat banyak perempuan mengantri untuk dekat dengannya.
“Kali ini aku harus benar-benar memakai otakku, biar dapat nilai A semua. Sepertinya bukan masalah besar sih. Sherry nggak tahu aja aku ini mahasiswa teladan,” Dimas menyombongkan dirinya. Bukan tanpa bukti Dimas bisa seangkuh itu, karena dia termasuk mahasiswa berprestasi dengan IPK nyaris sempurna. Hanya saja kelakuan tengilnya dengan lawan jenis yang harus diwaspadai.
Drrtttt drrtttt.
Terdengar getar ponsel Dimas berbunyi.
“Halo,”
“Dim..nanti bisa ngedate gak? Ketemuan di tempat biasa yuk,” ajak sang penelpon di seberang sana.
“Nggak bisa. Aku sibuk,” Dimas menjawab dengan ketus.
“Yaaahh … kalau besok? Atau kapan kamu free Dim? Aku kangen nih,” Si penelpon masih merayu untuk bertemu dengan Dimas.
“Aku udah nggak ada waktu buat kamu, Stella. Udah ya, jangan telepon aku lagi. Kamu cari aja cowok lain buat kencan,” Dimas mengatakan hal tersebut dengan entengnya tanpa dosa sedikitpun.
“What?!” pekik Stella di seberang telepon.
“Udah ya kututup dulu teleponnya,”
Tut tut tut.
Dimas memutuskan telepon secara sepihak. Sementara Stella masih menganga tak percaya.
Stella adalah satu dari sekian gadis yang berharap lebih pada perasaan Dimas. Namun nyatanya kondisinya masih sama dengan gadis-gadis lain yang dipermainkan Dimas setelah biasanya satu bulan mereka jalan berdua. Bagi Dimas, Stella tidak istimewa, karena seperti gadis pada umumnya, hanya tertarik pada kekayaan dan ketenaran Dimas. Misal saja Dimas bukan anak konglomerat, mana mungkin Stella bersedia kencan dengannya. Di kampus, Stellah pun sudah terkenal sebagai cewek matre dan doyan gonta ganti pacar. Bahkan ada gosip beredar bahwa ia tak segan-segan memberikan tubuhnya pada siapa saja yang mau membayar mahal.
Di ruangan yang baru saja ditinggalkan Dimas, Sherry masih memandangi buku absensi mahasiswa. Nyatanya nama Saputra masih mengganggunya.
“Ahh ... sial! Kenapa malah keinget si playboy itu sih?! Ngapain juga mahasiswa tengil tadi nama belakangnya sama? Nama Saputra emang standar nama buat cowok b*****t kali ya?” Sherry memaki dengan gumaman yang hanya didengar ia sendiri.
“Hari pertama kerja nggak boleh bad mood. Hempaskan saja Saputra itu, Sher.” Sherry menyemangati diri sendiri. Dia tidak mau terbayang-bayang masa lalunya bersama seorang lelaki bernama belakang Saputra.
===
Hari-hari berlalu setelah Dimas menghadap Sherry di ruangannya. Pagi ini Dimas memulai kuliah dengan semangat. Harapannya untuk mendapat nilai A sempurna berkobar dalam dirinya. Selain untuk pembuktian kemampuan otaknya, Dimas juga ingin nilai A-nya menjadi modal untuk mendekati gadis impiannya.
Kuliah Sistem Manajemen Mutu diikuti oleh Dimas, dengan dosen pengampu adalah Pak Derry dan Sherry. Waktu menunjukkan pukul 13.00, dimana kuliah tersebut akan dimulai tepat waktu.
”Selamat siang semua,” Terdengar suara sang pengajar memasuki ruang perkuliahan.
“Siang, Bu.” Para peserta kuliah menjawab sapaan pemulai kuliah.
“Hari ini saya yang akan mengajar untuk bab 1 di mata kuliah ini. Sedangkan Pak Derry akan melanjutkan bab 2 di pertemuan minggu depan. Tiap akhir sesi akan ada tugas baik itu tugas individu ataupun berkelompok atau bisa dua-duanya. Sehingga bagi mahasiswa yang tidak dapat hadir di pertemuan perkuliahan tetap diwajibkan untuk mengumpulkan tugas di sesi berikutnya. Kalian paham?” Sherry memulai perkuliahan dengan menjelaskan aturan kelasnya dan disambut oleh keriuhan perihal keberatan akan tugas.
“Waaaa ... tugasnya banyak banget dong, Bu?” Protes dari beberapa mahasiswa mulai terjadi.
“Kalian bisa mengajukan perubahan KRS untuk membatalkan keikutsertaan kalian di kelas yang saya ampu dan dapat mengambil mata kuliah pilihan yang lain jika keberatan dengan aturan yang saya buat,” jelas Sherry dengan nada tenang namun membuat para mahasiswa langsung terdiam.
“Duhhh, dosen baru bakalan killer nih. Cantik-cantik nyeremin juga,” Terdengar suara Rakha berbisik pada Dimas yang duduk di sebelahnya. Sementara Dimas tersenyum penuh arti. Sepertinya di semester ini dia akan benar-benar memakai otaknya untuk kuliah demi tujuan terselubung -mendekati Sherry-.
Tak terasa perkuliahan hari ini selesai dengan “bekal” tugas individu berupa esai yang diberikan Sherry. Tenggat waktu pengumpulan adalah Senin pekan depan pukul 07.00 dikumpulkan di loker tugas di depan ruangan Sherry. Sherry sudah memberikan ultimatum jika tugas terlambat lebih dari 15 menit maka nilainya akan kosong. Dan perlu diketahui bahwa esai tersebut harus ditulis tangan di kertas folio bergaris minimal 4 halaman. Hasil pengumpulan tugas yang dikumpulkan pukul 07.00 akan dibahas pada perkuliahan siang harinya pukul 13.00 sesuai jadwal.
“Ya Tuhaannn, jaman udah modern canggih begini kenapa Bu Sherry masih kasih tugas tulis tangan sih,” Lagi-lagi Rakha mengeluh pada Dimas.
“Bu Sherry tahu kalau kamu tukang copy paste tugas orang bro, makanya tugas esai-nya harus ditulis manual. Hahahaha,” Dimas berkelakar sambil menoyor kepala Rakha.
“Ni anak malah ngejekin mulu. Aku nyontek kerjaan kamu ya Dim,” Rakha memelas.
“Enak aja nyontek! Nulis sendiri dong. Dah lah aku pergi dulu. Mau cari referensi. Bye!” Dimas langsung pergi meninggalkan Rakha yang masih bingung dengan tugasnya.
“Tumben tu anak rajin amat? Biasanya juga SKS, sistem kebut semalam,” Rakha masih keheranan dengan tingkah laku Dimas yang lain daripada biasanya.