Pagi menyapa Sherry yang masih berkutat mempersiapkan diri untuk acara seminar hari terakhir. Mempersiapkan dalam artian siap secara mental untuk menjadi bahan pembicaraan atau mungkin gunjingan para peserta seminar. Sungguh, dia malu jika harus ditanya-tanya tentang insiden pingsannya tempo hari. Pada kenyataannya semua orang seakan menganggap tidak terjadi apa-apa pada hari kemarin. Mereka hanya sekedar menanyakan kabar Sherry, karena mereka kira Sherry hanya terlalu capek dan menforsir diri untuk acara seminar ini. Kalau boleh memilih, Sherry akan ijin beberapa hari untuk menyendiri. Namun, dedikasinya pada pekerjaan menolak keinginan tersebut. Dan disinilah Sherry, sudah berada di Hotel Blue Moon untuk kembali mengurus segala sesuatu tentang seminar.
Hari ini Sherry berangkat dengan mobil sendiri. Dia tidak mau merepotkan Dimas lagi. Dan lagipula Sherry mengedepankan profesionalisme dan memberi batasan hubungan personal di tempat kerja.
“Ibu ... Ibu sudah sehat? Kenapa tidak hubungi saya untuk minta dijemput?” Dimas langsung menanyai Sherry ketika mereka bertemu di Hotel Blue Moon dimana penutupan seminar berlangsung.
“Sudah sehat kok, Dim. Buktinya saya bisa sampai ke sini dengan selamat,” Sherry berkata sambil tersenyum.
“Lalu kenapa tidak minta saya untuk jemput Ibu? Daripada Ibu nyetir sendiri. Nanti kalau terasa pusing lagi bagaimana, Bu?” Dimas dengan tulus mengungkapkan kekhawatirannya terhadap Sherry.
“Kenapa saya harus merepotkan kamu? Saya bisa melakukannya sendiri kan. Lagipula kamu tidak ada kewajiban antar jemput saya Dim. Nanti kasihan pacarmu lho cemburu sama saya.” Sherry malah menggoda Dimas dengan menekankan kata pacar.
“Saya tidak punya pacar kok Bu. Aman lah pokoknya. Hehehe.”
“Bohong Bu, Dimas tuh pacarnya gonta ganti tiap satu bulan sekali. Terakhir semester kemarin namanya Stella Bu.” Rakha yang tidak tahu dari mana datangnya tiba-tiba muncul dengan pernyataan yang langsung menjatuhkan citra Dimas di mata Sherry.
“Oh ... Pacar Dimas namanya Stella. Anak mana Dim?” Sherry malah ikut-ikutan mengerjai Dimas.
“Anak jurusan Manajemen Bu. Kampus sebelah itu.” Lagi-lagi Rakha yang menjawab dan mendapat injakan kaki Dimas.
“Aduhhhh sakit kaki gue Bro. Nggak kira-kira banget nginjeknya.” Rakha mengaduh karena kakinya diinjak sepatu Dimas. Sementara Sherry malah tertawa dan geleng-geleng kepala melihat tingkah mahasiswanya yang menurutnya sungguh lucu itu.
“Bu, jangan dengerin Rakha Bu. Stella bukan pacar saya kok.”
“Tapi mantan pacar Bu.” Lagi-lagi Rakha menyerobot pembicaraan Dimas dan langsung melenggangkan kaki menjauh dari Dimas sebelum tas yang Dimas lemparkan mengenai wajahnya.
“Kalian tuh lucu ya. Sahabatan udah kayak saudaraan. Akrab, kental gitu persahabatannya.”
“Iya Bu, saking dekat dan kentalnya udah kayak ingus ama hidung. Saya hidungnya, Rakha ingusnya. Hahahaha.” Dimas lalu tertawa seolah puas mengatai Rakha di depan Sherry. Walaupun yang dibicarakan sudah pergi.
“Ih jorok ah Dim. Kamu itu ada-ada saja.”
“Ya maaf Bu kalau jorok. Tapi Bu, jangan percaya Rakha ya. Stella bukan pacar saya kok,” Dimas tetap menjelaskan perihal Stella yang hanya teman ngobrol dan makan di café. Selain itu dia bukan siapa-siapa bagi Dimas.
“Kamu nggak perlu njelasin ke saya kok Dim. Mau pacar kamu atau bukan itu urusan kamu. Bagi dosen seperti saya, yang penting mahasiswa harus pintar dan berakhlak baik.”
“Nah, itu saya, Bu. Pintar dan berakhlak mulia.” Dimas menyombongkan dirinya.
“Iya deh percaya kalau kamu pinter. Tapi berakhlak mulia? Masa sih?” Sherry memicingkan matanya.
“Ya Tuhannnn … Kena fitnah deh saya. Gara-gara Rakha nih,” Dimas memelas.
“Sudah ah, ngobrolnya dilanjut kapan-kapan lagi. Sekarang ayo kita selesaikan tugas kita jadi panitia seminar ini. Hari terakhir nih,” ajak Sherry lalu beranjak pergi diekori oleh Dimas. Sembari berjalan mereka masih bersendau gurau dan tertawa. Sangat akrab seperti bukan dosen dan mahasiswa.
===
Satu minggu kemudian, di hari Minggu.
International conference yang diketuai oleh Sherry berakhir dengan memuaskan. Banyak benefit yang didapat dari seminar tersebut. Terutama untuk panitia yang turut serta mendampingi acara. Jejaring kerja untuk lulusan jurusan Agroindustri semakin luas, peluang karir baik di perusahaan maupun sebagai wirausahawan juga semakin bagus. Outcome inilah yang diharapkan dari event yang diselenggarakan kampus. Hubungan dan kerjasama saling menguntungkan antara mahasiswa, dosen dan stakeholder terbina dengan baik. Sherry sukses mengawal jalannya seminar dari awal hingga akhir. Ide-ide terbarukan yang Sherry utarakan untuk terlaksananya acara menuai hasil yang memuaskan. Hal tersebut yang sangat dipuji oleh rekan-rekannya di kampus.
Sebagai apresiasi kinerja para panitia seminar, diadakanlah makan bersama di sebuah resto ternama di kota Yogyakarta ini. Bertempat di King Resto, sebuah restoran yang mengusung konsep mewah seperti kerajaan, pelayanan yang memuaskan konsumen, hidangan berkualitas tinggi dan konsumen yang dilayani layaknya raja, sama seperti nama resto tersebut. Para panitia yang terdiri atas dosen dan mahasiswa itu terpukau dengan segala sesuatu yang ada di King Resto. Bidang usaha yang berdiri di atas tanah seluas tiga hektar tersebut mempunyai area parkir yang luas, lalu bangunan utama yang megah bak istana, gazebo-gazebo kecil di sekitar bangunan utama, area pemancingan, outdoor playgorund yang dilengkapi dengan flying fox, area bermain paint ball, road race untuk ATV, serta club car atau mobil golf yang akan mengantar konsumen jika ingin berkeliling menikmati pemandangan yang disajikan. “Wow ... Restorannya keren banget ya. Pinter kalian cari rekomendasi kulinernya,” puji Sherry setelah melihat kemegahan resto yang dipilih anak didiknya untuk jamuan makan siang di hari Minggu itu.
“Iya ya, Bu. Keren banget konsepnya,” Ajeng ikut menimpali komentar Sherry.
“Restoran ini salah satu sponsor besar kita lho, Bu.” Rakha menyambung obrolan.
“Oh ya? Kalian pinter banget cari duit. Siapa yang berhasil lobbying kesini?” tanya Sherry kepada para mahasiswanya. Ia bangga dengan kerja keras para anak didiknya tersebut.
“Dimas tuh, Bu. Entah pakai jampi-jampi apa kok bisa goal dapet sponsor gedhe,” Kali ini Ardy yang menjawab.
“Hebat kamu, Dim. Punya kenalan di sini atau memang rejeki dari pemilik resto ini?” Sherry bertanya kepada Dimas.
“Ah itu ...Itu ... Karena pemiliknya saja Bu yang mau kasih sponsor ke kita. Saya tidak ada kenalan di sini,” Sambil nyengir Dimas berbohong kepada semua orang di sana. Tidak ada yang tahu bahwa restoran ini adalah kepunyaan keluarga Saputra, orang tua Dimas.
Zayn yang bertugas menjadi kepala restoran, sementara ayahnya hanya tinggal menerima laporan bulanan. Kelak, setelah Dimas lulus kuliah juga akan dipercayai untuk mengepalai salah satu bidang usaha keluarga Saputra.
Teman-teman Dimas hanya tahu bahwa Dimas anak konglomerat bidang pangan. Namun tidak ada yang menyangka bahwa Dimas lebih kaya dari yang orang lain kira. Seperti saat ini, ketika Dimas merekomendasikan King Resto sebagai lokasi untuk bersantap bersama panitia seminar, tidak ada yang mengetahui bahwa semua akomodasi sudah ditanggung oleh Zayn atas permintaan Dimas. “Selamat datang Bapak Ibu dosen, Mas Dimas dan kawan-kawan.” Terdengar sapaan pelayan resto saat mereka memasuki bangunan utama. Buru-buru Dimas memberikan isyarat seperti menutup retsleting di bibir, pertanda pelayan harus tutup mulut, sebelum semua orang sadar bahwa Dimas menyembunyikan sesuatu.
“Lho Dimas terkenal di resto ini?” Sherry heran karena pelayan tahu nama Dimas.
“Anu Bu, karena saya yang booking tempat ini makanya Mas ini tahu nama saya. Iya kan Mas?” Dimas memberi kode kepada pelayan agar menuruti aturan mainnya.
“Oh iya, saya kenal Mas Dimas karena beliau yang sering kesini, Bu.” Sang pelayan mengikuti perintah Dimas.
“Mari saya antar ke ruang makan yang telah disediakan,” Sambung si pelayan lalu mengantarkan rombongan ke ruang VIP yang tertutup dan private.
“Silakan masuk, Bapak, Ibu, rombongan semuanya. Kami akan menyiapkan hidangan. Jika perlu bantuan atau ingin berkeliling, bermain paint ball atau apapun bisa memencet tombol bel di sudut meja. Nanti akan kami layani sesuai permintaan,” Pelayan menjelaskan kepada Sherry dan yang lainnya.
“Terima kasih atas pelayanannya,” sahut Sherry.
“Wah, selera kamu high class lho, Dim. This is so amazing,” Sherry berkata kepada Dimas, terpukau karena Dimas membawa mereka ke tempat yang menakjubkan.
Tiba-tiba suara pintu ruangan diketuk, tibalah beberapa pelayan membawa hidangan lengkap mulai dari appetizer, main course, hingga dessert.
“Silakan dinikmati hidangannya,” Pelayan mempersilakan pelanggannya untuk menikmati hidangan yang telah tersaji. Sherry dan rekan-rekannya lalu mulai menyantap makanan dan minuman tersebut. Saat Sherry sedang meneguk jus strawberry, muncullah lelaki tampan yang memukau.
“Uhuk uhuk uhuk,” Sherry tersedak jus yang diminumnya. Hal itu dikarenakan sesorang yang datang bukan orang yang ia harapkan akan bertemu di sini.
“Perkenalkan saya Zayn pemilik restoran ini. Silakan menikmati hidangan yang telah disajikan. Dan misal perlu apa-apa silakan hubungan pelayan yang ada di sini.” Kemunculan Zayn secara tak terduga membuat Dimas juga kelabakan. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya memberi isyarat jangan memberitahukan bahwa Zayn adalah kakaknya. Rakha yang mengetahui bahwa Zayn adalah kakak Dimas hanya menutup mulut, takut salah mengeluarkan kata.
“Terima kasih atas jamuan ini, Pak Zayn. Dan terima kasih juga atas dukungan untuk acara seminar kami kemarin,” Pak Derry selaku ketua jurusan mengucapkan terima kasih karena mengetahui Zayn turut andil dalam kesuksesan acara jurusannya.
“Sama-sama, Pak. Saya harap akan muncul hubungan kerja sama saling menguntungkan antara kampus dan praktisi seperti saya. Dan jamuan kali ini juga free dari saya. Silakan bersantai sepuasnya,” Penuturan dari Zayn mendapat sorak gembira dari Rakha dan teman-temannya. Ya begitulah mahasiswa, selalu senang jika ada gratisan.
“Saya permisi dulu kembali ke ruangan saya,” pamit Zayn kemudian.
Sherry yang masih terbatuk-batuk akhirnya bisa bernapas lega setelah Zayn pergi. Begitu pula dengan Dimas yang tampak menghela napas lega.
Di ruang kerja Zayn, dia membuka notifikasi pesan yang belum ia baca.
[Kak, nggak usah bilang apa-apa ke orang jurusan tentang aku.]
[Dan jangan macem-macem sama Bu Sherry.]
[Nggak perlu bilang juga kalau aku adikmu. Nanti aku ikutan dibenci gara-gara tahu kalau aku adik dari mantan pacarnya. ~Dimas]
Pesan panjang itu hanya ditanggapin dengan senyum miring dari Zayn. Ia lalu mengetik sebuah pesan. Bukan untuk membalas pesan Dimas, namun mengirim pesan ke orang lain.
[Sher, datang ke ruanganku ya. Aku pengen ngobrol bentar. Kalau nggak mau, aku bakal bikin malu kamu di depan kolegamu.~Zayn]
Pesan bernada ancaman itu membuat Sherry jengkel saat membacanya.
“Pak Derry, saya permisi ke toilet sebentar,” Sherry pamit kepad ketua jurusannya untuk menemui Zayn. Entah apa yang dimaksud dengan mempermalukan Sherry di depan kolega. Yang pasti, Sherry tidak mau Zayn bertindak aneh-aneh yang mungkin dapat merugikan dirinya.
‘Ah sial.. Beberapa kali ketemu Zayn bikin mood jadi hancur berantakan. Ngapain sih dia muncul lagi seenaknya sendiri. Duhhh salahku juga ngasih nomor handphone ke dia.’ Sherry membatin dalam hati.
‘Duh mana lagi ruangannya. Ngapain sih pake minta ngobrol segala!’
“Permisi, Mbak. Saya mau tanya ruangan Pak Zayn di sebelah mana ya?” Sherry menanyakan letak ruangan pada salah satu pegawai Zayn.
“Mari saya antar, Bu.” tawar pegawai tersebut.
“Oh ya terima kasih sebelumnya, Mbak.”
Sherry pun diantar sampai depan ruangan Zayn lalu dibukakan pintu oleh pegawai tersebut. Setelah si pegawai pergi meninggalkan mereka berdua, suasana hening menyelimuti kedua insan tersebut.
“Hai, Sayang.”