BAB 36

1040 Words
ALBERT POV Setahun kemudian Aku sangat senang ketika mendengar Adelle di angkat menjadi karyawan tetap dan saat ini ia menjabat sebagai HRD di perusahaan nya menggantikan HRD yang lama. Aku memberinya selamat dan ia berjanji akan memberikan hadiah saat aku berulang tahun karena kurang beberapa minggu lagi aku akan merayakan ulang tahun ku yang ke lima puluh. Tidak terasa usiaku bertambah dan kali ini aku berharap bisa mendampingi Adelle sampai ia menikah dan memiliki anak. " Selamat untukmu, semoga kau bertahan bekerja disana." Kataku sambil memberi nya selamat. " Terima kasih ayah. Aku sangat senang bisa di rekrut sebagai karyawan di sana." Kata Adelle sambil tersenyum padaku. Hari ini aku mengajak Adelle makan di luar bersama sambil merayakan keberhasilan nya. Aku mengajaknya makan di sebuah kafe dan disana banyak makanan kesukaannya. Aku memberitahu nya untuk segera memilih pasangan dan menikah karena aku ingin ia memiliki pasangan hidup. Entah kenapa aku merasa Adelle seperti menahan beban yang ia tidak mau menceritakan nya padaku tetapi aku tidak memaksanya untuk menceritakan hal yang tidak ingin ia ceritakan padaku. *** Hari ini seperti biasa aku berjualan di toko dan banyak pelanggan yang berdatangan. Ada dari mereka yang menawariku tempat untuk berjualan di ruko mereka tetapi aku masih memikirkannya karena semuanya butuh waktu. Aku ingin membahas hal ini kepada Adelle dan merundingkan dengannya. Sejujurnya sudah lama aku mencari tempat yang baru untuk berjualan tetapi aku belum menemukan tempat yang tepat. Setelah selesai berjualan, aku memutuskan untuk pulang ke rumah dan tidak sengaja aku bertemu dengan Wendy dan ia mengajakku makan siang bersama. " Kali ini aku ingin memberitahumu tentang bisnis kita." Kata Wendy sambil menyerahkan laporan penjualan padaku " Aku tidak menyangka penjualan nya akan meningkat." Kataku sambil melihat laporan penjualan itu. Rasanya aku semakin semangat untuk berbisnis dengan Wendy karena ia seorang yang jujur dan dapat di percaya. Aku melihat Wendy memiliki rencana untuk membuka cabang di luar kota dan aku sangat setuju dengan rencana nya. Aku yakin Wendy merupakan partner bisnis yang bisa di percaya karena ia terbukti menjalankan bisnis dengan baik. Setelah selesai membahas bisnis, aku berpamitan pulang padanya dan akhirnya aku pulang ke rumah dengan perasaan yang bahagia mengetahui bisnis kami berjalan dengan baik. *** Saat aku tiba di rumah, aku melihat Adelle sudah pulang ke rumah dan ia beristirahat di kamar nya. Aku melihat ia membawakan makanan yang berlimpah di atas meja dan sepertinya ada acara di kantor nya. Tidak beberapa lama Adelle keluar dari kamar nya dan ia menyuruhku untuk menghabiskan makanan di atas meja karena tadi di kantornya ada ulang tahun bosnya. " Sebaiknya ayah habiskan saja makanan di atas meja." Kata Adelle sambil menyuruh ku untuk menghabiskan makanan di atas meja. " Nanti malam saja saat kita makan malam." Kataku sambil duduk di sampingnya. Adelle bercerita jika semua orang di perbolehkan pulang lebih awal oleh atasannya sehingga Adelle pulang ke rumah lebih cepat. Aku sangat bersyukur karena ia tidak perlu lembur seperti biasa. Aku memijat pundak Adelle dan ia berterima kasih padaku. Aku tau beberapa hari ini ia sangat kelelahan karena pekerjaan nya di kantor. Aku berharap tidak lama lagi Adelle segera mendapatkan pasangan hidup yang bisa membahagiakan nya. *** Keesokan harinya aku terbangun ketika Adelle mengetuk pintu kamar dan menyuruhku untuk sarapan bersama. Lalu aku bangkit dari tempat tidur dan mandi. Setelah itu aku ikut bergabung dengan Adelle untuk sarapan bersama dan rasanya pagi ini sangat menyenangkan karena Adelle memasak untukku. Semenjak aku berpisah dengan Irene, Adelle yang menggantikan posisi Irene dalam mengurus rumah. Tiba - tiba ada yang datang ke rumah dan ternyata itu adalah Ben. " Kebetulan sekali kau datang. Ayo ikut sarapan bersama kami." Kataku sambil mengajak Ben untuk sarapan bersama kami. " Ben sudah sarapan. Ben kesini ingin mengundang ayah datang ke acara peresmian kantor yang Ben pimpin. Ben harap ayah dan Adelle mau datang ke acara peresmian kantor." Kata Ben sambil menyerahkan undang padaku. Entah kenapa rasanya saat itu aku ragu untuk datang mengingat Thomas yang pernah mengancam ku untuk tidak mendekati Ben. Aku takut jika Thomas tau bahwa aku dan Ben masih berkomunikasi, ia akan menyakiti aku dan Adelle. Aku tidak mau hal itu sampai terjadi karena aku tidak ingin Adelle di sakiti olehnya. Sampai saat ini aku tidak pernah memberitahu Ben jika Thomas pernah mengancamku untuk tidak berhubungan dengannya karena aku tidak ingin hubungan Ben dengan ayahnya hancur karenaku. Tidak beberapa lama Ben berinisiatif untuk mengantar Adelle ke kantor nya dan aku mengijinkan nya untuk mengantar Adelle ke kantor nya. *** Setelah mereka pergi, aku memandang undangan yang diberikan Ben padaku dan rasanya sangat berat untukku datang ke acara itu. Aku tidak ingin mengambil resiko dengan datang ke acara itu dan aku memilih untuk tidak datang daripada aku dan Adelle mendapat masalah. Aku melihat waktu sudah menunjukkan pukul delapan dan saatnya aku pergi ke toko untuk berjualan. Tidak beberapa lama aku tiba di toko dan banyak pelanggan ku yang menungguku ku untuk berbelanja. Mereka berpikir jika hari ini aku tidak berjualan dan aku meminta maaf pada mereka karena terlambat datang. " Mohon maaf saya agak siang membuka toko karena tadi ada urusan keluarga." Kataku sambil meminta maaf kepada pelanggan ku. " Tidak apa-apa pak. Lagipula kami setia menunggu anda berjualan." Kata ibu Sarita yang merupakan pelanggan ku dan ia setiap hari berbelanja di tokoku. Lalu aku mulai berjualan dan aku tidak menyangka jika jualanku habis dan sepertinya aku perlu stok barang untuk berjualan besok. Tidak beberapa lama Wendy datang ke tokoku sambil membawa beberapa roti dan kue untuk di jual di tokoku. Lalu ada beberapa pelanggan yang membeli kue dan roti yang di bawa Wendy. Wendy yang melihat hal itu sangat senang karena dagangan nya habis di serbu pembeli dan besok ia akan membawa roti dan kue yang banyak untuk di jual di tokoku. " Besok aku akan membawa roti dan kue yang banyak." Kata Wendy sambil membantuku membereskan tokoku. " Kau tidak usah repot-repot membantu ku merapikan toko." Kataku sambil merapikan barang - barang dagangan ku. Tetapi Wendy tidak memperdulikan ku dan ia terus menyusun barang - barang dagangan ku di rak sampai selesai. Lalu ia mengajakku ke toko kuenya dan di sana ia memasang promo agar banyak pembeli yang datang. Entah kenapa ada perasaan kagum kepada Wendy dan sejujurnya aku sangat senang memilik partner bisnis secerdas dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD