ALBERT POV
Sudah tiga hari Ben tidak pulang ke rumah dan Irene tampak sangat cemas memikirkan Ben. Waktu itu Irene berusaha menghubungi Ben Ten tidak merespon.
Akhirnya aku mendapat kabar dari Eddy jika Ben pingsan di kantor dan sekarang Ben berada di rumah Eddy. Saat itu aku dan Irene menjenguk Ben di rumah Eddy dan saat itu Ben sangat terkejut dengan kedatangan kami.
Irene memeluk Ben ketika bertemu dengan nya dan aku tau Irene sangat merindukan nya. Irene memohon kepada Ben untuk kembali ke rumah dan Irene meminta maaf kepada Ben atas kesalahannya.
" Maafkan ibu nak. Tolong kau kembali ke rumah karena ibu sangat merindukan mu." Kata Irene sambil memohon kepada Ben.
" Ben juga minta maaf karena membuat ibu dan ayah khawatir." Kata Ben sambil meminta maaf kepada kami.
Akhirnya Irene dan berbaikan dan rasanya aku sangat bersyukur karena mereka sudah berbaikan seperti dulu. Tidak beberapa lama kami pulang ke rumah dan rasanya hari ini aku sangat bahagia karena keluarga ku berkumpul seperti dulu.
***
Keesokan harinya aku terbangun ketika mendengar ada yang mengetuk pintu. Aku melihat Irene tidak ada di rumah, lalu aku membukakan pintu.
Ternyata ada seorang pria yang datang dan ia ingin berbincang dengan ku. Pria itu adalah Pak Thomas dan baru kali ini aku bertemu dengannya.
Lalu aku mempersilahkan pria itu untuk duduk dan aku menyuguhkan minuman untuk nya. Saat itu aku sangat heran ketika ia bertanya banyak hal tentang Ben dan ia sangat penasaran dengan masa kecil Ben.
" Mohon maaf jika saya banyak bertanya tentang Ben. Saya hanya ingin tau masa kecil Ben seperti apa karena ia seorang pria yang sangat baik." Kata pria itu sambil meminum teh yang aku buatkan untuknya.
" Tidak apa - apa Pak Thomas." Kataku sambil memperhatikan nya yang sedang melihat foto Ben ketika ia masih berusia lima tahun.
Saat itu aku melihat ia yang sangat terkejut melihat foto Ben tetapi ia berusaha menyembunyikan keterkejutan nya dengan bersikap datar.
Tidak beberapa lama ia berpamitan padaku dan setelah ia pergi, aku masih melihat mobilnya yang berada di depan rumahku.
Entah kenapa aku merasa pria itu sedang menyelidiki latar belakang Ben dan aku tidak akan membiarkan siapapun tau jika Ben bukanlah anak kandung ku.
***
Tepat jam satu siang, Adelle tiba di rumah dan ia terlihat sangat kelelahan. Ia baru saja selesai mengikuti ujian dan aku menyuruh untuk makan siang.
Saat itu Adelle ingin di temani makan olehku sehingga aku ikut makan siang bersama nya. Tidak terasa Adelle tumbuh menjadi wanita dewasa karena tidak lama lagi ia akan lulus dan menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Adelle bercita - cita menjadi seorang dokter anak karena ia sangat menyukai anak kecil. Aku akan berusaha mewujudkan cita-citanya menjadi seorang dokter selama aku masih ada.
" Bagaimana ujiannya? Apa kau bisa mengerjakannya?" Tanyaku sambil melihat nya yang sedang makan dengan lahap.
" Ujiannya sangat mudah, ayah." Kata Adelle sambil menghabiskan makanannya.
Sejujurnya aku sangat bangga kepada Adelle karena ia sejak kecil berprestasi. Aku dan Irene menyuruhnya untuk mengikuti kursus bahasa asing dan materi sekolah yang lain agar ia mendapatkan nilai yang terbaik di sekolah.
Setelah selesai makan, Adelle bersiap - siap untuk mengikuti kursus bahasa Inggris dan ia akan berangkat bersama teman sekelasnya. Tepat jam dua siang, Adelle di jemput teman sekelasnya dan aku memberitahu nya untuk segera pulang ke rumah setelah selesai kursus.
Satu jam kemudian, Irene tiba di rumah dan ia membawa banyak makanan setelah mengikuti arisan bersama teman - temannya. Ia meminta maaf padaku karena tidak sempat memberitahu ku karena ia sangat sibuk menyiapkan arisan bersama ibu - ibu yang lain.
" Maaf tadi aku tidak sempat berpamitan dengan mu karena aku sudah di jemput oleh Valerie. Aku membawakan banyak makanan untuk makan malam kita." Kata Irene sambil mengeluarkan makanan dari plastik.
" Tidak apa - apa. Lain kali kau beritahu aku jika ingin pergi." Kataku sambil memberitahunya.
Tidak terasa waktu menunjukkan pukul lima sore dan Adelle belum pulang ke rumah. Lalu aku mencoba menghubunginya tetapi ponselnya tidak aktif.
Akhirnya aku menghubungi teman sekelasnya dan ia memberitahu jika ponsel Adelle baterainya habis sehingga tidak bisa mengabariku.
Waktu itu Adelle meminjam ponsel temannya, lalu ia memberitahuku jika ia di ajak pergi untuk menjenguk temannya yang sakit sehingga ia pulang terlambat.
Setelah selesai menelfon, aku memberitahu Irene jika Adelle pulang terlambat ke rumah dan saat itu ia sudah tau jika sebelumnya Adelle sudah meminta ijin kepada Irene untuk menjenguk temannya yang sakit.
***
Tepat jam tujuh malam, Ben dan Adelle pulang ke rumah. Lalu kami makan malam bersama. Rasanya sangat menyenangkan bisa makan malam bersama seperti ini apalagi ada Ben yang berkumpul bersama kami.
Setelah makan malam, kami berkumpul di ruang keluarga sambil menonton televisi. Saat itu hanya aku dan Irene yang menonton karena Ben dan Adelle sedang mandi.
Tidak beberapa lama mereka berkumpul bersama kami dan kami mulai membahas tentang berita yang kami tonton.
" Lihatlah berita itu, Adelle. Sebaiknya kau tidak usah keluar sampai malam untuk menghindari kejahatan yang sekarang marak di luar sana." Kataku sambil memberitahu Adelle.
" Iya ayah." Jawab Adelle sambil menikmati puding buatan Irene.
Tidak terasa waktu menunjukkan pukul sembilan malam dan saatnya kami beristirahat. Aku dan Irene masuk ke dalam kamar dan kami membahas banyak hal.
Salah satunya tentang Ben dan aku menceritakan kedatangan Pak Thomas kepada Irene dan ia mulai curiga jika Pak Thomas berusaha mencari informasi tentang latar belakang Ben.
Saat itu aku memberitahu Irene jika aku tidak bercerita yang lebih jauh tentang Ben kepada orang lain karena sejak dulu kami sudah berjanji untuk menjaga rahasia ini rapat - rapat dan tidak ada seorang pun yang boleh tau.
" Kau tenang saja. Tidak ada siapapun yang tau tentang latar belakang Ben." Kataku sambil menenangkan Irene yang tampak cemas memikirkan hal itu.
" Aku tau kau bisa di percaya. Jangan sampai orang lain tau tentang hal ini." Kata Irene kepadaku dan ia merebahkan kepalanya di pundak ku.
Rasanya malam ini terasa hangat karena ada Irene yang berada di sampingku. Sampai kapanpun aku akan menjaga rahasia ini dan aku pastikan Ben tidak akan tau tentang hal ini.
Kami tidak ingin kehilangan Ben karena kami sangat menyayanginya seperti anak kandung kami sendiri dan kami tidak rela jika Ben pergi dari kehidupan kami.
Aku tidak akan membiarkan orang lain mengusik keluarga ku terutama anak - anakku karena hanya mereka yang sangat kami harapkan.