BAB 15

1045 Words
THOMAS POV Akhirnya aku sampai di rumah saudara Diana dan aku bertemu dengan Diana yang sedang menghidangkan makanan di meja. Saat itu aku bersyukur ia baik - baik saja dan ia sangat terkejut dengan kedatangan ku yang secara mendadak. Aku memberitahu nya jika aku sangat mengkhawatirkan nya sehingga aku menyusul nya. Tiba - tiba Sharon datang menghampiri kami dan ia terlihat senang saat melihat ku datang. Saat itu mereka ingin makan malam bersama dan akhirnya aku ikut bergabung bersama mereka. Sejujurnya aku tidak suka dengan tatapan Sharon yang selalu tertuju padaku dan rasanya aku sangat ingin menyingkir dari mereka. " Tante tidak menyangka jika kau akan datang kesini untuk menyusul istrimu." Kata Tante Sandra sambil mengambilkan makanan untukku. " Saya kesini ingin menyusul Diana karena saya tidak ingin tanpa dirinya." Kataku sambil menatap Diana. Malam itu terasa sangat berbeda apalagi semua keluarga Diana berkumpul untuk merayakan kelulusan cucu Tante Sandra. Setelah selesai makan malam, aku langsung undur diri dan mengajak Diana untuk pergi ke taman. Disana aku mengajaknya untuk segera pulang tetapi ia tidak mau dan lebih memilih untuk menghabiskan waktu selama beberapa hari di rumah Tante Sandra. Saat itu aku tidak bisa memaksanya dan besok aku harus kembali ke kantor karena besok siang aku ada rapat dengan pemegang saham. Diana mengerti jika aku tidak bisa mendampingi nya. *** Keesokan harinya, aku terbangun ketika mendengar Diana yang berteriak karena ia memenangkan pertandingan badminton. Saat itu aku langsung beranjak dari ranjang dan melihat di balik jendela ada Diana yang bermain badminton bersama Giselle. Giselle adalah keponakan Diana yang baru saja lulus kuliah dan tadi malam Diana sempat memberi saran untuk memasukkan Giselle ke dalam perusahaan ku. " Sayang, aku harap kau mengijinkan Giselle untuk bekerja di perusahaan mu karena Giselle seorang wanita yang cerdas dan aku yakin ia tidak akan mengecewakan mu." Kata Diana sambil berusaha membujukku. " Suruh Giselle kirim CV dan surat lamaran padaku baru aku bisa mempertimbangkan nya." Kataku pada Diana dan ia tersenyum padaku sambil memeluk tubuhku dengan erat. Diana tau kelemahan ku dan ia tau jika aku tidak bisa menolak keinginannya jika ia memperjuangkan apa yang ia inginkan. Saat itu Diana mengajakku untuk bermain badminton bersama tetapi aku tidak bersembunyi untuk bermalam dan aku lebih memilih menonton Diana bermain badmintonnya bersama Giselle. Terlintas di pikiran ku untuk menjodohkan Ben dengan Giselle karena menurut ku mereka sangat cocok dan memiliki paras yang rupawan. *** Tidak beberapa lama Tante Sandra memanggil kami untuk sarapan bersama. Saat itu aku melihat Sharon yang habis berolahraga bersama ibu Giselle yang bernama Shirley. Saat itu aku sengaja tidak menyapa Sharon karena aku tidak ingin ia berpikir jika aku menyukainya. Semenjak peristiwa di rumah sakit itu, sikap ku mulai berubah dingin kepada Sharon. Aku tidak lagi menyapanya dan lebih memilih acuh setiap bertemu dengannya. Saat itu Tante Sandra memasak makanan kesukaan ku dan rasanya pagi ini aku sangat lahap memakan makanan yang ada di atas meja. " Bagaimana rasanya? Apa ada yang kurang?" Tanya Tante Sandra sambil menatapku. " Tidak ada yang kurang. Rasanya sangat lezat." Kataku sambil memuji masakan Tante Sandra. Saat itu beliau tersipu malu ketika aku memuji masakannya dan beliau menambahkan sayur ke atas piringku. Aku tau sejak dulu Tante Sandra suka memasak dan beliau sangat senang jika orang menghabiskan makanan buatannya. Setelah selesai sarapan, aku mengajak Diana untuk berjalan kaki sambil menghabiskan waktu berdua tetapi aku sangat kesal ketika Sharon ikut bersama kami. Sepertinya ia sengaja tidak membiarkanku berdua dengan Diana sehingga kami bertiga jalan bersama. Aku sengaja memilih di sisi kiri Diana agar aku tidak bersebelahan dengan Sharon. " Aku sangat iri padamu karena memiliki suami yang tampan dan baik hati seperti Thomas." Kata Sharon kepada Diana dan aku tau Sharon berusaha mencuri perhatian ku tetapi aku tetap acuh padanya. " Aku bersyukur memiliki suami yang penyayang seperti dirinya." Kata Diana sambil merangkul bahuku. Saat itu aku melihat wajah Sharon berubah dan ia seperti tidak suka saat melihat Diana mencium pipi ku. Tidak beberapa lama kami sampai di rumah dan aku memutuskan untuk mandi. Setelah itu aku mencari ponsel ku dan memesan tiket keberangkatan malam ini karena besok aku ada rapat dengan pemegang saham. Diana terlihat tidak suka saat aku pulang lebih cepat tetapi ia berusaha menahan diri untuk tidak menahanku pulang ke Jakarta. " Aku harap kau segera pulang ke rumah karena aku tidak sanggup jauh darimu." Kataku sambil memegang kedua wajahnya. " Aku tau kau tidak bisa jauh dariku." Kata Diana sambil menatap kedua mata ku. Aku merasa semakin mencintai Diana karena hanya ia yang bisa menerima diriku apa adanya. *** Tepat jam lima sore aku berpamitan kepada Tante Sandra dan yang lainnya. Aku meminta maaf karena tidak bisa tinggal terlalu lama disana karena banyak pekerja yang harus aku urus. Tante Sandra menyuruhku untuk kembali berkunjung ketika aku tidak sibuk dan beliau sudah menganggap ku seperti anaknya sendiri. Sebelum pergi, aku memeluk Diana dan menciumnya. Lalu membisikkan kata cinta di telinganya dan aku bisa melihat senyum bahagia terpancar di wajahnya. " Hati - hati di jalan. Kabari aku jika sudah tiba di Jakarta." Kata Diana padaku sambil membetulkan kerah bajuku. " Iya sayang, aku pasti akan mengabariku." Kataku sambil mencium keningnya. Setelah berpamitan, aku pergi ke bandara menggunakan taksi dan saat di tengah perjalanan, ada sekumpulan orang berdemo di tengah jalan sehingga membuat kemacetan. Aku melihat arlojiku dan waktu menunjukkan pukul setengah enam sore. Aku berharap bisa melalui kemacetan ini sehingga aku segera tiba di bandara. Tidak beberapa lama aku tiba di bandara dan rasanya aku tidak sabar ingin segera tiba di Jakarta dan bertemu dengan Ben. Entah kenapa aku merasa Ben adalah anak kandung ku meskipun tidak ada bukti yang menunjukkan jika ia darah dagingku tetapi aku yakin suatu hari nanti bisa mendapatkan bukti yang akurat tentang Ben. *** Keesokan harinya aku mulai masuk ke kantor dan saat itu aku melihat Ben yang sedang menyusun dokumen di dalam lemari. Saat itu ia sangat terkejut melihat ku dan aku memberitahu nya jika hari ini ada rapat dengan pemegang saham dan ia baru ingat dengan jadwal rapat hari ini. Lalu ia menyiapkan beberapa dokumen untuk persiapan rapat nanti. Setengah selesai, aku mengajaknya ke kantin untuk membahas pekerjaan selama aku tidak masuk. Ben menjelaskan secara rinci apa saja dokumen yang harus aku tanda tangani dan aku melihat semakin hari Ben semakin bagus kinerjanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD