ALBERT POV
Hari ini Irene memintaku untuk mengantarnya ke supermarket karena ia ingin berbelanja bahan untuk membuat puding.
Saat itu aku juga membeli beberapa barang untuk stok di tokoku. Tiba - tiba aku tidak sengaja bertemu dengan Pak Thomas dan saat itu kami berbincang sampai Irene datang menghampiri kami.
Aku melihat raut wajah Pak Thomas yang berubah saat melihat Irene dan ia terlihat seperti mengenal Irene. Sedangkan Irene tampak bingung saat Pak Thomas melihatnya dengan tatapan heran.
" Perkenalkan, ini istri saya, Irene." Kataku sambil mengenalkan Irene kepada Pak Thomas.
" Senang berjumpa dengan anda. Kalau begitu saya pamit dulu." Kata Pak Thomas sambil pergi meninggalkan kami.
Saat itu aku dan Irene saling bertatapan dan membahas tentang Pak Thomas yang memandang Irene dengan tatapan aneh.
Waktu itu aku bertanya kepada Irene apakah ia pernah bertemu dengan Thomas dan ia menjawab tidak pernah bertemu dengannya.
Aku curiga jika selama ini Thomas memiliki maksud tertentu kepada Ben apalagi aku baru menyadari jika Ben memiliki kemiripan dengan Thomas.
***
Tidak beberapa lama kami sampai di rumah dan aku kembali ke toko untuk menaruh barang - barang. Entah kenapa aku merasa takut jika Thomas adalah ayah kandung Ben karena ia bisa saja mempengaruhi Ben untuk meninggalkan kami yang sejak kecil merawatnya.
Aku berusaha menghilangkan pikiran buruk dan mulai berjualan di toko seperti biasanya. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang dan saatnya aku menutup tokoku.
Tiba - tiba ada mobil yang berhenti di depan tokoku dan ternyata ia adalah Thomas. Aku sangat terkejut ketika ia datang menghampiri ku dan ia mengajak ku makan siang bersama.
Aku tidak tau apa maksud kedatangan nya menemuiku tetapi aku berusaha berpikir positif dan mengenyahkan pikiran buruk.
" Saya kesini ingin mengajak anda makan siang jika anda tidak keberatan." Kata Thomas sambil menawariku makan siang bersama.
" Baiklah kalau begitu. Saya tutup toko sebentar." Kataku sambil menutup tokoku.
Akhirnya aku di ajak makan siang ke sebuah restoran mewah dan aku masih penasaran terhadap maksud Thomas mengajakku kesini.
Saat itu Thomas banyak bertanya tentang Ben dan ia berkata jika Ben adalah anak kandung nya. Waktu itu aku sangat terkejut mendengar perkataan nya dan aku tidak terima ia mengakui Ben sebagai anak kandung nya.
Waktu itu kami terlibat adu mulut sehingga membuat keributan disana. Akhirnya pihak restoran turun tangan dan berusaha memisahkan kami hingga mereka menyuruh kami untuk meninggalkan restoran.
Rasanya saat itu aku tersulut emosi karena ia dengan seenaknya mengaku Ben sebagai anaknya dan aku tidak akan membiarkan Thomas mengambil apa yang aku miliki selama ini.
***
Akhirnya aku pulang ke rumah dengan perasaan marah dan Irene terlihat bingung melihat sikapku. Lalu aku menceritakan kejadian di restoran dan ia sangat terkejut mendengar hal itu.
Ia tidak menyangka jika Thomas adalah ayah kandung Ben dan Irene terlihat sangat ketakutan jika Thomas akan memberitahu Ben jika ia adalah ayah kandung nya.
Tiba - tiba Irene jatuh pingsan dan aku mengangkat tubuhnya ke atas ranjang. Saat itu aku berusaha membangunkannya hingga ia tersadar.
" Aku tidak mau Ben sampai pergi dari rumah ini! Kau harus melakukan sesuatu agar ia berhenti dari perusahaan itu!" Kata Irene dengan suara lemah dan aku berusaha menenangkan nya
" Kau tenang saja. Aku akan menyuruh Ben untuk mengurus tokoku sehingga ia tidak ada alasan untuk bertahan di perusahaan itu." Kataku dengan tegas dan aku menyuruh Irene untuk beristirahat.
Aku tau Irene sangat kelelahan sehingga ia butuh istirahat. Aku merapikan meja dan memasukkan puding ke dalam kulkas.
Tidak beberapa lama Ben tiba di rumah karena ia merasa tidak sehat dan memutuskan untuk istirahat di kamar.
Aku bersyukur ia pulang lebih cepat sehingga aku bisa mengajaknya berbincang. Saat itu aku melihat Ben yang sedang berbaring di atas ranjang dan aku memohon padanya untuk berhenti bekerja di perusahaan itu.
Saat itu aku menyuruhnya untuk mengurus tokoku karena aku merasa sudah waktunya aku membantu usaha Irene di rumah karena selama ini tidak ada yang membantu Irene dan aku merasa tidak tega membiarkan Irene seorang diri.
" Ayah mohon padamu untuk berhenti bekerja di perusahaan itu karena ayah sangat ingin kau yang mengurus toko. Kasian ibumu tidak ada yang membantu di rumah dan ayah sangat ingin membantu usaha ibumu." Kataku sambil memohon padanya.
Saat itu Ben terdiam cukup lama hingga akhirnya ia setuju untuk berhenti bekerja di perusahaan itu. Rasanya saat itu aku sangat bersyukur karena ia mau menuruti keinginan ku.
Waktu itu Ben memintaku untuk meninggalkan nya seorang diri di kamar dan aku pergi meninggalkan nya. Kali ini aku tidak akan membiarkan Thomas menghancurkan keluarga ku.
***
Keesokan harinya, aku melihat Ben membawa sebuah surat dan ternyata ia ingin memberikan surat pengunjung diri kepada Thomas.
Aku dan Irene sangat senang mengetahui hal itu dan tidak beberapa lama Ben pergi ke kantor. Saat itu Adelle terlihat terkejut mengetahui Ben ingin mengundurkan diri dari perusahaan karena selama ini Ben bersikukuh untuk tetap bekerja di perusahaan itu.
Aku memberitahu Adelle jika Ben yang akan mengurus toko karena aku ingin membantu usaha Irene di rumah dan Adelle merasa tidak enak terhadap Irene karena selama ini ia tidak pernah membantu Irene berjualan di rumah.
" Ibu, maafkan aku selama ini tidak pernah membantu ibu berjualan. Mulai hari ini sepulang sekolah aku akan membantu ibu." Janji Adelle kepada Irene dan saat itu Irene tersenyum kepada Adelle.
" Tidak apa-apa sayang. Ada ayahmu yang membantu ibu berjualan." Kata Irene sambil memeluk Adelle.
Aku menyadari jika selama ini kami terlalu memanjakan Irene sehingga ia lupa akan tugasnya untuk membantu Irene di rumah.
Mulai sekarang aku akan bersikap lebih tegas padanya agar ia lebih mandiri dan tidak tergantung dengan Irene.
***
Tidak terasa hari sudah sore dan Ben belum kembali ke rumah. Aku berpikir jika ada yang harus ia selesaikan sebelum berhenti bekerja.
Aku berharap Thomas mengabulkan permintaan Ben untuk berhenti bekerja karena aku tidak mau Ben dekat dengan Thomas apalagi setelah mengetahui Thomas adalah ayah kandung Ben.
Aku teringat kejadian saat berada di restoran. Waktu itu Thomas menantangku dengan ia berani tes DNA dan membuktikan jika Ben adalah anak kandung nya.
Saat itu aku terdiam dan tidak berani berkata apapun meskipun aku mengelak jika Ben adalah anak kandung nya.
Sampai kapanpun Ben tidak boleh tau tentang rahasia ini dan aku ingin Ben terus selamanya bersama kami karena kami sangat menyayanginya seperti anak kandung kami sendiri.