THOMAS POV
Hari ini aku memutuskan untuk mendatangi rumah Ben dan saat tiba disana, aku di sambut oleh ayahnya. Saat itu ayahnya mempersilakan aku untuk masuk.
Lalu mataku tertuju kepada foto anak kecil yang memakai baju seragam. Aku terkejut melihat itu adalah anakku dan saat itu aku bertanya tentang foto itu kepada ayah Ben dan ia menjelaskan jika itu foto Ben saat berusia tujuh tahun.
Aku baru sadar jika itu adalah Ben dan kali ini aku semakin yakin jika Ben adalah anakku. Lalu aku langsung berpamitan kepada ayah Ben dan pergi ke kantor.
" Maaf saya pamit dulu karena saya ada rapat di kantor." Kataku sambil berpamitan kepada ayah Ben.
" Terima kasih sudah datang ke rumah saya. Hati - hati di jalan." Kata ayah Ben sambil mengantarku ke depan rumah.
Saat itu aku melajukan mobilku dan rasanya aku tidak menyangka jika Ben adalah anak kandung ku meskipun belum ada bukti yang cukup kuat tetapi aku yakin Ben adalah anak kandung ku.
Tidak beberapa lama aku tiba di kantor dan melihat Ben yang menyapaku. Rasanya saat itu aku sangat malu bertemu dengannya dan perasaan bersalah muncul.
Aku hanya diam tanpa merespon nya dan langsung pergi menuju ke ruang kerja ku. Rasanya hari ini aku tidak menyangka jika Ben adalah anakku yang aku buang puluhan tahun yang lalu dan sekarang ia bekerja di perusahaan ku.
Saat itu aku memutuskan besok untuk mengajak ayah Ben untuk membahas tentang Ben dan kali ini aku harus bisa mempengaruhi Ben supaya ia meninggalkan kedua orang tua angkatnya.
***
Tidak terasa waktu menunjukkan pukul setengah dua belas dan saatnya makan siang. Saat itu aku melihat Ben yang sibuk mengurus pekerjaan dan aku mengajaknya untuk makan siang bersama.
Lalu ia ikut bersama ku dan kali ini aku semakin percaya diri untuk lebih dekat dengan anak kandung ku sendiri. Kali ini semua orang sudah terbiasa melihat ku bersama Ben meskipun ada beberapa orang yang iri melihat kedekatan ku dengan Ben.
Mereka berpikir orang baru seperti Ben bisa dengan mudahnya dekat dengan atasan. Tetapi aku tidak perduli dengan semua itu, begitupun juga dengan Ben yang tampak acuh depan perkataan orang lain.
" Kau ambil makanan semaumu karena aku yang akan membayar." Kataku sambil menyuruhnya mengambil makanan di atas meja.
" Tidak usah repot-repot. Saya bisa membayar sendiri." Kata Ben sambil mengambil nasi dan lauk pauk.
Saat itu semua orang melihat kami dan orang - orang di sekitar kami berbisik satu sama lain tetapi aku tidak memperdulikan omongan mereka.
Setelah itu aku mengajak Ben makan di meja yang jauh dari orang - orang agar kami bisa makan dengan tenang. Saat itu Ben sangat lahap menghabisi makanannya dan sepertinya ia sangat kelaparan.
Rasanya saat itu muncul perasaan bersalah di hatiku karena selama puluhan tahun aku membuangnya padahal ia adalah orang yang sangat baik seperti Claire.
***
Setelah selesai makan, kami kembali ke ruang kerja dan saat itu aku sempat berpikir untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Ben jika aku adalah ayah kandung nya tetapi aku takut ia tidak percaya dengan perkataan ku dan menganggap ku sebagai pembohong.
Tiba - tiba Felix datang ke kantor ku dan ternyata ia bertujuan untuk meminta ijin untuk pergi ke luar kota bersama teman sekelasnya dan aku mengijinkannya.
Ia juga membawakan makanan dari Diana dan tidak beberapa lama ia pulang ke rumah. Ternyata Diana membawakan puding kesukaan ku yang ia beli dari temannya.
Aku sangat bersyukur memiliki istri sebaik dirinya dan aku berharap suatu hari nanti ia bisa menerima Ben menjadi bagian dari keluarga kami.
***
Tidak terasa waktu menunjukkan pukul lima sore dan aku melihat Ben masih berkutat dengan pekerjaan nya. Saat itu aku membiarkan nya menyelenggarakan pekerjaan nya dan setengah jam kemudian, aku melihat Ben sudah bersiap untuk pulang.
Aku mengajaknya untuk pergi keluar dan ia mau menuruti ajakan ku. Aku mengajak nya pergi ke kafe dan disana kami membahas banyak hal termasuk orang tuanya.
Aku melihat Ben sangat menyayangi orang tua angkatnya dan rasanya aku sangat iri dengan mereka. Aku sangat ingin Ben menyayangiku seperti ia menyayangi orang tua angkatnya.
" Saya sangat menyayangi ayah dan ibu. Mereka adalah panutan saya dan sampai kapanpun saya tidak akan meninggalkan mereka." Kata Ben sambil menyeruput kopi nya.
" Kita sama - sama memiliki kesamaan." Kataku padanya dan Ben tersenyum padaku.
Semakin lama aku menyadari jika Ben sangat mirip dengan Claire dari senyumnya mereka dan kebaikan yang Ben tunjukkan padaku.
Saat itu aku berkata kepadanya jika aku sudah menganggapnya seperti anak ku sendiri dan ia sangat berterima kasih kepada ku karena sudah memberinya kesempatan untuk bekerja di perusahaan ku.
Setelah kami berbincang, kami langsung pulang ke rumah masing-masing. Rasanya hari ini aku sangat bahagia meskipun di satu sisi aku merasa sangat bersalah kepada Ben atas kesalahan ku di masa lalu.
***
Keesokan harinya aku sudah merencanakan untuk mengajak ayah Ben untuk bertemu dan membicarakan tentang Ben.
Aku sengaja membatalkan pertemuan dengan klienku karena aku sangat ingin bertemu dengan ayah angkat Ben. Selama ini aku berusaha menahan diri untuk tidak berkata yang sebenarnya kepada jika aku adalah ayah kandung nya.
Aku melihat waktu menunjukkan pukul setengah sebelas dan aku langsung pergi menuju ke toko ayah angkat Ben.
Tidak beberapa lama aku tiba di depan toko ayah angkat Ben dan saat itu ia sangat terkejut melihat kedatangan ku.
Lalu aku mengajaknya untuk makan siang bersama dan ia setuju untuk makan siang bersama ku. Aku mengajaknya ke sebuah restoran mewah dan ia terlihat terkejut saat aku mengajaknya kesana.
" Sebenarnya ada apa sampai anda mengajak saya makan siang bersama?" Tanya pria itu padaku sambil menatap ku heran.
" Saya ingin memberitahu anda jika saya adalah ayah kandung Ben." Kataku sambil memberitahu nya dan ia tampak terkejut dan tidak percaya padaku.
Saat itu ia menyangkal semua perkataan ku dan ia bersikukuh jika Ben adalah anaknya meskipun aku tau jika apa yang dikatakannya adalah kebohongan.
Aku tidak terima dengan perkataan nya hingga kami adu mulut dan membuat keributan di restoran. Saat itu ada beberapa orang yang berusaha memisahkan kami sampai akhirnya pihak restoran mengusir kami karena membuat kegaduhan.
Aku menyadari semua orang melihat ke arah kami dan saat itu aku bertekad tidak akan membiarkan Ben berlama - lama bersama orang tua angkatnya karena bagaimanapun juga Ben adalah anak kandung ku meskipun belum ada bukti yang valid tetapi aku yakin Ben adalah darah dagingku.