BAB 18

1047 Words
ALBERT POV Saat Ben pulang ke rumah, aku sangat terkejut melihat ia yang tampak sangat emosi dan ia mulai menyalahkanku karena selama ini aku tidak berterus terang padanya. Ternyata Thomas memberitahu Ben tentang kenyataan yang sebenarnya jika ia adalah ayah kandung nya dan membuat Ben merasa selama ini aku membohongi nya. Saat itu aku berterus terang padanya jika memang aku bukan ayah kandungnya dan aku menemukannya di depan tokoku. Ben tampak sedih dan aku berusaha meminta maaf padanya karena selama ini tidak mengatakan yang sebenarnya. " Maafkan ayah selama ini tidak berterus terang padamu. Ayah dan ibu tidak ingin kehilangan mu. Kami sangat menyayangimu dan menganggapmu seperti anak kandung kami sendiri." Kataku sambil meminta maaf padanya. " Ayah dan ibu sangat jahat padaku!" Kata Ben sambil pergi meninggalkanku dan ia masuk ke dalam kamar nya. Saat itu Irene memohon kepada Ben untuk tidak pergi meninggalkan kami waktu aku melihat Ben yang membawa barang - barangnya. Aku memohon kepada nya untuk tidak pergi dari rumah tetapi ia tetap bersikeras pergi dan saat itu aku tidak bisa mencegahnya hingga Irene jatuh pingsan dan aku membawanya ke dokter. Rasanya saat itu aku sangat cemas memikirkan kondisi Irene dan tidak beberapa lama kami tiba di klinik dan dokter memeriksa kondisi Irene. " Istri anda mengalami stress dan ia harus beristirahat." Kata dokter sambil memberiku resep obat. " Terima kasih dokter." Kataku sambil menatap Irene yang terbaring di ranjang. Tidak beberapa lama Irene terbangun dan aku memberitahu nya jika ia tadi jatuh pingsan. Saat itu ia teringat dengan Ben dan ia tampak murung memikirkan nya. Lalu aku mengajaknya pulang ke rumah tetapi ia tidak mau pulang dan ingin mencari Ben. Saat itu aku tetap bersikukuh mengajak nya pulang karena ia butuh istirahat dan menenangkan pikiran sehingga ia tidak bisa membantahku. *** Tidak beberapa lama kami tiba di rumah dan aku menyuruhnya untuk berinteraksi. Setelah ia masuk ke dalam kamar, aku berusaha menghubungi Ben tetapi ponselnya tidak aktif. Saat itu aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar Ben di lindungi dan aku berharap Ben bisa memaafkan kesalahan ku dan Irene. Kami tidak menyangka apa yang kami takutnya akan terjadi dan kali ini kami tidak bisa berbuat apapun jika Ben ingin pergi dari rumah ini. Ia sudah dewasa dan bisa menentukan sikap sehingga aku tidak berhak untuk melarangnya pergi. Tiba - tiba ada yang membunyikan bel dan saat aku membuka pintu, ternyata teman kerja Ben dan ia memberitahu dimana keberadaan Ben sekarang. " Saya kesini ingin memberitahu jika saat ini Ben menginap di rumah saya. Ia sudah menceritakan apa yang terjadi dan saya sudah membujuknya untuk pulang tetapi ia tidak mau." Kata Rendy sambil memberitahu ku. " Terima kasih atas informasinya. Saya harap nak Rendy bisa membujuk Ben untuk pulang ke rumah." Kataku sambil memohon padanya. Rendy menganggukkan kepala dan tidak beberapa lama ia berpamitan padaku. Saat itu aku sangat bersyukur mendengar keadaan Ben yang baik - baik saja dan aku berharap tidak lama lagi Ben kembali ke rumah. Tidak beberapa lama Adelle tiba di rumah dan ia sangat terkejut melihat barang - barang Ben yang berhamburan di kamar. Saat itu Adelle menanyakan keberadaan Ben dan aku memberitahu nya jika Ben pergi dari rumah. " Kenapa kak Ben sampai pergi dari rumah? Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Adelle sambil menatapku. " Ini semua kesalahan ayah dan ibu yang tidak berterus terang kepada kakakmu." Kataku sambil memberitahu nya. Lalu aku menceritakan apa yang terjadi sebenarnya dan Adelle sangat terkejut ketika mengetahui Ben bukanlah kakak kandung nya. Tiba - tiba kami mendengar Irene berteriak memanggil nama Ben dan saat itu kami langsung pergi ke kamar untuk melihat Irene. Aku berusaha membangunkan Irene sampai ia terbangun. Saat itu ia terlihat sangat sedih dan menangis ketika mengingat Ben. Aku tau ia sangat ingin Ben kembali ke rumah tetapi untuk saat ini Ben butuh waktu untuk menenangkan pikiran nya setelah ia mengetahui kenyataan itu. " Irene, tenanglah. Aku tau kau sangat ingin Ben kembali bersama kita tetapi untuk saat ini ia butuh waktu untuk menenangkan pikiran dan kau tenang saja karena Ben baik - baik saja." Kataku sambil berusaha menenangkan nya. " Aku ingin Ben pulang!!" Kata Irene sambil berteriak dan membuat Adelle sedih karena selama ini ia tidak perlu melihat Irene terpuruk seperti ini. Saat itu aku menyuruh Adelle untuk pergi ke kamar nya. Sementara itu aku berusaha menghibur Irene agar ia berhenti menangis. Aku tau sejak dulu Irene sangat menginginkan seorang anak laki-laki. Dulu kami berencana ingin menambah anak tetapi dokter memvonis Irene tidak bisa mengandung lagi karena rahimnya sangat lemah. Waktu itu Irene sangat sedih dan semenjak itu ia sangat menyayangi Ben dan menuruti semua keinginannya karena Irene merasa ia tidak bisa memberiku anak laki - laki. *** Tidak terasa sudah seminggu Ben tidak kembali ke rumah dan aku melihat kondisi Irene semakin memburuk. Ia tidak mau makan sehingga aku dan Adelle berusaha membujuknya untuk makan karena aku tidak ingin ia jatuh sakit. Aku bisa merasakan kesedihan Irene tetapi aku tidak ingin larut dalam kesedihan. Sampai tetangga di sekitar kami menjenguk Irene dan mereka memberi semangat kepada Irene untuk bangkit dari keterpurukannya karena mereka tidak ingin melihat Irene bersedih seperti ini. " Irene, kau tidak boleh seperti ini. Kami yakin Ben akan segera pulang karena ia sangat menyayangi mu." Kata Maggie sambil memberi semangat kepada Irene. " Sangat betul apa yang di katakan Maggie. Ben sangat tau jika kau dan Albert selama ini merawatnya dengan baik dan kalian sangat menyayangi nya. Jadi aku rasa Ben pasti kembali bersama kalian." Kata Rosie sambil memegang tangan Irene. Saat itu Irene berterima kasih kepada mereka karena sudah memberinya semangat karena aku tau ia sangat putus asa memikirkan Ben. Setelah mereka pergi, Adelle menghampiri Irene dan ia memeluknya erat. Aku tau Adelle sangat sedih melihat Irene jatuh sakit dan ia ingin Irene kembali seperti dulu. Aku bersyukur memiliki anak seperti Adelle karena di saat seperti ini, ia selalu berada di samping Irene dan tidak pernah meninggalkan nya. Mungkin ini adalah ujian bagi kami dan aku berharap kami bisa melalui ini semua dengan lapang d**a. Aku sudah merelakan Ben jika ia ingin berpisah dari kami tetapi sampai kapanpun kami tetap menganggap nya sebagai keluarga kami. Yang kami miliki saat ini adalah Adelle dan hanya ia yang bisa menenangkan kami di saat kondisi seperti ini. Aku berharap ujian ini akan segera berakhir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD