THOMAS POV
Aku sangat terkejut mendengar kabar jika Diana sudah di temukan dalam kondisi tidak bernyawa. Rasanya saat itu aku sangat bersedih dan aku tidak menyangka akan kehilangan orang yang ku cintai untuk yang kedua kalinya.
Aku memberitahukan hal ini kepada Felix dan ia tidak percaya jika Diana telah pergi untuk selamanya. Saat itu kami pergi ke rumah sakit untuk melihat jenazah Diana.
Saat kami tiba di sana, aku dan Felix melihat jenazah Diana dan kami tidak bisa menahan tangis melihat nya yang sudah tidak bernyawa.
" Felix tidak menyangka mama akan pergi secepat ini." Kata Felix sambil menangis.
" Kita hanya bisa mendoakan mama semoga amal ibadah nya diterima di sisi Tuhan." Kataku sambil memeluknya.
Tidak beberapa lama jenazah Diana di bawa ke pemakaman dekat rumah kami. Di sana sudah banyak orang yang datang dan rasanya kali ini sangat menyakitkan bagi kami karena kehilangan orang yang kami sayangi.
Aku melihat Sharon dan keluarga yang lain datang. Mereka terlihat tidak percaya jika Diana pergi secepat itu. Tante Sandra tidak berhenti menangis ketika jenazah Diana di makamkan.
***
Setelah selesai di makamkan, kami sekeluarga pulang ke rumah dan kami melakukan doa bersama untuk Diana. Entah kenapa aku merasa Sharon terlihat tidak sedih dengan kematian Diana dan aku merasa ia sangat senang dengan kematian Diana.
Tiba - tiba ia duduk di samping ku dan memegang bahuku. Entah apa tujuannya mendekati ku tetapi yang jelas aku sangat risih dan aku berusaha menjaga jarak dengan nya.
" Aku tau ini sangat berat untuk mu tetapi aku yakin Diana tidak ingin melihat mu bersedih." Kata Sharon sambil menatapku.
Saat itu aku diam tanpa merespon perkataan nya dan tidak beberapa lama aku kedatangan orang - orang yang ingin berbelasungkawa.
Mereka terlihat tidak percaya jika Diana sudah tiada dan mereka memberi dukungan padaku. Tiba - tiba Ben datang ke rumah dan semua orang menatapnya dengan tatapan heran karena melihat wajahnya yang sangat mirip dengan ku.
Saat itu aku melihat Tante Sandra yang sangat terkejut melihat Ben duduk di samping ku. Waktu itu banyak yang membicarakan kami tapi Ben terlihat acuh.
Setelah selesai berdoa, satu persatu orang meninggalkan rumah dan tinggal Ben bersama Rendy. Tiba - tiba Tante Sandra menghampiri kami dan ia melihat ke arah Ben.
" Wajah kalian sangat mirip." Kata Tante Sandra sambil melihat ke arah kami.
Waktu itu aku menarik tangan Tante Sandra dan membisikkan di telinganya jika nanti aku akan menceritakan tentang sesuatu dan beliau hanya mengangguk.
***
Tidak beberapa lama Ben pulang bersama Rendy dan saat itu aku mengajak Tante Sandra ke ruang kerja ku dan saat itu aku memberitahu nya jika Ben adalah anakku.
Saat itu beliau sangat terkejut mendengar hal itu dan ia merasa selama ini aku membohongi Diana dan keluarganya.
Waktu itu aku meminta maaf kepada beliau karena selama ini tidak jujur kepadanya dan keluarganya. Kemudian Tante Sandra menyuruhku untuk tidak memberitahu tentang Ben kepada siapapun karena beliau tidak ingin nama ku dan nama keluarganya tercoreng karena hal ini.
" Tante harap kau tidak memberitahu hal ini kepada siapapun demi nama keluarga kita. Tante tidak ingin nama keluarga kita tercoreng karena hal ini." Kata beliau sambil menatapku dengan tajam.
" Tante tenang saja. Tidak akan ada yang tau tentang hal ini." Kataku sambil meyakinkan Tante Sandra bahwa semuanya akan baik - baik saja.
Setelah itu beliau pergi meninggalkan ku sendiri di ruang kerja dan aku hanya bisa termenung memikirkan apa yang terjadi padaku.
Aku berharap kesedihan ini segera berakhir meskipun tidak ada Diana di sampingku. Aku tau selama puluhan tahun banyak melakukan kesalahan terhadap keluarga ku dan aku sangat ingin memperbaiki kesalahan yang sudah ke perbuat apalagi terhadap Ben.
****
Tidak terasa sudah seminggu dan aku merasa hampa tanpa ada Diana di samping ku. Aku yakin saat ini Diana sudah berada di surga dan ia pasti ingin melihat ku bahagia.
Hari ini aku mulai ke kantor karena sudah terlalu lama aku tidak masuk kantor. Saat aku tiba di kantor, semua orang menyapaku dan menanyakan kabarku.
Aku memberitahu mereka bahwa aku sangat baik dan aku berjalan ke ruang kerja ku. Saat itu aku melihat Ben yang merapikan mejaku dan ia sangat terkejut melihat kedatangan ku.
" Ben pikir papa baru minggu depan datang ke kantor." Kata Ben sambil merapikan dokumen di atas mejaku.
" Papa merasa sudah terlalu lama berada di rumah dan papa merasa sudah waktunya datang ke kantor." Kataku sambil duduk di kursi kebanggaan ku.
Tidak beberapa lama Ben membawakan ku secangkir kopi dan ia melanjutkan kembali pekerjaan nya. Aku tau ia sangat rajin dalam segala hal. Sama persis dengan Claire yang rajin dalam melaksanakan banyak aktivitas.
***
Tidak terasa waktu menunjukkan pukul sebelas siang dan aku mengajak Ben makan siang di kantin. Ia terlihat bersemangat dan sepertinya ia sedang bahagia.
Saat itu aku bertanya apa yang ia rasakan saat ini dan ia merasa sangat senang melihat ku yang tidak bersedih.
Hari ini cuaca tampak cerah dan aku berharap semuanya berjalan lancar. Tiba - tiba ponsel ku berbunyi dan aku mendapatkan kabar jika proyek yang aku kerjakan berjalan lancar dan bulan depan gedung akan di operasikan sebagai kantor baru.
" Papa mau bulan depan kau yang memimpin kantor yang baru." Kataku sambil menyesap kopiku
" Ben merasa belum mampu untuk menjadi seorang pemimpin. Lebih baik papa memilih orang lain saja untuk memimpin kantor yang baru." Kata Ben sambil menatapku.
Meskipun ia berkata begitu, aku bersikeras dengan keputusan ku bahwa aku tetap memilih nya untuk memimpin kantor yang baru.
Setelah selesai berbincang, kami kembali ke ruang kerja masing - masing. Tiba - tiba aku melihat Sharon yang menungguku di depan pintu dan ia ingin mengajakku berbincang tetapi aku menolaknya karena aku tidak ingin berurusan dengannya.
" Untuk apa kau datang kesini?" Tanyaku sambil menatap nya dengan tajam.
" Aku kesini ingin berbisnis dengan mu." Kata Sharon sambil menatapku dengan tatapan genit.
Waktu itu aku menyuruh nya untuk pergi karena aku sangat malas berlama - lama dengan nya dan ia terlihat sangat kesal dan ia berjanji akan menemuiku lagi.
Sejujurnya aku tau maksud kedatangannya untuk mendekati ku dan sepertinya ia tidak putus asa untuk mendapatkanku.
Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menikah lagi karena hanya Diana cinta terakhir ku. Sekeras apapun ia berusaha untuk mendapatkan cintaku, aku tidak akan memberinya kesempatan untuk berada di hidupku.
Aku yakin Felix tidak akan setuju jika aku menikah lagi karena ia tidak ingin memiliki ibu tiri.