22| Scientist I Good Bye, Wild World!

1672 Words
Semua tas besar sudah diangkut ke kursi belakang mobil J.E.E.P. Sebuah mobil bak terbuka berban kasar dan besar, cocok dipakai untuk segala medan. Theresa tak percaya kalau selama ini ada mobil di antara reruntuhan sebelah rumah Firio. Pria penunggang serigala ini punya mobil. “Apa?” tanya Firio saat menaiki kursi kemudi. Ia sadar kalau pandangan Theresa merendahkan dirinya. “Sekalipun kanibal s****n yang bertopi tengkorak itu juga punya mobil.” Theresa menurunkan mata ke arah dashboard yang dipenuhi tombol. Dia sama sekali tak paham mengapa kemudi mobil ini seperti kemudi pesawat. Hanya ada pedal rem dan gas, sehingga membuat mobil ini seperti matic. Anehnya tak ada perseneling. “Aku hanya mengira kalau kita akan berangkat menaiki kuda.” Theresa berniat menyindir. Firio memeriksa beberapa tombol di sekitar kemudi. “Kuda sudah punah.” “Apa? Bagaimana dengan gajah?” “Punah.” “Jerapah?” “Punah.” “Ayam?” “Punah.” “Aku suka ayam.” “Tenang saja, ada binatang yang mirip ayam dan kalkun. Karena peperangan— binatang seperti mereka banyak yang mati, yang bisa bertahan hidup pasti mengalami perubahan genetik.” “Oh, kau yakin mereka bisa dimakan?” “Tentu saja, banyak itu di dalam dinding— kau akan betah disana.” Theresa tak bisa membayangkan binatang yang mengalami perubahan genetik. Dia kemudian menoleh ke belakang, tepatnya di antara tumpukan tas dimana Kye dan Kade sedang duduk manis. “Tapi kelihatannya serigala punya bentuk yang sama ya? Hanya saja lebih besar.” “Semua pemangsa liar berkaki empat memang mengalami perubahan, lebih kuat.” “Ngomong-ngomong, Firio, mata mereka selalu jahat padaku. Kau yakin mereka jinak?” “Tentu saja tidak. Mereka memang ingin membunuhmu setiap saat, jadi sebaiknya jangan sakiti aku.” “Sakiti apa? Kau yang menyakitiku sejak awal.” “Lenganmu hanya tergores pisauku, tapi hatiku sudah kau tusuk.” Theresa menyentuh dadanya. “Oh, astaga, apa barusan aku mendengar Mowgli sedang berpuisi?” Firio tak menanggapi. Kye dan Kade protes pada Theresa. Mereka berdua seperti ingin memakan kepala wanita itu hidup-hidup. Theresa sudah hafal betul reaksi para binatang itu. Dia sontak menyergah, “apa? Jangan terus menyalahkanku! Aku tidak tahu apa-apa! Aku terjebak di sini dan majikan kalian ingin membunuhku.” “Jangan sebut majikan! Mereka saudaraku!” Firio kini yang protes. Theresa memandangi mereka bertiga. “Ah, sudahlah, tidak akan ada habisnya kalau membahas garis keturunan keluargamu yang aneh ini.” “Hei, ngomong-ngomong, kau sudah masuk garis keturunan keluargaku,” sindir Firio meliriknya, “Nyonya Wolfman.” Theresa sejak awal tak yakin itu nama belakang. Dia bertanya, “biar kutebak, itu bukan nama belakang aslimu'kan?” “Bukan.” Firio mengangguk. “Tapi itu nama keluargaku sekarang, bersama para serigala lain, termasuk dirimu.” “Nama depanmu saja aneh, aku tak berminat ingin tahu nama belakangmu.” “Nenek moyangku orang Spanyol, itu nama Spanyol, bukan nama aneh.” “Rasanya aku seperti menikahi penipu. Kau menikahiku dengan nama palsu.” “Sudah kubilang aku sudah mengganti nama belakangku, jadi itu resmi.” “Dan pendeta palsu.” “Rollo itu pendeta—” “Bohong! kalian tak ada tampang-tampang religius sama sekali! Bahkan gereja kalian sangat kotor.” “Rollo itu pendeta—” tegas Firio memandang Theresa, jeda sejenak, lalu menambahkan, “kakek moyangnya yang pendeta, jadi bisa dibilang dia pendeta.” Theresa terbelalak. “Kau pikir pendeta itu pekerjaan turun temurun?” “Ya, sepertiku, aku ilmuan, kakek buyutku juga ilmuan. Dan kau, Tomat, kau penipu— kakek moyangmu juga pasti penipu.” “Jangan debat, jangan debat, jangan debat,” ucap Theresa seperti tengah berdoa saja. Firio menyindirnya, “jangan memikirkan dirimu sendiri, coba lihat dari sudut pandangku, kau pikir bagaimana perasaanku, menikahi wanita yang 400 tahun lebih tua dariku? Rasanya seperti menikahi fosil.” Theresa mengelus d**a. “Jangan debat, Theresa, jangan debat—” “Oh, aku lupa sesuatu—” Firio merogoh saku mantelnya, lalu mengeluarkan sebuah benda bulat lempeng berwarna hitam yang diameternya tak sampai satu sentimeter. “Ini semacam tanda pengenal sementara untukmu.” “Pengenal apa?” Firio tak sabar. Dia memalingkan wajah Theresa, menyibak rambut ke samping, lalu menempelkan benda itu ke tengkuknya. Theresa tersentak saat benda itu masuk ke dalam pori kulit. Ia spontan menggaruknya. “Apa ini? Rasanya seperti disengat lebah.” “Selesai, ayo kita berangkat,” ajak Firio menyalakan mobil itu, lalu mengemudikannya keluar dari reruntuhan. Kendaraan itu melaju kencang, berbelok ke jalanan berbatu, menuju ke arah dinding Eve. Mereka harus melintasi hutan dan perbukitan untuk kesana. Jaraknya sendiri adalah ratusan kilometer dari distrik 222. Langit masih tertutup awan tebal. Meskipun sudah tengah hari, tapi tak ada kehangatan sama sekali, malahan makin dingin. Cuaca tahun ini bisa berubah seperti membalikkan sekeping koin. Seperti hari ini, rintik salju mulai turun. “Apa-apaan ini?” Theresa mendongak, merasakan butiran salju yang meleleh saat mengenai kulit wajahnya. “Bulan apa ini? Mengapa sudah masuk musim dingin?” Firio masih memandangi jalanan, dia tahu sebentar lagi akan licin. “Di sini perubahan cuaca itu tidak pasti, tapi bisa diprediksi dengan gejala alam, sudah semingguan ini kalau malam hari terasa lebih dingin, kau tahu sendiri kalau kusen jendela sampai mengkristal, itu tandanya mau terjadi hujan salju—inilah kenapa aku mempercepat kepergian kita, agar tak terjebak badai salju di luar dinding.” “Apa maksudmu?” “Saat musim dingin begini, kawasan di luar dinding sangat mengerikan, tubuh rapuhmu takkan kuat bertahan di rumahku yang hanya memakai alat penghangat lama.” Theresa tertegun, memikirkan semua perlakuan Firio selama ini. Sekalipun sifatnya memang b******k bukan main, tapi Aisla benar, ada saat dimana Firio memang seorang pria bertanggungjawab. “Kau sungguh mengkhawatirkanku ya?” tanyanya menatap pria itu dengan serius. Firio langsung menanggapi, “tentu saja, bagaimana pun kau ke abad ini karena salah peralatanku. Dan aku harus memulangkanmu.” “Apa hanya itu alasanmu?” Theresa masih berharap ada alasan yang lebih dalam. “Iya—” Firio tak berminat mengatakan apapun alasan selain itu. Dia sungguh ingin fokus mengembalikan Theresa di waktunya. Akan tetapi jauh di lubuk hati, dia bimbang. Walau memakai mantel tebal, Therrsa tetap kedinginan. Rintik salju makin deras— dan dinding Eve masih ada di balik perbukitan. “Boleh kutanya sesuatu, Firio?” tanyanya pelan. “Apa?” “Apa kau masih mencintai istrimu?” “Tidak sama sekali.” “Itu bohong'kan? Karena kau selalu kelepasan mengatakan cinta padaku.” “Entahlah, aku merasa aku sangat membencinya, dia tak pernah mencintaiku, itu membuatku sakit hati— jadi untuk apa mencintainya—” “Tapi kau tetap mencintainya. Bibir mungkin bisa berbohong, tapi aku tahu, kau sangat mencintainya” Firio terdiam. Kebisuan itu malah melukai hati Theresa. Wanita ini tak mengerti mengapa bisa sakit hati? Dia tak mau mengakui kalau sedari awal telah jatuh cinta pasa Firio. Apakah ini cemburu? Akan tetapi mengapa harus cemburu pada dirinya sendiri? Dia ingin sekali menampar dirinya yang lain itu, bagaimana bisa mengkhianati Firio hanya demi ketenaran dan uang? Selama hidupnya, dia pernah berkeinginan agar menjadi terkenal karena karya atau jasa. Namun apa gunanya jika mengambil penelitian orang, lalu mengklaim-nya? Sejak kapan aku selicik itu?, pikirnya. “Aku minta maaf karena sering menyamakanmu dengan Theresa yang itu, aku tahu itu salah, aku tak bermaksud begitu—” Firio akhirnya mengeluarkan ucapan lembut yang tulus dari dasar hati pada Theresa. “Aku takut kau menikamku juga.” “Aku—” Theresa tak menyangka mendengar permintaan maaf yang terlalu tulus ini. Bahkan ungkapan ini lebih berarti ketimbang lamarannya saat itu. “Aku tidak mungkin melakukannya.” “Jangan coba-coba mencuri apapun saat di dalam dinding dan melampiaskan kesalahannya padaku.” “Aku bersumpah tidak akan melakukan itu. Lagipula mengapa aku mencuri?” Firio tersenyum kecil. “Aku mulai percaya padamu, jadi kita— damai ya?” Dia menunjukkan jari kelingkingnya. “Jika kau tak mengecewakanku, aku berjanji akan memulangkanmu.” “Ya,” ucap Theresa mengaitkan jari kelingkingnya pula. “Aku tak percaya kau melakukan janji jari kelingking denganku.” “Theresa itu mengajariku.” “Tapi Theresa itu pengkhianat, sementara Theresa ini tidak akan mengkhianatimu. Jadi berhenti mengingat-ingat Theresa itu.” “Bagaimana aku tidak ingat, kau itu dia.” Firio menyudahi janji jari tersebut, lalu memegang setir kembali. Theresa mendehem tak terima. “Firio, aku adalah Theresa yang belum terpapar radiasi keserahkaan, aku suka dengan hidupku yang sederhana di Cedar City, tak ada tuntutan seperti ilmuan diharuskan mempresentasi penemuannya sebelum usia tiga puluh kalau tak mau diberhentikan.” “Apa menyenangkan jadi jurnalis?” “Ya, aku jurnalis olah raga, jadi lumayan bisa bertemu pemain sepak bola yang tampan.” Theresa kembali terkenang oleh rutinitasnya yang mencari berita di lapangan olah raga. Firio memasang wajah cemberut, jelas ada kecemburuan yang terbesit dalam benarknya. “Kau tak suka ilmuan?” “Aku tak suka pria botak yang menghabiskan waktu dengan bermain cairan kimia. Aku suka mereka yang tangguh, bertanggungjawab dan perhatian— sepergi atlit yang selalu kuwawancarai, mereka begitu sopan.” “Aku ilmuan, tapi kepalaku tidak botak.” “Heh?” “Menurutmu aku kurang sopan?” “Kau? Sopan? Maaf Firio, jangan tersinggung, kau mirip pegulat barbar yang dibiarkan mengamuk di atas ring. Emosimu naik turun, dan kau sangat bringas.” “Baiklah, aku akan memperbaiki diri, lagipula untuk sementara kita akan tinggal di dalam dinding, aku takkan bringas lagi.” Theresa malah tertawa. “Tapi sudahlah, kalau kau tak bringas, aku malah takut nanti.” “Dasar sialan.” Firio malas menanggapi sindiran itu. Mobil mereka makin dekat dengan gerbang masuk dinding. Theresa dengan bahagianya berteriak, “selamat tinggal, dunia luar yang liar!” Wanita ini merasa bahagia. Walau ia tak tahu kapan bisa pulang, setidaknya dia bisa hidup aman di dalam dinding. Takkan ada lagi penculikan, takkan ada lagi teriakan liar agar orang saling membunuh, dan takkan lagi penampakan helm tengkorak. Baginya, sikap Firio pun juga makin membaik. Ia yakin mesin LYNXproject itu akan berhasil disusun ulang sehingga dia dapat kembali ke realitasnya yang asli. Kehidupan normalku, tunggu aku, ucapnya dalam hati. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD