23| Scientist I Spend The Night

1732 Words
Dinding Eve begitu tinggi dan tebal, sebuah dinding beton yang tak pernah dilihat Theresa seumur hidup. Pada setiap satu meter terpasang sebuah alat yang mirip s*****a api. Melihat ini saja membuat dia merinding. Pemeriksaan di pos gerbang selatan menggunakan teknologi. Mereka hanya perlu menunjukkan tengkuk di layar dekat pintu besi. Ketika terkonfirmasi, layar komputer yang menempel di dinding itu berbunyi, "selamat datang, residen Adam distrik 09 sementara, Tuan Porfirio Wolfman." Dan berlaku pula untuk Theresa. Pintu besi ganda itu terbuka otomatis. Karena hujan salju makin lebat, jalanan mulai tertimbun gumpalan es putih. Mobil Firio melaju masuk, di sisi kanan dan kiri jalanan berjajar pepohonan, kebanyakan jenis cemara. Kabut putih membentang juga telah di mana-mama. Akan tetapi ini tak jadi masalah untuk kedua mata Firio. Mau di kegelapan, di dalam kabut, di dalam timbunan salju, dalam suhu panas sekalipun, dia terbiasa. Kade dan Kye malah tidur nyenyak sekalipun tas-tas di sekitar mereka sudah hampir penuh salju. Sementara itu, Theresa makin menggigil. Dia tidak pernah merasakan salju seekstrim ini. Padahal belum terlalu deras, tapi dinginnya mampu membuat seluruh wajah memerah. "Kenapa kita malah di hutan? Bukankah kita sudah melewati dinding? Mana kotanya? Aku tak tahan lagi, Firio, ini dingin sekali! Mana mobilmu tak ada atapnya!" Ia menggerutu sambil melihat ke deretan pohon tumbuh lebat. "Sebentar lagi sampai, jangan manja," kata Firio mempercepat laju mobilnya. "Kita ini warga Adam, ini masih dinding Eve, kita tak bisa ke sana di tengah salju begini, untuk malam ini kita menginap di distrik 122, rumahnya Aisla. Sebentar lagi sampai, kita lewat gerbang selatan, dekat dengan jalur distrik 110 hingga 130." Theresa tenang saat melihat ada belokan demi belokan di antara pepohonan ini. Pada setiap belokan terdapat penanda seperti monumen yang bertuliskan distrik tertentu. Dari mulai 130, 129, 128, hingga kemudian tiba di distrik 122. Firio berbelok ke jalan distrik 122. Tak sampai dua ratus meter, mereka sudah melewati gerbang distrik yang terbuka. Ratusan bangunan terlihat rapi. Dari mulai rumah-rumah minimalis yang berwarna sama yaitu biru gelap, hingga bangunan besar yang merupakan pusat perbelanjaan, bank lokal, maupun semacam balai kota. Ya, satu distrik memang seperti satu kota yang diisi oleh satu ras yang sama. "Seperti perumahan," komentar Theresa begitu sampai di deretan rumah warga bermodel sama, bahkan pohon yang tumbuh di halamannya. Banyak mobil seperti milik Firio terparkir di halaman tiap rumah. Beberapa orang terlihat masih di luar, membersihkan jalanan dari salju. "Halo," sapa Theresa pada seorang pria tua di pinggir jalan. Jangankan membalas dengan senyum, pria itu malah memalingkan wajah. Apalagi saat tahu ada dua serigala di mobil Firio. "Dan Aisla bilang orang-orang jaman ini masih ramah," kesal Theresa pada sikap acuh pria itu. "Mereka tak ramah karena tahu aku siapa. Berita koloseumnya pasti sudah menyebar." Firio melihat Aisla di depan salah satu rumah yang kondisi cat temboknya sudah agak pudar. Lalu memasukkan mobil ke halaman. Aisla telah di rumah satu jam lebih dulu. Dia langsung mengajak mereka masuk. "Ayo masuklah, Theresa sudah semerah buah semangka." Theresa dan Firio turun, diikuti Kade dan Kye. Saat dua serigala itu menunjukkan diri, beberapa tetangga Aisla kabur masuk rumah. Firio menatap wajah Theresa. "Aisla benar, kau benar-benar sudah mirip tomat sekarang." Ia menahan tawa sambil membawa tas mereka, lalu ikut masuk ke dalam rumah. Theresa tak sanggup mendebat, rasa dingin telah bersarang di sel terkecil kepalanya. Ia merasa seluruh darahnya membeku jika berada di luar lebih lama lagi. Mereka semua masuk, pintu pun ditutup. Dalam tiga detik, tubuh mereka terasa seperti diguyur kehangatan dari cahaya mentari. Theresa tak menggigil lagi. Bahkan terlalu hangat hingga dia melepaskan mantel. Kini ia paham, penghangat ruangan di rumah dalam dinding memang kualitas terbaik. Aisla mengantar mereka ke ruang tengah yang pencahayaannya agak remang. Tak jauh berbeda dengan rumah lain, perabotannya pun hanya sofa-sofa panjang, karpet, perapian menyala yang ditujukan hanya untuk dekorasi. "Selamat datang di rumah keluarga Woodruff! Namaku Aisla Woodruff," kata Aisla mengenalkan diri lagi dengan riang. Sudah menjadi kebiasaan orang dalam dinding mengenalkan diri secara lengkap saat menjamu para tamu asing. Ia menunjuk ke sofa. "Duduklah dulu. Akan kubuatkan teh hangat." "Aku sudah hangat kok." Theresa duduk di atas sofa panjang. "Tidak perlu." Ia mengamati seluruh ruangan. "Oh, iya, kau tinggal sendiri di sini?" "Sebenarnya bersama kakek, tapi dia lebih suka tinggal di bengkelnya. Dia mekanik. Dia hanya pulang sebulan sekali." "Bagaimana dengan Castriel dan lainnya?" "Mereka tinggal di sebelah." "Oh." Firio duduk di sofa layaknya seorang bos. Dia menoleh pada Aisla sambil bertanya, "kau tentu punya kamar yang kedap suara bukan? Aku tak mau kamar biasa." "Tentu. Semuanya kedap suara, tenang saja, tak perlu cemas, kalian bisa menikmati malam pengantin tanpa perlu takut aku bisa mendengar sesuatu." Firio menghela napas. "Baguslah." "Kuambilkan sesuatu." Aisla tertawa sambil berjalan ke dapur. Theresa melototi Firio, lalu bicara saat Aisla sudah tak ada bersama mereka. "Menikmati malam pengantin itu maksudnya apa?" "Kita'kan baru menikah, pikir saja sendiri." Theresa menjadi malu. "Kenapa kau mempermalukanku?" "Jangan malu, memangnya berapa usiamu? Sepuluh tahun?" sindir Firio sambil menyentuh taplak meja yang menurutnya terbuat dari serat kain yang asing. "Kita tidak akan melakukan apapun'kan?" "Tidak. Aku hanya memastikan tidak ada yang mengupingku. Bisa saja tetangga Aisla berusaha mencari tahu tentangku. Aku tak suka orang dalam dinding." "Pantas saja kau selalu berkerumun dengan serigala, kau memang tak suka manusia, Mowgli." Firio malas menanggapi. ----- Kamar tamu di rumah ini cukup minimalis, tapi bersih. Hanya ada satu ranjang berukuran sedang, satu meja, sofa serta meja rias. Tidak ada jendela, maupun ventilasi lain. Akan tetapi pada plafon sudah terpasang alat-alat berbentuk kotak hitam yang berguna sebagai ventilasi, sekaligus pengatur suhu ruangan otomatis. Udara di kamar ini seperti berada di cahaya pagi yang segar. Tidak terlalu panas, maupun dingin. Hanya Theresa dan Firio yang masuk, sedangkan Kade dan Kye terbiasa tidur di karpet bawah sofa. "Sebagian besar penduduk dalam dinding itu pekerjaannya apa?" tanya Theresa duduk di pinggiran ranjang. Firio melepaskan mantel yang seharian dipakai, lalu menyampirkannya ke punggung kursi. "Aku tak tahu kalau distrik ini, tidak terkenal, tapi biasanya hanya petani gandum, mekanik dan semacamnya. Tapi untuk penduduk distrik kaya, mereka kebanyakan ilmuan dan penambang, seperti distrikku- kami distrik terkaya di luar dinding," katanya. "Aku tak percaya kau meninggalkan distrik kaya demi memulangkanku-" ucap Theresa hanya menggodanya saja. Ia menampakkan raut wajah pura-pura terharu. Firio tak peduli. Ia melepaskan kaos yang dia pakai, membuangnya ke meja, lalu memperhatikan d**a bidangnya sendiri di cermin. Masih terdapat beberapa bekas goresan akibat kejadian di koloseum. "Entah kenapa gara-gara dirimu, aku selalu s**l. Lihatlah kulitku seperti zebra- harusnya aku tak membawamu ke masa ini." Dia tertegun sejenak, menyentuh kulitnya yang penuh gores itu. "Tidak, harusnya aku tak ke masa lalu." Ocehan Firio sama sekali tak masuk ke dalam kepala Theresa. Dia sudah tegang sendiri karena belum terbiasa melihat pria ini bertelanjang d**a. "Apa yang kau lakukan, Serigala s****n?" katanya merinding. Jangan t*******g di depanku!, teriaknya dalam hati. "Apa?" Firio menoleh dengan tampang datar. "Kau mau protes apalagi?" Theresa mengelus d**a seraya memalingkan wajah. Dia sadar, ternyata tubuh Firio yang lukanya sudah sembuh tampak berbahaya, berbahaya untuk hormon wanita. "Aku akan tidur dengan Aisla-" katanya sambil berjalan menuju pintu. Tidak panas, tapi tubuhnya mulai berkeringat. Firio menyambar lengannya, lalu bertanya blak-blakan, "aku tahu ini, kau ingin b******a?" Theresa lantas kaget, malu, sekaligus panik. Ia melepaskan diri dengan cepat. "Sejak kapan kau bicara seperti gigolo Los Angeles?" "Aku bercanda." Firio tertawa, tampaknya memang sengaja menggoda balik Theresa. "Tapi aku tahu, kau dari dulu memang seperti ini kalau sedang ingin. Ya, memang tak perlu cinta-" "Blah-blah-blah, lain kali kita bicara bayam dan kubis saja kalau sekamar berdua," sela Theresa sambil keluar kamar. "Kau benar-benar anak sepuluh tahun," ejek Firio tertawa. Pintu dibanting oleh Theresa. Wanita ini kelihatan kesal karena perasaannya terbaca jelas. Ia bersandar di daun pintu, memikirkan sejak kapan perasaannya menjadi seperti ini. Sebelum kejadian di koloseum, dia memang hanya sekedar mengagumi sosok dewasa Firio, tapi setelah melihat aksi beraninya, kagum itu perlahan menjadi cinta. Dan dia baru menyadari ini. Sekarang dia bimbang, bukankah Theresa satunya tak menyukai Firio, lantas mengapa dia malah sebaliknya? Apa ini yang disebut penciptaan semesta baru? Akibat kedatangannya ke masa depan, dia menciptakan semesta dimana ada Theresa yang mencintai Firio yaitu dirinya? Rasa suka dan cinta jelas berbeda. Selama ini dia memang sering menyukai pria lain, tapi untuk Firio- sangat berbeda. Ini cinta. Firio, tidak hanya pemberani, dia memang terbiasa melawan maut sejak kecil. Pria sejati, hampir mendekati, kalau saja sifatnya tidak terlalu liar. Pintu dibuka tiba-tiba, dia pun terjungkal ke belakang, namun mendarat di pelukan Firio. "Aku tahu kau dari tadi disitu, jangan membuat kesan kalau aku mengusirmu," kata Firio sambil menarik Theresa masuk, lalu menutupnya. Merasa dirinya terus digoda, Theresa berbalik dan bersikap agresif. Dia sering menunjukkan sisi penggodanya saat berusaha mendapatkan berita. Kalau tidak begitu, para atlit di lapangan hijau tidak akan antusias pada wawancaranya. Ia mendorong tubuh Firio. Sambil tersenyum manis, dia berbisik manja, "kau pikir kau sedang menggodaku, Tuan Serigala Tampan?" Giliran Firio yang panas-dingin. Dia memang hanya berniat mengerjai Theresa yang terlalu banyak bicara sejak pagi, tapi tak pernah terpikir kalau akan jadi begini. Theresa yang lain tak pernah menggoda. Wanita itu berpendidikan, sopan, dan cenderung pasif saat berduaan dengannya. Namun Theresa yang ini, meskipun tak pernah terlibat hubungan dengan pria lain, tapi seperti ahli membakar gelora dalam diri para pria. "Sejak kapan kau terlihat-" Firio tak sanggup melanjutkan ucapannya. Belaian demi belaian dari tangan Theresa mulai mengganggu akal sehatnya. "Ada apa, Sayang? Kau tegang sekali?" Theresa mendorong tubuh pria ini sampai terjatuh ke atas ranjang. Ia masih memainkan mata, lalu merangkak di atas tubuh Firio. Firio memang tak bisa bergerak. Ia mulai curiga darimana datangnya sikap penggoda ini. "Sekarang kau tahu'kan? Jangan menggoda wanita cantik bernama Theresa Jane Wilson-" ucap Theresa menyeringai. Akan tetapi saat lebih dari semenit berpandangan dengan mata Firio, dia tersadar. Dadanya berdebar kencang, wajahnya semerah tomat. Dia langsung bangkit, dan berseru panik, "Ya Tuhan apa yang sedang kulakukan!" Lalu kabur keluar kamar. "Ah! Tolong! Aisla!" Firio tertegun sesaat. Ia meraba dadanya yang berdebar. Napasnya ikut memburu. Dia kini marah pada sikap Theresa. Bukan karena kegiatan barusan tak dilanjutkan, tapi membayangkan sebanyak apa pria yang digoda. Walaupun tahu Theresa tak pernah disentuh pria lain, tapi menggoda mereka juga termasuk tindakan tak bisa ia maafkan. "Theresa, darimana kau belajar jadi penggoda!" teriaknya sambil berlari mengejar. Dia memang pencemburu berat, dan itu sudah terkenal di distrik 222. Wanitanya tak boleh memikirkan pria lain. "Siapa yang kau goda seperti itu! Theresa!" Theresa benar-benar harus kabur. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD