24| Scientist I Good Night Kiss

1622 Words
Theresa berlari dari kejaran Firio. Mereka memutari sudut-sudut ruangan. Hingga kemudian, Theresa berakhir di balik punggung Aisla. “Jauhi aku!” teriaknya. Dia menghindari pandangan mematikan Firio. Ketimbang takut, dia lebih ke arah malu. Merayu pria lain mungkin normal saja, tapi barusan dia merayu manusia paling buas yang ada di bumi tahun 2422. Seperti yang sering terjadi, warga distrik 222 selalu kelihatan seperti iblis ketika marah. Aisla merasakan udara hangat rumahnya menjadi dingin. “Oke, ada apa ini? Kalian tidak sedang menikmati malam?” tanya Aisla merinding. Dia bersyukur karena sekarang Firio tak memegangi pisau. Akan tetapi dia sedikit canggung karena melihat tubuh pria itu bertelanjang d**a. Bola matanya sampai lelah berputar-putar, takut kelihatan kalau suka pemandangan itu. “Aku tak tahu kenapa— dia tiba-tiba marah.” Theresa memalingkan wajah. Isi kepalanya hanya dipenuhi sosok pria setengah t*******g bernama Firio sedang berbaring di bawahnya. Hatinya menjerit. Sedangkan isi kepala Firio sudah membayangkan cara Theresa menggoda para atlit tampan yang ia wawancarai. Dia melototi wanita itu. “Jelaskan padaku, berapa banyak pria yang merasakannya juga?” Perkataan ambigu itu malah membuat Aisla makin panas dingin. Dia tak paham mengapa harus terjebak di tengah pertengkaran suami istri di malam pertama? “Apa yang kau katakan? Merasakan apa?” Theresa tersinggung. Firio mengulurkan tangan seraya tersenyum jahat, “Kemarilah, ayo kita bahas berdua. Tentang para atlit tampan yang mungkin kau rayu di ranjang.” “Atlit?” ulang Aisla yang tak mengerti sebutan itu. “Kurasa kalian ini terlalu bersemangat—” Dia menoleh pada Theresa. “Ada apa sih?” “Ini masalah pribadi, ayo kita bicarakan, Sayang,” pinta Firio maju selangkah. “Kita bicarakan ya. Aku ini tidak tenang kalau mengetahui istriku ternyata penggoda yang lihai.” “Jangan mengatakannya seolah itu buruk ya! Aku ini tidak seperti bayanganmu! Aku hanya sekedar memuji, dan merayu biasa— tak sampai kelewatan, semua untuk mendapatkan berita bagus,” gumam Theresa agak kesal. Dia masih membuang muka, takut menatap mata Firio. “Lagipula aku masih—masih ya itu, tak pernah dengan siapapun.” Firio maju lagi, lalu menyeret tangan Theresa agar menjauh dari Aisla. “Ayo kita bicarakan ini. Jangan melarikan diri begitu.” “Bagaimana aku tak melarikan diri— sorot matamu sama persis seperti saat bertemu denganku malam itu!” Theresa menarik tangannya, tak mau dibawa paksa. Firio tersenyum, lalu mengelus rambut Theresa dengan lembut. “Jangan khawatir, kau'kan berbeda— aku takkan melukaimu, hanya introgasi sedikit agar tidurku nyenyak.” Aisla menyela, “eh— Firio, mungkin eh—” Firio menoleh cepat, memperlihatkan tatapan intimidasinya. “Ini cuma nalam pengantin, oke?” Aisla berbalik badan sambil mengangguk. “Oke, silakan. Tolong jangan terlalu kasar, dia— Theresa itu sangat eh— mudah lemas.” “Lepaskan aku!” Theresa berontak. “Kenapa kau jadi marah sih? Apa masalahnya kalau aku menggodamu tadi? Kau mengerjaiku duluan!” Karena banyak tingkah, Firio menggendong tubuh wanita itu. Lalu berjalan cepat menuju kamar mereka. “Kita perlu mengobrol tentang trik penggoda tadi.” Theresa masih berontak. Kedua tangannya aktif dalam memukuli d**a keras Firio, hingga menjambak rambutnya. “Memangnya kenapa kalau aku menggoda orang lain? Kita bahkan belum kenal sebulan! Apa yang kulakukan di masa lalu, itu urusanku!” “Diam.” Firio melotot saat rambutnya mulai acak-acakan karena remasan Theresa. Mereka masuk ke kamar kembali. Firio melempar tubuh Theresa ke ranjang, lalu mengunci pintu. Setelah itu dia duduk di kursi. “Jadi, pekerjaanmu memang berbahaya ya? Membuatmu jadi penggoda seperti itu—” sindirnya sambil tersenyum penuh ancaman. “Aku baru tahu Theresa-ku seperti ini. Padahal Theresa yang itu— dia sangat pasif dan pemalu.” Tak suka dibanding-bandingkan, Theresa balas menyindir, “ah— dan kau dikhianati Theresa yang itu.” “Oh iya, dan aku merasa dikhianati sekarang— rasanya lebih menyakitkan saat ada pria lain ketimbang aku ditipu karena masalah teknologi.” “Astaga, kita serius membahas ini? Maksudku ini? Hanya masalah merayu? Sebenarnya seberapa posesif kau ini? Gila ya? Kau marah gara-gara ini?” “Aku tidak suka milikku berhubungan dengan orang lain.” “Kalau saja ini di Amerika, aku sungguh sudah melaporkanmu ke polisi, kau berlebihan—” Theresa mengerutkan dahi, hampir tak percaya ternyata memang rumor yang dikatakan itu benar. Penghuni 222 itu orang tak waras yang terlalu posesif dengan pasangan. Firio mendekati ranjang, lalu duduk di tepian. Ia mengamati wajah istri barunya itu. “Ini tidak berlebihan, aku tidak sudi berbagi makanan di piring yang sama.” “Maaf, apa barusan kau menyamakanku dengan piring makanan?” Theresa kesal. Dia tahu Firio buruk dalam mengatakan isi hatinya, buruk dalam hal romantisme atau semacamnya, tapi menyamakan dia dengan piring itu keterlaluan. “Katakan padaku, apa kau sampai ke ranjang saat merayu orang? Apa Seluruh Theresa itu memang maniak pekerjaan sampai membuat semua Firio itu kesal?” Firio menyentuh pipi kanan Theresa, meremasnya agak kasar, tapi tak bermaksud mengancam. Theresa merasa dadanya berdebar kembali. Jarak mereka terlalu dekat, terlebih lagi ada di atas satu ranjang yang sama. “Maniak pekerjaan?” “Ya, Theresa yang s****n itu, dia memanfaatkanku demi pekerjaannya, lalu kau— totalitas sekali untuk mendapatkan berita, sampai harus menggoda pria?” Theresa tak suka dengan nada bicara Firio yang terkesan menghakiminya melakukan hal buruk. Wajahnya tertunduk saat mengatakan, “memangnya apa masalahmu? Kau bahkan bukan kekasihku. Kita ini cuma sementara— saat aku kembali ke duniaku, semua ini tidak ada artinya, pernikahan palsu, ucapan cinta palsumu itu—” Dia menghela napas sejenak, lalu melanjutkan, “—sudah kubilang, jangan samakan aku dengan istrimu, kau boleh mencintainya dan membencinya sekaligus, tapi jangan menghakimiku, aku punya kehidupan sendiri— ini hidupku, bukan hidup Theresa itu, aku tak ada kaitannya denganmu.” Terjadi keheningan di antara mereka. Firio sendiri sampai tertegun mendengarnya. Amarah yang meledak-ledak pun memudar. Dia sadar membenci sosok Theresa yang dulu, tapi untuk Theresa yang ini— ada perasaan lain yang mengalir. Sejak menatap Theresa malam itu, dia memang diliputi kebencian, tapi juga jatuh cinta pada pandangan pertama. Sikap Theresa yang ini selama beberapa minggu mampu meruntuhkan kebenciannya. Ada perbedaan besar di antara dua Theresa ini. Ya, satunya pasif, tapi yang ini sangat aktif. Theresa yang dulu mungkin membuatnya hanya sekedar jatuh cinta, tapi Theresa ini lain. Theresa yang aktif, menarik, dan mampu menbangkitkan gairah hidup. “Kenapa kau diam saja? Jangan membuatku takut—” Theresa sedikit waspada pada wajah Firio yang melembut saat memandangnya. Padahal barusan sangat kasar, tapi tiba-tiba berubah. Ia curiga. Firio menarik pinggang Theresa, mendekatkan diri mereka, lalu mencium bibirnya tanpa banyak bicara. Sebuah ciuman yang didasari oleh cinta. Ciuman itu hanya berlangsung singkat, tapi membuat Theresa melayang. Itu adalah kali pertama bersentuhan dengan bibir lawan jenisnya. Tidak ada seorang pun yang berhasil mencuri ciuman pertamanya, bahkan sejak dia masih di bangku sekolah. Akan tetapi kini dia malah membiarkan bibirnya disentuh Firio, padahal bisa saja dia menolak. “Aku menandaimu. Sekarang hidupmu ada kaitannya denganku'kan?” ucap Firio dengan suara parau. Dia menyentuh bawah bibir Theresa dengan ujung jempolnya. “Kita akan sama-sama mulai besok, jadi sebaiknya— jangan gunakan trik merayumu pada pria lain demi apapun.” Theresa masih tak bisa bergerak dengan bebas, sengatan ciuman Firio masih membuat syaraf di sekitar telinganya menjadi sensitif. “Baik. Tak perlu dibahas lagi.” Firio menarik lengan Theresa untuk berbaring di atas ranjang, lalu mendekapnya erat di dalam d**a. “Ayo kita tidur, perjalanan besok masih panjang.” Theresa merebahkan diri dengan membelakangi Firio. Dia menjadikan lengan atas pria ini sebagai bantal. Tak ada penolakan sedikitpun, dia seperti sudah terkena hipnosis. Firio melingkarkan satu tangan ke perut Theresa. Dia menahan tawa saat berbisik di telinganya, “kau harus mengendalikan kinerja jantungmu, aku tak mau kau mati terkena serangan jantung hanya karena ciuman.” “Kau mencuri ciuman pertamaku—” kata Theresa menyentuh bibirnya. “Kau jelas tak kecewa.” “Jangan seenaknya mencium orang, awas kau ya— awas saja kalau kau melanggar janjimu, kau bilang takkan melakukan—” “Iya, iya, barusan itu hanya ciuman selamat malam,” sela Firio mengerjai wanita itu dengan meniupi telinganya. “Salahmu sendiri menyebalkan.” “Firio— Firio— jangan mulai— aku tidak suka digoda.” Theresa menahan diri agar tak kelihatan geli. Dia membalasnya dengan sindiran, “kau sendiri'kan yang bilang kita pura-pura saja jatuh cinta, jadi jangan menggunakan cara curang untuk meniduriku.” “Memangnya aku bilang aku mau menidurimu? Kapan? Dari awal aku tak ada niatan melakukannya— aku suka mengerjaimu, tapi kau malah menggodaku balik—” Theresa menggigit lengan Firio, lalu bangun. Dia menoleh seraya mengomel, “itu harusnya aku yang marah! Lagian kau ini ya— kalau tidur itu pakai baju dong!” Firio ikut bangkit, lalu membelai bekas gigitan istrinya. “Kau benar-benar liar—” Seringainya muncul, pertanda bahagia. “Aku suka itu.” “A—apa?” Theresa merinding. “Serigala itu paling ahli kalau soal menggigit,” bisik Firio mendekap perut wanita itu lagi, lalu menggigit lembut leher kanannya. Gigitan itu naik hingga bawah telinga. Sekujur tubuh Theresa tak tenang. “Firio— Firio, ini— ini kelewat batas~” “Maaf, ya sudah ayo kita tidur lagi,” ucap Firio mengajaknya berbaring, “jangan menggigit kalau tak mau digigit, Sayang, serigala itu suka membalas ♡” Theresa menurut dengan tubuh masih bergidik hebat. Dia bersyukur sentuhan bibir nakal Firio sudah berhenti menganggunya. Namun lagi-lagi dia heran, mengapa tak sanggup menolaknya? Firio membelai bagian leher yang telah digigitnya. Masih terlihat bekas kemerahan. “Oh, ngomong-ngomong, daerah sensitifmu masih sama ya?” “Berhentilah jadi gigolo, s****n,” kesal Theresa. Dia tak tahu lagi isi pikiran Firio yang sejak menikah bersikap lengket sekali padanya. "Jangan marah, aku hanya bersikap manis, sesekali." Firio mulai memejamkan mata. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD