25| Scientist I To The Adam Wall

1709 Words
Pagi ini, Castriel sudah bersemangat. Dia membantu pengantin baru ini menaikkan barang bawaan ke atas mobilnya. Mereka tidak diperbolehkan memakai mobil atap terbuka jika melintasi dinding Adam, itulah sebabnya kali ini harus diantarkan seseorang. Mobil J.E.E.P versi tertutup pun telah terparkir di halaman rumah Aisla. Hujan salju masih turun, tapi tak terlalu lebat seperti semalam. Sebagian jalanan sudah dibersihkan otomatis oleh robot pembersih salju. Robot berbentuk cangkang kura-kura berwarna hijau terang itu terus berpatroli di jalanan utama, menyingkirkan gundukan salju yang menggunung. Alat itu akan menepi saat ada orang atau kendaraan lewat. Di ambang pintu, Aisla memberikan sekantong kue kering pada Theresa. “Semoga kalian bisa berbulan madu dengan menyenangkan.” Dia menahan tawa sekilas mencuri pandang ke leher Theresa yang telah dilingkari syal coklat tebal. Alasan memakai: karena cuaca dingin. Alasan utama memakai: bekas gigitan Firio belum hilang. Sambil menerima kantong pemberian itu, Theresa berkata, “terima kasih.” “Aku akan ke dinding Adam seminggu lagi, semoga kau bisa menjamuku nanti ya—” “Ya, tentu saja—” Theresa sangat kagum dengan pemikiran positif Aisla. Dia tak menyangka kalau wanita itu benar-benar percaya kalau mereka menikah atas dasar cinta. “Aku jadi ingin cepat menikah agar mendapat gigitan sayang dari suamiku,” ucap Aisla yang terdengar nakal, ingin menertawainya sendiri. “Tidak ada gigitan—” Theresa malas mengingatnya. Setelah gigitan panas di malam pagi, kemudian pagi harinya, Firio sudah hilang dari ranjang. Aisla tertawa kecil. “Kukira kemarin kalian beneran marahan loh, ternyata distrik 222 punya cara menantang ya saat malam pengantin?” “Tidak ada yang terjadi, sungguh, jangan berpikiran kotor begini.” Theresa merinding, tahu persis apa yang ada di pikiran Aisla. Firio yang sedang menaikkan barang di bagasi mobil menyahut, “sangat menyenangkan ya, Theresa? Kau suka pengalaman pertamamu?” Theresa menoleh cepat. “Sudah diam saja!” Aisla tertawa, begitu pula Castriel yang sedang naik ke kursi kemudi. Sedangkan ang penembak jitu sekaligus ilmuan, Eoghan, malah malu sendiri mendengarnya. Firio menyeret Theresa untuk naik ke dalam mobil. “Aku tahu kau ingin membahas masalah private dengan temanmu, tapi kita harus pergi agar tak terlalu malam nanti sampai di rumah kita.” Dia sama sekali tak mau memberikan salam perpisahan pada Aisla. Menurutnya, tidak penting, tidak perlu, dan memang tidak usah. Mereka duduk di kursi penumpang. Kade dan Kye tiduran di samping kaki mereka. Perjalanan ke dinding Adam pun dimulai— Perlu waktu kira-kira sepuluh jam, itupun melalui jalur tercepat. Bagi Theresa mungkin ini perjalanan gila, tapi warga dinding seperti Castriel sangat terbiasa menyetir lama-lama, bahkan hingga seharian penuh, dengan bantuan kafein. Firio melihat bekas gigitannya di leher Theresa. “Tidak terlalu jelas, jangan berlebihan pakai syal segala.” “Kelihatan sekali!” sergah Theresa merapikan lilitan syalnya lagi. “Sangat jelas, jangan lakukan lagi.” “Hmm~ jangan lakukan lagi?” ulang Firio menyentuh pipi merah istrinya dengan telunjuk. “Apa itu kode, kau mau lagi?” Theresa menepis tangan itu. “Jangan sentuh pipiku.” “Jadi maunya disentuh yang lain?” Firio sangat sengaja mengerjai wanita itu. Dia menyentuh paha Theresa yang terlapisi celana jeans ketat. Dia terus-terusan menggodanya sampai membuat ia makin terbakar rasa malu. Theresa bergidik. Ia segera menyungkirkan tangan nakal yang menggerayang itu. “Ini pelecehan!” “Kita ini sudah menikah—” bisik Firio menyeringai.  “Semakin menolak, makin ingin kusentuh.” “Firio, tolong berhenti mengerjaiku—” Theresa tak nyaman, dia memperhatikan Castriel dan Eoghan yang jelas menahan tawa atas pembicaraan mereka. Selama ini dia memang tak pernah menjalin hubungan serius dengan para pria, kalaupun berkencan pun tak ada yang berkata v****r begini. “Abaikan kami, anggap saja kami robot, uh— jadi ingin menikah,” kata Castriel tertawa. Pandangannya masih tertuju ke depan, tepatnya jalanan bersalju dengan deretan bangunan yang memiliki interior mirip, penuh jendela bak gedung perkantoran. Akan tetapi saat ini, tak ada aktifitas apapun. Jam bekerja orang dalam dinding saat musim dingin memang dikurangi. Suhu terlalu dingin, terutama saat malam. Itulah mengapa alat penghangat yang tertempel di setiap lampu jalanan sudah menyala meskipun masih pagi. Alat itu berguna untuk menaikkan suhu sekitar agar tak terlalu ekstrim. Sebelum ada alat tersebut, banyak bayi dan anak-anak yang tewas kedinginan. Semua teknologi project untuk fasilitas umum, seperti lampu jalanan, penghangat suhu, penyapu salju, serta sensor pemindai penyusup memakai tenaga surya. Firio menepuk pahanya. “Kalau kau mau tidur, tidur saja di pangkuanku.” Kali ini dia serius, tak ada candaan atau sekedar godaan. “Tidak perlu,” kata Theresa menoleh ke luar jendela. Dia tak menyangka bangunan tampak sangat monoton, semuanya sama, hanya dibedakan dengan angka saja. Mengapa dunia modern malah seperti ini? Membosankan dan mengerikan. ————— Distrik 09, Dinding Adam. Semakin dekat distrik dengan pusat dinding yang ada di distrik 01, maka semakin penting orang yang tinggal di sana. Para penghuni dinding Adam juga mendapat julukan bangsawan. Mereka semua berpengaruh dalam perekonomian seluruh warga dinding. Firio mendapatkan posisi penting tersebut karena dia diketahui sebagai keluarga ilmuan pencipta baterai LYNXproject. Pihak Neo masih berharap dia bisa menciptakan beberapa baterai lagi dengan sumber daya mereka. Perjalanan waktu, melintasi dimensi lain, semua itu adalah keinginan para “bangsawan” dinding. Siapapun pasti bodan dan lelah hidup di dalam dinding yang terlihat begitu membosankan. Theresa merasa kawasan hunian distrik 09 lebih buruk ketimbang apartemen kota, tak ada nilai seninya sama sekali. Semua bangunan memiliki pola, struktur, bahan baku, serta warna yang sama, bahkan pohon yang terdapat di depan mereka juga sama, itupun ternyata adalah pohon buatan. Rumah nomor 136. Sebuah bangunan melingkar berlantai dua, dengan tembok yang terbuat dari kaca tebal berwarna hitam serta atap kubah. Tempat inilah yang menjadi rumah sementara Theresa dan Firio. Para tetangga mereka sudah heboh semenjak mereka keluar dari mobil. Tetangga sebelah kanan rumah misalnya, seorang pria tiga puluh tahunan yang menggendong seekor rubah berbulu kemerahan. Dibandingkan yang lain, dia terlihat bersahabat. “Selamat datang—” ucapnya ramah. Firio malas menanggapi, dia lebih memilih menggeret koper masuk rumah. Kade dan Kye mengekor di belakang. Theresa memperkenalkan diri, “terima kasih, aku Theresa, Theresa Wils— Theresa Wolfman.” Dia menuding ke dalam rumah. “Yang mukanya serem tadi, yang kelihatan tak punya semangat hidup, rambut agak panjang dan selalu dikuncir ke belakang barusan, dia suamiku, Firio.” “Aku sangat tahu wajah suamimu, kemarin aku melihat wajah pemenang koloseum. Cuplikan pertarungannya hebat sekali, maksudku, mengerikan ya— dia menyayunkan pisau terlalu cepat, aku sampai heran, dia manusia?” Pria ini tertawa lirih. “Maaf ya, itu pujian kok.” “Iya, dia memang— begitu— sesekali.” “Tapi di balik pertarungan itu ada kisah yang romantis sekali, Tuan Wolfman yang menyelamatkan istrinya dari incaran penghuni lain— romantis itu, aku kagum dengan kalian berdua.” Pria itu memandang rambut Theresa yang kemerahan indah. “Ngomong-ngkmong, rambutmu cantik, hampir mirip Tauren—” “Tauren?” “Oh maaf, perkenalkan, aku Serge Stevenson, dan ini peliharaanku, Tauren.” Pria itu mengelus rubahnya yang tampak tidur pulas. “Setidaknya rambutku tak disamakan dengan tomat,” ucap Theresa agak tersinggung disamakan dengan bulu rubah. Serge tertawa ramah. “Maaf, aku tak bermaksud menghina barusan— rambutmu cantik, hanya beberapa orang saja yang punya rambut merah.” “Terima kasih, Serge.” Theresa mengamati sosok Serge. Tubuh tegap, besar, tinggi. Wajahnya tampan, rambutnya pirang, bermata biru, serta memiliki rahang tegas. Orang seperti ini pasti jadi aktor kalau di masanya. Akan tetapi kalau dia penghuni distrik ini artinya, dia tentu hanyalah pekerja laboratorium. Mengapa ilmuan sekarang seksi semua? Apa kabar orang-orang tua di jamanku?, pikir Theresa heran. Dia mendehem, lalu kembali berkata ramah, “tapi syukurlah Firio bukan satu-satunya yang memelihara binatang.” “Sebenarnya binatang peliharaan diperbolehkan asalkan ada surat keterangan jinak dan sehat.” “Begitu ya— semoga kita nanti bisa bertetangga.” “Theresa!” panggil Firio dari dalam rumah. “Theresa kemarilah! Dimana kau pindahkan celama dalamku!” Theresa buru-buru masuk sebelum mulut Firio mengeluarkan hal memalukan lain. Sementara itu, Castriel dan Eoghan melarikan diri tanpa berpamitan. Mereka masih belum terbiasa mendengar suara keras Firio. Kenangan buruk perkelahian mereka kembali terbayang. Kade dan Kye tampak sudah meniduri karpet ruang tengah. Selama musim dingin, kebutuhan tidur ras serigala seperti mereka lebih banyak ketimbang serigala lain. Theresa menutup pintu rumah, tak ingin hawa dingin masuk. “Ada apa? Aku mana tahu pakaianmu, aku tidak ikut campur mengurus barang milikmu.” Firio malah merosot di atas sofa, menghangatkan kaki di antara bulu-bulu saudaranya. Dengan santainya, dia berkata, “tidak apa-apa, barusan aku cuma ingin membuatmu masuk karena aku mencium kau bersama pejantan lain.” “Apa? Cemburu?” “Penciumanku ini tajam, jangan buat aku mencium pejantan lain di tubuhmu.” “Bilang aja cemburu,” gerutu Theresa pelan. “Dasar—” Firio meliriknya. “Cemburu tidak ada di kamus hidupku.” Nyatanya, kamus hidupnya hanya diisi kecemburuan. Theresa tak membalas. Ia hanya lega, setidaknya tidak ada kemarahan berlebihan seperti kemarin hanya karena merayu orang. Suaminya itu kemudian menyalakan televisi tipis yang menempel di tembok dengan menggunakan remote. Bentuk dan fungsi remote tak banyak berubah. Saluran televisi dalam dinding sangatlah berbeda dengan luar dinding. Seluruh isi televisi itu hanya berupa rekaman tentang pemberitaan terbaru di pusat kepemimpinan Neo, kabar terbaru tentang teknologi Project  Series, atau harga-harga pasaran batuan tambang bahan baku baterai. Sangat membosankan. “Theresa, aku akan melapor ke pusat, kau tetaplah di rumah, jangan biarkan orang masuk—” ucap Firio seraya mengelus kepala kedua serigalanya. “Kade dan Kye akan di sini— mengawasimu.” Theresa cemas. “Harus sekarang? Masih dingin di luar.” “Di era ini memang selalu dingin.” Firio berdiri, kemudian menyerahkan remote ke Theresa. “Kau belajarlah teknologi di sini, aku akan pulang nanti malam.” Dia menoleh ke belakang. “Biasanya dapur sudah terisi bahan makanan, jadi jangan lupa buatkan aku sesuatu— dan aku hanya suka daging.” Dia pun pergi. Kade dan Kye tetap tidur di atas karpet. Theresa malah berdebar-debar. Dia merasa Firio sekarang sudah seperti orang biasa. Bahkan tak ada ancaman saat menyuruhnya melakukan sesuatu. Tak ada perdebatan sia-sia. Tanpa ia sadari, senyuman manis terbentuk di bibirnya. Akan tetapi dia merasa ini salah. Ia tak boleh sampai jatuh hati pada pria itu, pada akhirnya mereka juga akan berpisah. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD