26| Scientist I Dinner For Husband

1832 Words
Theresa mempelajari segala teknologi project di dalam dinding. Alat penghangat ruangannya memang sama, hanya saja lebih baik dan suhu mudah dikendalikan. Kondisi dapur sangatlah rapi, bersih, dan serba putih. Benda-bendanya tak jauh berbeda dengan milik Firio. Alhasil, dia bisa memasak makan malam dengan mudah. Dia sengaja membuat olahan sayur, malas makan daging. Melihat bentuk daging saja membuatnya mual. Hidup bersama Firio sangat buruk untuk kesehatan tubuh. Di jaman ini tubuh manusia memang mengalami perubahan, orang seperti Firio memang terbiasa menjadi karnivora. Daging sangat lambat dicerna sehingga membuat tenaga lebih kuat di cuaca dingin. Sementara dirinya, manusia rapuh di 400 tahun sebelum era ini. Terkena salju sejam saja seperti akan berubah jadi patung beku. Setelah memberi makan Kade dan Kye, Theresa pergi menyiapkan makan malam di meja ruang tengah. Ada perapian digital dimana apinya berasal dari sinar hologram yang sangat nyata, atap cerobong tak perlu dibuka karena memang tak ada asap. Di cuaca dingin begini, Theresa paling suka duduk di atas karpet depan perapian. Ia teringat masa lalu. Firio pulang. Sebagaimana seorang suami, dia tahu tata krama yang memberi salam ketika masuk rumah. “Kemarilah, Suamiku, aku buatkan menu spesial untukmu—” teriak Theresa yang bersiap melihat eskpresi wajah Firio melihat piring mereka hanya ada sayuran. Firio melepaskan mantel dan topi hangat, membiarkan rambutnya tergerai berantakan. Sesaat setelah melihat bentuk makan malamnya, dia langsung ingin memakan tembok. “Apa itu?” “Makan malam sayuran spesial, karena kita kebanyakan daging, aku bisa kena sembelit karena kurang sayuran—” kata Theresa membelai perutnya yang menurutnya buncit, padahal masih datar. “Perutku sampai buncit.” “Kenapa? Hamil?” gurau Firio menahan tawa. “Dengan siapa? Roh rubah?” “Lucu, beneran, itu lucu,” kata Theresa dengan suara datar. “Lebih baik menggendong anak rubah ketimbang serigala.” “Enak saja, aku tak suka predator lain.” Firio menuding Kade dan Kye. “Mulai sekarang, akrablah dengan mereka, anak dari distrik 222 sepertiku selalu terlahir liar, agar nanti kau terbiasa.” “Terkena salju, otakmu jadi beku?” Theresa menggelengkan kepala. “Imajinasimu tinggi sekali? Anak? Firio, jangan macam-macam kau ya.” "Ya~ ya~ ya." Firio malas mendebat itu. Dia kemudian duduk di atas karpet, menghadap ke meja. Ia mengendus makanan itu kayaknya anjing, lalu ingin muntah. “Bukankah sudah kuberitahu, aku hanya suka makan daging.” “Bukan berarti tak makan sayuran'kan?” “Kau memang suka cari gara-gara, Tomat,” ucap Firio menatapnya masam, “jangan samakan kondisi tubuhku dengan fosil sepertimu. Sudah ratusan tahun berlalu, tubuh manusia berkembang, terutama ras buas sepertiku.” Kade dan Kye datang, mereka mengeluarkan suara keluhan lagi saat duduk di sebelah Firio. Lagi-lagi, mereka seperti mencurahkan isi hati. Firio menyindir Theresa, “mereka bilang kau memberi makan mereka sampah, daging yang kau berikan masih kotor, Tomat, kau ini wanita bukan? Kenapa payah sekali masalah makanan?” “Hei, jahat sekali kalian, sudah diberi makan juga—” Theresa sebal pada kedua serigala yang sudah seperti saudara tiri baginya. “Lagian ya, kalian'kan predator! Cari makan sendiri, masa aku yang menyiapkan! Kalian itu serigala atau kucing peliharaan?” Kade dan Kye protes, mereka menunjukkan gigi taring mereka pada Theresa. Kalau saja bukan saudara ipar, mereka pasti sudah menghabisinya. “Tenang, dia memang seperti itu—” rayu Firio sambil menggelitiki leher Kade dan Kye. “Maaf, kalian jadi terjebak denganku, mau bagaimana lagi, aku mencintai nenek s****n ini.” “Nenek kau bilang?” ulang Theresa tak terima. “Nenek apa? Nenek sihir?” “Kau mengakui sendiri?” “Firio— kau memang sialan.” Kedua serigala itu menjadi patuh dan tidur di sampingnya. Mereka sempat memberikan ocehan singkat. “Untuk sementara kita terjebak di rumah hingga tiga hari ke depan. Perkiraan badai saljunya akan muncul besok. Selepas itu, setelah intensitas salju menurun, aku akan mengajakmu membeli pakaian.” “Pakaian? Untuk apa? Pakaian istrimu sudah cukup untukku.” “Kukira kau menghinanya seperti pakaian suster?” “Ya, entah apa yang terjadi padaku, aku tak mungkin suka pakaian yang banyak kancing semacam itu. Bahkan kulihat ada pakaian renang dengan desain lengan dan paha tertutup. ” “Theresa dulu sangat pemalu, sekalipun berenang denganku, dia memilih baju renang yang tertutup.” “Oh pemalu— licik sekali, palingan juga modus,” cibir Theresa yang tanpa sengaja seperti mengakui sisi gelapnya sendiri. Firio tersenyum penuh kemenangan. “Dasar kau memang rubah wanita. Mengaku juga akhirnya, kau memang licik, Tomat, dan aku harus hati-hati denganmu.” “Tapi sudah kubilang, jangan samakan aku dengannya. Dia ya dia, aku ya aku. Lagipula aku lebih sering memamerkan paha dan pinggang saat di kolam renang. Berbeda dengannya, bukan? Jadi jangan samakan kami.” “Apa?” Firio tak suka pernyataan itu. Dia jelas mengingat bentuk tubuh istrinya, dan tak rela jika harus memamerkannya seperti ikan dijemur. “Kau pamer tubuh?” Theresa dengan santainya menjelaskan, “kan sudah kubilang, wahai pria primitif, aku ini seorang jurnalis selebriti lapangan. Mereka, para pria buaya penggila otot itu sangat sulit didekati kalau tidak dipancing paha dahulu.” Kepala Firio seperti dihantam palu mendengarnya. “Apa mereka menyentuhmu?” “Tidak.” “Pembohong. Mereka pasti merabamu, tidak ada pria normal yang tidak merabamu setelah melihatmu telanjang.” “Aku tidak pernah t*******g di depan pria manapun, s****n. Lagipula kau pernah bilang sendiri'kan, aku tak pernah dijamah— ah, kecuali kau semalam.” “Aku mana tahu kalau kau penggoda.” Kepala Firio terasa berputar, dia tak mencium bau sentuhan orang lain di tubuh Theresa, tapi kenyataan bahwa wanita ini penggoda masih sangat menganggu pikirannya. “Kau pasti pernah berhubungan badan dengan mereka.” “Apa? Kau tahu sendiri aku ini sudah seperti Mother Theresa, aku suci.” Theresa melototi Firio dengan kesal. “Lagipula apa masalahnya denganmu? Mau aku sudah pernah berhubungan atau tidak, itu urusanku.” “Theresa hanya boleh berhubungan badan dengan Firio.” “Kau ini b******n egois yang sialnya mengguncang hormon wanitaku,” kata Theresa mengelus d**a, sangat ingin murka, tapi takut dibalas seperti semalam. Dia mengatakan lagi, “Ada satu teori di sini, kau Firio, kau sudah berhubungan badan dengan Theresa yang lain'kan? Artinya aku seharusnya berhubungan dengan Firio yang lain.” “Hah?” “Kau tidak adil di sini, kau sudah b******a dengan Theresa lain. Harusnya aku juga sudah b******a dengan Firio lain, sebelum akhirnya terdampar denganmu.” Firio mendekati Theresa dengan mata penuh kemarahan. “Apa katamu? Sekalipun itu aku— kau pikir aku mau berbagi? Aku akan membunuh diriku sendiri jika dia mendekatimu.” “Oh seram sekali—” ucap Theresa menjauhkan tempat duduknya. Bulu tengkuknya berdiri karena kedatangan Firio. “Kau ini titisan Kaisar Caligula ya? Sudah pikiran b***t, main bunuh orang sembarangan.” Firio memandang wajah wanita itu dari dekat. Ia ingin memperlihatkan ekspresi seriusnya. “Aku bersungguh-sungguh, siapapun yang sudah menikahiku, tidak boleh disentuh siapapun lagi.” “Aku— paham, aku paham, memang posesif dan segala bentuk sifat tiranimu ini mendarahdaging di kaummu.” Theresa mamin menjauh. “Jadi lupakan pembahasan konyol ini, oke.” “Tidak semudah itu.” “Kenapa kita tidak makan malam saja? Susah sekali hidup denganmu.” Firio menyambar telapak tangan Theresa. “Tunjukkan dulu kalau kau tak pernah tersentuh.” “Hei, kalau mau melecehkan orang itu ada jeda waktu dong!” Theresa menarik tangannya. Dia melototi Firio. “Kau kemarin sudah menciumku seenakmu sendiri, bahkan menciumi leherku, itu— menji—menjijkan.” Firio malah tertawa. “Kita sudah menikah. Aku tak pernah sekalipun mendekatimu saat belum menikah, bukan? Tapi kalau sudah menikah itu lain cerita—” Seringainya muncul karena tak tahan mendengar ucapan Theresa yang grogi barusan. “Menjijikan? Pemilihan katamu salah, Tomat, kelihatan jelas kau menyukainya.” “Tidak terlalu, jauhkan pikiran kotormu itu. Jangan melihatku begitu.” “Padahal tadi kau bilang, aku mengguncang hormonmu.” Seringai Firio makin lebar, menunjukkan dia menang. Rasanya lega sekali kalau mengetahui Theresa kian tertarik padanya. Merasa akan kalah permainan kata, Theresa terus memutar otak. “Tentu saja, aku ini wanita dewasa yang normal. Kalau melihat pria yang seksi, hormon wanitaku pasti bereaksi.” “Oh iya?” Firio menahan tawa. “Ck, ada apa denganmu, kau makin lama makin suka sekali menggangguku. Padahal sebelum menikah— kau sangat kaku, berkata sombong, 'aku tak sudi menyentuh wanita kepala tomat sepertimu!'” Theresa sengaja menirukan cara Firio yang sombong menghinanya. “Ah, pria memang sama saja.” “Entahlah, aku sangat suka menganggumu,” bisik Firio masih menikmati wajah Theresa yang kemerahan karena malu. “menurutku kau asyik sekali diajak bicara, kau berbeda, kau aktif, dan menyenangkan.” Theresa memicingkan mata. Dia tak tahu apa seberapa rusak kepala suaminya itu. “Kau menyebalkan.” “Tapi aku tampan.” “Kaisar Caligula juga tampan, menurut patungnya, tapi dia b******k. Kalau diberi kesempatan bertemu, aku lebih ingin memenggal kepalanya ketimbang b******a dengannya. Dan— itulah perasaanku padamu.” Bohong, Theresa adalah pembohong yang buruk. Ketimbang Theresa yang sebelumnya, dia ini sama sekali tak ahli menyembunyikan niat. Firio membandingkan Theresa yang itu dengan yang ini. Cara mereka berbohong sangatlah berbeda. Theresa itu begitu lihainya sampai ia terlena, tapi Theresa ini mudah ditebak melalui gerak mata, gerak tubuh dan intonasi suara. Perbedaan inilah yang menyebabkan dia menjadi terdiam lama. Memang benar, pengaruh sekitar bisa mempengaruhi karakter seseorang. Theresa yang dulu sangatlah ambisius dan serakah karena itulah sifat dasar ilmuan baginya. “Kau baik ternyata.” Firio menarik Theresa mendekat, lalu mengecup keningnya. “Aku senang.” Theresa buru-buru menjauh sebelum wajahnya seperti udang rebus. “Sudah kubilang, jangan melakukan itu.” “Aku suamimu.” Firio kemudian berdiri. “Masih untung aku tak menidurimu. Padahal harusnya aku berhak melakukannya, tapi tidak kulakukan.” “Enak sekali kau, ingatlah perjanjian kita di koloseum, jadi jangan menyentuhku lagi!” kesal Theresa terhadap tingkah Firio yang dominan. Akan tetapi dia tak sampai berani menghina. “Aku mau memanggang daging.” Firio berjalan menuju dapur. “Kalau kau masih saja banyak bicara, aku akan membuatmu diam—” Dia menoleh pada wanita itu dengan seringaian. “Diam karena kelelahan di atas karpet itu.” Theresa bergidik. Dia memalingkan wajah sambil meraba lengannya sendiri. “Tadinya kukira kau semacam orang primitif impoten, aku tak tahu kau ternyata orang cabul.” “Theresa dulu menyukaiku karena itu—” balas Firio menahan tawa. “Artinya, kau pada dasarnya yang lebih c***l, Theresa.” Theresa berdiri, lalu mengomel, “c***l? Di sini yang tidak bisa menahan nafsu adalah kau, aku sama sekali tak menganggumu, tapi kau menciumiku terus.” “Entahlah, aku hanya mengikuti insting, kau sepertinya minta dicium, itu bukan salahku,” jawab Firio dengan santai, lalu kembali berjalan ke dapur. “Sudah jangan banyak bicara, aku lapar— sudah kuberitahu'kan, kalau serigala lapar, dia jadi buas. Menjauhlah.” “Dasar orang gila.” “Aku serius. Kalau kau yang kumakan, aku akan pilih-pilih, mana yang duluan kugigit.” Theresa tak jadi mengikutinya. “Kuakui kau berbakat jadi gigolo.” Firio hanya tersenyum, menikmati keberhasilannya menggoda sang istri baru. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD