“AW~”
Berulang kali Firio meringis kesakitan akibat kompresan yang dilakukan Theresa di bahunya. Bengkak dan penuh luka goresan.
Theresa pun tak bisa konsentrasi. Selain Firio sedang bertelanjang d**a, terlalu banyak luka goresan di punggung atas pria ini.
Bahu Firio lebar sekali, punggungnya keras, terlatih, seksi bukan main, s****n kau hormon, pikiran Theresa tak kunjung berjalan normal. Ia terus mengutuk hormon wanitanya yang sangat tersiksa bersama Firio.
“Kau ini benar-benar tidak bisa apapun ya?” Firio murka sehingga merebut kompresan itu. Matanya berkilatan kesal, sekaligus kesakitan. “Ternyata kau tidak berguna saat memilih hidup jadi jurnalis.”
Theresa merebut kembali kain kompres itu. Marah, dia lantas menekan luka bahu kanan itu dengan kasar. “Bukan aku yang tidak berguna, tapi kau yang banyak mengeluh!”
Firio sontak menyingkir, lalu berdiri dari sofa ruang tamu tempat mereka duduk. “Aku ditusuk, dihajar, ditendang demi membebaskanmu. Ini perlakuanmu?”
“Kau banyak bergerak.”
“Ini sakit sekali!”
“Aku tahu, siapa yang bilang itu tak sakit? Aku hanya ingin mengompresnya, jadi jangan banyak bergerak.”
“Perlakuanmu terlalu kasar, bahkan cakar Kade lebih lembut dari tanganmu!”
“Apa katamu? Kau menyamakan tangan mulusku dengan kuku serigala?”
“Memang itu kenyataan.”
“Kau memang tidak bisa membedakan wanita dan binatang,” sindir Theresa tersenyum sebal, “kurasa takkan ada wanita yang akan menyukaimu.”
Firio menyindir balik, “mana dirimu yang menyembahku itu? 'Firio bebaskan aku—aku berjanji akan mencium kakimu.'”
Theresa tertawa palsu, ingin marah, tapi tak berani meluapkannya. Dia mengangguk, lalu berkata, “oke, aku minta maaf, Tuanku, Rajaku, Yang Mulia Firio. Aku tidak bermaksud membuatmu kesakitan, kau jangan banyak bergerak agar aku bisa mengompres punggungmu.”
Firio duduk kembali, lalu membelakangi Theresa, wajahnya tetap cemberut. “Pelan-pelan.”
“Iya, Tuan.”
“Jangan panggil aku Tuan, kau mau kubunuh?” ancam Firio mendadak merinding karena panggilan itu.
Theresa ingin sekali menghujamkan pisau ke punggung pria ini. Akan tetapi dia menahan diri. “Kukira kau sangat ingin aku menyembahmu tadi?”
“Aku hanya mengingatkanmu kalau kau saat di kurungan itu bersumpah akan melakukan apapun agar lepas, jadi jangan kasar padaku.”
“Ya, kapan kita menikah?” tanya Theresa tanpa basa-basi lagi, dia sedikit muak kalau terlalu banyak berdebat.
“Lusa, tepat saat teman-teman dalam dindingmu itu berkunjung. Mereka akan syok, melihat kita jatuh cinta dalam beberapa minggu saja.”
“Jatuh cinta?”
“Orang menikah itu harus jatuh cinta.”
“Jatuh cinta tidak termasuk paket perjanjian kurasa.”
“Di bibir saja, Bodoh. Kau ini polos sekali. Kalau ingin menyamar itu totalitas, kau mau pulang tidak? Di dalam dinding itu lengkap fasilitasnya.”
“Oke, tidak perlu berkata kasar begitu.”
“Kau memang harus dikasari agar bisa paham, otakmu memang sekeras karang laut.”
“Aku tidak mendebatnya.”
“Baguslah.” Firio meminum air khusus dalam gelas yang ada di atas meja. Lalu menjauh dari diri Theresa. “Sudah cukup, kau tidurlah, aku tak mau dekat denganmu lagi.”
Theresa menyindir, “padahal barusan kau bilang kita harus jatuh cinta? Sikapmu yang paling tidak masuk akal di sini. Kau pasti punya niat lain menikahiku?”
“Apa? Kau pikir aku akan menjualmu ke mereka?” tanya Firio sangat nisa membaca pemikiran Theresa seperti layaknya membaca buku. Ia benar-benar tak menyangka ada Theresa di dunia lain yang punya sikap terlalu polos begini.
Theresa memicingkan mata. “Siapa tahu. Kau'kan sialan.”
“Kau bilang apa, Tomat?” Firio menunjukkan telinga kirinya, dia jelas tengah mengancam.
Theresa meralatnya dengan nada datar, “kau'kan tampan.”
Firio menjelaskan, “aku tak menyelamatkanmu karena ingin menjualmu. Lagipula mereka takkan mau membelimu, tak kuat meladeni orang banyak bicara.”
Theresa menutupi kejengkelannya dengan mendehem.
“Aku tak mau kau diperebutkan seperti pembagian roti,” lanjut Firio sambil menundukkan wajah. “Aku tidak sanggup melihatnya.”
“Aku bukan roti.”
“Aku juga tak mau kau dipertontonkans seperti itu, dipamerkan seperti penari malam. Aku mencintaimu, Theresa.”
“Wah romantis sekali~” Theresa pura-pura memasang wajah terharu. “Kalau saja kita di masa-ku, kau harus ikut casting opera sabun.”
Firio tersinggung. “Kalau saja kau orang lain, aku sudah mencincang tubuhmu, dan membagikannya ke kawananku di belakang.”
Theresa menyandarkan punggungnya yang lelah, tak peduli lagi dengan omelan Firio. “Aku minta maaf. Aku hanya tidak betah dengan orang yang bermulut kasar, seumur hidup baru kali ini aku bertemu dengan orang sepertimu.”
“Aku juga baru pertama kali bertemu orang banyak bicara, dan ceroboh, dan tidak bisa memanggang daging dengan benar, dan—”
“Sebentar—” potong Theresa tak terima, “kau selalu memuji daging panggangku.”
“Tidak enak, tapi setidaknya bisa dimakan.”
“Setidaknya bisa dimakan itu maksudmu apa?”
“Maksudku bisa masuk perut manusia tanpa meracuninya.”
“Labil sekali kau ini! Kemarin bilang enak, sekarang tidak.”
“Blah-blah-blah.”
“Maaf kalau masakan istrimu jauh lebih enak, aku memang terbiasa hidup sendiri— tak pernah hidup bersama pria yang banyak maunya sepertimu.”
“Mana ada pria yang mau hidup dengan wanita yang memanggang daging saja tidak bisa empuk?”
“Itu karena aku tidak terlalu paham kegunaan peralatan dan daun-daun s****n yang ada di dapurmu!”
“Hanya orang lemah yang ketimbang mengakui kesalahan, malah membual alasan sampah.”
“Oh mulai besok, kau saja yang masak, aku yang tiduran seperti bos di bulu adik-kakakmu itu.”
“Kau lupa ucapanmu? Kau rela jadi budakku— tak ada komplain lagi.”
“Ya, tentu,” kata Theresa memalingkan wajah, muak, “entah kenapa bicara denganmu ujung-ujungnya jadi debat, tidak bisakah kita mengobrol normal seperti teman?”
“Temanku hanya terbatas jika dia punya kaki empat, gigi taring dan kuku cakar.” Firio memperhatikan tubuh ramping Theresa. “Dan kau— seperti kelinci di mataku, sama sekali tidak bisa dijadikan teman. Bahkan Thana yang baru dewasa saja punya fisik lebih baik darimu—”
Rasa cemburu menghujam hati Theresa saat Firio menyangkut pautkan masalah fisik dengan wanita lain. “Oh, kenapa kau tidak menikahi Thana saja kalau kau tertarik pada tubuhnya!”
“Kenapa malah membuat kesan aku tertarik secara s*****l pada Thana? Kita membahas masalah teman, tubuhnya itu cocok dijadikan teman bagiku, ini alam liar, kelinci tak cocok disini.”
“Jangan salahkan aku, aku berasal dari dunia yang tenang, tentram, damai, negara liberal dengan jajaran polisi yang selalu berpatroli menangkap orang liar sepertimu— dan kami akan langsung diselamatkan jika menekan tombol 911.”
“Sekali lagi, Sayang, selamat datang di duniaku—” bisik Firio mencondongkan wajah ke Theresa. Seringainya mengembang sempurna. “Kau akan menikahi orang liar ini— dan kau tak bisa menelpon 911 untuk menyelamatkanmu nanti.”
Dia kemudian berdiri, lalu pergi ke kamar mandi. “Pergilah ke kamarmu, kalau aku melihatmu masih di sofa ini saat keluar setelah mandi— aku akan menyeretmu dan mengikatmu di ranjang, dan akan kulepaskan lusa.”
“Dengar, Barbar, kalau ingin orang lain sopan padamu, cobalah berkata manis padanya seperti— 'Nona Wilson, tolong kembalilah tidur di kamar, aku mau ke kamar mandi dahulu.'”
“Nona Wilson, tolong kembalilah ke kamar, mukamu membuatmu mual,” balas Firio kemudian.
Theresa ogah menanggapi.
***