Sorak sorai berkumandang.
Firio terus tersenyum sejak turun ke arena, membuat lawannya makin murka. Baik Devereux dan Villard menargetkannya, sedangkan Vane dan Cassander masih punya dendam pribadi yang harus diurus.
Kali ini mereka semua memegang pisau pendek di tangan. Ya, ini FINAL, tentu saja senjatanya harus disamakan. Lagipula di jaman ini, di luar dinding terutama, semua orang pasti ahli dalam memakai pisau. Alhasil, aturan ini tak membuat masalah bagi peserta.
Lonceng pun berbunyi.
Pertandingan dimulai kembali.
Villard dan Devereux kompak menghadang Firio.
"Halo, Serigala tampan, kau membuatku muak," kata Devereux menyeringai sambil mengigit satu gagang pisau, lalu menyerang Firio tanpa banyak bicara.
Mereka bertiga bertarung dengan pisau itu, dan Abelard paling semangat mengomentari mereka bertiga, ketimbang Vane ataupun Cassander.
Firio beruntung punya reflek yang bagus, ia sadar telat sedetik serangan Villard, pasti habis. Dia melirik pria kanibal itu dengan tatapan membunuh, bisa dibilang mereka sama-sama predator. Ya, jika kaum Firio memangsa binatang liar, maka Villard juga memangsa manusia.
Devereux berkali-kali mengumpat, senjatanya tak cocok dengan berat tubuh. Walaupun lihai memainkan pisau itu, tapi s*****a berbilah besar barulah pantas dia pakai. Dengan menggigit satu pisau di mulut, pisau lain mengincar tubuh Firio.
"s**l! KAU MATI!" bentakmu muak karena Firio lolos dari pukulannya berulang kali, malahan dia yang terkena goresan ujung pisau.
Walau ahli menepis serangan, tapi Firio kuwalahan menghadapi tangan cepat Villard, sekaligus menghindari tinju Devereux.
Pipi kanannya tergores ujung pisau Villard-
Itu membuat sisi buasnya berkobar, setingainya muncul, ia menyerang balik.
Abelard menggebu-gebu saat berkomentar. "Oh tampaknya tiga jagoan kita bertarung dengan sangat cepat ya- bahkan mataku sampai tak bisa mengikuti-" Pandangannya beralih pada dua sosok yang masih berhadapan. "Dan tuan Tampan Vane Cadwallader dan Tuan tangan besi kita Cassander Cephas, mulai kelalahan sepertinya."
Selama setengah jam berikutnya, Theresa tak mau menonton, apalagi saat goresan di tubuh Firio makin banyak. Dia terus berdoa agar semuanya cepat selesai, dan mereka bisa pindah ke dalam dinding saja. Berada di sini memang bunuh diri-dia tak sanggup melihat pria itu terluka karenanya.
Vane Cadwallader gugur.
Cassander Cephas pun ambruk di sebelahnya.
Mereka kelelahan sampai seakan akan mati sebentar lagi. Sekedar mengangkat jemari saja tak bisa, dan ini menjadi tertawaan bagi sebagian penonton, termasuk Abelard.
Sedangkan para penghuni distrik mereka sudah memasang wajah permusuhan satu sama lain.
Distrik 205 dan distrik 209, dipastikan akan berseteru di luar arena akibat pemimpin mereka seri dalam pertandingan ini.
Sudah hampir satu jam, Firio berhasil melukai leher Devereux. Dibantu Villard, pria itu akhirnya tumbang, walau masih bernapas- hanya kelelahan menghadapi serangan kompak mereka.
Bagi Villard, Devereux hanya pengganggu. Ia ingin menghadapi Firio sendirian.
Beladirinya memang unik, dia bertarung seperti seekor binatang- cocok sekali dengan Firio.
Theresa cemas saat melihat Firio terjatuh. "Firio-"
Abelard menoleh, lalu berkata padanya, "tenanglah, Nona, aku yakin pemenangnya Tuan Wolfman."
"Mmm-" Theresa ragu dengan ucapan sok bersahabat itu. Dia memicingkan mata, serta membalas, "kalian akan dapat balasannya."
"Oh kau akan membiarkan jagoanmu yang sudah kelelahan itu menghabisi kami juga? Sebaiknya nanti kau tenangkan dia, Nona, kau tidak tahu siapa kami."
"Kalian hanya penculik."
"Kau tak salah, tapi ada hal-hal yang jauh lebih rumit di luar dinding itu, dan jika kau mengetahuinya- kau akan kaget, dan bersumpah takkan lagi mau keluar dindingmu."
Theresa tak paham perkataannya, tapi jelas ada nada ancaman.
Dia melihat ke arena lagi, wajahnya perlahan sumringah, Firio berhasil menyudutkan Villard.
Sorak sorai makin menggila- pemenang akan segera diketahui, dan waktu pertandingan juga hampir selesai.
Thana sampai berteriak keras, "FIRIO! CEPATLAH!"
Firio bisa mendengar itu, sekalipun jarak podium dengan ia sangat jauh. Sembari meninju perut Villard yang tampak lemah, dia menggerutu, "cepatlah? dia pikir ini main catur."
Kali ini Theresa yang berteriak, "FIRIO! KALAHKAN SI GILA ITU!" suara itu hanya didengar sampai tempat duduk dua penghuni dinding, Messalina dan Findlay saja. Suaranya juga terbenam oleh teriakan penonton.
Akan tetapi Firio bisa mendengarnya. Telinga dan hidungnya sangat terlatih, tidak diragukan lagi. Dia tersenyum kecil, makin percaya diri. Tangannya mencengkram kepala Villard, lalu menancapkan pisau ke leher pria kanibal itu.
Dia mendorongnya hingga terjatuh di atas pasir. "Mati saja kau."
Villard tersenyum dengan pisau masih bersarang di leher. Tak takut, tak kesakitan, terlihat seakan mati rasa. "Kau akan kubalas."
Firio mengangkat tangan dengan diiringi oleh suara Abelard yang berteriak, "sambutlah King of Madness and Fearless dari King's Colloseum yang ke- 322, Tuan Porfirio Wolfman dari distrik 222!"
"WOOOAAAAHHH~" teriakan serempak terdengar juga. Mereka setuju pertarungan tiga orang tadi memang mengesankan.
Theresa meneteskan air mata bahagia. "Firio, aku mencintaimu-"
Ucapan itu hanya rasa terima kasih, dia terlalu senang.
"Kita mendapatkan tontonan yang menyenangkan ya- kalian tak perlu kecewa kalau kalah taruhan, setidaknya kita punya pemenang gladiator yang baru- menggeser Tuan Devereux. Untuk distrik 210, dimohon menjaga ketertiban di area netral ini- kalian bisa melanjutkan perseteruan di luar sana."
Tubuh Firio penuh luka goresan, bahkan pipinya agak lebam. Dia memijat bahu kirinya sambil menggerutu, "s****n, sakit sekali."
Dia melirik ke balkon Theresa. Barusan dia juga mendengar pernyataan cintanya. "Dan cintamu tak bisa membuat sakitku hilang."
Sebuah hologram raksasa mulai terbentuk di atas kepala Firio. Hologram tersebut berasal dari sorotan lampu sensor yang ada di setiap sudut podium.
Bagi penonton, melihat kemunculan hologram itu setelah pertandingan adalah hal biasa. Ya, karena memperlihatkan sosok pria bertopeng hitam, bos dari para penjahat luar dinding ini.
"Salam hangat dari King's Colloseum," katanya, suara yang dihasilkan seperti sudah disamarkan menjadi lebih berat. "kalian pasti mengenalku, aku ketua dari kelompok dunia bawah luar dinding, DarkCrow. Kuucapkan selamat untuk pemenang kita yang ke -322, Tuan Porfirio Wolfman, dan terimalah piala-mu, dan- sampai jumpa lagi."
Hologram itu lenyap.
Kalung leher Theresa otomatis terbuka, sekaligus pintu kurungannya.
Beberapa petugas berpakaian serba hitam membereskan tubuh sekarat para gladiator yang tumbang, membiarkan Firio sendirian di sana.
Abelard menunjukkan jalan pada Theresa untuk turun ke arena.
Siulan mulai membahana-
Theresa tak peduli, dia berlari ke arah Firio. "Firio-"
Seluruh penonton kini percaya kalau keduanya memang saling kenal.
Sambil memeluk Firio, Theresa berkata halus, "aku tahu kau pasti membebaskanku dari tempat gila ini, aku sungguh menyayangimu, kau pria sungguhan!"
Firio tak mau membalas pelukan itu. "Tentu saja, aku pria, kau kira aku apa? Cumi-cumi?"
"Aku akan mengabdi padamu sampai lepas dari masa barbar ini."
"Bisakah kau menyingkir? Aku tak butuh kata-kata manismu, aku butuh air hangat, punggungku sakit sekali, Sialan."
Theresa melepaskannya. "Maaf."
"Selamat, Tuan, semoga di lain hari- kau menjaga istrimu." Abelard seperti ingin mengingatkan kejadian ini bisa saja terulang.
Firio bersiap menebas lehernya, tapi dihentikan Theresa. Wanita ini berbisik, "jangan, kau lelah, jangan membuat perseteruan dengan mereka, kita di sarang penjahat."
Abelard tertawa penuh kemenangan, sekalipun kakinya sudah gemetaran.
"Sampai jumpa di kompetisi selanjutnya dengan hadiah yang lain! Kami sedang berusaha menangkap sesuatu yang bagus, kalian harus ikut di pertandingan yang ke- 323 nanti!" teriaknya penuh semangat.
Sorak sorai terdengar-
Theresa menuntun Firio ke pintu keluar koloseum, tak peduli lagi dengan acara ini, dia hanya ingin pergi.
"Aku ingin mandi," gumamnya begitu melewati pintu raksasa koloseum, lalu menghirup udara segar tanpa darah.
Firio menyentaknya, "bisa-bisanya kau memikirkan mandi sementara suamimu sekarat hah?" Dia memperlihatkan gelang pengukur darah yang ternyata telah menunjukkan angka 41%. "Kalau orang biasa sudah tak bisa berjalan ini."
"Kau belum jadi suamiku," ralat Theresa agak sebal dengan sentakan itu. Dia merasa apapun yang katakan selalu saja ditanggapi dengan kasar.
Firio tak bisa menjawabnya.
***