35| Scientist I Time Machine

1482 Words
"Huh—" Theresa menghela napas panjang seraya merosot ke kursi kafe yang dia datangi. Dia benar-benar tidak bersemangat, merasa tidak tahu mengapa harus melakukan ini. Padahal setiap hari dia sangat senang berkeliaran di lapangan, mengobrol dengan atlit dan jurnalis lain. Shawn memesankan jus buah untuk mereka, lalu duduk di depan wanita itu. Dari tadi ia sudah keheranan dengan sikap asingnya. "Ada apa denganmu? Kau diam sekali hari ini—tidak seperti Theresa yang kukenal," katanya mengeryihkan dahinya, curiga sekaligus membayangkan kemungkinan terburuk. "Setelah menghilang beberapa hari, kau malah seperti ini?" "Tidak ada apa-apa." "Terbelit hutang?" "Apa? Tentu saja tidak, aku bukan menghilang karena hutang." "Wajahmu ini seperti orang sedang terperangkap hutang," gurau Shawn meredakan ketegangan di antara mereka dengan tawa pelan. "Katakan saja padaku, apa masalahmu, mungkin aku bisa membantu? Oh, apa mungkin—pria?" "Tidak, tidak ada," bantah Theresa keras, yang malah membuat kebohongan itu terlihat jelas. "Kita sudah mengenal sejak kuliah, Theresa, aku tahu kalau kau ini buruk sekali kalau menyembunyikan sesuatu. Ayolah, katakan padaku—" desak Shawn sambil mencondongkan wajah ke wanita itu, lalu memperkecil volume suaranya, "kau bertemu orang b******k di Las Vegas? Membawamu kabur—lalu kau ditinggalkan dan sedih sekarang?" "Khayalanmu tinggi sekali! Mana mungkin aku berkeliaran di Vegas dengan pria." sungut Theresa yang mulai gugup. Untuk menenangkan perasaannya itu, dia meminum jus buah. "Jatuh cinta pada gigolo?" Theresa tersedak minuman, nyaris saja menyembur keluar. Mendengar sebutan gigolo mengingatkan dia akan Firio. Isi kepalanya mulai dipenuhi bayangan wajah pria itu, suara nyaringnya, lalu lolongannya, lalu tawa menyebalkannya. "Jangan membahas apapun, Shawn, aku tidak jatuh cinta pada siapapun." "Baiklah, baik," kata Shawn tergelak keras. Ia tak ingin mengulik permasalahan itu lagi. "Kalau kau disakiti, katakan padaku—sekalipun dia bandar judi di Vegas, aku akan membalasnya untukmu." "Hentikan. Kenapa kita tidak membahas hal lain saja, seperti kapan kau akan menikahi Jennifer?" "Itu rahasia." "Setelah perkataan kita teman sejak kuliah, jadi semuanya rahasia?" "Kalau kau mengatakan siapa pria yang membuat semangatmu menyusut seperti tringgiling begini, aku akan mengatakannya." Shawn tersenyum lebar. "Bagaimana?" Theresa menunjukkan tatapan datar karena begitu kesal. Selama ini dia tak pernah menang saat beradu mulut dengannya. "Kalau begitu kita membahas lain saja, UFO mungkin?" Shawn tertawa mendengar ucapan sebal tersebut. "Oh ngomong-ngomong kolom ilmiah kemarin sedang menyelidiki UFO, kau tidak tertarik? Kau'kan calon ahli antariksa tidak jadi?" "Terima kasih sindirannya." "Mereka bisa mendapat fenomena langit malam kemarin, di tempat tinggalmu, kau tidak tahu?" "Fenomena langit?" "Entahlah, aku hanya tahu kemarin malam di daerahmu seperti ada penampakan UFO." Theresa tidak paham. Dulu dia tak pernah tertarik dengan hal semacam ini. Akan tetapi setelah melintasi mesin waktu aneh, dia menjadi penasaran. Setelah jeda beberapa detik, dia menatap serius Shawn. "Apa menurutmu fenomena seperti itu ada?" "Entahlah, mereka bilang alien itu wujud manusia di masa depan, karena perang nuklir dan semacamnya, dan pesawat UFO itu semacam mesin waktu. Kau tahu'kan, teori-teori orang jenius akan masuk akal jika benda itu bisa menembus kecepatan tertentu." "Jujur saja, dulu aku tidak percaya mesin waktu akan bisa diciptakan—" Theresa tertunduk, mengamati gelas jusnya yang sudah setengah habis, "—tapi, ternyata benar-benar ada, dan peradaban di masa depan tidak seperti yang kupikirkan, dan juga tidak seperti alien bermata bulat itu." "Hah?" Shawn heran dengan nada suara yang mendadak sendu itu. "Kau sedang nulis novel ya?" Theresa mendehem, lalu meralat ucapannya, "maksudku—aku sekarang percaya kalau mesin waktu itu ada, bukan karena menonton film, tapi aku yakin saja." "Aku juga percaya, tapi mungkin seribu tahun lagi," sahut Shawn disertai tawa, "kata Einstein atau siapa itu, jika ke masa depan itu bisa dilakukan karena waktu berjalan maju, tapi jika ke masa lalu itu mustahil—jadi hingga sekarang aku penasaran, kalau alien itu manusia di masa depan, bagaimana mereka bisa melintasi waktu ini?" "Tidak mustahil," bantah Theresa spontan. Ia mendadak teringat pintu kamar mandinya. Mesin waktu laba-laba milik Firio bisa menembus masa lalu, artinya perjalanan ke masa lalu bisa dilakukan. Kepedihan kembali merajai hatinya, bagaimana kalau Firio tidak berhasil melintasi waktu lagi karena kekurangan bahan baku? "Kau aneh." Theresa malah berdiri, lalu meninggalkan tempat itu. "Maaf Shawn, kepalaku sakit, aku ingin istirahat, katakan pada Tuan Thompson, laporanku akan kukirim lewan e-mail." Shawn kembali bingung. _____ "Sepuluh kali," bisik Aisla pada Castriel di sebelahnya. "Mereka berdebat sepuluh kali." Mereka berdiri di depan salah satu meja dimana banyak sekali kubus hitam berbagai ukuran. Keduanya kompak memisahkan kubus yang masih menyala dan yang sudah mati total. Itu merupakan baterai berlapis Micah yang berguna sebagai listrik darurat. Firio menyambar kerah mantel Ivan, lalu mengoyaknya kasar. "Kau b******k, sudah kubilang—jangan menyambungkan kabelnya sebelum menaruh baterai! Kau membuatku harus mengulang!" Ivan menepis tangan itu. "Menyingkirlah dariku, Anjing." Dia menuding sebuah mesin hitam dengan kaki delapan alias LYNXproject yang tergeletak di atas tanah kering tengah-tengah gua besar ini. "Ini hampir selesai—" Nyatanya, kabel-kabel hitam bagian dalam benda itu masih terburai keluar. "Mungkin." "Kita menghabiskan waktu seharian merangkai benda b******k ini, tapi kau membuatku harus merangkai ulang!" bentak Firio yang kemungkinan besar akan menambahkan kata b******k di setiap kalimat. Dia sedang marah, otot pelipis matanya saja sampai mengeras di balik kulit. "Santai saja, walaupun berbulan-bulan tidak akan ada efeknya, kita bisa mengatur tanggal dan tahun untuk melintasi waktu." Ivan terlihat resah sendiri melihat tingkat kebuasan Firio meningkat setiap menit. "Kenapa kau tidak mandi saja, Bung?" "Ya—" Firio meliriknya tajam, "aku ingin mandi dengan darahmu, Brengsek." Terjadi keheningan di antara mereka berdua. Ivan dan Firio saling melotot penuh kebencian. Ivan sangat ingin membantai Firio, tapi takkan ada yang menolong kalau diserang pihak Neo kembali. Sementara Firio tidak bisa membantai kembarannya ini karena butuh otak jeniusnya. Mereka berniat saling melenyapkan, tapi saling membutuhkan. Semua orang pura-pura tak melihat dan mendengar pertikaian mereka. Pemimpin distrik 222, Rollo, datang ke gua itu bersama Thana. Mereka berpenampilan ala pemburu lengkap dengan hiasan kepala. Seperti biasa, Thana selalu memakai kepala beruang dan Rollo memakai kepala serigala putih yang dulunya merupakan sang ayah asuh. "Firio?" sapa Rollo mendekat. Ia melihat Kade dan Kye yang tidur di atas tumpukan selimut bekas. "Kade? Kye? Kalian sepertinya hanya makan dan tidur saja ya?" Kedua serigala putih itu melolong. Aisla lantas bergidik mendengar itu. "Aku masih trauma kalau mendengar lolongan serigala." Castriel mengangguk. "Apalagi aku, aku hampir buta waktu itu." "Ya, setidaknya Theresa berhasil pulang—mendadak, aku merindukannya." "Dia cantik, kalau saja bukan istri orang gila, aku ingin mendekatinya." "Kau lupa? Telinga orang buas itu—" Castriel membatu beberapa detik, benar-benar lupa akan fakta tersebut. Kemudian ia menoleh pelan-pelan ke arah Firio. "Tidak—mungkin—sial." Sudah pasti Firio memicingkan mata padanya. Sorot mata itu seolah berkata, 'kalau kau membayangkan istriku lagi, kubunuh kau'. "Well, aku hanya menyukai tetangga kita, yang namanya Ursula, kau kenal'kan? Minggu depan aku akan menikahinya, jadi mustahil aku melirik wanita manapun," ucap Castriel bernada santai kepada Aisla. Dia mulai berhalusinasi, "Ursula, kau cantik sekali, setelah ini selesai, aku akan menemuimu~" "Kau berlebihan," bisik Aisla menahan tawa. Thana dan Rollo mendekati Ivan dan Firio. "Sebaiknya kalian tidur di rumah kalau lelah, Rollo sangat protektif wilayah—jadi takkan ada pihak Neo yang akan mendekat, jangan khawatir. Para penculik koloseum juga mulai menjauh," sahut Thana dengan ramah. Firio tersenyum bangga pada Rollo. Dia menepuk bahu kekar pria itu seraya berkata, "jangan beri ampun pada siapapun, apalagi distrik kanibal itu—kemungkinan dia balas dendam padaku, bukan?" "Oh, Villard? Ya, dia sempat menyuruh orangnya mengintai di sini, tapi mereka semua kaum kelaparan, jarang menggunakan akal, jadi tak jadi masalah, mereka takkan berani bentrok denganku, bahkan si kembar sudah cukup menghadang mereka." Rollo disertai suara tawa jahat yang sontak membuat Aisla dan kelompoknya menjadi takut. Mengetahui hal itu, dia segera mengedarkan pandangan ke mereka. "Oh, jangan cemas, Tuan-tuan dan Nona, kalian tamu kami, distrik 222 bersahabat untuk mereka yang sudah jadi sahabat." Thana mengalihkan pandangan ke arah Ivan. "Aku masih tidak percaya, Firio yang lain bisa datang kemari dan bertemu dengan Firio kita." Rollo mengangguk. "Dunia ini luas, banyak kemungkinan yang terjadi, kita sudah melihat Theresa dari semesta lain, ini—sudah bukan hal yang aneh." "Salam kenal," ucap Ivan dengan suara ramah, "namaku Porfirio Ruiz dari semesta 199, dan akulah suami asli dari Theresa Wilson yang tersesat di semesta ini." Thana dan Rollo kompak terdiam. Mereka tidak berani mengomentari klaim tersebut. "Theresa milikku, itu sudah jelas, dan apapun yang terjadi—dia akan memilihku, jadi tidak perlu berkata apapun kau, b******k," ucap Firio melototi Ivan dengan pandangan membunuh. "Kau bukan siapa-siapa di depan matanya. Sekalipun kita ini sama-sama Firio, tapi dia hanya mencintaiku sekarang." "Oh, benarkah? Kalau begitu aku punya cara untuk membuktikannya, apa mungkin Theresa sangat mengenalmu?" Ivan memberikan kesan menantang. "Apa maksudmu?" Ivan menuding benda yang berkedip-kedip di bagian dalam mesin kotak bernama LYNX itu. "Lihat, baterainya mulai terisi, sambil menunggu waktu sampai penuh dan tingkat akurasinya sesuai dengan jaman Theresa, kenapa kita tidak menyamakan diri saja?" "Apa?" Tidak ada yang memahami maksud Ivan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD