Theresa terdiam di dalam mobilnya. Tidak pernah dia menyangka akan melihat mobil ini lagi, tidak mobil modern ala masa Firio. Senyuman kecil perlahan terbentuk dari bibirnya, teringat akan saat-saat mereka selepas menikah.
"Kalau saja itu bisa disebut menikah," ucapnya kemudian seraya menyalakan kendaraan tersebut. Ia melaju ke jalanan, meninggalkan rumah barunya itu dengan perasaan sedih. Bangunan modern yang dia beli dari hasil warisan itu terlihat seperti milik orang asing. Ya, tempat yang disebut rumah adalah di saat bersama Firio.
Jalanan ramai kota ini tidak ada bedanya seperti yang ia ingat. Sekarang bulan September artinya masih berada di musim gugur, banyak pepohonan yang telah gundul setelah merontokkan daun-daunnya. Di masa depan Firio, udara musim apapun udara dinginnya menusuk setiap tulang. Sedangkan udara saat ini, di Cedar City, Utah, terasa hangat.
Tempat kerja wanita ini tak jauh dari tempat tinggalnya. Cukup ditempuh selama lima belas menit berkendara, dia sampai di gedung Sporta Magazine, sebuah penerbit majalah ternama di kota ini.
Setelah memarkirkan mobil di area basement gedung, dia berjalan keluar ke pintu masuk. Sesekali dia merapikan blazer biru tuanya serta melorotkan sedikit rok agar lebih rapi. Dia lebih suka bekerja di balik meja, ketimbang mendapat tugas lapangan untuk meliput berita. Setelah melihat Firio, dia jadi tidak semangat walaupun narasumbernya setampan pangeran dunia dongeng.
"Theresa? Kau—kemana saja!" kejut seorang teman wanita yang langsung melongok keluar meja kerja begitu melihat Theresa berjalan melewatinya. Dia seperti melihat hantu saja.
Deretan staff yang bekerja, beberapa rekan fotografer yang tengah mengaduk kopi lantas menoleh pula. Mereka juga sama kagetnya. Ada sekitar dua puluhan karyawan dan karyawati yang ada di tempat itu. Semuanya sangat akrab dengan Theresa walaupun wanita ini masuk kategori karyawati junior.
Theresa tersenyum. "Selamat pagi, Semua."
Senyumannya tidak natural seperti biasa, tak ada semangat sama sekali. Dia memandang wajah satu per satu dari teman kerjanya, dulu mereka sangat menyenangkan untuk diajak berbincang, tapi kini—semua seperti punya wajah mirip Porfirio Wolfman.
"Kudengar kau menghilang," kata seorang fotografer seusianya, Shawn, rekan yang selalu bertugas berdua. Wajar saja begitu melihat wajah Theresa, dia langsung berlari mendekat, meninggalkan cangkir kopinya.
"Mana mungkin, aku hanya—ya, pergi sebentar."
"Kau nyaris dipecat tahu!"
Theresa mendehem, lalu menunduk, "maaf merepotkanmu."
Shawn melirik ke ruang kerja bos mereka yang mulai memperhatikan dari dalam. Karena ruangan itu seluruhnya terbuat dari kaca tembus pandang dan saat ini kelambu juga terbuka, semua orang bisa melihat ekpresinya. Seorang pria bertubuh bak gentong yang terbungkus jas hitam. Leher orang ini terbenam lemak sehingga batas antara kepala dan badan sama sekali tak kelihatan.
"Dia melototimu, cepatlah beri alasan yang bagus, aku tak bisa membantumu lebih dari ini," bisik Shawn sembari melewati Theresa.
Theresa menghampiri ruang kerja bosnya itu. Dia sudah menyiapkan alasan paling bagus untuk situasi semacam ini yaitu kehilangan anggota keluarga. Kalau saja dia bukan pegawai yang rajin, selalu memberikan kontribusi yang besar di penerbit itu, dia pasti sudah didepak apapun alasannya.
Sang bos pun tak bisa memecatnya. Wanita cantik pendulang emas seperti Theresa, apalagi disukai banyak atlit, tidak mungkin dibuang begitu saja. Benar, sebagian besar narasumber hanya mau diwawancarai oleh Theresa Jane Wilson.
Setelah mendapat teguran keras dan segala macam omelan, pria itu melepaskannya.
Lagi-lagi wajah Theresa murung.
Ada apa denganku? Aku merasa—tidak ingin ini, ungkapnya begitu sampai di meja kerjanya. Dia duduk sambil memijat kening kepalanya yang pusing. Padahal di tempatnya berada sangatlah aman, tidak akan ada marabahaya, apalagi kanibalisme, mengapa malah tidak nyaman?
"Tidak mungkin,"—apa secinta itu aku sampai memikirkannya? Tidak mungkin, ucapnya pelan sembari mulai menatap layar komputer, dia memeriksa beberapa berita terbaru setelah beberapa hari kepergiannya. Dulu ia seperti singa lapar yang diberi daging saat mencari berita dunia olah raga, tapi kini—ia bak biskuit yang terendam air.
Ia tak pernah mencintai orang lain sebelumnya, hanya sekedar suka. Lalu kini, setelah merasakan apa itu cinta, dia malah ingin mengamuk saja. Bahkan mereka belum menghabiskan waktu untuk berdebat masalah pakaian yang dibeli, tapi sudah berpisah.
"s**l, akan kubunuh dia kalau tidak baru menemuiku saat aku sudah tua," katanya lagi dengan geram. Dia menghembuskan napas panjang sembari mengetik cepat, memaksakan semangat dalam diri. "Ayo, Theresa, jangan jatuh cinta keterlaluan pada pria yang dibesarkan oleh serigala."
Shawn menghampirinya sembari memberikan secangkir teh hangat. Pada lehernya telah melingkar tanda pengenal jurnalis. "Hei, kau ada tugas lain? Kalau tidak ada—aku dapat informasi berita terhangat di lapangan dan—"
Theresa mengangguk pada ajakan itu. "Ayo kita ambil berita."
______
Detik demi detik waktu yang berlalu makin membuat Firio tertekan. Dia sudah terlanjur mencintai Theresa itu, sekarang pikirannya makin terkendali. Seluruh keturunan distrik 222 memang terlahir dengan sifat alami semacam ini. Ketika mereka berpisah dengan pasangan, pikiran mereka memendek.
Firio berhasil kabur bersama Ivan dibantu dengan kelompok Aisla dan dua serigala putihnya. Mereka semua berlari keluar dinding lewat jalan pintas. Tidak ada yang bisa mencegahnya karena keamanan gerbang telah diretas oleh Castriel. Sedangkan seluruh petugas pos jaga sudah dibuat pingsan oleh tingkah Kade dan Kye.
Semua orang telah berada di dalam mobil. Firio yang mengemudikan, sedangkan Ivan duduk di sebelah dengan d**a berdebar tak karuhan. Seumur hidup, ini adalah momen paling mengerikan yang pernah dilalui. Bahkan lebih ekstrim ketimbang aksinya melarikan diri dari sel waktu itu.
Aisla dan keempat saudaranya ada di kursi baris kedua. Mereka kompak melepaskan jaket pelindung d**a, selotip anti deteksi residen yang melekat di tengkuk, lalu membuka penutup kepala. Sedangkan Kade dan Kye ada di kursi deret terakhir.
"Bagaimana kalau mereka mengejar kita?" Ivan panik.
Firio menjelaskan, "tak perlu takut, Pecundang, kita sudah di luar dinding, tidak ada aturan di sini, kalau ada satu atau dua orang yang datang menyerang, ada hukum rimba yang berlaku. Lagipula mereka takkan main serang saja—karena di luar dinding juga punya dewan yang mengatur pertikaian antar distrik. Jika ada p*********n besar-besaran, kemungkinan besar mereka akan ikut campur."
Aisla menengok ke depan, lalu membandingkan dua wajah mereka. "Aku benar-benar masih tidak percaya melihat kembaran dari semesta lain bisa berada di satu tempat, dulu aku menganggap ini mustahil. Ini pencapaian ilmu pengetahuan."
"Aku lebih tampan darinya," sahut Firio culas.
Ivan memalingkan wajah keluar jendela. "Aku lebih sopan."
"Aku bisa membuat Theresa bertekuk lutut padaku."
"Eh, bukankah kau yang mengendus di kakinya selama ini?"
"Kuanggap itu sebagai aksi sensual."
"Theresa-ku bukan anjing."
"Apa kau bilang?"
Aisla tertawa mendengar mereka. "Kalian sama!"
Kedua Firio itu menoleh serentak pada wanita itu dengan pandangan menusuk.
"Maaf," ucap Aisla seraya membuang muka, "maaf—sungguh."
Mereka menempuh perjalanan seharian untuk sampai di wilayah perbatasan distrik 222. Firio sengaja masuk ke dalam gua terbesar di dekat tambang. Lokasinya dekat dengan perbukitan dan tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan berdaun merah.
Bagian tengah gua tersebut cukup luas dan penuh perabotan ala laboratorium tak terpakai. Penerangannya berasal dari lampu-lampu yang otomatis menyala ketika mendetekti adanya "tuan" mereka yang masuk, ya—Porfirio Wolfman. Di atas meja-meja sekitar dinding gua yang curam banyak sekali barang-barang asing dan rongsokan robot berbagai jenis.
Mereka keluar mobil dan mengamati semua itu. Sebagian takjub dengan tingginya langit-langit gua ini. Udaranya juga tak terlalu pengap.
"Pecundang, ayo kita mulai bekerja, cepatlah sedikit, kau ini apa? Koala? cepat catat semua kebutuhanmu, dan akan kucarikan, lima menit—lima menit lagi kita harus mulai kerja!" perintah Firio dengan suara yang benar-benar kasar. Dia memandang Ivan layaknya pekerja rendahan. Sikapnya yang diktator saat mengurus tambang pun mendadak muncul. Selama ini distrik ini selalu aman karena ulah menyebalkan ini.
Aisla dan keempat saudaranya terdiam, merasa tak berani menatap orang yang pernah hampir membantai mereka seorang diri itu. Hingga kini pun mereka tak percaya harus bekerjasama lagi dengan pria ini.
Ivan mendekati meja, lalu menyambar buku cetatan dan pena. Ia mencatat semua bahan yang digunakan untuk membuat baterai LYNX. "Aku bukan pembantumu, jangan membentak-bentak, Iblis. Aku tak percaya Theresa tahan denganmu."
"Karena aku sangat seksi," kata Firio sambil menyibakkan rambut depannya dengan wajah muak. Ia selalu bersikap tidak sabaran dan blak-blakan di saat tingkat tertekannya makin meninggi. Terlebih sekarang dia kelaparan, sisi buasnya sudah bangun sekitar 40%.
Castriel ingin tertawa, tapi takut tak bernapas lagi.
"s**l aku harus makan sebelum aku membunuh kalian karena terlalu lapar!" ungkap Firio sembari menengok ke kedua saudaranya yang baru turun dari mobil. "Kade, Kaye, ayo kita keluar mencari makanan."
Kedua serigala putih itu segera berlari mendahului keluar gua.
Firio meraih kertas dari tangan Ivan, lalu berkata, "akan kucarikan, dan aku akan mencari makanan dahulu."
"Kami punya makanan kaleng, Tuan Wolfman," kata Eoghan berusaha menenangkan jiwa buas Firio. Dia tidak ingin melihat orang ini kembali liar seperti serigala kelaparan. Mengerikan.
"Aku hanya makan daging, b******k," ucap Firio dengan nada bertambah kasar. Pupil matanya menyipit dan terlihat begitu buas. Dia berlari keluar menyusul kedua saudaranya.
Selama satu menit hanya keheningan yang melanda keenam orang itu.
Tak ada yang berani bicara.
Telinga dan mulut orang buas selalu menakutkan.
"Sepertinya sisi buasnya muncul, kita jangan menyebut nama Theresa," bisik Aisla selirih mungkin, berharap tak didengar, "dan ant turuti saja maunya."
Castriel mulai merasakan kulit tangannya merinding. Dia menambahkan, "pokoknya kalau rambutnya sudah berantakan seperti rambut Medusa, kita harus lari. Ini wiayah kaum buas, aku tak mau bertikai dengan distrik ini lagi."
Ivan tak percaya apa yang didengar barusan. Kenapa dia menjadi mengerikan seperti itu? Kenapa semesta ini peradabannya hancur sekali?
***