33| Scientist I The Emptiness

1154 Words
Selama seharian, Theresa tak tahu harus berbuat apa, dia berjalan tak ada tujuan di dalam rumah. Dia sangat menginginkan hal ini, pulang dan menjalani kehidupan normal. Semuanya normal sekarang. Ia berada di rumah. Sendirian. Benar, semuanya sunyi, tak ada siapapun. Dulu ia nyaman dengan suasana seperti ini, tak ada suara teriakan Firio di dapur meminta daging, lolongan binatang buas saat malam, sorak sorai kaum barbar di koloseum, atau suara televisi aneh yang menayangkan doktrin Neo. Tidak ada siapapun, tidak ada suara apapun. Hampa. Ia merasa hampa. Bukan ini yang ia mau, mengapa semuanya serba mendadak? Mengapa Firio tidak ikut pergi bersamanya? Mengapa malah meninggalkannya? "Firio, tolonglah jaangan begini, biarkan aku kembali—" pintanya setiap kali berdiri di depan pintu kamar mandi. Setiap satu jam sekali, dia membuka ruangan itu, berharap ada daun kering yang mengembus keluar lewat celaha bawah pintu—seperti dulu. Dia berulang kali pula tidak terjadi apapun. Pintunya sudah seperti semula, tak ada angin dingin mengembus, tak ada pantulan bulan membesar seolah ingin menabrak bumi, tak ada bangunan-bangunan rusak serta pepohonan aneh yang tingginya menjulang ke langit. Tidak ada Firio. Tidak ada kawanan serigalanya. Semangat hidupnya pun menjadi tidak ada juga. "Aku harus melakukan sesuatu, dia bilang akan menyusulku—jadi pasti begitu," ucapnya lemas sambil mendekati ranjang, memainkan ponsel yang sudah lama tak ia sentuh. Dia masih belum mengetahui semua teknologi masa depan Firio, dan berharap diberikan kesempatan untuk pergi lagi. Setelah memeriksa tanggal hari ini, ada perbedaan waktu antara kepergian dan kepulangannya. Ia ingat apa yang dikatakan Firio, mesin LYNX miliknya tak memiliki 100% akurasi, sehingga ia kembali pulang tiga hari setelah ia pergi. Hanya tiga hari, sedangkan dia menghabiskan berminggu-minggu di masa depan bersama Firio— Firio lagi. Firio lagi. Theresa merasa harus menyingkirkan pemikiran ini, dia yakin Firio akan kembali, jadi dia berpikir untuk kembali ke tempat kerja. Tiga haris tanpa kabar, pastilah bosnya sangat marah, mungkin juga dia sudah dipecat, apalagi banyak pesan darinya. "Ah, aku harus pakai alasan apa sekarang?" ucapnya bingung sendiri. ______ Di waktu berbeda, kedua Firio sama-sama berada dalam satu kurungan, sebuah sel isolasi khusus yang hanya ada satu ventilasi kecil sebesar batu bata. Dengan berjinjit, Ivan mampu melihat suasana luar gedung laboratorium melalui celah itu. "Theresa." Firio terus memanggil nama itu. Sudah beberapa jam setelah kejadian tadi, dia hanya duduk di pojok ruangan sambil memperhatikan kedua tangannya yang terpasang borgol khusus, berwarna hitam legam karena terlapisi oleh batuan Micah. Kini dia hanya memakai kaos coklat tipis dengan bagian pundak kanan telah terbalut perban putih tebal. Bekas tembakan tadi sangat menyakitkan sampai membuat otonya kram. Namun saat ini, hatinya jauh lebih sakit. "Kau ini t***l ya?" sindir Ivan. Sudah beberapa hari dia tidak membersihkan diri, kini dia juga sama berantakannya dengan Firio. Padahal saat pertama kali bertemu Theresa, dia bak pangeran, sekarang lebih mirip gelandangan. "Aku melakukan ini untuknya, cepat atau lambat—dia pasti diambil," kata Firio melirik kembarannya itu, "gara-gara kau, kau kemari mencari wanita dari lintasan semestamu, dan akibatnya—mereka sudah jelas akan mencurigai Theresa. Sudah kubilang, pulanglah." "Kenapa kau menyingkirkan Theresa saja?" "Sudah kubilang, waktunya sedikit—aku beruntung berhasil memasukkan Theresa saja, lagipula kalau aku ikut dengannya, siapa yang akan menghancurkan pintu itu? Aku mau bekerjasama dengan pemerintahan ini juga demi fasilitasnya, aku tidak mau benda itu digunakan." "Biarkan saja dipakai, asalkan bisa ikut Theresa." "Jika aku pergi dalam kondisi mesin aktif, mereka pasti bisa mengikutiku jika aku ke jaman Theresa jika benda ini masih ada, mereka tidak bisa mengendalikan mesin LYNX, sudah jelas akan mengangguku nantinya." "Lebih baik ketimbang meninggalkan Theresa kita sendirian." "Kita? Theresa-ku, aku tidak sudi berbagi Theresa." "Secara teori, dia Theresa-ku." "Secara naluri, dia telah memilihku. Aku Firio pertamanya, jelas?" "Mana mungkin Theresa benar-benar menyukaimu, tidak mungkin. Dengar, kita sama-sama paham masalah garis waktu dan takdir—kau dan Theresa-mu mengacaukan takdir. Theresa-ku itu harusnya menyukai Firio yang baik sepertiku." "Firio baik? Apa maksudmu, b******k?" "Bukan yang pemarah sepertimu." Ivan mengerutkan dahi, masih berharap Theresa bisa terlepas dari cengkraman Firio lain ini. "Dia pasti akan melupakanmu dengan cepat, dan aku—akan datang ke masanya lagi." "Kau benar-benar tidak kenal Theresa yang ini, dia takkan suka aku versi membosankan sepertimu." "Oh, menurutmu begitu?" Belum ada lima menit mereka mengobrol, tensi kemarahan mereka meningkat. Apapun obrolannya selalu berujung pada satu permasalahan, Theresa. Hening selama beberapa detik. "Sudahlah, aku malas bicara denganmu," kata Firio memalingkan wajah dengan malas, pikirannya hanya ada Theresa. Dia yakin kalau wanita itu pasti selamat hingga ke tahun tujuan. Masalahnya adalah, bagaimana cara menyusul kesana? Pergi dari kurungan ini mungkin mudah, tapi mesin LYNX satu-satunya sudah ia hancurkan tadi. Dia tidak yakin bisa menemukannya lagi di bangunan bekas distrik manapun. Kalaupun harus membuat lagi, butuh berapa lama hingga bisa terwujud? Apalagi tanpa ada sisa baterainya sama sekali. "Kita harus cari cara agar bisa keluar dari sini," kata Ivan kembali mengintip keluar ventilasi kecil. "Sebelum mereka melakukan sesuatu padaku—aku tidak tahu apa yang dipikirkan pemerintah di sini, mereka sepertinya terobsesi dengan mesin waktu dan menembus gerbang semesta lain." Dengan suara dingin, Firio menyahut, "kau tak tahu rasanya hidup di jaman ini, makanya kau bisa berkata seperti ini. Di sini memang damai, tapi kau takkan pernah tahu kapan bumi tak menghasilkan makanan lagi. Selama ini perpindahan semesta masih sebatas teori, keluarga Ruiz bisa melakukannya—tapi ilmuan di sini masih tidak paham konsep mesin LYNX buatan kakek moyangku." "Aku bisa membuat baterainya, kalau hanya itu masalahmu—" ucap Ivan secara mengejutkan. Firio terperanjat. "Apa katamu?" "Aku bisa membuatnya, aku adalah Porfirio Ruiz versi semesta yang damai, aku tidak dibesarkan oleh monyet sepertimu, aku dibesarkan di keluarga ilmuan—dan aku belajar langsung dari mereka, bukan otodidak sepertimu yang jelas kalau membuat barang memakai asas kira-kira." "Kenapa kau tidak bilang, s****n!" sembur Firio langsung berdiri, bersiap menghajar muka dirinya yang lain itu. "Katakan dari tadi! Aku sudah terlihat seperti orang t***l karena depresi barusan!" Ivan mundur demi menghindari perkelahian sia-sia. "Berhubung mesinku juga ditahan, bagaimana kalau kita membuat ulang? Jangan salah paham, aku mau bekerjasama denganmu—karena tidak mau berlama-lama di sini, tak ada gunanya!" "Oke, kau yakin bisa membuatnya'kan? Aku bisa membuat mesin laba-laba s****n itu." "Tentu saja, asalkan ada bahannya, dan kemungkinan di jaman ini sudah temukan, tapi masalahnya—bagaimana kita bisa keluar dari laboratorium ini sebelum Neo kemari?" "Tidak masalah, aku punya orang dalam." "Hmm?" Apa yang dimaksud Firio adalah kelompok Aisla yang menyamar demi bisa masuk ke dalam laboratorium, serta serbuan dua serigala di pos-pos penjagaan antar distrik. Mereka melakukan tugasnya secara sembunyi-sembunyi. Eoghan berasal dari keluarga ilmuan yang pernah bekerja di laboratorium, jadi dia tak kesulitan membobol keamanan di sini. Dia dibantu oleh dua temannya, Yadiel dan Lachlan. Sedangkan Castriel dan Aisla paling ahli mengalihkan perhatian. Walaupun ada kecemasan dicabut menjadi warga dalam dinding, tapi kelima orang ini lebih tertarik pada tawaran pemimpin distrik tambang batuan terkaya di luar dinding. Ya, apapun demi bahan pembuat baterai robot yang harganya makin meroket. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD