32| Scientist I Goodbye, Love

1422 Words
Laboratorium pusat berada di distrik 01. Bangunannya terdiri dari empat lantai, sangat besar, luas, beratap datar, seperti kubus. Terdapat sebuah papan yang bertuliskan Neo-project Laboratory terpampang di tembok depan. Semua orang yang masuk haruslah memakai jas laboratorium, hanya saja semua warnanya hitam, termasuk yang dipakai oleh Firio. Sementara itu, di samping bangunan itu berdiri sebuah manor yang tingginya hampir menyentuh awan, sangat megah, arsitekturnya mirip gereja. Ada sebuah jam raksasa berangka romawi menyatu dengan bangunan itu, ya—tepat di tembok atas pintu ganda. Banyak orang bermantel abu-abu yang keluar masuk dari manor tersebut. Bahkan ada beberapa pria berpakaian seragam Neo-Arm berjaga di depan pintu. Banyak sekali teknologi yang terpasang disana, bahkan ada CENSERICproject khusus yang melingkupi area tempat itu. Siapapun yang melewatinya haruslah sudah terdaftar. Jika ada orang asing nekat melewati penjagaan laser tersebut, maka akibatnya pasti langsung terkapar di atas tanah. Sebagian orang memperhatikan sosok Theresa. Rambut merahnya yang menyala di suasana mendung sore ini sungguh menarik perhatian. Hampir tidak ada ras manusia tersisa yang punya warna rambut semerah itu. Ya, kebanyakan orang yang ada disana, baik wanita atau pria, berambut pirang tua, pisang terang, pirang asli, coklat muda, coklat tua, dan merah jahe, tak ada yang merah terang seperti Theresa. Theresa tak begitu mempedulikan tatapan mereka, melainkan manor itu. "Firio, tempat apa itu? seperti kediaman bangsawan kelas atas. Atapnya terlalu tinggi, kalau gempa—tidak apa-apa ya?" "Neo Manor, kalau mau bunuh diri, coba lewati sensor pendeteksi tamunya." Firio mengajaknya menuju ke pintu laboratorium bernomor 06. Neo-project Laboratory memiliki deretan pintu yang menjadi jalur masuk bagi setiap ilmuan yang bekerja di sana. Tiap pintu bertuliskan angka. Firio menunjukkan punggung tangan di sensor pengenal yang ada di bawah angka tersebut. sebuah sensor berbentuk kotak persegi yang menyala warna merah. Sensor pengenal berubah menjadi biru. "Selamat datang, Tuan Porfirio Wolfman," ucap suara dari sensor pendeteksi itu. Hampir seluruh suara buatan di pemerintahan Neo memakai suara seorang wanita. Pintu terbuka, dan mereka pun masuk. Terlihat lorong panjang dengan banyak sekali pintu di kanan-kirinya. Bagi Theresa, tempat mirip dengan rumah sakit. Hanya saja keamanan disini sangat ketat, setiap pintu memiliki sensor pengenal. Saat mereka datang, tempat ini masih cukup sepi, hanya ada seorang ilmuan yang sedang memperlihatkan punggung tangan ke salah satu pintu. Ilmuan itu tampak ditemani oleh rubah berbulu merah. "Serge?" panggil Theresa. Serge menoleh. "Hai, tetangga." Theresa melirik rubah yang melingkari kaki Serge. Dia tak tahu kalau binatang peliharaan boleh masuk tempat ini. "Apa kabar?" Sensor pengenal di pintu yang dituju Serge berubah warna menjadi biru. Akan tetapi pria ini kelihatan masih ingin mengobrol dengan Theresa. Sorot matanya yang ramah terlihat tertarik karena penampilan wanita itu jauh lebih cantik dengan mantel baru. "Baik, bagaimana denganmu?" tanyanya balik. "Baik juga, aku tak tahu di sini boleh membawa binatang." "Boleh, Tauren ini sangat aman dan sehat." Firio mendehem tak suka. Ia menempelkan punggung tangan di sensor pengenal pintu sebelah Serge. Setelah terbuka, ia menyeret Theresa masuk sebelum obrolan mereka makin lama. Ruangan yang mereka datangi cukup luas, banyak tabung-tabung aneh yang berbahan semacam metal sehingga tak diketahui bagian dalamnya. Bukan hanya itu, banyak sekali kotak-kota kubus berbagai ukuran di pojok ruangan. Benda itu cukup unik sekaligus futuristik, lapisannya berasal dari batuan Micah, batuan yang berwarna biru gelap. Batuan tersebut sudah umum digunakan untuk membungkus materi pembuatan baterai robot atau semacamnya. Selain itu ada sebuah pintu besi yang terlapisi batuan Micah yang ada di tengah ruangan. Ya, hanya sebuah pintu yang dibiarkan berdiri sendiri di sana. Ada banyak sekali tombol yang terlihat pada keempat sisi pintu. Bagi Theresa, pinggiran pintu itu seperti keyboard komputer. Seseorang muncul dari balik pintu itu. "Theresa?" panggilnya. Theresa heran melihat Firio dari semestanya ada di sini dalam kondisi tangan terikat borgol hitam. "Ivan!" Ivan berlari ke arahnya, hendak menyandarkan diri pada d**a wanita yang dia cintai itu. "Aku merindukanmu, akhirnya kau pasti mau pulang denganku." Firio membawa Theresa menyingkir. "Enyahlah, Kadal, jangan coba-coba menyentuh Theresa-ku." Ivan melototinya. "Lihat dia, Theresa, bagaimana bisa kau tahan bersama orang itu?" Dia membuang muka sambil menggerutu dengan diri sendiri. "s**l—aku mengejek diri sendiri." "Kenapa hanya kau yang ada di sini, mana divisi yang menangani LYNXproject yang biasanya?" tanya Firio mulai serius. "Kau harusnya di ruangan khusus, bukan di lab-ku." "Mana kutahu, aku hanya disuruh menunggu di sini, sudah hampir sejam, dengan tangan terpasang benda s****n ini, dan kenapa kau membawa Theresa kemari? Sudah menyerah dan memberikannya padaku? Berikan dan kami akan pulang." "Baterai buatanku 90% sudah selesai, dan akurasinya sudah cukup untuk mengembalikan Theresa ke tahun yang sama dengan kepergiannya, dan jangan berpikir aku akan membiarkanmu bersamanya sekalipun aku mengantarkannya pulang." Theresa ikut berkomentar, "Firio, kukira kita di sini untuk diskusi rencanamu? Kenapa kau tidak bilang kalau hampir selesai projeknya?" Ivan yang menjawab, "tidak perlu menunggu, Theresa, aku punya mesin waktu yang masih disita oleh pemerintahan barbar ini. Dengan itu, kita bisa pulang—bersama." "Dia bicara denganku!" bentak Firio melototinya. "Namaku Firio juga!" bentak Ivan. Theresa menjauhkan tubuh mereka. "Hei, ini bukan saat menyembahku, aku tahu aku cantik—tapi tolonglah, ini serius! Aku merasa ada yang aneh di sini—" Dia memperhatikan bangunan sekitarnya yang dipenuhi kamera pengintai. "Ini perasaanku atau kita bertiga seperti digiring masuk kemari?" "Ini memang lab milikku, khusus untuk membahas proyek LYNX—" Firio mendekati pintu aneh tadi, lalu menekan beberapa tombol pada keyboard perintah di pinggir pintu sebelah kanan. Setelah itu, lampu pada gagangnya menyala warna biru. "Sudah nyala. Kita tunggu beberapa menit." "Ini yang kamu maksud mesin waktu? Pintu seperti di kartun Monster Inc.?" "Ingat benda seperti laba-laba yang kita temukan di reruntuhan toko elektronik?" "Ya." "Karena tidak ada baterainya, aku mengakali benda itu menjadi begini, aku merombak—dan merancangnya ulang, pintu inilah bagian dalam benda itu. ini tanpa baterai LYNX original, tapi aku menggunakan baterai prototip buatanku sendiri, akurasinya 90%." Firio menyentuh pintu dengan bangga. "Aku memang jenius." "Ya, ya, ya." "Agenda kami sebenarnya adalah percobaan, tapi gara-gara kedatangan aku yang s****n itu, semua gagal total, dan rencanaku adalah—kau lihat sendiri, Theresa, aku membuatkan benda ini untukmu, tapi waktu jedanya sangat sedikit, agak meragukan." "Kenapa Theresa-ku harus melewati bahaya dengan prototip payah milikmu, sedangkan ada yang memiliki mesin waktu di sini?" sindir Ivan membusungkan d**a, "ya—aku, dirimu yang sialan." "Sudah kubilang, pulang saja sendiri—dan cari Theresa dari semesta lain!" "Dia itu adalah Theresa di lintasan semestaku, s****n. Kau yang tidak tahu diri!" Ivan risih melihat dirinya yang lain itu. "Lihatlah dirimu! Kau tidak pernah berpikir untuk potong rambut ya? Kapan terakhir kau menyisirnya? Dan gigimu, kau ini vampire? Aku tak tahu era ini ada vampire—kenapa aku jadi vampire?" "Aku serigala." "Sejenis kucing?" Theresa berbalik badan untuk menyembunyikan wajahnya yang menahan tawa. Wajah Firio memerah padam akibat amarah. "Aku tidak mau mendengar omelan dari wajah kaum pecundang sepertimu." Dia menuding gigi taringnya yang jauh lebih menonjol ketimbang manusia lain. "Semua rasku punya gigi seperti ini, kami memang dari distrik buas!" "Aku sangat mengkhawatirkan kondisi psikologis Theresa." Firio menyeret pinggang Theresa agar dekat dengannya. "Aku tidak peduli, Theresa ini sudah menikah denganku." Kedua Porfirio itu saling mengaitkan pandangan penuh kilat kemarahan. Kalau saja tangan Ivan tak terborgol, dia sangat ingin meninju wajah Firio, begitu pula sebaliknya. Theresa melihat mereka bergantian. "Astaga, kalian mirip sekali—dalam artian buruk, maksudku." Tanpa sengaja dia menertawai mereka. "Jangan sampai ada Firio lagi." Pintu terbuka, dan tepuk tangan pelan terdengar. Mereka bertiga menoleh bersamaan. "Serge?" panggil Theresa bingung. Dia melihat Tauren masih berjalan di dekat kaki tetangganya itu. "Bukankah kau tadi masuk ke lab sebelah?" Serge mengeluarkan sebuah pistol kecil dari balik jas laboratoriumnya. "Kau berbohong pada kami, Tuan Wolfman, dia Theresa dari semesta lain, bukan? Harusnya dia menjadi kewajiban kami untuk mengintrogasinya." Theresa panik. "Itu—itu pistol'kan?" "Sebentar," kata Firio mendorongnya ke balik punggung. Dia berbisik pada wanita itu, "sudah kuduga ini akan terjadi cepat atau lambat. Bersiap-siaplah." Pintu tepat di belakang mereka, jaraknya hanya selangkah. Firio sontak berbalik, lalu menyambar tangan Theresa, serta membuka pintu itu. Bagian dalamnya tidaklah jelas karena hanya kegelapan. Tanpa ragu sedikit pun, dia mendorong sang istri masuk. "Selamat tinggal!" Theresa syok begitu terjungkal hingga jatuh ke lantai hangat. Ketika ia ingin berdiri, Firio mulai menutup pintu. Satu-satunya penglihatan yang terakhir dia lihat adalah Serge menembakkan pistol. Lalu hanya kegelapan yang terlihat selama lima detik, tubuhnya seperti ditarik ke belakang, hingga cahaya menyilaukan mulai mendatanginya. Matanya perlahan-lahan mulai menyadari sedang berdiri dimana. Tepat di depan pintu kamar mandi. Di kamar. Sendirian. Deru kendaraan di luar rumah mulai terdengar. Sebuah pagi yang cerah di Cedar City. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD