"Firio, kau yakin perutmu tidak sakit?" tanya Theresa khawatir melihat Firio yang duduk di sebelahnya sedang makan crepes pisang. Ia sempat syok karena makanan semacam ini masa ada di masa depan, hanya saja rasanya lebih gurih dan pisangnya pun terasa begitu lembut.
"Pada dasarnya aku ini pemakan segala, bukan karnivora." Firio masih memandangi danau tepat di depan mereka. Taman dekat distrik 09, tempat tinggal mereka, ini terlihat begitu indah dan sunyi. Tak banyak orang yang ada disini, terutama saat air di danau itu masih sebagian menjadi kristal es.
Theresa lebih menikmati meledek Firio ketimbang memakan crepes. Dia menyeringai, lalu menyindir, "aku yakin sekali ingat kalau kau bilang 'Tomat, aku ini hanya makan daging'."
"Bisakah kita berdamai untuk beberapa jam saja, bukan pisang, tapi ocehanmu yang membuat perutku sakit," ucap Firio terdengar malas. Dia menghirup udara siang hari ini yang masih saja dingin, ya—sinar matahari belum mampu menembus tebalnya awan. "Hari ini mendung, seperti hatiku."
Untuk sesaat, Theresa nyaris memukul kepalanya sendiri setelah mendengar itu. Dia yakin kiamat memang akan datang sebentar lagi. Sejak kapan pria serigala tanpa hati itu membahas masalah hati? Mana terdengar seperti puisi.
Firio meliriknya cepat. "Apa?" Dia bisa membaca jalan pikiran wanita itu hanya dengan sekali lihat. "Aku ini manusia, aku bisa bersedih."
"Kenapa? Maksudku—kau terdengar sentimen sekali, yakin kepalamu tadi belum dipukul Ivan?"
"Kau menyebut nama orang s****n itu dan membuatku makin muak, dan sialnya lagi itu namaku. s**l. Bagaimana bisa dia bersikap seperti kau ini wanita satu-satunya di bumi? Kenapa tidak pulang saja dan menikahi anjingnya!" Firio mulai marah-marah dengan dirinya sendiri. Dia sampai meremas sisa crepes di tangan, lalu membuangnya sembarangan. "Aku akan membunuhnya kalau dia masih bersikap begitu nanti."
"Kau sudah gila ya? membunuh diri sendiri? Sekalipun aku punya kembaran di semesta lain yang jadi memalukan, aku takkan membunuhnya."
"Theresa, dia menganggapmu wanita satu-satunya di bumi, dan takkan berhenti sebelum berhasil menculikmu dariku!" Firio mencengkra kedua lengan Theresa, melototi wanita itu seperti kesetanan, "dia orang gila—hanya orang gila yang menginginkan wanita sampai seperti kesetanan."
Theresa mendehem, mempertahankan diri untuk tidak menertawai ucapan setan Firio. "Kau yang kesetanan, dan dia itu kau, jadi tolong jangan menghinanya terus—kau mendeskripsikan dirimu sendiri."
"Aku tidak mirip dengannya!"
"Mirip sekali."
"Tidak!"
"Aku sangat tersanjung dengan sikap kalian— aku seperti putri yang diperebutkan para pangeran." Theresa menyingkirkan tangan Firio dari lengannya, lalu mendongak dengan senyuman lebar. Entah mengapa mengobrol dengan Firio bisa membuatnya lepas untuk menghina, bercanda atau percaya diri tinggi. "Berasa sangat cantik—kalau nanti pulang, aku akan melamar jadi model."
Firio menyundul pelan kepala wanita itu. Dia baru sadar kalau jenis Theresa yang satu ini memiliki kepribadian unik. Biasanya reaksi yang dia tunjukkan adalah membalas itu dengan ejekan, tapi kali ini dia memuji, "kau memang cantik."
Theresa terdiam mendengarnya. Tak bisa berkata-kata, hanya bisa menatap wajah pria itu. Tanpa ia sadari, senyuman mengembang dari bibir. Cinta sudah tak bisa dihindari. Sekalipun dia bertahan dengan membayangkan aksi Firio yang sempat ingin membunuhnya, tapi kini—semua berubah, pria ini memiliki hati yang tulus.
"Kenapa?" Firip mengerutkan dahi. "Berubah jadi batu?"
"Menurutmu apa cinta itu takdir?"
"Takdir?"
"Kau tadi bilang pada Ivan, kalau Porfirio pertama yang bertemu dengan Theresa pasti jatuh cinta? Jadi apa selalu begini? Maksudku—teori multisemesta."
Firio memandangnya dalam. "Aku tidak tahu, aku tidak peduli, karena sudah kubilang, Theresa dulu—maksudku istriku, dia tidak mencintaiku. Jadi aku hanya mengarang saja tadi. Cinta itu'kan perasaan, jangan melibatkan hal ilmiah."
"Wah~" Theresa menunduk sesaat, tak percaya Firio membahas perasaan. "Aku jadi iri dengan istrimu."
"Kenapa?"
"Kau sangat mencintainya—dan jangan bohong, Firio, saat pertama kali kita bertemu, kau sebenarnya masih ragu ingin membunuhku—kalau kulihat caramu melawan Castriel dan lainnya dan saat kau mengejarku itu tidak sama. Kau mengasihaniku saat itu."
"Sudah kubilang'kan aku mencintaimu."
"Mencintainya."
"Theresa—" Firio menggenggam tangan Theresa.
Mereka bertukar pandangan lama.
Firio kembali berkata, "kau istriku, dan jujur saja sekarang aku mencintaimu—hanya dirimu, kau, Tomat Sialan."
Theresa mendehem, lalu meralat lagi, "mencintainya."
Firio menahan amarah saat bertanya, "kau tidak bisa membedakan cinta dan benci ya? menurutmu mataku ini mengatakan apa padamu?"
"Matamu jahat, sama seperti Kye dan Kade. Kalian seperti singa kelaparan yang sedang melihat rusa gemuk!"
"Aku sungguh mencintaimu," bisik Firio sembari mendekapnya tiba-tiba, dia mengelus bagian punggung Theresa. "Aku tidak mau kau hidup dengan pria lain selain aku, sekalipun dia adalah aku dari semesta lain—aku tidak rela, Theresa."
Theresa tersadar, ungkapan itu memang jujur. Ia menyandarkan kepala di pundak pria itu, merasakan kehangatan yang tak pernah dia rasakan selama ini. Ada seseorang yang benar-benar tulus mencintainya.
"Tapi aku bukan duplikat terbaik dari istri terdahulumu, Firio, seandainya aku punya wajah berbeda, aku yakin kau pasti akan tak peduli denganku," katanya sedih. Untuk sesaat dia seolah terjebak dalam bayangan-bayangan dimana Firio suatu hari nanti akan pergi. "Atau jika nanti ada Theresa lain yang datang padamu, dan dia lebih baik dariku, lebih cerdas, lebih menyenangkan, aku yakin kau akan dengan mudah melepaskanku."
"Maaf, kuakui aku memang tertarik karena wajahmu, tapi aku mencintai dirimu— aku tidak peduli kau percaya atau tidak, intinya aku hanya bisa mencintai satu orang, itu insting—dan jika aku mengaku jatuh cinta padamu, artinya sudah lama aku tak lagi mencintai Theresa yang dulu."
"Benarkah?"
"Ya."
"Ini bukan trik tipuan, bukan? Kau suka mengerjaiku."
Firio mengecup kening Theresa, menghirup aroma wangi lavender dari rambutnya. "Itu masalah lain, aku sungguh jujur kali ini. Aku mencintaimu, Sayang."
"Ah, masa~" Theresa menahan tawa.
"Kita sama-sama dewasa, jadi tak perlu lagi menyembunyikan ini lagi—kita memang dari awal sama-sama tertarik, tak usah sombong kau ini."
Theresa memaksa Firio melepaskan dekapannya.
Mereka kembali saling bertaut pandangan, kali ini, sorot mata mereka terlihat lembut karena dipenuhi cinta. Bukan hanya itu, keduanya sama-sama tersenyum karena lega telah mengatakan segalanya.
"Jadi, kau pasti punya alasan mengajakku bicara serius, bukan?" tanya Theresa memandangi sekelilingnya yang hanya ada pepohonan dengan sedikit timbunan salju. "Di tempat seperti ini, bukan di rumah."
"Setelah kedatangan Ivan, aku yang lain itu, aku merasa tertekan, Theresa, jangan salah—aku tidak bermaksud menyembunyikan ini, aku membawamu kemari bukan untuk kuserahkan padanya, aku ingin kau hangat di dalam dinding."
"Aku tahu, tapi Firio—dia punya alat untukku kembali."
"Kau sungguh ingin kembali?"
"Apa maksudmu? Tentu saja."
"Setelah pernyataan cintaku yang menguras energiku barusan?"
"Eh—iya, aku kira kau ikut denganku. Bukankah tadi waktu berdebat dengan Ivan, kau bilang—aku hanya boleh kemanapun denganmu?"
"Jujur, aku tidak mau kau kembali dengan Ivan, itu saja, aku belum bisa meninggalkan tempat ini, Theresa, aku meninggalkan orang-orang distrikku, aku kemari karena aku mencintaimu—dan berharap kau aman sementara, aku juga punya kewajiban, aku punya saudara—aku tidak bisa pergi meninggalkan mereka begitu saja."
Theresa tak dapat berkata-kata, ia merasa dihantam oleh kenyataan pahit. Padahal barusan dia merasa hatinya ditumbuhi ribuan bunga, tapi sekarang layu pelan-pelan. "Kau bercanda'kan? Apa gunanya aku kembali sendirian? Ivan bisa saja menyusulku—dan kau meninggalkanku. Apa gunanya ucapan cinta barusan itu? dan kau selalu bilang aku ini egois? Sekarang katakan—siapa yang egois di sini?"
"Kau ini bisa memahami ucapan orang tidak?" Firio sebal dengan omelan barusan. "Aku bilang 'tidak bisa pergi meninggalkan mereka begitu saja', bukan berarti aku tidak ingin hidup denganmu—di era manapun, aku ingin denganmu."
"Oh."
"Oh?"
"Oooh ..."
"Tomat, nanti aku akan mengajakmu ke laboratorium, dan membicarakan rencanaku di sana, kau percaya padaku'kan? kita tuntaskan sekalian, dan menyingkirkan aku yang lain itu,"
"Tentu." Theresa tersenyum senang memandang Firio. "Aku tidak menyangka ini."
"Kenapa?"
"Kukira kau akan meninggalkanku."
Firio menyeringai. "Heh, apa ini?" Dia mencolek dagu Theresa dengan gemas. "Aku tak tahu kau cinta sekali padaku? Bagaimana, sudah mau b******a denganku?"
Theresa menepis tangan itu dengan muka masam. "Singkirkan tanganmu."
***