Distrik 05 merupakan pusat berbelanjaan paling mewah di dalam dinding, lokasinya pun dekat dengan pusat pemerintahan. Hanya mereka yang mendapat gelar bangsawan baru yang akan menginjakkan kaki di sini. Tempat ini memiliki penjagaan dan keamanan setingkat kediaman dari Neo. Karena itulah setiap pengunjung yang masuk akan terdata otomatis, dan hanya lima ratus orang yang diperbolehkan masuk dalam kurun waktu dua jam.
Beberapa sudut jalan, g**g-g**g sempit dan atap bangunan masih tertimbun salju.
Walau sudah siang, tapi udara masih dingin, matahari masih tersembunyi di balik awan tebal. Theresa benar-benar tak bisa akur dengan cuaca aneh masa ini. Kadang terasa panasnya daerah khatulistiwa, kadang terlalu ekstrim musim dingin, rasanya seperti di gurun pasir.
Wanita ini masih mengamati gelang hitam yang menghitung mundur waktu. "Ngomong-ngomong konyol sekali tempat ini, berbelanja itu pakai waktu? Yang benar saja?"
"Tempat ini istimewa, adanya tenggat waktu itu berguna agar rekening tabunganmu tidak terkuras habis di sini, apalagi kau—aku yakin Theresa manapun pasti pengeruk uang."
"Semua wanita itu suka berbelanja, lagipula kau yang menawariku belanja, bukan keinginanku."
"Aku ini sangat memahamimu, kau menggerutu setiap malam karena baju Theresa sangat menyebalkan. Itu kode, bukan? Kalian memang sialan."
"Aku masih bersabar ini walau tadi kau menghinaku penari t*******g tadi."
"Itu fakta, aku juga, semua orang juga begitu—aku takkan terkejut kalau di semesta lain, ternyata aku seorang pangeran."
"Astaga Firio~" Theresa kesal mendengarnya. "Kau mengataiku penari t*******g, kau malah memuji dirimu sendiri pangeran?"
"Aku hanya berkata fakta." Firio tersenyum tipis. "Kau berasal dari bibit leluhur tidak jelas, sedangkan aku—dari dulu leluhurku adalah ilmuan yang punya peran besar di era masa depan, mungkin saja di semesta lain, setelah peperangan, keluarga Ruiz diangkat jadi anggota kerajaan, lalu aku terlahir sebagai pangeran."
"Hebat sekali khayalanmu~"
"Memang berbicara masalah hipotesis dengan manusia purba itu tidak akan pernah ada akhirnya."
Theresa cemberut, terkadang memang ucapan Firio tak mampu dia balas. Kalaupun dibalas, pasti dia mendapat tatapan murka. Tanpa disengaja, memori tentang Firio baik alias Ivan kembali ke kepalanya. Andai sifat Firio ini seperti Firio tadi.
Mereka memandangi gedung-gedung tinggi yang ada di samping kanan-kirinya. Semua dekorasi bangunan itu terlihat sama, cat tembok berwarna abu-abu gelap, sangat tidak menarik untuk dilihat. Gedung-gedung itu memamerkan dagangannya dari balik kaca tembus pandang. Gaun, perhiasan, bahkan sepatu, semua berwarna gelap, tapi cukup elegan.
Tidak banyak pengunjung terlihat di jalanan saat itu. Ada seekor rubah berbulu merah yang sangat dikenal Theresa tampak berlarian di salah satu gedung. Ya, Tauren, si rubah peliharaan sang tetangga tampan, Serge.
"Oh, iya, apa yang terjadi kalau waktunya habis dan kita masih disini?" tanya Theresa penasaran. "Kita akan diusir?"
Firio menjawab, "kita akan ditangkap atas tuduhan pelanggaran wilayah." Dia menuding ke gedung penjual baju-baju wanita. "Lihat itu, tomat, kurasa ini toko yang harus kita masuki pertama, kau butuh pakaian yang sesuai dengan keinginanmu."
Theresa masuk dalam sekejab.
Toko baju itu sangat luas, penuh rak baju yang sebenarnya tak menarik sama sekali, serta berlangit-langit tinggi dengan lampu gantung berhias permata putih. Tak hanya itu, di sini juga terdapat ruang ganti. Seluruh penjaga adalah pria awal dua puluh tahunan. Mereka semua berjas hitam lengkap dengan dasi layaknya pekerja kantoran
Ada lima pengunjung, termasuk Firio dan Theresa, di dalam toko..
Semua orang di sana mencuri pandang ke arah mereka. Ciri fisik orang dalam dinding dan luar dinding memang bisa diketahui hanya dalam sekali lihat, apalagi tampang Firio sudah pasti dikenali ke seluruh penjuru distrik.
Theresa menunduk ke rak gaun. "Firio, mereka memandangi kita."
"Mereka melihatku, aku sangat tampan dan buas, aku raja koloseum, bisa kau bayangkan? Aku mengalahkan para pemimpin distrik luar hanya dengan pisau."
"Kenapa kau sombong sekali?"
"Mencintai diri sendiri itu perlu."
"Terserah—aku akan mecoba gaun ini," ucap Theresa mengambil sebuah gaun coklat selutut tanpa tali bahu, lalu pergi masuk ke ruang ganti di sudut ruangan ini.
Firio malah pergi ke rak pakaian dalam wanita.
Selepas lima menit mengganti baju, Theresa muncul bak model. "Lihat ini, Serigala s****n, aku sangat cantik kalau pakai baju yang setidaknya pantas, bukan? Jangan samakan aku dengan istrimu yang dulu—Theresa Wilson yang ini punya aura cerah—secerah matahari pagi."
"Sekarang berawan, matahari tak kelihatan."
"Setidaknya lihatlah aku!"
"Biasa saja," respon Firio hanya melihat sekilas. Ia ingin memuji, tapi gengsi. Ketimbang memberikan pujian, dia malah membentangkan celana dalam tebal dengan tepian berbulu. Sambil menahan tawa, dia berkata, "lihat ini, kau pasti mengerikan saat memakai ini."
Theresa bergidik melihat celana aneh itu. "Ada apa dengan orang jaman sekarang? apa s**********n juga butuh penghangat. Menjijikan. Lagian kau ini—tidak sopan sekali!"
"Akan kubeli ini— cobalah pakai nanti malam, bukankah kita belum menikmati bulan madu ya?" Firio memasukkan benda itu ke keranjang. Bibirnya terus terangkat karena geli. "Aku akan melolong saat kau menggunakan ini."
"Tidak lucu, Sialan."
"Setelah memakainya, menari saja di depanku, kau ahli menggoda, bukan?"
"Tidak lucu!"
"Dan Theresa versi penari pun akan kulihat."
"Kurasa memang Firio di semestaku lebih baik ketimbang dirimu. Dia sopan, tidak bertingkah kasar—kosa katanya pun sangat santun."
"Tapi dia tidak bisa menyamaiku, dan kau—Tomat, kau mencintaiku, ingatlah siapa yang hampir mati di koloseum demi mengeluarkanmu."
"Sudahlah, aku tak mau membahas cinta denganmu, membuatku ingin buang air saja," gumam Theresa seraya memalingkan wajah. Ia masih mengira kalau semua godaan dan sisi baik Firio padanya dikarenakan dia adalah Theresa, istri yang dia cintai.
Firio merendahkan tubuh, lalu berbisik di telinganya, "jujur saja, aku memang suka kau dalam baju apapun—" Dia menggerayangi pinggang Theresa. "—tapi aku paling suka kalau kau tidak pakai baju."
"Singkirkan tanganmu—" Theresa melenggang pergi ke rak lain. "Aku harus mencoba pakaian lain, tidak masalah bukan membelikanku apapun yang kumau? Anggap saja kompensasi atas perlakuanmu dulu."
"Ya, jangan lupa pilihlah mantel, di jaman ini yang dibutuhkan hanyalah pakaian hangat, percuma kau memakai baju seksi kalau sedang musim dingin." Firio mengikutinya seraya membawa keranjang.
"Percuma?" Theresa meliuk-liukkan tubuh di hadapan sang suami. "Kurasa kau menikmati pemandanganku ini."
"Percuma memang—kita ada di luar rumah." Firio mengamati toko ini yang masih sepi. Seorang karyawan sempat memperhatikan tingkah mereka, tapi langsung berpaling saat bertatapan dengannya.
"Jadi cepatlah ganti baju sebelum para pria itu tertarik untuk mejilati lehermu," tambahnya tegas.
"Kau terus saja perhatian dengan tubuhku, aku harusnya juga berhak mengatur tubuhmu'kan?"
"Kau mau aku melakukan apa memangnya? Mengikis gigiku? Memotong rambutku agar seperti pecundang dari semestamu itu? Jangan harap."
Theresa mengamati rupa jahat Firio. "Entahlah, sepertinya kau diapa-apain juga pasti seperti penjahat, hah~ pangeran, pangeran copet. Sungguh, aku tak bisa membayangkan Firio dalam wujud pangeran."
"Aku ini bangsawan, kau ini penipu~" Firio meraih dagu Theresa, lalu meremasnya agak kasar. "Sekarang ganti baju, atau aku akan menyeretmu dan melucuti pakaianmu di ruang ganti sempit itu."
"Baiklah, Mowgli."
"Cepatlah agar kita bisa makan crepes pisang."
***