29| Scientist I Mine, Only Mine

1501 Words
Theresa mengamati kedua Firio yang duduk berhadapan di meja makan. Wajah kedua Firio memang layaknya kembar identik, tapi mereka punya karakter yang berbeda. Satunya bermata lembut, satunya bermata jahat. Namun kali ini, kelihatan sekali kalau tatapan mereka saling mengalirkan kebencian. "Kau membuatku di penjara." Firio dari semesta lain menunjukkan pergelangan tangan kanannya yang masih melingkar sebuah gelang peledak. Ya, sebuah alat yang khusus diperuntukkan untuk tahanan seperti, seperti halnya kalung yang pernah dikenakan oleh Theresa saat menjadi tawanan koloseum. Firio menyeringai. "Oh, ini memang bukan semestamu-kau beruntung aku tak membunuhmu saat kita bertemu pertama kali. Kau sebaiknya pulang, Kawan." Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu menarik kerah baju dirinya sendiri itu. Seringainya berubah menjadi senyum bringas. Ancaman pun mulai keluar dari bibir. "Hei, aku serius, jangan sampai aku melihatmu esok hari, kau pikir aku mengajak Theresa kemari untuk pulang denganmu? Hah? Dia akan pulang denganku, aku, hanya aku." "Kau pikir aku takut padamu?" "Jelas, kau gemetar." "Apa yang terjadi padamu? Aku tak percaya jadi seperti ini." Theresa ingin memisahkan mereka, tapi takut menyentuh. "Firio-hentikan." Kedua Firio kompak berkata, "dia duluan." Mereka saling memandang dengan sorot mata dingin kembali. Sama-sama keras kepala dan sama-sama tak suka didahului. "Maksudku Firio jahat," ralat Theresa sambil menarik lengan suaminya sampai ia melepaskan Firio lain. "Tenangkan dirimu, jangan jadi banteng begini." "Jahat? Aku jahat? Kau bilang apa, Tomat?" "Maaf, maksudku tampan-" Theresa menepuk pelan pundak pria itu layaknya menenangkan anjing. "Firio yang tampan, tenangkan diri sebentar, aku ingin tahu apa yang terjadi." Dia duduk di sebelah suaminya itu, lalu menatap Firio di seberang meja. "Firio kau-eh, aku harus memanggilmu apa?" "Baiklah, panggil aku Ivan." Firio yang lain itu tersenyum ramah. Theresa mengerutkan dahi. "Ivan?" "Oh, apa dia tidak mengatakan nama lengkapnya?" tanya Firio lain itu seraya melirik dirinya sendiri. "Nama lengkapku, Porfirio Ivan Willford Ruiz." "Wah, akhirnya aku tahu nama belakangmu, Firio," kata Theresa melirik suaminya yang makin masam, "kau benar-benar s****n, menikahiku dengan nama palsu." Dia hanya ingin menggoda Firio saja karena sejujurnya tak peduli. "Aku Theresa Ruiz berarti ya?" "Bisakah kita langsung saja membahas masalah semesta kita?" Firio mengalihkan pembicaraan. Dia melingkarkan tangan di pinggang Theresa, menariknya hingga mereka semakin dekat. "Ini Theresa-ku." Untuk membuktikan kepemilikannya, dia mengecup kening sang istri. Theresa masih belum terbiasa dengan perlakuan seperti ini. Dia menahan diri agar napasnya tetap teratur. Dalam hati, seribu u*****n untuk Firio mengalir deras. Pelukan ini lebih membuai ketimbang pelukan para model pria di masanya. Padahal dahulu dia menganggap mereka sangat seksi, naun sekarang-omong kosong. Makna seksi yang ia pahami kini hanyalah Porfirio. Tidak mungkin, tidak mungkin, tidak mungkin, pikirnya tak mau jatuh cinta. Ia mulai resah, mengapa walau ada dua Porfirio disini, tapi Firio yang memainkan jari di pinggangnya ini yang sanggup menawan hati? Ivan menghela napas panjang, tak mau percaya dan berharap keadaan masih bisa diperbaiki. Terlambat, ia sedih melihat Theresa miliknya sudah mencintai dirinya di semesta ini. "Tidak boleh, Theresa, kau harusnya mencintaiku. Aku sudah mencintaimu sebelum kita bertemu, kita harusnya mengacaukan waktu di lintasan semesta kita-lalu menikah. Aku semakin mencintaimu saat melihatmu saat badai salju kemarin itu, aku sangat menginginkanmu-sekarang." Theresa mengingat sikap berlebihan ini. Dia menoleh ke suaminya, ya-sifat mereka agak mirip. Ingatan saat berjumpa dengan Firio pertama kali pun terputar di kepalanya. Obsesi dan patah hati yang kemudian menjadi cinta mati. Firio semakin menggelitiki pinggang Theresa. "Cari saja Theresa yang lain, jangan terlalu berlebihan begitu. Ada jutaan Theresa- cari Theresa dari semesta lain-walaupun aku ragu mereka akan seperti Theresa-ku ini, ya-cari saja yang menjadi penari t*******g, mungkin, kau pasti suka." "Suka? Kenapa tak kau saja yang bersama Theresa penari t*******g? Berikan dia padaku." "Ini Theresa-ku, aku tak suka dengan Theresa yang banyak disentuh pria." "Sebentar kalian! Ini penghinaan!" Theresa keberatan. "Penari t*******g? Aku?" "Sayang, multi semesta itu ada jutaan, tak terhingga-" Firio menyeringai padanya. "Kau sangat c***l, bukan? Aku yakin ada dirimu yang lain menjadi penari t*******g atau simpanan hidung belang. Percayalah, ini bukan sindiran atau penghinaan, kita membahas masalah ilmiah." "Kalau kau bertemu Theresa yang itu, pasti kau akan suka, iya'kan?" "Apa urusanmu? Cemburu?" "Sial." "Oh, ayolah, aku sudah bilang'kan? Aku tak suka Theresa yang penipu, dan banyak disentuh pria. Sementara dirimu, Sayang, bersih dan aku hanya mencium bauku saja di badanmu." "Kau menyebutku c***l, bahasamu yang v****r disini, Sialan." Firio tertawa pelan, menatapnya dengan penuh cinta, lalu berkata "tapi, aku akan tetap mencintaimu, Theresa, kita sudah menikah, kaumku hanya setia pada satu pasangan-sampai mati." "Ngomong sama tembok saja, kau tidak ingat waktu itu hampir membunuhku?" "Kenapa masih dibahas terus? Kukira kita sudah berdamai?" Firio mencengkram dagu Theresa dengan jemari tangan kiri, lalu memalingkannya ke arahnya. "Damai'kan? Lagipula nanti akan kubelikan baju untukmu-kita bisa jalan-jalan dan mulai hidup baru." Aneh, Firio aneh, itulah yang ada di benak Theresa. Dia curiga sisi romantisme dadakan ini dikarenakan ada Ivan. Dia paham dan mengangguk-angguk. "Baiklah." "Aku tak percaya ini, aku tak tahu aku jadi seperti ini," kata Ivan agak muak dengan kedekatan mereka, "dengarkan aku, aku kemari bukan untuk melihat kemesraan palsu." Ia menatap Theresa serius. "Theresa, saat aku ke masa lalu, dan berhasil menemukan rumahmu, aku menyelidiki portal waktu di pintu kamar mandimu-dan berhasil menemukanmu di masa ini." "Jadi kau ini benar-benar dari semestaku?" "Iya, sebut saja semesta 199, kita ada di garis lintasan itu, mungkin di masamu ini masih belum diketahui, tapi lintasan semesta sudah di masaku, Theresa, dan kau ada lintasan 198, ini semesta orang barbar itu-" Ivan melirik Firio tajam, walaupun sedih melihat dirinya seperti ini, tapi dia agak iri dengan postur tubuh yang bagus miliknya. Ia mulai berpikir untuk lebih rajin berolahraga sepulang nanti. "Jadi artinya harusnya kita yang bertemu?" "Menurutku begitu." "Tapi karena aku ceroboh, dan masuk ke portal waktu yang menyala otomatis-lalu aku bertemu oleh Firio yang jahat, oh-begitu." "Apa katamu?" Firio melototinya lagi, tak terima dengan posisinya yang seolah tersingkir. Sungutnya mulai meninggi kembali, napasnya menjadi pendek, pertanda dia marah. Theresa tersenyum paksa, lalu membelai d**a sang suami. "Maksudku, Firio yang tampan, maaf-Firio, kalaupun aku bilang ini jahat, dalam artian baik kok." "Aku akan membantainya sekarang," kata Firio menepis tangan Theresa, lalu melihat Ivan, sudah siap untuk mengambil pisau di dapur. "Dan menyelesaikan urusan kita." "Aku tidak punya waktu untuk ini. Dia Theresa dari lintasan lain, dia harus kembali denganku." Ivan bersikeras. Di lintasan manapun, takdir para Porfirio memang akan semakin mencintai Theresa setelah melihatnya. "Aku bisa kembali?" Theresa kaget, "sekarang?" "Tentu saja, menurutmu untuk apa aku disini? Firio di sini tahu itu-tapi menghalangi langkahku, dan membuatku jadi tahanan, para ilmuan di sini sangat gila, mereka haus ilmu pengetahuan, tidak ada yang bisa menembus lintasan semesta selama ini." Theresa sama sekali tidak memahami teori itu, yang ada di kepalanya adalah dia bisa pulang. Pulang, setelah semua kekacauan di dunia mengerikan ini, dia bisa pulang. Pulang. Pulang. Pulang. Nonton bioskop, belanja di Mall, dapat menghubungi 911 kapanpun jika ada makhluk c***l yang menggodanya. Dengan wajah seumringah, ia berkata, "aku mau-" "Mau apa?" potong Firio bernada intimidasi. "Mau bertemu iblis? Sekarang?" Theresa spontan melanjutkan, "mau- di sini saja." Ivan berdiri, kemudian menggebrak meja. "Jangan memaksakan kehendakmu pada Theresa! Tega sekali kau-Theresa-mu sudah pergi meninggalkanmu! Jangan memiliki Theresa lain! Dia milikku!" "Milikmu? Ini takdir, Porfirio pertama yang bertemu Theresa ini adalah aku, artinya kami yang ditakdirkan," tegas Firio tersenyum penuh kemenangan. Pria ini berjalan mendekati meja dapur. "Kau pikir, aku membawa Theresa ke sini agar bisa kuberikan padamu? Yang benar saja- aku membawanya kemari demi dirinya yang lemah, takkan sanggup berada di luar dinding saat badai salju tiba." Suara tawa meledak dari bibirnya itu. "Aku mendapatkan Theresa yang kumau, yang cantik, menyenangkan, baik, aktif, dan kau mau mengambilnya?" Cantik, menyenangkan, baik, aktif. Pujian ini sangatlah tulus sampai membuat Theresa berpikir ulang tentang perasaan Firio padanya. Apakah cinta asli atau karena duplikat istrinya? Apakah Firio tidak ingin dia kembali pulang? Apa maunya? Ivan mengeluarkan sebuah pisau lipat kecil dari balik mantel tebal yang dia kenakan. "Baiklah, ayo kita lakukan di sini sebelum Neo-Arm memergokinya." Theresa mundur. Ia berusaha menasehati mereka. "Begini, Tuan Ruiz sekalian, k*******n tidak akan menghasilkan apapun kecuali luka." Kini kedua Firio sudah memegang pisau. Di lihat dari manapun, Firio semesta ini lebih kuat dan lihai. Tatapan matanya yang mulai menyipit itu tak bisa dianggap remeh. Selama ratusan tahun pasca peperangan sebagian manusia lain mengalami seleksi alam karena keadaan, membuat mereka berevolusi bak binatang liar, itulah sebutan untuk ras distrik 222. Sedangkan di semesta lain, Ivan hidup tentram. Theresa berlari ke depan rumah, meminta tolong pada para pengantar Ivan tadi. Petugas Neo-Arm hanya perlu menekan satu tombol di alat kecil seukuran saku kemeja. Lalu efeknya adalah gelang yang dipakai Ivan mengirimkan sinyal ke tubuhnya untuk pingsan. Ya-dia tumbang ke lantai dalam satu kedipan mata. Sebuah alat yang mirip dengan kelereng kejut yang pernah dilemparkan Firio ke tubuh Theresa. "Tuan Porfirio Wolfman, tolong melapor di pusat nanti malam," ucap seorang petugasnya yang menggotong tubuh Ivan keluar rumah. "Masalah ini serius, Tuan, dimohon kerjasamanya." "Ya, aku harus belanja dulu-" Firio masih kecewa tak bisa mengujamkan pisau di tangannya. Dia melirik sang istri yang malah tersenyum lega. "Iya'kan, Sayang?" Theresa berdebar-debar. "Oke." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD