Dua hari telah berlalu, Firio tak banyak bicara, begitu pula dengan Theresa. Mereka memang tidur sekamar dan seranjang, tapi tetap diam. Theresa tak ingin mengungkit masalah Firio lain karena takut dilirik jahat oleh suaminya itu.
Badai salju telah berangsur reda, salju tak lagi turun di pagi hari.
Cuaca ekstrim yang sangat membingungkan untuk Theresa. Era ini sangat tak cocok dengan dirinya. Harus segera pulang, itulah yang ia inginkan. Namun, apakah nanti dia akan berpisah dengan orang ini?
Orang yang pagi-pagi buta sudah mengobrol dengan serigala di ruang tamu.
Theresa menatapnya datar. Mana mungkin mereka bisa hidup tenang di eranya, dengan Firio yang jelashanya mau berkerumun dengan binatang buas. "Huh—"
"Kenapa kau mendesah?" tanya Firio dengan nada tak suka.
"Ah, tidak apa-apa." Theresa baru sadar kalau pria itu hanya memakai celana pendek setengah paha. Warna celana itu hitam sehingga kontras dengan kulit paha yang seputih s**u. Baru kali ini dia melihatnya nyaris t*******g.
Selama ini dia terbiasa melihat tubuh petenis pria yang selalu memamerkan paha berotot mereka, harusnya tidak terpengaruh. Akan tetapi lagi-lagi kalau tampangnya Firio, ia tak sanggup tenang. Aliran darahnya berdesir cepat, secepat degup jantungnya, ia benar-benar sudah terjerat. Dia bertanya-tanya, apakah cinta bisa membuat matanya seperti melihat kilau di otot paha Firio?
Firio berdiri di antara Kye dan Kade. Sambil menyeringai, dia bertanya, "kenapa kau? Menikmati pemandangan pantatku yang seksi?"
"Aku tidak sudi melihatnya," balas Theresa memutar mata, "kenapa kau makin suka t*******g?"
"Aku tak suka t*******g, kau yang suka aku telanjang."
"Wah, makin lama—kau makin luar biasa menyebalkan."
Firio mendekatinya selangkah demi selangkah. Bentuk tubuhnya yang bagus berkat seumur hidup berada di lingkungan liar, julukan seorang Alpha tetap melekat padanya sekalipun kini terpaksa meninggalkan kawanannya.
Theresa membatu, tidak bisa bergerak. Tatapannya mengarah ke potongan tato yang ada di paha samping kanan Firio. Ia tak menyangka di jaman ini ada yang namanya seni menggambar tubuh. Bentuknya tidak jelas karena sebagian oleh celananya. "Tato?
"Oh, benar, kau belum tahu—" Firio berhenti tepat di hadapannya, dia mengibaskan tangan ke belakang, isyarat agar kedua saudaranya pergi.
Setelah menggerutu, Kye dan Kade pergi. Di kepala mereka masih terdapat bandana nama dari Theresa.
Firio menaikkan celananya, memperlihatkan sebuah tato indah, kecil yang berbunyi:
Theresa
"Dulu aku membuat tato ini saat mengunjungi masa lalu. Ini bukti tubuhku hanya milikmu," bisiknya sembari mencengkram belakang kepala Theresa. "Begitu pula dengan dirimu. Kita saling memiliki, tidak ada orang lain."
Theresa menatap mata Firio. "Kedengarannya seram sekali. Kurasa tingkatan posesifmu berkembang menjadi gila."
"Ini karena aku sangat mencintaimu, apapun kulakukan untukmu, kau mau itu—aku berikan itu, kau mau ini—aku berikan ini, tapi lihatlah perbuatanmu padaku, kau menipuku, lalu meninggalkanku sendirian," ucap Firio mendekatkan jarak di antara mereka. "Kau memang rubah wanita s****n—bukankah harusnya kau membayar perbuatanmu padaku?"
"Firio, kepalamu pasti rusak karena tidak berkumpul dengan serigala terlalu lama," ucap Theresa menelan ludah, berusaha mejauhkan wajahnya dari pria itu. Dia tegang sekali karena hembusan napas mereka saling menghangatkan. Ingatan tentang ciuman pun kembali hadir.
"Entah mengapa, rasanya aku sedang ingin menuntut pembayarannya sekarang," goda Firio yang sekuat tenaga menahan tawa. Beberapa hari belakangan, dia senang sekali mengerjai Theresa. Saat melihat wanita itu tegang setengah mati, ada kepuasan tersendiri.
Theresa bergidik, sangat mudah dipengaruhi. Dia mulai panas dingin, tak karuh-karuhan. Pemikiran kotor bertebaran di seluru sel otaknya. "Aku bukan Theresa-mu, jangan menuntut apapun padaku."
Firio merayunya dengan mengecup cuping telinga kanan Theresa. "Tapi kau juga menyukaiku, jadi kurasa tidak masalah, bukan? Ayo kita kembali ke ranjang, dan menikmati pagi hari yang lebih hangat."
"Aku tidak mau dinodai serigala jarang mandi sepertimu." Theresa mendorongnya sebisa mungkin. "Aku tak mau, tidur berdua dengan gigolo sepertimu saja membuatku was-was setengah mati."
Firio langsung menyundul kening Theresa, tidak terlalu kasar, malahan penuh cinta. Sambil tersenyum, dia mengejek, "Aku hanya bercanda, jangan samakan aku denganmu, Mesum." Dia meregangkan otot bahunya, lalu berjalan ke belakang. "Ayo sarapan."
"Oh, barusan kau mengerjaiku lagi?"
"Ya, tapi kalau kau mau, ayo kita lakukan," ucap Firio berhenti berjalan, lalu menoleh sambil memegangi karet celana pendeknya, "sekarang? aku selalu siap—jujur saja, setiap melihatmu, aku memang selalu ingin bercinta."
Theresa buru-buru membuang muka. "Kalau kau berani menyentuhku, aku akan pulang ke rumah Aisla, aku serius kali ini, tidak main-main. Aku di sini untuk menunggu mesin waktu selesai dibuat dan pulang, bukan b******a dengan serigala."
Firio tertawa pelan. "Kau sangat mudah digoda." Suara tawanya sirna begitu mencium aroma tidak asing di luar rumah. Penciumannya menjadi tidak terlalu tajam karena udara dingin. Semakin dingin, hidungnya malah semakin meradang.
"Ada apa?" tanya Theresa bingung. "Kenapa kau tegang?"
Pintu diketuk seseorang.
Firio bingung sekaligus marah. Dia menyuruh Theresa tetap di sini. Ia membuka pintu depan dengan niat membunuh membara. Sisi buas dala dirinya perlahan bangkit. Dia tak menunjukkan sisi itu di saat berada di dalam dinding yang "beradab" ini. Terakhir sisi lainnya itu muncul saat melihat Theresa setelah setengah tahun menghilang.
Tidak ada yang boleh merebut atau mengambil apa yang sudha jadi miliknya, tapi kini semua itu terancam karena orang yang ada di depan pintu merupakan dirinya sendiri.
"Kau—" Firio muak melihat dirinya yang berpenampilan rapi, dengan wajah cerah nan lembut seperti bangsawan, serta rambut tak acak seperti rambut Medusa sepertinya.
Firio yang lain itu tersenyum penuh kemenangan. Dia datang didampingi oleh dua petugas Neo-Arm. "Aku sudah membereskan kekeliruan kemarin, dan kau tahu tak bisa mengelak dari masalah ini, Porfirio 198."
"Aku ingin bicara sebentar," kata Firio menarik dirinya itu masuk ke dalam rumah, lalu berpesan pada petugas itu, "hanya berunding sebentar."
Petugas itu mengangguk.
Kedua Firio itu masuk.
Pintu pun dikunci rapat.
Rumah ini kedap suara, jadi apapun pertikaian yang terjadi harusnya tak akan terdengar dari luar. Niat membunuh Firio menjadi tinggi, tapi dia tidak sebodoh itu. Tujuannya ke dalam dinding akan sirna kalau melakukan kejahatan di dalam sini.
"Aku tahu tujuanmu, tapi ini Theresa-ku sekarang," kata Firio mendorong tubuh dirinya sendiri yang jauh lebih kurus darinya. "Theresa-ku adalah urusanku."
"Dia adalah Theresa di semesta 199, itu semestaku, aku yang harusnya bertemu dengannya—dia milikku." Firio yang lain itu mengeluarkan sebuah potret tua yang sudah menguning. Foto itu menunjukkan Theresa memakai gaun pengantin dan Firio memakai tuksedo putih. Mereka ada di bawah terowongan bunga mawar putih yang romantis, "Ini adalah foto yang kutemukan di basement rumahku, dan aku penasaran dan kembali ke masa lalu, kukira ini kakek moyangku, tapi dia adalah aku—aku harusnya menikahi Theresa. Aku kesini untuk membawanya kembali ke waktunya, kau tak perlu bersusah payah lagi, bukan? Atau kau dari awal, tak ada niatan mengembalikannya?"
"Dia sudah kunikahi," kata Firio dengan suara dingin, "kenapa kau tidak mencari Theresa lain di semesta lain, cari saja lainnya." Matanya mulai menajam, tubuhnya mulai panas. Dia tak bisa membayangkan jika apa yang dimilikinya akan lenyap lagi. "Jika kau berani menyentuhnya, aku bersumpah akan membunuhmu."
"Apa yang terjadi padamu? Kita tidak bisa saling membunuh." Firio yang lain itu mengerutkan dahi, tak percaya melihat dirinya sendiri berubah menjadi seperti ini. Dia memperhatikan fisiknya yang snaat berubah. "Aku pernah mengunjungi diriku di semesta lain, dia juga tinggal di dunia pasca peperangan, tapi kurasa tak segila dirimu. Theresa-mu bukan ini."
Theresa sebenarnya sudah berdiri di sekitar mereka. Hanya saja karena terlalu syok, dia sapai tidak bersuara sedikitpun. Suara napasnya saja sangat tidak teratur. Ada dua Firio. Ini baru neraka.
Kedua Firio itu menoleh ke arahnya.
"Theresa, kita bertemu lagi, ayo pulang— denganku," kata Firio yang lain itu.
Theresa jelas mengenali mana suaminya, mana pria aneh yang waktu itu mengintipnya. "Apa yang terjadi sebenarnya? Pulang?"
Niat membunuh Firio makin tinggi, dia tidak rela Theresa melihat dirinya yang lain dan terlena. Dia mengepalkan tangan, bersiap untuk mengajarnya.
"Firio—aku tahu apa yang kau pikirkan," kata Theresa takut melihat wajah suaminya yang mulai gelap, matanya menjadi dingin seperti binatang di hutan. Dia buru-buru menarik lengan pria itu, lalu mengajaknya menjauh dari Firio lain itu.
Firio yang lain itu menampakkan wajah menantang. "Aku tidak takut, aku memang berasal dari era beradab, tapi kemapuan fisikku juga lumayan."
"Kalian berdua, mari kita sarapan dan mengobrol dengan kepala dingin," pinta Theresa terus menarik Firio ke arah dapur. "Ayo ikut kami ke dalam, dan jelaskan ada apa."
"Hmm—" Firio yang lain itu memperhatikan mereka berdua, aura kecemburuannya tampak, tapi bisa mengendalikannya. Kalau tidak bisa dengan cara baik-baik, dia berencana melakukannya dengan cara paksa.
Theresa memaksa agar kepala Firio tak menoleh ke belakang. Dia berbisik, "apa kau berubah jadi kerbau? Sungutmu seperti keluar. Santai dong. Kenapa kau membencinya?"
"Dia mau membawamu, tentu saja aku membencinya."
Theresa menyeringai. "Wah, aku punya dua suami, rasanya seperti berada di surga."
Firio membisikkan ancaman, "aku tidak bercanda, berani membayangkan surga dengan pria lain, aku akan jadi iblis nanti malam." Dia serius dan terlihat benar-benar tak suka dengan guyonan barusan. "Paham?"
"Ah, ah—suamiku tak bisa digoda." Theresa menyembunyikan tawa darinya. Dia sangat ingin membalas perlakuannya tadi. Akan tetapi dia tetap sadar, keberadaan Firio lain ini bisa membuat suaminya mengeluarkan sisi buas. Jadi ia harus menjadi penengah.
_______
Note:
Karena ada pembaca yang belum paham konsep waktu dan multisemesta di cerita ini, aku kasih tahu penjelasan paling mudah ya ^^
Teori waktu itu kan banyak ya, seperti Grandfather, itu loh, jika kita kembali ke masa lalu, dan membunuh kakek kita, maka kita akan musnah karena kita nggak pernah terlahir. Contohnya kayak di film Back to the future.
Kalau disini aku pakai konsep Many World. Sebenarnya sudah ada penjelasannya di bab-bab awal, coba deh baca lagi ~ kalau belum paham. Menurutku teori ini yang paling masuk akal. Jadi jika seandainya kita pergi ke masa lalu, dan mengubah suatu hal, maka kita menciptakan semesta baru.
Misal, kita ini ada di semesta 01, kita kembali ke masa lalu dan bunuh kakek kita, maka kita nggak ikutan musnah. Kita membuat semesta baru, sebut saja semesta 02, jadi di semesta itu—kita tak pernah terlahir, soalnya kita udah bunuh kakek kita.
Contoh dari teori ini ada di film Avengers yang terakhir. Para Avengers yang sudah kalah dari Thanos, memutuskan mengubah sejarah dengan kembali ke masa lalu, menggagalkan Thanos. Sebenarnya mereka itu meninggalkan semesta mereka yang hancur, dan menciptakan semesta baru dimana Thanos itu kalah.
Pernah nonton kartun Rick And Morty nggak? Sumpah itu lucu banget, ya ada yang konsep tentang multisemesta juga. Jadi mereka itu sering bolak-balik ninggalin semesta yang mereka ancurin, s****n SEKALI :V
Aku nggak yakin kalau perjalanan ke masa lalu itu bisa terjadi, kecuali kalau ke masa depan karena waktu itu berjalan maju, bukan mundur. Bener itu teori relativitasnya Einstein, masuk akal. Cuma di era kita masih belum bisa menciptakan teknologi semacam ini, haha.
Iya itu saja, semoga kalian paham sejauh ini cerita ini kayak gimana, karena di bab-bab selanjutnya konsep multisemesta ini makin heboh dan bikin Theresa muak.
Satu Firio itu bikin kepala sakit, bayangkan banyak Firio mulai bermunculan.
Dan sialnya hanya ada satu Theresa baik.
Iya kalau doi bisa kagebunshin no jutsu
***