Tangis

1105 Words
aku menutup pintu ruangan dokter Andri dengan sedikit kencang, semua orang menatap ke arahku, aku menundukkan kepala seraya meminta maaf, tidak ada yang menyadari perubahan sikapku, semua orang mungkin berfikir aku kesal karena anaknya dokter Andri sangat nakal. namu. bukan itu. lebih komplek dari sekedar nakal, ada perasaan yang tiba tiba sesak dalam hati. waktu menunjukan pukul 14.30 dokter Andri keluar bersama dengan langit, mungkin dia ingin menghantarkan langit ke rumahnya, aku yang hanya melihat sekilas kearah dokter Andri, berpura-pura sibuk dengan pekerjaanku. "Alma, boleh ke ruangan ibu" dokter umi tiba-tiba mengejutkanku aku mengangguk, lalu mengikuti dokter umi masuk kedalam ruangannya "Alma, ibu denger sekilas, tadi yang kamu obrolin sama dokter Andri, ibu harap ini tidak mengganggumu. ibu tadi sempet liat kamu hampir menangis, kurasa berat mengetahui fakta yang menyakitkan ini" ucapnya "dok" ucapku "dokter Andri orang baik ko, ibu bisa jamin, Alma jangan sedih. pasti ada rahasia di balik ini semua" katanya "dok, saya salah, saya mengagumi seseorang yang beristri" ucapku merengek dihadapan dokter umi. "kamu ga salah sayang, tunggu penjelasan dokter Andri ya, ibu ga bisa kasih tau faktanya ke kamu, karena bukan kapasitas ibu" ucapnya lagi dokter umi memelukku, dan mengusap punggungku aku seperti diberi kekuatan olehnya, seseorang yang bersikap seperti ini selain ibuku dan ibu Gaga, tidak ada lagi. dan hari ini dokter umi mengambil peran itu di sini. "Alma, dokter Andri orang baik ko, kamu harus percaya itu" katanya lagi aku tersenyum, menarik nafas dan mencoba untuk tidak menangis lagi, aku keluar ruangan dokter umi, dan saat aku membuka pintu dokter Andri sudah berada di hadapanku, kurasa dia mendengar segalanya yang dokter umi dan aku bicarakan. "Al, saya tunggu di tempat biasa" ucapnya lalu dia berlalu, meninggalkan aku yang masih berdiri kaku, dokter umi melihat adegan itu, dia mengangguk seraya menyuruhku untuk bertemu dengan dokter Andri. aku bersiap, mengemas semua barang barang ku, lalu langsung beranjak pergi meninggalkan ruangan kerjaku. perasaan yang tidak bisa ku jabarkan dengan kata kata, perasaan yang tidak bisa ku jelaskan dengan apapun, kurasa aku mulai tertarik dengannya, namun apa boleh aku mencintai seseorang yang sudah beristri, mengapa baru tahu, dia sudah berkeluarga setelah perasaanku menjelma menjadi cinta? mengapa tidak dari pertama bertemu bahwa dia sudah berstatus suami orang. ah sialan aku membenci diriku yang tidak mencari tahu latar belakang seseorang, sebelum mencintainya. mengapa kejadian ini berulang? ah mengapa? aku melangkahkan kakiku menuju mobil dokter Andri, namun tidak berniat untuk masuk kedalam mobilnya, hanya berdiri dan menatapnya dengan lekat. dokter Andri membunyikan klakson mobilnya sampai 3 kali, dan aku benar benar tidak berniat masuk kedalamnya. "masuk!" perintahnya kali ini dokter Andri sampai turun dari mobilnya. aku masih diam, mataku hampir basah lagi. "gini pak, jelasin di sini!" ucapku "masuk dulu Al, ini ga seperti yang kamu bayangkan" katanya "dok... "Al, pelase" katanya yang langsung memotong pembicaraanku. aku masuk kedalam mobilnya, tidak sama sekali menghadap ke arah dokter Andri, aku memilih melihat kearah samping kiri ku, kami berdua saling diam tidak ada satupun yang mulai membuka obrolan, langit tidak ada disanah, kurasa dia lebih dulu pergi dengan mobil jemputan pribadinya. sengaja ku pikir, dokter ingin aku dan dirinyaa mengobrol dengan jelas. dan aku pun merasa pasrah, terserah kemanapun mobil ini melaju. dokter Andri melajukan mobilnya kearah berbeda dengan rumahku, sangat kencang tidak seperti biasanya, dan aku tidak perduli hal itu. padahal jika tidak salah ingat aku selalu komplen jika dokter Andri membawa mobilnya terlalu kencang, namun kali ini aku membiarkan dia melajukan mobilnya sesuka hati dia. "dok, bisa balik kerumah, saya kurang enak badan" kataku dokter Andri tidak mendengarnya, dia tetap melajukan mobilnya dengan kencang "dok" suaraku aga meninggi dokter Andri berhenti di pinggir jalan, aku langsung turun dari dalam mobil dokter Andri, menyebrangi jalan, lalu menunggu mobil angkot datang. namun dokter Andri mengejar ku, dia menyeret ku untuk kembali ke dalam mobilnya. aku menampik tangan dokter. kali ini tatapannya sangat tajam. "siapapun langit, siapapun kamu, itu bukan urusan saya" ucapku dengan nada yang sedikit tinggi "kamu sudah beristri, kamu sudah memiliki anak, itu juga bukan urusan saya" tambah ku lagi, aku menarik nafas panjang. aku melihat dokter Andri yang diam seribu bahasa. aku mengigit bibir bawahku, lalu menaiki angkot ke arah rumahku. hujan datang, aku melihat dokter Andri masih berdiri di trotoar, dia tidak sama sekali menoleh ke arahku, tanganku semakin menjadi, untung hanya tersisa aku dan supir angkot. "nangis aja neng, kadang tangis bisa membuat seseorang lega" katanya aku menatapnya "jangan ditahan, gapapa cuma ada bapak ko" tambahnya lagi ya memang dari tadi kurasa, aku menahan tangis ku, aku tidak ingin menganggu siapapun, bahkan tidak ingin membuat seseorang merasa iba terhadap ku. aku sampai di depan rumah, dan mobil dokter Andri sudah ada di halamanku, aku tidak tahu kapan dia mengemudi sehingga dia lebih dulu sampai ketimbang aku. mata kami bertemu namun aku tidak menyapanya. begitu juga dokter andri dia hanya berdiri di depan rumah mungil ku. "maaf saya sedang tidak baik-baik saja, jadi tolong pergi" ucapku "Al, saya bisa jelasin" katanya "jelasin apa?" tanyaku "Al,... "dok, dokter ga perlu jelasin apapun ke saya, lebih lebih saya hanya pegawai rumah sakit, bukan siapa siapa buat dokter Andri. jadi ngga masalah" kataku aku melewati dokter Andri yang berdiri di dekat pintu pagar ku, dia menahan ku, tangannya mencengkram pergelangan tanganku, sangat kencang sampai aku kesulitan melepaskannya. aku ingin berteriak namun aku takut menganggu orang orang di sekitarku. "apa lagi!" bentak ku kali ini amarahku memuncak, aku tidak tahu apa yang membuatku marah, apa yang membuatku sekesal ini? apa aku takut mendengar fakta bahwa dokter Andri adalah suami orang lain. ah kesal dokter Andri membawaku dalam pelukannya, dia mengusap punggungku kami saling diam, aku menangis dalam pelukannya. "dokter jahat, kenapa dokter ga bilang... "kenapa dokter ga ngomong dari awal, kalau dokter sudah menikah dan memiliki anak kenapa dok, kenapa?... " dok, Rasa sesak dan tangis ini, mustahil jika aku tidak mempunyai perasaan pada dokter. banyak hal yang sudah kita lalui bersama, hari hari yang menyenangkan, rahasia rahasia yang kita sembunyikan tanpa sepengetahuan yang lain, dan kali ini dokter jahat. kenapa dokter tidak merasakan apa yang saya rasakan dok? kenapa?" omel ku dokter Andri tidak menjawab sepatah katapun, dia hanya menatap lurus kearah lainnya. kami lagi lagi saling diam. setelah pelukan yang hampir 30 menit itu, dokter Andri melepaskan ku "Al, lain kali aku jelasin. sekarang kamu istirahat. saya juga ngga punya kekutan buat jelasin semuanya ke kamu" ucapnya dia melepas peluknya, kemudian dia masuk kedalam mobil, dan ia melajukan mobil dengan kencang, memecah kebisingan malam itu. dan aku menatap kepergiannya kilas balik yang terjadi antara aku dan dokter Andri tergambar dalam ingatan, saat tawanya menghiasi duniaku, saat perhatiannya tembus langsung ke hatiku, ah aku yang mungkin mencintainya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD