Rahasia di balik hari selasa

1046 Words
hari Selasa ini aku dikirimi pesan singkat oleh dokter Andri, dia meminta aku untuk izin tidak masuk kerja, dia ingin memberitahuku sesuatu. kurasa ini soal kemarin yang kalian tahu, bahwa dokter Andri dan aku sedang terlibat konflik yang aku tidak tahu, ranah konflik ini kearah mana.! Rasanya dia tidak perlu menjelaskan apapun padaku, sebab bukan urusanku. namun ternyata ni semua, membuat dia merasa bersalah. mungkin karena sikap ku yang menjadi acuh kepadanya, seperti saat berpapasan dengannya di ruangan, aku dengan sengaja mengabaikannya. Saat mata kami bertemu, yang biasa kami akan saling lempar senyum, kali ini aku akan membuang muka ke arah lainnya. lucu sekali. seandainya umurku lebih muda, 8 tahun dari umurku sekarang, wajar jika aku marah pada pacarku, dengan tidak memperdulikannya. namun aku berumur 23 bahkan hampir 24 tahun, sudah tidak wajar rasanya menghindari sebuah masalah. kurasa memang jalan satu-satunya adalah mengobrol, agar semuanya jelas. sebagai apa aku ini? pukul 10.30 wib, dokter Andri sudah berada di depan rumahku, aku ingin menyembunyikan senyum di wajahku, namun mengapa sulit untuk tidak membalas senyum yang lebih dulu mengembang di wajah dokter andri. senyum dokter Andri yang terlihat lebih manis dari biasanya, membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. namun dengan segenap jiwa, aku menahan senyumku. kami tidak berbincang, saling diam sepanjang perjalanan. ku rasa dokter andri belajar dari kesalahannya yang lalu, saat aku memintanya menurunkan aku di tengah jalan. maka dia takut aku meminta dia, menuruni ku di pinggir jalan lagi. kalian tahu? dokter Andri memakai jas hitam! biasa aku melihatnya memakai jas putih dokter, kali ini aku melihat dokter Andri memakai jas hitam. keduanya sangat menawan, sisi manapun yang dokter Andri perlihatkan, keduanya mempunya tempat di hatiku. meski aku tidak suka, jika dia bersikap pangus terhadapku saat bekerja. Mobil dokter Andri masuk dirumah yang cukup mewah, dia memarkirkannya tepat di depan rumah ini, aku masih tidak ingin bertanya. jadi aku menunggu apapun yang dokter Andri katakan. "Al, turun" katanya aku turun dari mobil, ada security yang sudah menunggu kami di depan rumah besar ini. "pak tolong parkir ini di parkiran barat" katanya aku mengikuti langkah kaki dokter Andri, dia masuk kedalam rumah mewah ini, ada 1 pembantu dan pengasuh yang waktu itu pernah kulihat di rumah sakit, mataku mencari seseorang, kalian pasti tahu? siapa yang aku cari? tentu aku mencari istri dari dokter Andri, rumah sebesar ini bahkan tidak ada satupun foto pernikahan dokter Andri dan istrinya. aku yang sudah bersiap apapun konsekuensi, setelah tahu bagaimana keadaan dokter Andri, semua keputusan di tanganku. menghilang seperti pengecut yang pernah aku lakukan dulu, atau tetap mengikuti alur namun menjaga jarak dengan dokter Andri. kurasa apapun itu semoga aku mengambil keputusan yang terbaik. istri dokter Andri tidak menyambut kepulangan dokter andri. aku sedikit was-was, namun aku sudah bersiap jika aku harus di patahkan lagi. "Al, kita keatas" katanya aku mengiyakan ajakan dokter Andri. "langit?" tanyaku "ada diatas" katanya aku melewati kamar bertuliskan langit, semua berwarna biru, kurasa biru adalah warna kesukaan langit. menggambarkan cerah. aku berhenti sejenak sesak dalam d**a tiba tiba menikam ku, aku tidak ingin melanjutkan langkah kaki ku. aku ternyata belum siap jika harus patah lagi, aku belum siap jika harus sesak lagi, aku tidak ingin ada tangis yang membuat mataku sembab, yang membuat tidurku tak nyenyak, aku belum siap. aku membalikan tubuhku ingin kembali menuruni tangga dan langsung pulang dari tempat itu. namun aku tak berdaya, apa yang bisa ku lakukan? dokter Andir menuju kamar yang masih gelap itu, entah kamar siapa di balik pintu itu, lampunya masih belum menyala, aku ragu untuk memasukinya. namun tanganku ditarik oleh seseorang, kurasa hanya dokter Andri yang berada di sana. dia memelukku, hanya sekejap lalu dilepaskan begitu saja, tidak lama dari itu lampu kamar menyala, aku melihat perempuan dengan wajah yang begitu cantik di hadapanku. wanita itu tersenyum manis, ada lesung pipi di wajahnya, ekspresinya membuat siapapun yang melihat mempunyai kesan dia sangat menawan, kurasa dia berdarah biru, ya kurasa. pakaian yang terlihat mewah itu, hiasan yang tidak begitu tebal, dan dia tersenyum pada siapapun yang masuk ke dalam ruangan ini, jantungku berdetak kencang, tanganku gemetar. "dia Marselina Okta Gayatri, ibu dari langit dan istriku beberapa tahun yang lalu, aku sangat mencintainya, teramat sangat namun 5 tahun yang lalu, saat melahirkan langit, saat aku sedang mengenyam pendidikan spesialis, saat aku tidak di sisinya karena kesibukan ku, Okta melahirkan di rumah sakit ternama, namun dengan keadaan yang sulit" dia diam sejenak, matanya melihat kearah foto tersebut, punggungnya bergetar. matanya memerah. bibirnya bergetar, kurasa dokter Andri menahan semua perasaanya. "langit selamat, atas keinginan Okta, padahal jika aku ada disana tepat waktu, aku ingin menyelamatkan Okta" ucapnya "aku lebih memilih istri ku selamat, aku ingin Okta tetap hidup, namun keputusan Okta yang di dukung ibu bapak ku di setujui dokter, aku yang suaminya bahkan tidak mengetahui hal ini" ucapnya kali ini suaranya bergetar, ada penyesalan yang dia rasakan "jadi, kamu tidak menginginkan langit?" suaraku aga tinggi, sedikit marah dan kesal padanya. hampir ingin ku tampar wajah lelaki yang sedang menangis dihadapan ku ini. dokter Andri tidak menjawab pernyataan ku, dia diam seribu bahasa. suara benda jatuh dari arah belakang membuat kami saling tatap, langit tepat berada di belakangku, matanya sembab, aku yakin dia mendengar semua percakapan aku dan dokter Andri kali ini. belum sempat dokter Andri menjelaskan, langit berlari sekuat tenaga, kami bahkan tidak bisa mengejarnya. jejak langit lenyap saat berada di pekarangan rumah dokter Andri, semua orang dibuat sibuk mencari langit, ada yang mencari di paviliun, mencari di parkiran barat, di parkiran dan ada yang mencari di dalam rumah, aku berlari kejalan, dokter Andri juga mencari dijalan. aku tak tahan, mencari langit sembari menangis, hatiku begitu sesak, bagaimana jika langit adalah aku? bagaimana jika orang tuaku tidak menginginkanku. aku tidak bisa membayangkan bagaimana menjadi langit. aku mencari di taman dekat rumah dokter Andri, banyak anak kecil namun tidak langit disana, aku memutuskan kembali ke depan rumah dokter Andri, dokter Andri sedang berdiri kebingungan. aku menghampirinya. "dok, langit ga ada... langit ga ada di taman, gimana dok. gimana.... aku merengek di hadapan dokter Andri, dokter Andri membawaku dalam pelukannya. aku menangis sejadinya. "jangan nangis, kita cari langit lagi, udah ya" katanya dokter Andri bersikap tenang, padahal aku yakin dia lebih patah dari aku kali ini. Lantas? atas dasar apa aku mengkhawatirkan langit? apa langit sama denganku? yang kehilangan tempat untuk kembali?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD