Queenby Bukan Baby

1312 Words
Setelah mendapatkan perintah dari bosnya Queen pun langsung berjalan keluar menuju ruang kerjanya, mengerjakan tugas-tugasnya yang sempat tertunda. Sementara Raffa pria itu pun tak kalah sibuk, pria tampan itu kini tengah terlihat memfokuskan pandangannya pada benda berbentuk kubus yang ada di depannya itu, memeriksa grafik penjualan yang terus meningkat setiap bulannya. Sekilas terbesit rasa syukur di hati Raffa. Perusahaan keluarga yang dulu hampir gulung tikar kini kembali bangkit bahkan bisa dibilang perusahaan Gemilang Pradipta Sejahtera ( PT. GPS ) kini tengah berada di puncak kejayaannya dan Raffa pun menjadi pengusaha muda nomor satu terkaya di Indonesia. "Queen? Ikut saya keluar sekarang!" Titah Raffa dibalik sambungan telepon, tanpa menunggu jawaban sang sekretaris Raffa langsung menutup sambungan teleponnya. Raffa pun terlihat menutup laptopnya, ia lalu mengambil jas hitamnya yang tersampir di kursi kebesarannya lalu memakainya, setelah memastikan penampilannya terlihat sempurna Raffa pun langsung melangkahkan kakinya keluar ruangan menuju tempat sekretarisnya berada. Sementara itu lagi-lagi Queen dibuat melongo dengan perintah dadakan atasannya itu, tak tahukah Raffa bahwa hari ini Queen benar-benar sibuk ia harus menata kembali seluruh arsip dokumen yang berserakan di kabinet sesuai abjad agar mudah dalam mencarinya. Tapi sebagaimana titah sang bos Queen pun harus menurutinya, mengambil tas dan memakainya Queen pun langsung siap berdiri saat mendengar suara langkah kaki bosnya itu mendekat. "Sudah siap?" Tanya Raffa lalu memasukan kedua tangan di saku celananya. Queen pun mengangguk. "Sudah Pak, memang kita mau kemana, Pak?" Tanya Queen berkerut kening penasaran, pasalnya hari ini tidak ada jadwal meeting di luar. Buka menjawab pertanyaan Queen, Raffa malah terus berjalan menuju meja Ayu, sekretaris perusahaan ini. "Ayu? Saya tinggal keluar sebentar sama Queen. Kalau ada yang ingin bertemu saya suruh dia datang lagi nanti pukul tiga sore." Setelah mengucapkan hal itu Raffa pun langsung berjalan menuju lift, namun langkah Raffa terhenti saat merasa Queen tak mengikutinya dari belakang. "Queen, sampai kapan kamu mau berdiam diri di situ?" Tanya Raffa tegas, ia lalu menatap tajam sekretaris pribadinya itu. Queen yang terkejut pun langsung mengangguk, wanita itu kini terlihat setengah berlari menyusul Raffa yang sudah berdiri di depan lift. Melambaikan tangan kanannya pada Ayu, sementara Ayu pun langsung mengangkat tangannya lalu mengatupkan ibu jari dan jari telunjuknya membentuk huruf o. Hening di dalam lift tidak ada percakapan antara bos dan sekretarisnya itu, mereka terlihat tengah sibuk dengan gadget masing-masing. Hingga dentingan lift pun berbunyi kini mereka sudah tiba di lantai dasar Queen yang merasa segan pun langsung membungkukan badannya lalu mengulurkan tangannya, memberi isyarat agar Raffa berjalan lebih dulu. Namun tindakan Raffa justru di luar dugaan pria itu pun langsung menggenggam pergelangan tangan Queen dan mengajaknya berjalan bersama keluar lift. Tak sampai semenit Raffa pun langsung melepaskan tautan tangan keduanya. Beruntung suasana sedang sepi lantaran seluruh karyawan tengah fokus pada pekerjaan mereka masing-masing sehingga tak ada satupun karyawan yang melihat Raffa menggenggam tangan Queen tadi. "Jalan di samping saya Queen, jangan di belakang saya." Raffa berdehem lalu kembali memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. "Iya Pak," jawab Queen cepat, enggan berdebat dengan bosnya itu. Wanita itu pun memilih menuruti apapun perintah yang diucapkan Raffa padanya. Setengah jam sudah mereka menyusuri kota Jakarta hingga saat ini mereka pun tiba salah satu pusat perbelanjaan terbesar yang ada di Jakarta. Tanpa banyak bertanya Queen pun langsung mengikuti langkah kaki bosnya itu. "Queen, wanita lebih suka tas atau pakaian?" Tanya Raffa saat mereka tengah berada di store barang branded yang sangat terkenal itu. Queen yang sedang asyik menikmati pemandangan indah berbagai barang branded yang tengah di pajang pun menoleh. "Tas Pak, saya suka tas," jawab Queen cepat lalu kembali menegang satu tas berbahan kulit buaya berwarna maroon itu. Raffa pun mengangguk, lalu menaruh tangan kanannya di bawah dagu. "Mbak? Saya mu tas berwarna maroon itu," ucap Raffa lalu menatap Queen yang masih asyik melihat tas tersebut. "Baik Pak, Ibu mau yang ini?" Tanya karyawan toko itu pada Queen. Queen pun berjingkat kaget lalu menoleh. "Eh, nggak Mbak. Saya nggak mau beli ini. Saya cuman lihat-lihat aja kok." Queen merasa malu sekaligus kikuk, dengan cepat ia langsung menaruh kembali tas berwarna maroon itu di atas meja kaca. "Ambil tas itu lalu bawa ke kasir, Mbak." Titah Raffa pun mengambil ponselnya yang terus berdering lalu mengangkatnya. Queen bertambah kaget saat Raffa langsung menyuruh karyawan toko itu membawa tas mahal itu ke kasir. "Eh Pak, saya nggak suka tas, ma-maksud saya jangan belikan saya tas, Pak." Queen lalu mendongak menatap wajah sang bos, ya meski bosnya itu masih sibuk menerima panggilan telepon dari seseorang. "Tas saya banyak di rumah, Pak." Queen berkata jujur karena memang ia yang hobi mengoleksi tas pun mempunyai berbagai model dan warna di etalase kaca miliknya. "Tapi kamu suka tas kan?" Tanya Raffa lalu memasukan gadgetnya ke dalam saku celananya. Queen pun mengangguk. "Iya Pak," jawabannya cepat. "Tapi Pak saya nggak mau--" "Saya tidak akan membelikan mu tas itu Queen," ucap Raffa lalu melipat kedua tangannya di d**a. "Hah? Terus itu kenapa di bawa ke kasir, Pak?" Queen pun berkerut kening bingung. "Buat mama saya." Jawab Raffa singkat, padat dan jelas. "Kamu wanita kan? Dan kamu juga suka tas, saya rasa mama saya pun menyukai apa yang kamu suka karena kalian sama-sama wanita," jelas Raffa berlalu begitu saja menuju kasir, guna membayar barang belanjaan tersebut. Sementara Queen terlihat menggelengkan kepalanya heran dengan jalan pikiran bosnya itu. Ucapan dan tindakan yang Raffa selalu tidak sejalan dengan pikiran Queen hingga membuat wanita itu kerap kali merasa terkecoh dengan ucapan bosnya itu. "Untung aja gue nggak baperan mau di beliin tas segala lagi, ternyata itu tas buat mama nya." gumam Queen terkekeh geli dalam hati. Waktu pun telah menunjukkan pukul dua belas siang, sebelum balik ke kantor Raffa berniat mengajak Queen makan siang lebih dulu di salah satu restoran cepat saji di dalam Mall. "Kamu mau pesan apa?" Tanya Raffa sambil membolak-balik daftar menu makanan yang ada di depannya. Queen pun terlihat melakukan hal yang sama. "Chicken steak cheesy," Queen menunjuk pada salah satu menu makanan yang membuat perutnya keroncong seketika. Raffa pun mengangguk, lalu melambaikan tangannya memanggil waiters untuk mendekat. Memesan beberapa menu makan dan juga minuman, sekitar tiga puluh menit menunggu akhirnya pesanan mereka pun datang. Hening keduanya tampak khusyuk menikmati kegiatan makan siangnya tanpa ada obrolan atau pembicara dari keduanya, hingga Raffa yang telah selesai menyelesaikan kegiatan makannya langsung membuat suara. "By, apa saja jadwal saya besok pagi?" Tanya Raffa santai lalu menyesap lagi segelas jus mangga yang ada di depannya. "Uhuk …" Queen pun langsung terbatuk-batuk saat mendengar panggilan Raffa padanya barusan. "CK!" Raffa berdecak malas. "Hati-hati kalau makan." Ucapnya lalu mengulurkan sebotol air mineral yang telah ia buka tutupnya. "Minumlah!" Titah Raffa pada Queen. Queen pun mengangguk lalu menenggak hingga setengah botol air mineral itu. "Ma--maksud Bapak?" Tanya Queen mendadak bodoh. Raffa menggelengkan kepalanya heran, apa pertanyaan tadi tidak cukup jelas, sehingga Queen kembali bertanya. "Iya, saya tanya ada jadwal apa saja besok pagi?" Raffa pun terlihat mengulangi lagi pertanyaan. Queen menggeleng pelan. "Bu--bukan itu maksud saya, Pak." Ucap Queen terbata ia bingung harus dari mana menjelaskannya. "Lalu?" Tanya Raffa mengerutkan keningnya bingung. "Panggilan Bapak tadi, By bukan Queen?" Oke sampai disini sepertinya Queen harus menjelaskan penyebab batuknya tadi. "Oh," Raffa terlihat mengangguk-anggukan kepalanya. "Terus masalahnya dimana?" Raffa pun kembali bertanya. Queen menghela nafasnya kesal. "Gini lho Pak, panggilan Bapak ke saya itu memancing asumsi negatif orang lain." Dengan perasaan menggebu Queen pun menjelaskan semuanya, jelas Queen kesal karena Queen tak mau para karyawan memandang negatif dirinya terlebih Raffa telah mengubah panggilannya menjadi 'baby'. Sudut bibir Raffa pun tertarik membentuk sebuah senyuman. "Salah saya dimana? Nama kamu Queenby kan? Wajar dong kalau saya panggil kamu By," ucap Raffa lalu mengangkat sebelah alis matanya menatap Queen dengan tatapan yang sulit diartikan. "Mulai hari ini saya akan memanggilmu By bukan Queen lagi," jelas Raffa lalu berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kasir. "Hah?" Queen lagi-lagi melongo dengan pemikiran ajaib bosnya itu karena malu Queen pun langsung menjatuhkan kepalanya di atas meja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD