Queen pun merasa kesal atas perintah bosnya itu, memang apa yang ia tahu dari Raffa kecuali satu minuman favoritnya yaitu espresso. Dengan terpaksa Queen pun mengikuti langkah wanita paruh baya itu menuju dapur yang terlihat begitu mewah dan besar.
"Queen?" Panggil mama Rara dengan nada yang begitu lembut, beliau kini terlihat tengah membuka rak kitchen set yang ada di atas tak lama mama Rara pun menunjukkan pada deretan minuman kemasan dan juga aneka jenis kopi yang berjejer rapi di sana. "Dari semua minuman ini Raffa paling suka yang mana Queen?" Tanya Mama jujur, sebab selama ini beliau tak pernah melihat Raffa mempunyai minuman favorit. Bahkan sesekali wanita paruh baya itu hanya membuatkan kopi hitam saja sesuai pesanan Raffa.
Queen langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Pak Raffa lebih suka espresso Bu, dan itu juga disajikan langsung dengan biji kopi pilihan tidak kemasan seperti ini," seolah tahu apa yang telah menjadi kebiasaan bosnya itu, Queen pun menjelaskannya secara gamblang pada mama Rara.
"Oh ya?" Mama Rara pun mengulum senyuman tipis di bibirnya. "Mama kok baru tahu ya," wanita paruh baya itu lalu memandang Queen dengan tatapan mata yang sulit diartikan. Lebih tepatnya tatapan suka karena setelah sekian lama akhirnya Raffa terlihat dekat dengan seorang wanita, dan apa tadi? Ternyata Queen pun mengetahui sesuatu hal yang tidak mama Rara ketahui sebagai ibunya. Kini Mama Rara pun semakin yakin bahwa mereka berdua memang tengah menjalin hubungan yang spesial.
Queen pun menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal, harusnya ia menceritakan semuanya apa saja diketahui tentang bos barunya itu. "Iya Bu," jawab Queen singkat enggan memperpanjang lagi yang nantinya akan menimbulkan banyak pertanyaan dari wanita paruh baya ini.
Sesaat wanita beda generasi itu terlihat kembali berbincang, topik pembicaraan kali ini adalah hobi mereka berdua yang ternyata sama. Sama-sama suka masak dan berkebun, bahkan kini Queen dengan antusias menceritakan tentang mamanya yang mempunyai berbagai jenis bunga yang cukup populer salah satu di antaranya adalah bunga Monstera Andasonii Variegata, sebuah tanaman dengan daun yang berlubang di tengah dan warna daunnya pun cukup unik, perpaduan warna hijau dan putihnya menghasilkan kontras yang apik. Ya, orang awam biasa menyebut tanaman ini sebagai tanaman janda bolong. Jenis tanaman ini lumayan mahal kurang lebih seharga sembilan puluh juta, dulu mama Anin mendapat bunga ini sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka yang ke dua puluh tahun. Terdengar aneh memang jika sebagian wanita meminta tas dan perhiasan mewah mama Anin justru meminta tanaman hias sebagai hadiahnya.
Mama Rara pun dengan seksama mendengarkan cerita Queen, bahkan kini mama Rara pun mendadak ingin berkunjung ke rumah Queen hanya untuk melihat tanaman janda bolong tersebut. "Boleh nggak mama main ke rumahmu, Queen?" Tanya mama Rara di tengah-tengah kegiatan membuatkan minuman untuk sang suami.
"Mau ngapain mama kerumah Queen?" Bukan Queen yang menjawab melainkan Raffa, pria tampan itu kini tengah memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana lalu berjalan mendekat ke arah kedua wanita itu.
Mama Rara yang terkejut pun langsung menoleh. "Lho kamu ngapain kesini, Bang?" Bukan menjawab mama Rara kini malah kembali bertanya.
"Aku mau ngajak Queen pulang, Ma." Jawab Raffa singkat, ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah sekretaris pribadinya itu. "Queen ayo saya antar kamu pulang sekarang," ajak Raffa pada sekretaris pribadinya itu.
"Lho Bang, Mama belum puas lho ngobrol sama Queen. Queen juga belum minum, iya kan Queen?" Mama Rara yang sudah membawa nampan berisi air minum pun langsung berjalan menuju ruang tamu. "Sini Queen, temani mama minum teh dulu," titah mama Sekar pada Queen.
"Iya, Baik Bu." Jawab Queen cepat, ia lalu mengikuti langkah kaki ibu bosnya itu dari belakang.
Raffa pun menggelengkan kepalanya heran, di sini dia lah bosnya lalu mengapa Queen lebih memilih patuh pada perintah mama Rara di banding perintahnya. Kini pria itu pun ikut menyusul langkah kedua wanita itu menuju ruang tamu. Di sana suasana kembali terasa hangat saat mama Rara dan Queen memulai lagi obrolan mereka. Queen pun tak terlihat canggung sekarang bahkan jika di lihat-lihat mereka ini sudah seperti sering bertemu saja, padahal jika dipikir mama Rara dan Queen pun baru kali ini bertemu. Sepertinya mama Rara pun mulai merasa cocok dengan kehadiran Queen. Terlebih saat kini Queen hendak pamit pulang mama Rara pun langsung merangkul dan mengelus punggung Queen dengan lembut, tak lupa beliau pun berpesan agar Queen sering-sering datang ke rumahnya.
"Apa kamu sudah terbiasa seperti ini?" Tanya Raffa membuka pembicaraan saat keduanya tengah berada di dalam mobil sekarang.
"Seperti ini? Gimana maksud Bapak?" Queen balik bertanya, sejujurnya ia pun terlihat bingung atas pertanyaan yang terlihat ambigu seperti itu.
Raffa pun terlihat menoleh sekilas ke arah Queen. "Kamu terlihat cepat sekali akrab dengan orang lain," ucap Raffa lalu menjelaskan apa maksud ucapannya barusan.
Queen pun mengangguk paham, ia langsung mengerti kemana arah ucapan pria tampan itu. "Iya Pak, saya memang orangnya seperti ini ramah dan mudah bergaul." Jelas Queen jujur, bukan bermaksud membanggakan diri tapi begitulah kenyataannya. Sejak dulu Queen ini memang terkenal supel dan easy going, baik teman-teman di Indonesia maupun teman kuliahnya di luar negeri.
"Queen?" Panggil Raffa lagi, kali ini pria itu menoleh cukup lama pada wanita cantiknya di sampingnya itu.
"Ya, Pak?" Queen mendongakkan kepalanya menatap wajah sang bos.
"Kamu hanya boleh terlihat ramah pada sesama wanita, selebihnya saya melarang kamu untuk akrab pada pria lain," titah Raffa tegas dan tak terbantahkan.
Queen mengerutkan keningnya bingung, kali ini apa lagi yang ada di dalam isi kepala bosnya itu. "Maksud Bapak gimana?" Queen sang mahasiswa jenius pun mendadak bodoh jika harus menafsirkan setiap perkataan Raffa karena sungguh apa yang ada di dalam pikiran bosnya itu berbanding terbalik dengan apa yang Queen pikirkan.
Lampu lalu lintas pun kini berwarna hijau membuat Raffa pun mulai kembali melajukan mobilnya."Kamu itu jenius, lulusan terbaik universitas favorit di dunia. Saya yakin kamu paham apa maksud ucapan saya tadi, tanpa saya harus menjelaskannya lagi," ucap Raffa panjang lebar, pria itu terlihat menoleh sekilas pada Queen mengangkat sebelah sudut bibir tipisnya membentuk sebuah senyuman.
"Kamu itu pintar Queen, saya yakin kamu paham maksud perkataan saya tadi." Gumam Raffa tersenyum puas dalam hati, setelah melihat Queen menganggukan kepalanya dan berkata akan menuruti perintahnya.