Happy Reading . . .
***
Kedua kaki ku sudah terasa sangat begitu lemah, gemetar yang aku rasakan sejak tadi hingga sampai saat ini pun juga masih tidak bisa aku redakan. Sama dengan rasa takut yang aku rasakan sejak tadi pun juga masih tidak bisa aku hilangkan. Waktu yang aku lihat dari jam tangan yang aku kenakan ini sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam. Dan entah sudah seberapa jauh juga aku berjalan kaki setelah berhasil melarikan diri dari situasi yang sangat menegangkan hingga membuatku yang sedang berjalan di tengah kegelapan nan sepi ini tidak bisa berhenti dari rasa takut dan gelisah di saat yang bersamaan yang sudah menyerang perasaanku sejak tadi.
Setelah aku dengan pasrah memberikan seluruh uang hasil penjualan yang jumlahnya tidak aku ketahui, tetapi aku sangat yakin bahwa nominalnya sangat besar itu, kini aku sedang mencoba untuk menerima kenyataan bahwa aku sudah membiarkan menghilangnya uang milik orang lain yang jumlahnya tidak sedikit itu. Dan yang lebih buruknya lagi, aku yang juga terpaksa memberikan tas milikku itu membuatku harus kehilangan uang sepuluh ribu dolar pembayaran di awal yang sudah aku terima, karena kartu dan semua identitasku berada di dalam dompet dan dompetnya berada di dalam tas yang aku berikan tersebut.
Tidak ada yang tersisa, kecuali jam tangan yang aku kenakan dan ponsel yang memang berada di dalam kantung celanaku ini yang hanyalah tersisa. Ponsel yang sudah tidak berguna karena baterainya pun yang juga habis, dan kini aku benar-benar tidak memiliki solusi bagaimana caranya aku bisa kembali ke Chicago. Tidak ada harapan selain aku meminta pertolongan kepada orang-orang disekitar sini.
Aku yang sudah merasa sangat lelah ini memutuskan untuk mendudukkan diri di sebuah halte bis untuk mengistirahatkan tubuhku sejenak dan berharap munculnya sosok penolong yang memiliki hati baik dengan memberikanku sesuatu apapun itu bentuknya agar aku bisa kembali ke Chicago. Namun hingga sudah cukup lama aku menunggu, rupanya tidak ada satu bantuan pun yang datang dan membuatku benar-benar seperti gelandang di tengah udara tengah malam yang terasa cukup dingin ini.
Tetapi di saat aku sedang mengeratkan jaket yang aku kenakan untuk memeluk diriku sendiri berharap hal yang kecil seperti itu dapat memberikan sedikit kehangatan pada tubuhku ini, tiba-tiba saja aku melihat terdapat sebuah mobil yang melintas di jalanan tepat di depanku ini yang justru membuatku langsung bertanya-tanya akannya. Karena aku melihat seseorang di dalam mobil tersebut, melemparkan sesuatu ke arahku dengan kondisi mobil itu yang tidak behenti dan hanya melajukan kecepatannya dengan perlahan saja.
Hingga di saat aku memperhatikan lebih jelas lagi barang apa yang dilemparkan tadi, aku pun langsung beranjak dari dudukku dan bergegas berlari menghampiri barang tersebut untuk mengambil tas milikku yang rupanya dilemparkan tadi. Setelah mengambil tas milikku itu, aku pun langsung memeriksa isinya yang ternyata tidak ada yang hilang atau diambil. Dompetku yang berisi beberapa lembar uang tunai, identitas, serta kartu milikku yang terdapat sepuluh ribu dolar di dalamnya tidak menghilang.
Sambil memperhatikan mobil yang berlalu tadi sudah melaju semakin menjauh dari posisiku ini, pertanyaan pun mulai timbul di dalam benakku. Siapa kira-kira orang yang sudah mengembalikan tas milikku ini? Apakah salah satu dari anggota perampok tadi? Melihat dari bayangan seseorang yang di dalam mobil Dan mengendarai mobil tersebut, sosok tersebut seperti pria bertubuh besar yang aku serahkan tas-tas yang aku bawa kepadanya. Tetapi, kenapa juga ia harus melakukan hal seperti itu?
Merasa sudah tidak ingin memikirkan semuanya dan tidak peduli lagi dengan semua keanehan itu, membuat diriku yang sudah tidak ingin berlama-lama dengan bertanya-tanya kepada diriku sendiri mengapa semua kebingungan ini harus terjadi padaku, aku pun langsung membawa tas milikku itu dan bergegas pergi meninggalkan tempat yang benar-benar jauh dari kata aman.
Walaupun yang kembali hanyalah tas milikku saja dan tidak dengan tas ransel yang penuh berisi dengan uang itu, setidaknya hal itu sudah bisa membawaku pulang kembali menuju Chicago entah menaiki bis, kereta, atau pesawat sekalipun, aku sudah tidak peduli lagi. Kota yang sudah benar-benar menimbulkan rasa trauma pada diriku ini membuatku sangat tidak ingin menginjakkan kaki di sini lagi. Dan juga aku yang sudah tidak ingin melakukan pekerjaan dengan menjadi kurir pengantar barang itu, membuatku benar-benar ingin memutuskan hubungan dengan mereka yang sudah memberikan pekerjaan kepadaku.
Walaupun aku tahu setelah ini mereka pasti akan memburuku, karena aku yang tidak kunjung memberikan uang dari hasil penjualan yang telah dirampok secara paksa itu. Setidaknya kali ini aku benar-benar bisa bernafas dengan lega karena aku akan kembali ke Chicago dengan keadaan selamat dan baik-baik saja. Hanya saja, luka batin akan trauma yang baru saja aku lalui tadi masih terasa membekas di dalam diriku.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, dan bersamaan dengan itu aku baru membuka pintu apartemen setelah melalui perjalanan yang sangat panjang dari kota yang sudah memberikan rasa trauma pada diriku menuju tempat tinggalku ini menggunakan bis. Dan kini, di saat aku yang baru saja menutup pintu apartemen tiba-tiba saja langsung mendengar suara Grey yang dari kejauhan sudah mengeluarkan rasa amarahnya kepadaku sambil melangkah menghampiriku, karena masalah ponselku yang tidak bisa dihubungi dan aku yang juga baru pagi ini kembali ke apartemen.
Aku yang sudah merasa begitu lelah dan sangat ingin beristirahat, hanya terdiam dan membiarkan pria itu mengeluarkan rasa amarahnya kepadaku. Selain karena rasa lelah yang menderaku, aku juga tidak ingin mengeluarkan tenagaku yang sudah habis dan hampir tidak ada ini untuk menanggapi Grey yang terlihat benar-benar marah kepadaku. Sikap Grey yang aku kenal tidak ingin mengalah dalam setiap perdebatan apapun, adalah alasan kedua yang aku miliki mengapa lebih baik aku terdiam saja dari pada menanggapi pria itu yang tidak ingin dibantah jika sedang marah.
Padahal, semua usaha yang aku lakukan ini adalah untuk dirinya. Grey memang tidak mengetahui pekerjaan tambahan yang aku lakukan ini karena aku memang sengaja tidak bercerita kepadanya, karena jika ia mengetahuinya pasti ia akan langsung melarangku untuk melakukannya pekerjaan itu. Ditambah lagi pekerjaan itu yang juga rupanya memiliki resiko yang sangat besar, akan sangat kecil atau bahkan tidak ada kemungkinan untuk Grey akan memberiku izin.
Jadi, aku memutuskan untuk lebih memilih tidak memberitahu Grey dan lebih memilih untuk menyembunyikan semuanya dari pria itu. Tetapi, bisakah ia sedikit saja mengerti akan diriku yang dilihat dari penampilan saja sudah menggambarkan dengan begitu jelas bahwa kondisiku saat ini benar-benar sangat lelah? Aku mengerti dengan perasaannya yang sangat khawatir terhadapku. Tetapi, setidaknya berikan aku waktu lima menit untuk bisa bernafas dan menghilangkan segala trauma yang aku miliki setelah melakukan pekerjaan yang sangat menantang itu?
"Apakah kau sudah meminum obatmu?" Ucapku yang meluncur begitu saja di saat pria itu baru saja menghentikan luapan rasa emosinya dengan ucapannya yang justru membuat kepalaku saat ini menjadi berdenyut dan sedikit sakit.
"Obat? Di saat seperti ini kau hanya memikirkan obat dan masih saja memikirkan hal tidak penting seperti itu? Dimana pikiranmu, Estee?"
"Hei, aku hanya bertanya saja. Kenapa kau menjadi sekasar itu?"
"Aku tidak akan seperti ini jika kau tidak seenaknya meninggalkanku tanpa kabar dan ponselmu yang juga tidak bisa dihubungi, serta kau baru kembali setelah lebih dari dua puluh empat jam kau meninggalkan apartemen tanpa meninggalkan satu pesan untukku. Apakah setelah semua itu aku tidak pantas untuk merasa marah kepadamu?"
"Okay, aku minta maaf. Tetapi aku pergi bukan tanpa alasan, Grey."
"Ada alasan atau tanpa alasan sekalipun, aku tidak peduli. Tetapi di sini kau sudah jelas menyakiti perasaanku, Estee. Kau pergi tanpa izin apalagi memberi kabar untukku, itu sama saja dengan kau yang sudah tidak peduli dan tidak lagi menganggapku ada. Aku tidak mengerti, Estee."
"Aku sudah meminta maaf, okay? Aku tahu, di sini aku sangat salah karena sudah membuatmu menjadi harus merasa khawatir. Tetapi aku tidak bermaksud seperti itu, kau harus mengerti, Grey. Aku melakukan semua ini hanya untukmu."
"Dimana letak kata mengerti yang kau maksudkan, jika kau sendiri saja tidak memberikanku rasa mengerti itu?
"Grey, saat ini aku sedang merasa sangat lelah. Aku tidak ingin bertengkar denganmu terlebih dahulu untuk saat ini. Biarkan aku beristirahat dulu, okay?"
"Kau tidak perlu membantuku. Berhentilah untuk menjadi pahlawan untukku, karena sesungguhnya kau tidak bisa melakukannya untukku, Estee. Kau tidak bisa memaksakan kehendakmu untuk menyembuhkan penyakit yang memang sudah ditakdirkan untukku ini. Kau tidak bisa, Estee."
"Aku tidak mengenal sosok Grey yang putus asa seperti ini."
"Putus asa atau tidak, kau tetap sudah menyakiti perasaanku, Estee."
"Aku tidak menyakiti perasaanmu, Grey. Dan jika kau merasa hal seperti itu, aku tidak pernah berniat untuk melakukan hal seperti yang ada di dalam pikiranmu itu, okay?"
"Apakah jika kondisiku nanti semakin memburuk dan sudah tidak seperti ini lagi, kau akan pergi meninggalkanku, Estee? Apakah kau akan mencari kebahagiaanmu di luar sana seperti yang sudah kau lakukan semalam? Kau pergi tidak meminta izin diriku, dan kau baru kembali pagi hari ini. Semua itu sudah menjelaskan semuanya, Estee. Tanpa kau yang memberitahunya sekalipun kepadaku."
"Astaga, Grey! Apa yang kau katakan?" Ucapku yang mulai merasa emosi setelah mendengar kalimat yang tidak aku duga akan keluar dari mulutnya itu.
"Ya. Di saat kondisiku yang seperti ini saja, kau sudah mulai pergi-pergi meninggalkanku. Apalagi jika disaat kondisiku sudah semakin memburuk. Apakah kau akan pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya juga?"
"Bicaramu semakin terasa melantur saja, kau tahu?"
"Aku, melantur? Aku hanya melihat kenyataan yang terjadi saat ini saja, Estee."
"Jika kau ingin tahu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku tidak berharap dan tidak ingin sampai kondisimu semakin memburuk, Grey. Tetapi jika suatu saat nanti hal seperti itu harus terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku tidak ingin meninggalkanmu dan juga tidak pernah memiliki niatan seperti itu. Sekali lagi, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Grey!" Ucapku dengan setiap penekanan di setiap kata yang keluar dari mulutku ini.
"Mungkin untuk saat ini tidak. Tidak tahu dengan hal yang terjadi esok hari, bukan?"
"Astaga, apa yang kau pikirkan, Grey?!" Balasku yang mulai tidak habis pikir akan hal yang ada di dalam pikiran pria itu, yang tidak pernah bisa aku tebak juga. "Kau tahu? Semua ini hanya akan memulai perdebatan di antara kita, okay? Saat ini aku sudah merasa sangat lelah, dan berdebat denganmu hanya akan memperburuk situasi yang terjadi di antara kita saja. Jadi, aku mohon biarkan aku beristirahat, okay?"
"Mungkin kau bisa mulai mengatakan dari mana saja kau selama seharian kemarin hingga baru kembali pagi ini, dan membuat rasa tidak mengerti yang aku rasakan ini menjadi terasa jelas? Apa kau bisa menjelaskannya kepadaku, Estee?"
Aku yang sudah benar-benar tidak bisa menghadapi Grey yang saat ini sedang dilingkupi oleh perasaan emosi, membuatku memutuskan untuk meninggalkan pria itu begitu saja dan melangkah menuju kamar mandi. Mungkin dengan guyuran air dingin bisa membuat perasaanku menjadi tenang setelah semua hal yang sudah aku lalui kemarin, dan ditambah lagi dengan sikap Grey yang kali ini mulai menaruh curiga atas rahasia yang sedang aku sembunyikan darinya.
Entahlah, semua ini terasa menjadi begitu membingungkan. Di saat aku sedang berjuang ingin membantu Grey, tetapi pria itu justru seakan menolak dan melarangku untuk tidak perlu membantunya. Grey memperlihatkan jika dirinya itu tidak ingin dibantu. Memikirkan semua itu, diriku menjadi seakan ditempatkan di posisi yang serba salah. Aku yang kini sedang menatap diriku di depan cermin kamar mandi dengan pandangan kosong, membuatku menjadi berpikir. Apakah usaha yang aku lakukan hanya untuk Grey ini, hanyalah terasa sia-sia dan tidak berguna saja?
Mengapa aku bisa sampai memiliki pikiran seperti itu? Karena sekarang aku sadar akan semuanya yang menjadi terasa sangat masuk akal. Hal pertama yang membuatku sampai memikirkan semua itu adalah aku yang semalam baru saja mengalami hal buruk dan hampir membuat nyawaku menjadi korbannya. Dan yang kedua, sekarang Grey yang begitu marah kepadaku itu sudah mulai tidak percaya denganku lagi. Semua itu membuatku menjadi bingung harus melakukan apa.
Apakah aku harus tetap menjalani pekerjaan ini demi tetap mendapatkan uang, walau sekalipun pekerjaan itu sudah memberikan sebuah trauma untuk diriku? Atau aku yang harus berhenti membantu Grey seperti yang diinginkan pria itu, dan membiarkan penyakitnya semakin memburuk hingga berakhir pada bagian yang sangat tidak aku inginkan dan sangat tidak aku harapkan jika benar-benar harus terjadi. Melihat dari kondisi fisik Grey yang kini semakin harinya sudah semakin melemah bersamaan dengan kondisi penyakitnya yang memang sudah memburuk, hal yang sangat tidak aku inginkan itu bisa memiliki kemungkinan yang sangat besar untuk bisa benar-benar terjadi.
***
To be continued . . .