Dinar tersenyum melihat Kirana tengah membuat sarapan. Ekspresi wajah gembira istrinya sudah lama tak dia lihat. Begitu memesona, membuat jantungnya berdebar-debar berirama senandung cinta. Perlahan Dinar mendekat, melingkarkan tangannya di pinggang Kirana. Dinar tidak pernah tahu, bila hanya dengan melihat pemandangan sederhana ini bisa membuatnya merasa begitu bersyukur. Tubuh mungil yang hangat, kulit halus yang nyaman dan harumnya untaian rambut Kirana membuatnya mabuk. “Selama pagi. Aku mau toast-nya pakai telur.” Tingkah sok romantis Dinar terlalu berlebihan manisnya, Kirana sampai kaku. Merinding akan rasa senang. Dia tak bisa menyembunyikan sapuan memerah di pipinya. Kecupan-kecupan yang mendarat di pundaknya meninggalkan sensasi hangat. Seperti ungkapan cinta tak terucap. “

