Kirana sedang berada di depan ruang bersalin. Menemani Elard menunggu Seira di dalam sana. Kedua orang itu begitu pengecut untuk masuk dan menemani. Seira juga teriak-teriak ogah dilihat dalam keadaan kacau. Jadi inilah yang mereka lakukan, menunggu dengan gelisah dalam kesunyian. Dinar kebetulan lewat di depan sana. Di matanya hanya ada sosok Kirana yang terlihat. Ia pun mendekat, berhenti tepat di samping Kirana. “Kirana lagi ngapain? Mau ajak pulang sama-sama ya?” Pertanyaan bernada genit itu dibalas dengan pelototan sinis. “Ngapain lagi memangnya kalau lihat orang menunggu di depan ruang bersalin.” Kirana mendengus. Terkadang otak Dinar suka tak jalan kalau sudah mikir hal-hal tak jelas. “Seira udah lahiran? Cepat amat!” Dinar terkejut, baru menyadari keberadaan Elard di samping i

