Memiliki Baby Flowers justru semakin membuka peluang besar bagi Synta dan si kecil mendapat tawaran photoshoot dan iklan. Synta mendapat tawaran iklan s**u pasca hamil, mengisi banyak majalah fashion ibu dan anak yang pastinya melibatkan baby Flo. Padahal Synta tidak mau anaknya di-ekspose, tapi Jenay dan Amber selalu memiliki cara untuk meyakinkan Synta bahwa keberadaannya tidak akan terlihat oleh orang-orang tidak bertanggung jawab.
"Pihak yang nggak bertanggung jawab itu gimana?!" kesal Synta karena projek kali ini benar-benar brand ternama yang sangat terkenal.
"Anak gue masih tiga bulan, ya! Kalian masih bisa maksa kayak gini?! Baby Flowers masih keciiiill. Pikir, dong baik-baik. Baby Flo dan gue butuh privasi."
Hormon Synta yang masih berantakan membuatnya tidak berhenti menangis. Rasa kesal membuatnya sering kali menangis di situasi tak terduga. Terlalu banyak tekanan yang datang. Entah dari pikirannya sendiri dan dari luar; pekerjaan.
"Hei... tenang. Jangan dibawa stres, dong, Syn. Gue nggak minta saat ini juga, kok. Kalo mau nunggu baby Flo agak gedean juga nggak apa-apa. Asal... jangan ditolak, ya. Mereka maunya lo dan baby Flo. Kalian, tuh mom and kids idaman banget."
Meski agak takut-takut mengatakannya pada Synta, Jenay tetap ingin mengutarakannya. Dia mau bujukkannya pada Synta berhasil.
"Gue..."
"Jangan terlalu diforsir gitu mikirinnya." Amber datang membawa jus apel yang sengaja dia buat di apartemen Synta.
Mengenal setiap sudut tempat tinggal itu dengan apik. Ruangan di apartemen Synta termasuk homey sekali. Dia seolah sengaja menyewa dan mengisi apartemen layaknya para keluarga di Jepang lainnya.
Ada kamar yang berada di dekat pintu masuk. Synta menggunakannya sebagai ruangan menyimpan barang-barang baby Flo saja. Satu kamar lagi dia gunakan untuk tidur bersama baby Flo.
Amber jadi senang sekali datang ke apartemen Synta. Sudah persis seperti rumah kedua bagi wanita yang katanya tidak ingin menikah itu.
"Lo bikin jus dari apel di kulkas gue?!"
Jenay memicing dengan keras. Membujuk Synta agar tidak terlalu berpikir yang tidak-tidak.
"Santai, oke. Gue udah minta Roy buat ngisi kulkas lo lagi, kok."
"Ngapain diisi?! Kulkas gue udah penuh sama asi cadangan."
Jenay dan Amber saling melempar lirikan.
"Oke. Lo maunya gimana?" Amber memulai.
Mengurut kepalanya, Synta menarik napas dalam.
"Sori. Lupain aja. Kayaknya... gue terlalu banyak pikiran."
Diusap-usapnya punggung Synta oleh kedua sahabatnya itu.
"Lo emang harus istirahat. Ngurus bayi sendirian, tuh berat. Uhm... gimana kalo gue suruh Roy cariin baby sitter?"
"Tapi gue nggak bisa percayain baby Flo gitu aja ke orang lain."
Agak susah memang, Synta sulit mempercayai anaknya diasuh oleh jasa baby sitter.
"Kasih gue waktu aja, ya. Sori. Gue belum bisa ambil job deket ini. Baby Flo jadwal tidurnya masih belum teratur. Gue agak stres, capek badan, tekanan pekerjaan juga bisa bikin gue lebih gila... mungkin."
"Santai aja. Oke? Gue nggak gila sampai bikin lo tertekan."
Ketiganya saling berpandangan, tak lama mereka tertawa keras hingga baby Flo mengeluarkan protes dalam bentuk tangisan.
"Anak gue nangis, tuh gara-gara kalian!" Synta berdiri dengan menggerutu dalam tawa.
"Eh. Lo juga andil ikutan berisik, ya!" seru Jenay agar suaranya terdengar sampai kamar Synta.
Senangnya hidup, tanpa harus memikirkan hal buruk terjadi ke depannya. Karena Synta, sedang mengusahakan hal itu. Agar hidupnya tenang, senang, dan berkembang.
*
Hidup Yessynta memang terasa lebih berwarna dengan kehadiran Baby Flowers dalam hidupnya.
Memandangi mata Flo yang tertutup membuatnya sadar, ketika mata itu terbuka, yang terjadi adalah keterikatan lebih dalam antara dirinya dan si kecil. Warna mata Flo begitu biru, hal itu mengingatkan Synta bahwa dia juga memiliki warna mata asli yang sama birunya seperti Flo.
Tidak dia ketahui dari mana asal sang ayah hingga sudah pasti mewariskan mata biru itu pada Yessynta, dan kini untuk Baby Flo juga. Yessynta memang tidak tahu, pria mana yang menghamili ibu kandungnya hingga dia hadir di dunia ini. Tapi Synta bisa merasakan, dia memiliki gen eropa yang kental.
Untungnya zaman sudah canggih. Dia bisa menggunakan soft lens warna cokelat atau hitam, jika malas, dia akan mengelabui warna biru matanya dengan kacamata yang eye catchy tanpa takut diperhatikan orang-orang ketika mendapati warna matanya.
Namun, Synta tidak bisa melakukan hal yang sama pada Baby Flo.
"Baby Flo... ibu mau bikin kesepakatan sama kamu."
Meski sadar putrinya tidak akan bisa membalas dan menyetujui kesepakatan yang hanya Synta sendiri pahami, dia tetap mengungkapkannya pada si kecil.
"Suatu saat, ibu yakin kamu akan tetap ketemu sama laki-laki itu." Synta mengusap pipi Flo. Mengamati jejak kerut kulit Flo yang belum sepenuhnya hilang bekas bayi itu berada di rahim Synta. "Jangan pernah mengharapkan apa pun sama laki-laki itu, ya. Dia nggak akan pernah seratus persen buat kamu, Sayang. Laki-laki itu punya hidupnya sendiri, dia akan hidup dengan sombongnya, dan akan selalu menindas ibu meskipun ibu bisa melakukan apa pun tanpa menjadi pelacur."
Tak Synta sadari, lelehan itu meluncur hingga menetes di pipi putrinya. "Ibu bukan jalang seperti yang laki-laki itu ucapkan pada ibu. Ibu bukan perempuan murahan yang menjual s**********n. Ibu murah cuma untuknya, laki-laki yang dengan teganya menghina cinta ibu."
Bercerita pada Flo adalah hal paling menyenangkan. Bayi itu tidak akan menyangkal atau mencerca ucapan Synta. Flo tidak akan membuatnya terlihat menyedihkan sekaligus menjijikan. Dia tidak akan dicibir menjadi simpanan atau selingkuhan oleh Flo.
"Ibu punya kamu sekarang," ucap Synta begitu terdorong mengeluarkan segala rasa dalam dadanya.
"Dan lo punya kita buat bagi cerita, Syn. Nggak cuma baby Flo yang lo jadiin tempat curhat kelewat dewasa lo itu!"
Yessynta menoleh, di depan pintu kamarnya sudah ada Jenay, Amber, dan Roy dengan wajah pelongonya.
"Lanjutkan sesi kalian. Aku akan menaruh ini."
Roy menenteng kantong plastik berisi bahan makanan yang Synta yakini sudah disortir Amber berdasarkan saran dari dokter Synta.
Kedua sahabatnya berjalan semakin mendekat, Synta menatap heran pada mereka, khususnya Amber.
"Laki lo nggao punya kerjaan apa? Bisa-bisanya ngintilin lo begini. Lo suruh jemput dateng, lo suruh anter dateng, lo suruh belanja mau." Synta mengusap mata dan pipinya yang basah karena airmata.
Jenay memanyunkan bibir seraya mengusap pipi baby Flo yang terkena basah airmata Synta juga.
"Jahat lo, Synta. Baby Flo cantik dan anteng tidur gini lo dengerin cerita s***s!" protes Jenay tak suka.
"Eh, pengangguran! Diem lo," tegur Amber.
Dicibir begitu, Jenay mengalah memilih diam.
"No more tears for that jerk like you've said. Okay?"
Yessynta tahu itu adalah janji naif. Menangis disebabkan Yongka adalah mutlak. Dia akan selalu menangis hanya dengan membayangkan pandangan meremehkan Yongka.
Tapi dia berjanji untuk lebih kuat dengan turunnya satu airmata.
Pasti!
*
- Nggak semua hal bisa lo milikin.
Yessynta benci untuk mengakui satu hal. Mencintai Yongka hingga ingin memiliki laki-laki itu. Dulu, mungkin, dia akan melakukan cara paling rendah untuk terlihat murahan di depan Yongka. Tentunya sebelum laki-laki itu memutuskan menikahi wanita lain. Yang katanya baik dan sopan seperti Ganeva.
Ketika menyadari bahwa sampai berapa tahun pun dia menunggu di sisi laki-laki itu, dia tidak akan mendapatkan atensi Yongka, dia memulai rencana baru.
"Jadi, gue boleh tahu siapa laki-laki b******k yang bikin lo harus besarin baby Flo sendiri?"
Amber memulai interogasinya tanpa Jenay di sana. Bagaimanapun, Jenay tetap berjenis kelamin laki-laki walau secara batiniah dia tidak suka dengan itu.
"Dia nggak b******k. Gue aja yang terlalu b**o, Amber."
"Cinta banget lo, ya sama tuh laki. Sampai dibelain begini." Begitu sewotnya Amber pada laki-laki yang belum dia ketahui namanya itu.
Berdecak menyerah, Amber mencari jawaban lain. "Kerjaannya apaan?"
"Dokter."
"Wow! Ada dokter b******k juga, ya."
Synta hanya bisa tertawa ringan. Memangnya harusnya status pekerjaan memengaruhi sifat baik dan buruknya seseorang?
"Jadi... bukan orang Jepun, ya. Baby Flo aja nggak ada sipit-sipitnya."
Synta tidak menanggapi lebih banyak, dia beranjak menuju dapur untuk membereskan cucian piring yang tidak banyak. Kegiatannya selama baby Flo tertidur nyenyak adalah membereskan rumah dan mencuci pakaian baby Flo yang habis terkena ompol serta poop bayi itu. Flo benar-benar benci menggunakan pampers pada bayinya, karena bisa merusak kulit si kecil. Ruam merah terutama.
Amber dengan santainya menjulurkan kaki ke atas meja hingga lurus sempurna. Lagaknya sudah persis tuan rumah.
"Kapan rencananya lo mau ke panti asuhan?" tanya Amber.
"Nanti, deh, ya. Mungkin, kalo baby Flo udah bisa duduk. Sekarang, gue pengen santai dulu di rumah bareng baby Flo. Masalah yang lain-lain biar nanti gue hubungin lo dan Jenay buat bantu."
Membilas tangannya, Synta tidak kembali duduk bersama Amber. Dia bergerak menuju kamar dan mengambil keranjang pakaian kotor si kecil yang masih terhitung lima biji.
"Iiihhh! Nggak bisa diem banget, sih lo. Inget bekas operasi, tuh!" sergah Amber sembari menikmati camilan kesukaannya; kacang almond.
"Gue inget, kok. Ini juga tetap hati-hati geraknya."
Amber maupun Jenay sudah paham sifat yang dimiliki Synta itu. Tidak suka ada yang kotor. Menurut orang lain biasa saja, tapi kalau Synta, tidak akan dibiarkan begitu saja.
Bunyi bel menandakan kedatangan seseorang. "Gue pulang, ya!" pamit Amber. "Roy udah di depan. Jemput."
Synta menoleh ke ruang tamunya. "Kok nggak masuk?"
"Buru-buru dia, katanya."
"Oh, yaudah, deh." Synta kembali fokus membersihkan pakaian si kecil.
Tak lama Amber keluar, bel rumah Synta terdengar lagi.
"Ya, bentar!" seru Synta dari dalam.
Dikuncirnya rambut yang keluaran hingga mengganggu aktivitasnya.
"Good even... ing."
"Nona Yessynta," panggil suara itu.
"Targa? Ngapain kamu ke sini?"
Tidak menyembunyikan keterkejutannya sama sekali, Synta bahkan lupa menyuruh laki-laki itu masuk sebagai tanda sopan santun.
Tapi, Synta pikirkan dengan kesadarannya, Targa hanya sekelumit orang yang akan menyampaikan informasi mengenai keberadaannya dan bisa mengetahui baby Flo jika dibiarkan masuk.
"Nona Yessynta. Kakak Anda meminta saya"
"Saya baik-baik aja, Targa. Seperti yang kamu lihat, nggak kekurangan apa pun. Saya sudah punya pekerjaan baru dan tempat tinggal baru. LEBIH LAYAK dari apartemen saya sebelumnya, seperti yang Yongka mau. Jadi, laporan kamu sudah selesai, kan?" dengan tajam Synta berkata, "Silakan pergi dari sini."
Karena Synta tidak mau ada suruhan Yongka yang mengetahui keberadaan baby Flo. Tidak akan aku biarkan secepat ini.
*
Rencana ke panti asuhan bukan untuk menaruh baby Flo di sana. Melainkan untuk menggelar syukuran. Karena Synta tidak tinggal di Indonesia, berbagi kepada pihak panti asuhan adalah salah satu bentuk syukur karena diberikan rezeki melimpah. Rezeki dalam pekerjaan dan uang, serta kelahiran baby Flo.
"Uang buat pihak panti beres, kan?" tanya Synta agak panik.
Perempuan itu memakaikan baju untuk si kecil dan baby Flo tidak berhenti menangis sejak bangun tidur tadi.
"Lo, sih, Syn! Bocah baru bangun lo langsung mandiin. Ngambek, kan ponakan gue."
Jenay sudah seperti benar-benar tante bagi baby Flo. Malah, mulutnya itu lebih rewel dari baby Flo yang ditangani sang ibu.
"Berisik!" Amber melempar Jenay dengan botol minyak bayi milik baby Flo.
"Udah jam berapa sekarang?"
Buru-buru Synta membawa si kecil untuk dipangku dan disusui lebih dulu. Awalnya baby Flo tetap bertahan dalam mode ngambek, tapi ditelateni oleh Synta agar menyusu, baby Flo bisa tenang.
"Udaaaaahhhh... nggak usah mikirin jam berapa. Sana lo mandi dulu! Masa baby Flo udah cantik, ibunya belom apa-apa. Pantes baby Flo ngambek. Lo belom mandi dia udah dimandiin."
Amber menggendong baby Flo dari Synta yang sudah disusui dan sekarang terlelap lagi. Sepertinya baby Flo lelah karena menangis keras sedari bangun tadi.
"Jagain dulu, ya. Asi cadangan udah gue taruh di cooler box. Ambil di sana aja kalo baby Flo bangun, ya."
Jenay dan Amber hanya bisa mengelengkan kepala melihat rusuhnya Synta. Kedua sahabat Synta itu bisa merasakan apa yang membuat baby Flo tidak tenang. Ibu dari bayi lima bulan itu yang menyebabkan baby Flo tidak tenang.
"Ber, lo nyadar nggak, sih belakangan ini si Synta malah kayak orang takut gitu?"
Amber yang awalnya asik menimang baby Flo layaknya bayi miliknya sendiri, menanggapi dengan dehaman.
"Kenapa, ya? Apa ada hubungannya sama si bapak baby Flo?"
Amber menghela napas lelah. Sudah berkali-kali juga dia menanyakan hal yang sama pada Yessynta. Tapi tanggapan sahabatnya itu hanya penolakan untuk membahas hal yang terus dirahasiakan oleh Synta sendiri.
"Udahlah, gue males bahasnya. Orangnya sendiri aja nggak mau ngaku, biarin aja, kalo ada apa-apa dia hadapin sendiri. Dia udah gede, kan. Udah tahu risiko yang dia lakuin."
Diam-diam, Yessynta mendengar obrolan kedua sahabatnya. Betul. Apa yang diucapkan Amber, dia sudah paham risiko dari perbuatan yanh dia lakukan. Jadi, menurut Synta, tidak perlu menceritakan apa yang terjadi sampai baby Flo ada.
*
Usai melaksanakan niatnya untuk menyumbang di panti asuhan, juga merayakan kelahiran baby Flo dengan membagikan dan menikmati makanan bersama di sana, mereka berniat pergi ke pantai untuk menyegarkan pikiran. Terutama bagi Synta.
"Mau nyebur, nggak?" tawar Amber.
"Gila lo! Ini cuaca lagi berangin!" Synta merapatkan jaket baby Flo yang sudah dia lapis-lapis. "Untung gue bawa jaket lumayan buat baby Flo."
"Yaudah. Gue cari makanan dulu. Lo mau ke mana, Jen?" tanyanya sembari menggenggam Roy yang sedari tadi diam saja dan memerhatikan wajah Amber.
"Ikut lo boleh?"
"Nggak!" tolak Amber.
"Yaudah, deh. Gue mau ke supermarket bentar, vapping...."
Ya, tentu saja Jenay harus mencari tempat yang memperbolehkannya menghirup benda sejenis rokok itu.
"Sekalian cariin tempat yang bisa buat nyusuin baby Flo, dong!"
"Hm? Di mobil aja. Nyalain AC-nya."
Synta kembali melirik Roy. Pria itu benar-benar tidak dalam mood yang baik.
"Oke. Entar gue ke sana. Gue hubungin lo aja kalo waktunya baby Flo nyusu."
Ditinggal sendirian—berdua bersama baby Flo—dia berjalan-jalan di sekeliling bibir pantai saja. Lebih menenangkan berada di sana. Setidaknya mengurangi rasa bosannya selama mengurus baby Flo di rumah.
"Nona Yessynta?"
Kenapa sekarang?
*
Bungkam Yessynta menarik rasa penasaran kedua sahabatnya. Sejak kejadian di pantai, tadi. Amber dan Jenay tidak mengerti kenapa banyak sekali orang yang sibuk mencari-cari Synta seperti itu.
"Itu tadi, namanya Targa? Siapanya lo?"
Synta menyibukkan diri guna menidurkan baby Flo setelah sempat merajuk karena sesi menyusu terganggu. Jenay sendiri memilih tidak banyak komentar, sebab takut malah membuat mood Synta makin berantakan, yang ada kontrak dengan pihak brand bisa batal.
"Cuma salah satu orang suruhan keluarga gue," jawab Synta tenang.
Toh memang tidak perlu panik menghadapi situasi seperti ini, juga situasi di pantai.
"Kok dia maksa lo pulang, Syn? Ada masalah di Indo? Visa lo bermasalah di sini emangnya? Perasaan lo rajin urus, deh."
Synta mengelus tangan bulat sang putri, baby Flo suka sekali marah jika sesi menyusu terganggu atau terpotong. Jika menangis, suaranya akan menggelegar, dan pastinya dapat mengganggu orang lain.
Dalam bayangan Synta, bagaimana bisa bayi sekecil dan semenggemaskan seperti ini menimbulkan benci dan didendam sampai sebegitu hebatnya. Synta jadi kembali membayangkan, kemana semua orang saat dirinya sekecil baby Flo, dengan mata biru dan bibir merah dan kulit yang begitu halus. Apakah Yessynta mendapatkan kesempatan untuk disusui seperti ini?
Jika tidak. Synta sudah bersyukur, bisa memberikan baby Flo apa yang tidak bisa ibu kandungnya berikan saat itu. Bahkan hanya untuk secuil kasih sayang.
"Syn... jangan bilang... mereka mau... anak lo?"
Amber menebak dengan rasa tak percaya. Karena saat membahas mengenai keluarga, Synta selalu menekan pandangannya pada baby Flo. Tidak terpikirkan sebelumnya oleh Amber, keluarga Synta akan mencari hingga ke pelosok Jepang.
"Mereka nggak akan peduli sama baby Flo, Ber."
"Terus?"
Synta terkekeh pelan, menatap Amber yang begitu penasaran padanya.
"Nggak usah diterusin, Amber. Lo paham kalo keluarga gue memang rumit. Nggak ada yang perlu tahu kenyataan tentang baby Flo." Synta kembali menurunkan pandangan pada putrinya. "Apalagi... ayah kandung baby Flo."
Synta tidak akan pernah mau membuka masalah baru. Kedatangan Targa di pantai, ternyata memang memiliki tujuan untuk membujuknya pulang. Tidak ada bayi yang diutamakan dalam misi itu. Targa memang seprofesional itu dalam mengemban tugas. Jika disuruh membujuk Synta pulang, hanya itu yang Targa lakukan.
Setidaknya, Synta memiliki ruang untuk menjaga baby Flo lebih baik lagi.
*
Lima tahun....
"Sekali lagi, ya. Ibu Flo tolong agak naikkan boneka baby Flo."
Dengan senyuman, Synta mengecup kening putrinya yang justru terlihat lebih senang diajak berpose begini.
"Are you enjoy, baby Flo?" bisik Synta.
Jawaban baby Flo adalah dengan kecupan dalam di pipi Synta. Sontak saja Synta melebarkan senyuman.
"NICE!" sang photografer mengacungkan tangan senang.
Semua kru bertepuk tangan, menandakan sesi pemotretan selesai. Seluruh kru kembali sibuk menata set untuk rapi.
Jenay sibuk mengurus dua bintang sekarang. Pekerjaannya semakin padat dari tahun ke tahun dimana baby Flo semakin besar.
"Nte Jen... Flo boleh ambil permennya?"
Jenay melirik pada baby Flo kesayangannya itu. "Ambil aja, Sayang. Itu memang disediain buat kamu, kok."
Senyum Flo merekah. "Semuanya, Nte Jen?"
"Nggak. Ibu nggak mau kamu ngeluh sakit gigi malam-malam baby Flo."
Synta datang membawa s**u pertumbuhan baby Flo. Satu tumbler kesayangan baby Flo selalu dibawa kemana pun untuk wadah s**u bocah itu.
"Ibu pake mata hitam lagi? Flo sama ibu matanya nggak sama lagi," protes baby Flo.
"Nanti. Di rumah kita samaan lagi. Sekarang, minum susunya."
Baby Flowers menurut. Setelah sesi pemotretan hari ini, Synta harus pastikan, anaknya tidak kelelahan.
Tak lama masuklah pria yang seringnya ditunggu oleh baby Flo.
"Papaaaaaa!"