Yessynta menjalani hari dimulai dengan pagi sehatnya. Semenjak hamil, dia memang lebih memilih untuk menjalani hidup yang lebih, lebih sehat lagi. Padahal, semasa dia menjadi model pun hidup sehat selalu dia lakukan. Tidak ada alkohol, rokok, obat tidur, dan apa pun yang bisa mengganggu kinerja tubuhnya secara normal.
Synta tahu betul bagaimana cara menghindari stres berkepanjangan. Sebab itu, Jenay mau dan bersungguh-sungguh menjadi manajer yang ketat dan lebih peduli jadwal Synta ketimbang dirinya sendiri.
Tubuh bugar Synta adalah jaminan, pundi-pundi penghasilan bisa didapatkan.
"Jadi, seratus persen lo nggak kerja begituan lagi?" Amber bertanya.
Memicing keras pada Amber, Synta menaruh gelas s**u hamilnya. "Lo yang ngenalin gue sama kerjaan begituan, ya. Jangan nanya dengan nada mengecam gitu, dong!"
Perempuan dengan alis tebal, Amber, itu mengangkat gelas wine-nya. Meneguk perlahan hingga menghangatkan tubuhnya.
"Sori. Lupa." Jawab Amber setelah pembahasan itu tidak mutu lagi untuk dibahas.
"Terus, lo mau ngegedein itu anak pake uang apa?"
Tidak Jenay, tidak juga Amber. Mereka adalah kesatuan yang paling malas membahas hati, perasaan, dan apalagi... cinta. Melihat keadaan Synta yang berbadan dua dan mengatakan makhluk yang akan disebut bayi itu adalah hasil cinta, tidak ada yang percaya pada ucapan Yessynta.
"Jangan dijadiin bebanlah, Ber. Gue bisa cari kerjaan lain pake ijazah hasil lulusan luar negeri gue. Ya... biar kepake itu lembaran."
"Lo bilang jangan jadiin beban? Jelas-jelas itu anak pasti membebani lo," tukas Amber sinis.
"Plis. Jangan judge anak gue kayak gitu. Nggak ada yang boleh menilai anak ini beban, atau apa pun itu! Anak gue jelas rezeki. Dia yang bikin hidup gue lebih benar, kenapa, sih, kalian selalu jadiin kambing hitam ini anak hanya karena gue yang berhenti jadi model t*******g!!!"
Synta menahan lelehan airmatanya. Dia tidak bisa menahan betapa sakitnya ketika dinilai buruk, lalu sekarang, saat ada masa transisi dia menjadi lebih baik... semua orang disisinya mempertanyakan.
"Gue ngelakuin hal salah, dikatain. Sekarang. Gilirin gue mau berubah lebih baik, malah dipertanyain. Kalian bahkan menjadikan anak gue kesalahan." Synta ingin semuanya keluar. Dia tidak suka anaknya juga terkena hinaan, cukup dirinya saja. "Gue nggak suka, Amber. Tolong. Jangan hina atau bilang kalo anak gue adalah beban."
Berdiri dari tempatnya berada, Synta membawa gelas menuju kitchen sink, dan mencucinya lebih dahulu sebelum meninggalkan Amber sendirian.
*
Adegan marah-marah antara kedua perempuan itu pun terendus oleh Jenay. Banci yang memang sering bolak balik ke apartemen mereka itu sudah menjadi sahabat bagi Synta dan Amber. Jadi, saat ada yang salah dengan suasana di sana, Jenay merasakannya.
"Kalian marahan?"
Amber memilih melipir kembali ke kamarnya sendiri, lalu Synta bungkam saja sembari membuat menu makan siangnya serta bayi dalam perutnya sendiri.
"Kok gue kalian cuekin aja, sih?!" gerutu Jenay. "s****n—"
"Gue nggak suka lo ngomong kasar, Jen. Lo boleh ke luar dari sini kalo nggak suka dicuekin."
Gelagat aneh itu tentu saja meyakinkan Jenay.
"Beda pendapat apalagi lo berdua?" tanya Jenay lebih halus.
Masih belum mendapat jawaban.
"Ya ampun! Kalian itu udah tua! Umur kalian, tuh udah bukan pantes disebut ABG lagi."
Synta melirik sinis pada Jenay. "Lo juga!"
Memutar bola mata malas, Jenay mengangsurkan ponselnya pada Synta.
"Karena lo nggak mau bahas masalah kalian apa. Mendingan kita bahas masalah kerjaan sekarang." Jenay menunjuk baris chat di sana. "Model baju ibu hamil. Gimana? Not bad, kan?"
*
Keraguan Yessynta masih bersarang dihatinya. Tawaran menggiurkan dari Jenay untuk menghidupi biaya kelahiran si baby milik Synta memang meyakinkan. Bisa dipastikan, Jenay akan mengambil projek yang besar dengan honor yang tidak sedikit. Mengingat kemampuan Synta di depan kamera yang sangat cantik, pas, dan profesional dalam sekali bidik.
Tapi masalahnya, kehamilan Synta akan terkuak jika dirinya masuk dalam majalah atau media apa pun yang membuat wajahnya terpampang jelas.
Bunyi gletak gletuk dari dapur membuyarkan lamunan Synta. Dilihatnya Amber yang sedang menyemili kacang almond kesukaan mereka.
Merasa diperhatikan, Amber menyalak, "Apa?!"
Tak terima diketusi seperti itu Synta membanting gelas bekas susunya, dan berlalu begitu saja dari Amber.
Hampir jarang sekali keduanya membuat sesi renggang seperti ini. Paling lama hanya semalam mereka diam-diaman, tapi sekarang beda. Komunikasi mereka semenjak Synta hamil menjadi agak kacau. Mungkin karena Amber tidak sepemikiran dengan Synta kali ini.
Mendesah napas lelah, Amber memutuskan untuk mengalah. Dia hampiri Synta yang sedang mencuci bekas gelasnya.
"Ngelihat lo hamil gini, cuma ngingetin gue sama mama gue, dulu."
Gerakan Synta terhenti sesaat. Amber sudah berposisi menyandarkan pinggangnya pada sisi kanan kitchen sink. Amber tidak menghalangi Synta untuk menaruh gelas di rak setelah selesai dikeringkan.
"Lo tahu, kita berdua bukan anak perempuan yang dilahirkan dengan suka cita. Jadi, tahu lo hamil begini dan maksa ngerawat bayi itu... gue kaget."
Yessynta tidak terlalu terkejut mendengar penuturan Amber. Dibalik semua alasannya memilih hamil anak dari Yongka, itu karena Synta yakin jika dia bisa bahagia.
"Gue tahu, kita udah bersahabat baik semenjak kuliah. Lo junior yang bikin gue kagum. Karena lo nggak pernah nunjukkin sisi lemah lo ke siapa-pun. Dengan lo hamil... gue takut lo jadi lemah."
Synta menurunkan tangannya dari rak. Merapatkan bibirnya untuk menahan balasan sinis karena sisi sensitif ibu hamilnya tergugah.
"Gue... minta maaf, Syn."
Synta menggeleng pelan. "Lo nggak sepenuhnya salah. Gue juga yang terlalu naif. Tapi nggak pa-pa. Gue yakin bisa ngelewatin semuanya, kok. Dengan bayi ini. Anak gue."
Amber menyunggingkan senyuman pada Synta. Dia yakin sekarang, Synta bisa menjadi perempuan dan ibu yang baik untuk anak yang sedang diperjuangkan itu.
"Gue denger dari Jenay, lo masih ragu ambil photoshoot baju hamilnya?"
Diangguki oleh Synta, Amber bertanya, "Kenapa? Apa ada hubungannya sama si bapak bayi lo?"
Sekali lagi Synta mengangguk.
"Gue nggak ngerti, sih, hubungan rumit lo sama laki-laki mana sampai hamil gini. Tapi yang pasti, gue akan bantu semampu gue supaya photoshoot lo ini nggak akan bocor ke pihak nggak bertanggung jawab."
Synta mengernyit. "Kok lo yang bantu? Emangnya lo ada keterlibatan?"
Amber menyengir, dengusan kecil keluar dari bibir wanita itu. "Marahan tiga hari ternyata bikin kita buta informasi satu sama lain, ya."
"Lo nggak. Cuma gue," balas Synta agak iri. Sebab Amber lebih care ketimbang sebaliknya.
"Yang punya brand, itu inceran gue."
Synta melongo. "SERIUS???"
"Serius gue," Amber terkekeh. "Dia nggak tahu, sih kalo lo sahabat gue. Tinggal satu apartemen lagi. Tapi kalo lo beneran ACC, gue bakal usahain semaksimalnya supaya informasi pribadi lo aman. Termasuk, anak lo itu."
Sekarang, Synta merasa tak perlu ragu lagi untuk menerima ajakan Jenay. Dia akan bekerja, semaksimal mungkin untuk mengurus dan merencanakan masa depan anaknya.
*
Jenay menaruh wardrobe kebutuhan Synta photoshoot sebelumnya. Dia siapkan secara terperinci agar Synta tidak terlalu kelelahan mengingat perutnya yang semakin besar. Sudah tujuh bulan usia kandungan itu, membawa rezeki yang tidak disangka-sangka. Masih di dalam perut, sudah ada pihak yang kurang kerjaannya menawari iklan untuk produk bayi pada Synta. Ya, meskipun tidak secara langsung, melainkan menghubungi Jenay lebih dulu. Tapi rasanya si bayi sudah terkenal saja sejak di dalam kandungan.
Dibawa kerja dan tidak rewel sama sekali, Synta bersyukur bisa mendapatkan tumpukan rezeki tersebut. Karena sepertinya, si bayi begitu senang ketika diajak berpose bersama sang ibu.
"Jen, boleh minta tolong ambilin s**u gue?"
Salah satu perubahan dalam diri Synta adalah berbicara dengan sopan. Dia berhati-hati sekali ketika meminta bantuan orang lain, tidak seperti dulu, kalau lelah meminta apa pun serba pakai emosi.
"Mau dibikinin, Syn?" Jenay bertanya.
"Nggak usah. Sini, biar gue aja yang bikin."
Jenay langsung memicing. "Gue aja yang bikin. Dengkul lo pasti lemes, kan?"
Synta meringis tidak nyaman. "Makasih, ya, Jen."
"No prob'. Selama lo nggak kecapean, gue siap, kok."
Synta sendiri hanya bisa berkomunikasi dengan beberapa orang saja di sana. Karena jarang sekali yang bisa berbahasa inggris. Fotografer, Jenay, dan paling banter si pemilik brand yang suka memantau jalannya photoshoot.
Sisanya, Jenay yang menangani. Karena si banci itu jago berbahasa Jepang. Karena kepandaian berbahasanya, banyak yang menawari Jenay untuk menjadi manajer artis-artis terkenal di Jepang. Apalagi, agensi di sana sangat maju.
Pekerjaan sahabat-sahabat Synta memang luar biasa unik. Amber, dia adalah salah satu artis vokal di Jepang. Pekerjaannya adalah menjadi pengisi suara tayangan anime. Jangan diragukan gajinya, sebab tayangan anime sangat diminati di Jepang.
"Nih, susunya."
Synta menerimanya dengan menghantar senyuman pada Jenay. "Duh..." lirih Synta.
Pandangan cemas Jenay tidak bisa terelakkan.
"Kenapa?"
Dengan lemas, Synta mendongak untuk membalas tatap Jenay.
"Jen... perut gue sakit banget." Synta mencari pegangan, dan Jenay langsung menyodorkan tangannya. "Kayaknya... baby gue... mau lahir, Jen."
Seluruh kru memandang heran pada Jenay dan Yessynta.
"Syn, jangan ngaco, deh! Kandungan lo masih tujuh bulan, lho. Mungkin cuma kram kayak biasanya..."
Gelengan keras Synta membuat Jenay semakin panik. "Ini... sakitnya nggak kayak biasanya. Aduh...."
Yessynta agaknya bersyukur karena masih sempat mengikuti kelas senam ibu hamil. Karena sidikit banyak, dia bisa tenang menghadapi rasa sakit yang menyerang.
"Apa yang terjadi?" Roy Lee, kekasih Amber sekaligus pemilik brand datang dengan cepat.
"Roy... sepertinya dia akan segera melahirkan." Jenay membalas tidak yakin.
"Apa?! Bukankah—"
Roy tidak melanjutkan ucapannya, masih banyak pekerjaan yang harus dia urus. Dan wajah kesakitan Synta membuatnya tidak mau mengambil risiko, bintangnya melahirkan di lokasi.
"Untung saja bagian ini sudah selesai. Ayo, bawa dia ke rumah sakit."
Tanpa memperlama lagi, Synta segera dibawa ke rumah sakit ternama. Dan benar saja, bayi Synta sudah ingin keluar dari rahim perempuan itu. Kelahiran sebelum waktunya ini membuat si bayi harus dikeluarkan dengan jalan operasi.
"Roy!" seru Amber dengan wajah cemasnya. "Oh, Tuhan. Apa yang terjadi, Roy?"
"Her baby want to know the world."
Amber tidak bisa menahan rasa harunya. Bagaimana pun, dia juga perempuan, melahirkan seorang bayi adalah keinginannya yang terpendam.
"Kenapa kamu menangis, Sayang?"
Roy membawa kekasihnya ke dalam pelukan, menciumi puncak kepala Amber dengan sayang.
"Roy..."
"Hm?"
"Jangan tinggalkan aku, Roy. Don't leave me."
Tentu saja Amber tidak ingin ditinggalkan. Melihat Synta yang harus melahirkan, berjuang sendirian tanpa seseorang yang seharusnya menemani, membuat Amber memikirkan dirinya. Synta akan berbahagia dengan kelahiran bayinya, dan Amber, sudah pasti ingin berbahagia bersama kekasihnya.
Impas.
Amber tidak akan mencela apa pun keputusan Synta selanjutnya bersama si bayi setelah semua ini. Dia tidak akan berpijak di tempat yang sama lagi. Mendoakan sahabatnya, adalah cara terbaik.
"Apa Synta akan baik-baik saja, Roy?"
"Tentu saja. Tenanglah. Sahabatmu akan baik-baik saja."
Benarkah?
Akankah semuanya baik-baik saja?
*
Semuanya terasa begitu lengkap. Synta tidak tahu bagaimana cara menyatakan kebahagiaan itu. Dia yakin, semua wanita yang merasakan menjadi ibu juga paham bagaimana tidak terjemahkannya segala rasa bercampur ketika ada makhluk yang tumbuh dalam tubuhnya, dan bisa membuat makhluk tersebut lahir ke dunia.
"Wow... cantiknya...."
Jenay tidak bisa menyembunyikan rasa kagum, ketika mendapati bentuk asli ciptaan Tuhan itu. Meski masih harus ditaruh dalam inkubator khusus, anak Synta tersebut luar biasa cantiknya dalam keadaan sangat mungil.
Jenay tidak tahan untuk menyimpan ponselnya saja, dia ingin memotret calon gadis mungil itu di ponsel canggih dan mahalnya.
Amber dan Roy hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Jenay yang super norak. Sedangkan Synta, duduk di kursi rodanya seraya memandangi bayinya tanpa memedulikan sahabatnya yang sibuk sendiri.
"Lucu banget, siiihhh."
"Jen. Berisik banget, sih! Diomelin susternya nanti!" Amber berbisik agar bayi-bayi yang ditangani di sana pun tidak terganggu.
Diperingati seperti itu, Jenay mencibir Amber yang terus menunjukkan kemesraan dengan Roy Lee-nya.
"Maaf. Jam-nya sudah habis."
Singkat sekali. Hanya diberi tanda seperti itu, mereka semua ke luar dari ruangan yang sangat disterilisasi itu.
Celetukan Jenay mengiring langkah mereka untuk kembali mengantarkan Synta ke ruangannya.
"Nama yang ditulis, Baby Flowers...? Lo beneran ngasih nama anak lo itu, Syn?"
Yessynta tersenyum maklum. Jenaya dan banyak orang lainnya pasti akan menanyakan keseriusannya memberi nama putrinya sendiri layaknya nama mainan saja.
"Baby Flowers. Itu memang namanya, kok. Kenapa?"
Roy diam saja. Dia tidak mengerti bahasa Indonesia, yang dia mengerti hanya bahasa Inggris dan Jepang.
"Nanti kalo dia udah gede, panggilannya baby... gitu?" Amber menyambar.
Synta tertawa dan menjawab enteng, "Terserah mereka mau panggil nama anak gue apa. Yang jelas, gue panggil dia baby Flo."
"Baby Flo, good names." Roy menyeletuk membuat pandangan Jenay dan Amber terarah padanya.
"Ada apa?" sahut Roy merasa aneh diperhatikan oleh kekasihnya dan Jenay.
"Kamu menyebut 'good names' seolah kamu adalah ayahnya." Jenay memicing curiga.
"Hei, hei. Jangan sembarangan! Gue nggak terima, ya, kalo anak gue dikira hasil hubungan gelap sama Roy. Enak aja lo pada."
Sisi ketus Synta memang masih ada. Ciri melekat sebenarnya. Tapi semenjak memiliki baby Flo saja dia tidak seagresif dulu.
"Ah, yaudahlah. Kenapa jadi bahas hal nggak penting, sih?" Amber memutus pembicaraan itu dengan cepat. Dia tidak suka juga Roy dituduh sebagai ayah dari anak Synta. Jelas-jelas baru mengenal pertama kali ketika kandungan Synta sudah lima bulan.
*
Yongka Hadintara Tedjoekusuma 100
12.15
ke saya
Tampilkan detailnya
Kamu di mana?
Jangan buat semua orang cemas Synta. Perlu saya cari kamu dengan bantuan intelegen negara?
Balas email ini. Saya nggak suka main-main. Sudah lima bulan kamu nggak terlihat di manapun. Apa kerjaan kamu masih lanjut? Kamu punya tempat tinggal yang bagus? Makan apa kamu kalau kerjaan kamu nggak memadai?
Jangan berpikir yang aneh-aneh. Saya menikah bukan berarti nggak bisa menghidupi kamu. Ganeva masih sama baiknya sejak perkenalan pertama kali kalian di restoran. Saya sudah bicara dengam Ganeva, dia nggak masalah kalau kamu saya fasilitasi untuk menempati apartemen saya di Bintaro.
Lima bulan perjalanan pernikahan saya nggak seburuk itu. Saya bisa bertahan dengan perempuan seperti Ganeva. Dia sangat baik, sopan, keluarganya pun baik dengan saya.
Pulang. Kalau kamu butuh tempat tinggal saya sudah sediakan.
Regards,
Yongka H. Tedjoekusuma.
Balas— Balas ke semua—Teruskan
*
Apa yang perlu dibalas?
Email dari Yongka tidak ubahnya hanya sebuah gangguan yang membuat Synta mengingat dirinya sebagai... jalangnya Yongka. Sakit saja rasanya, membaca kilasan kalimat dari Yongka yang menyematkan bahwa dia menyediakan tempat tinggal jika dirinya susah.
Jadi, laki-laki itu cemas jika Synta hidup susah?
"Mantengin email siapa, sih lo?"
Amber merapikan kebutuhan Synta ke dalam ransel hitam. Tepat dihari keenam Synta sudah diizinkan pulang, tapi perempuan itu ngotot mau menunggu sampai bayinya juga diizinkan pulang setelah masa observasi selesai. Kata si dokter, observasi dilakukan untuk mengetahui apakah si bayi alergi sesuatu atau hal lainnya sebelum benar-benar keluar lingkungan yang banyak bakteri bertebaran tak kasat mata.
Dan hari ini, minggu kedua Synta membetahkan diri di rumah sakit, akhirnya mendapat jawaban melegakan. Si kecil sudah diizinkan pulang, dan lebih kuat terhadap sekelilingnya. Tidak ada gangguan berarti dari segi kesehatan, tapi dokter selalu menyuruh si ibu untuk memeriksakan bayinya untuk memantau lebih baik lagi.
"Bukan apa-apa, kok." Synta segera memasukkan ponsel pintarnya dari pengawasan Amber. "Jenay udah selesai?" tanyanya kemudian.
"Belum. Gue lihat tadi dia lagi mondar mandir ngurus administrasinya." Amber tersenyum geli.
"Kenapa?"
"Nggak. Tadi, lihat Jenay lucu aja. Dia harus ngomong pakr bahasa Jepun yang logatnya lebih tegas dari logat banci dia sehari-hari. Gue masih agak aneh aja lihatnya, sih."
Pendapat Synta-pun tidak jauh beda. Logat Jenay akan lebih terlihat dan terdengar macho ketika memakai bahasa Jepang. Sisi banci Jenay lebih tertutupi karena ada saja penampilan cowok-cowok Jepang yang terlihat feminim.
"Boleh aku masuk?"
Roy membuat kedua wanita di ruangan itu takut sejenak, mengira Jenaylah yang masuk.
"Gue kangen baby Flo, Ber. Boleh ambil sekarang, kan?"
Biasanya yang diandalkan untuk bertanya sana sini sudah pasti Jenay, karena Roy sesekali saja datang dan membawakan makanan untuk kekasihnya.
"Roy. Bantu aku ke ruangan baby Flo."
"Kenapa aku harus membantumu ke sana? Hanya ke ruangan bayi, tidak akan masalah kalau kau berhati-hati ke sana." Roy menggigit roti selai kacangnya sekali gigitan besar.
"Ck. Bukan itu!" Amber yang pah dengan kelakuan serba santai Roy menarik lengan lelaki itu.
Kini Synta sendiri. Ditatapnya layar hitam ponsel yang sengaja dia letakkan di atas meja samping ranjangnya.
Lost contact?
Tidak. Lebih tepatnya Synta sendiri yang memilih memutuskan kontak dari Yongka.
"Synta. Leggo!"
Synta terkesiap, awalnya hanya Jenay saja yang muncul di sana. Tak lama Amber dan Roy dibelakangnya muncul juga.
"Udah selesai?" tanya Synta.
"Udah. Yuk jemput baby Flo."
*
Selesai sudah.
Sekarang, baby Flo bisa dia gendong untuk tinggal bersama. Synta tidak bisa berhenti mengalihkam pandangan ke baby Flo. Bayi mungil dengan bibir merahnya itu sangat tenang dalam dekapan Synta. Topi mungil berwarna pink menambah kelucuan bayi yang masih beberapa minggu lahir itu.
"Lo jadi mau pindah apartemen sendiri?" Amber memecah keheningan di mobil yamg dikendarai Roy. Eksekutif muda itu tiba-tiba saja menjadi sopir dadakan bagi Amber dan kedua sahabatnya.
"Jadi. Kenapa emangnya?"
Tidak langsung menjawab, Amber menggaruk pelipisnya.
"Nggak kenapa-napa, sih. Cuma... gue pasti bakalan kangen sama lo dan baby Flo."
Jenay mencibir, "Bohong! Lo justru seneng, kan ditinggal Synta. Jadi, kalo si Roy mampir bisa ena-ena tanpa sungkan."
Amber menarik mulut Jenay yang sengaja dimajukan. "Komen mulu, nih banci satu!"
"Biarin..."
Balasan demi balasan dari kedua sahabat Synta itu menyadarkannya, bahwa tanpa Yongka, dia bisa hidup dan terpenuhi semuanya. Tidak akan sulit bagi Synta untuk hidup serba kecukupan tanpa sokongan Yongka.
Membiarkan pesan yang dikirim melalui email adalah salah satu cara. Agar Yongka tidak memiliki akses menemui Baby Flowers. Anaknya. Sebab Synta tidak mau, kalau suatu saat, Yongka memberikan harapan palsu akan kasih sayang serta perhatian seperti yang dilakukan laki-laki padanya.