Lea tersenyum puas. Puas banget melihat muka cengo Arka ketika Lea mengajari Maura Bahasa Prancis. Arka duduk bersila di depan Lea. Mereka duduk di karpet menggunakan meja pendek karena meja belajar Maura tidak muat dipakai belajar bertiga.
Arka menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. Tatapannya datar seakan tidak terkesan sama sekali dengan kemampuan Lea. Rasa puas Lea menguap tergantikan oleh perasaan dongkol tak terkira.
"Tu comprends maintenant?" tanya Lea mengalihkan pandangannya ke Maura. Maura membalas dengan anggukan cepat.
"Oui, Madame. Je comprends."
"Bon ... ça suffit pour aujourd'hui," ucap Lea mengakhiri sesi belajarnya dengan Maura. Lea menumpukan tangannya di meja dan tersenyum menyeringai ke Arka.
"Wah si Om kuat juga imannya. Nggak capek Om matung kayak gitu selama 2 jam?"
Maura yang malahan menanggapi, "duh yang manggil om, mesra juga." Maura lalu menatap tajam ke Arka, "kakak ngapain ikut belajar? Dari tadi Ura tanyain kakak cuman diem aja."
Lea mencubit halus pinggang Maura kemudian mengedikkan bahunya dan melirik Arka yang sedang menatap dingin ke Lea. Arka berdeham kemudian berusaha berdiri tapi tanpa Arka sadari, kaki Arka mati rasa dan ketika Arka menggerakkan kakinya, kesemutan pun menyerang.
"Aaakk!" Arka langsung membungkam mulutnya menahan sakit mempertahankan muka tanpa ekspresinya. Lea yang melihat tingkah Arka dengan spontan menutup mulutnya menahan tawa sedangkan Maura memegang tangan kakaknya. Berusaha membantu kakaknya berdiri.
"Kak, nggak papa?" khawatir Maura tapi Arka menepis tangan Maura dan berusaha berdiri dengan segala harga diri yang dia punya.
"Nggak usah! Kakak bisa sendiri!"
Tawa Lea hendak lepas kalau saja Arka tidak melotot padanya. Lea harus berpura-pura melihat meja atau apapun itu. Asal bukan mata Arka. Arka mendengus kesal dan berbalik meninggalkan Maura dan Lea yang saling berpandangan.
"HAHAHAHAHA!!"
Dan tawa Lea dan Maura pecah ketika Arka berjalan tertatih menahan rasa sakit akibat kesemutan.
***********
Lea dan Maura turun menuju ke ruang tamu dan melihat orang tua Maura sedang duduk di sofa. Seakan tahu kalau Lea sudah selesai membimbing Maura belajar. Di meja sudah tersedia kudapan dan es sirup yang bikin Lea ngiler. Tatapan terus terang Lea pada makanan membuat Mama Maura tersenyum geli.
"Ayo, Cantik. Duduk dulu. Pasti cape ngajarin Maura," ajak Mama Maura yang ditanggapi Lea dengan anggukan dan duduk di sofa samping orang tua Maura. Sedang Maura gabung duduk bersama orangtuanya.
"Ayo diminum dan dimakan. Nih kuenya." Mama Maura menyodorkan toples kue dan Lea mengambil kue yang ada di dalamnya serta es sirup.
"Terima kasih, Bu. Ibu baik banget," puji Lea.
"Loh kok ibu sih manggilnya? Kalau di luar sekolah manggil Om Tante aja," ujar Papa Maura tersenyum menatap istrinya kemudian ke Lea. Lea yang sedang minum langsung tersedak.
"Haduh, Papa. Ngagetin Cantik tuh!" protes Mama Maura.
Sebenarnya Lea mau protes. Lea punya nama dan itu Lea bukan Cantik. Dari tiap ketemu pasti mama Maura manggil Lea dengan panggilan cantik. Lea nggak terima. Kalau mau ganti nama kan slametan dulu.
Lea membersihkan mulutnya memakai tissue yang disodorkan Maura.
"Udah, Mah, Pah. Jangan godain guru Maura terus." Lea mengiyakan ucapan Maura.
"Kalo saya manggil dengan panggilan om tante nanti ada yang kesaingan," ucap Lea hati-hati membuat orang tua Maura bingung.
Seakan-akan tahu dirinya sedang dibicarakan, Arka turun setelah keluar dari kamarnya. Arka mengenakan kemeja hitam yang lengannya tergulung yang dipadukan dengan celana jeans hitamnya. Ditangannya bertenger jam tangan dengan dominan warna coklat yang terlihat kontras di kulitnya.
"Kok bisa?" tanya Papa Maura.
"Iya, Tante juga penasaran."
Lea berpikir hendak menjawab apa ketika Arka melintas di sampingnya dan duduk di sofa di depan Lea. Lea menelan ludahnya kasar. Bau parfum Arka membius Lea. Lagi-lagi Lea mengagumi ketampanan Arka. Arka memang kelihatan beda banget kalau pakai kemeja. Cakepnya langsung meningkat berkali-kali lipat. Pakai pakaian biasa aja udah cakep apalagi pakai kemeja yang pas badan.
Seandainya ada kamera, Lea pasti udah melambaikan tangannya. Nyerah. Terlalu banyak godaan di depan matanya.
Arka yang merasa diamati oleh Lea bukannya kesal seperti biasa malah tersenyum tipis dan menatap geli ke Lea setengah menggoda.
Hiyaaaaa! Kok malah gue tambah tergoda sih!
Lea langsung menggelengkan kepalanya kencang berusaha menghalau pesona Arka.
"Kok malah geleng-geleng?" heran Papa Maura.
"Eh nggak pak...eh Om...eh Pak..duh bingung jadinya." Lea menggaruk-garuk pelipisnya yang tidak gatal, "jadi____"
"Udah anak kecil diem aja," potong Arka. Lea langsung mendidih. Arka selalu mengejek Lea dengan sebutan anak kecil. Melihat adanya perang mata antara Arka dan Lea, orang tua Maura langsung menengahi.
"Arka nggak sopan! Anak kecil gini juga gurunya Maura."
Loh maksudnya Mama Maura ngebelain Lea apa benerin omongannya Arka sih?
"Maaf ya, Cantik. Maafin anak tante."
"Iya tante nggak papa. Udah biasa dibully sama OM ARKA," ucap Lea menegaskan kata om dan mengangguk sopan. Dengan segera ditegaknya habis es sirupnya dan bersiap-siap pulang.
"Kamu mau kemana Ar?"
Belum juga Arka menjawab, mamanya seperti menyadari sesuatu dan menepuk jidatnya, "oiya! Ini kan malam minggu. Kapan mau ngenalin pacar kamu ke rumah? Siapa namanya? Mama lupa waktu kamu ngasih tau." Papa Maura dengan gerak cepat menyenggol lengan istrinya dan memberi kode dengan mata, bibir, dan telunjuknya tentang Lea. Maura geleng-geleng kepala menyadari usahanya untuk menjodohkan kakaknya dan Lea bakal gagal. Berkat mamanya yang tidak mengerti sikon alias kurang peka. Mamanya terdiam dan tersenyum maaf ke arah suaminya.
"Arka mau ketemu temen. Kalo udah selesei Arka balik ke apartemen aja yang deket," jawab Arka lalu berdiri dan pamit ke kedua orang tuanya. Sempat Arka melirik ke Lea.
Lea berkedip cepat setelah Arka menghilang dari balik pintu depan. Ucapan Siska, mama Maura tentang pacar ke Arka membuat Lea terdiam. Entah mengapa Lea merasa ada yang aneh dengan dirinya. Rasanya oksigen di sekitarnya menghilang. Sesak.
Lea sadar kini diantara dia dan Arka ada tembok penghalang besar. Tembok bertuliskan TAKEN. Sudah ada yang punya. Lea tiba-tiba linglung, kenapa Lea musti memikirkan Arka sudah punya pacar atau belum? Bukan urusannya. Iya bukan. Titik.
Tetap saja Lea merasa sesak.
"Madame Lea nggak malam mingguan?" tanya Budi membuat Lea terkaget dari lamunannya.
"Iya, Om. Makanya sekarang saya pamit pulang. Keburu ada yang jemput."
"Hati-hati ya, Cantik. Minggu depan dateng lagi kan?" tanya Siska yang dibalas dengan anggukan oleh Lea.
Lea bergegas keluar dari rumah setelah pamit dengan Maura dan kedua orangtuanya. Lea pengen cepet-cepet ketemu sama sobatnya waktu SMA. Eh omong-omong ngapain Arka malah senderan di mobil? Seakan-akan sedang menunggu seseorang. Lea yakin Arka pasti nunggu Lea. Nunggu Lea pergi maksudnya.
Lea bergegas mendekati motornya yang kini di sebelahnya terparkir mobil sedan City yang entah kapan ada. Arka bersender menghadap Lea sembari memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Apalagi, Om? Gue lagi males berantem. Entar bikin acara gue jadi nggak sehat lagi," tukas Lea menyadari tatapan dingin Arka
"Gue cuma pengen ngeliat lo pergi jadi gue tenang ninggalin keluarga gue."
Nah kan bener firasat gue.
"Setdah! Dikira gue tukang palak apa. Wat eper! Oke, Om. Gue pamit dan undur diri." Lea lalu mulai memakai helmnya dan menyadari dia terlupa akan sesuatu. Dengan berat hati Lea menoleh ke Arka
"Kalo nanya bentar boleh om?" karena Arka hanya diam, Lea memutuskan untuk menganggap Arka setuju Lea nanya "om tau kelab XXX?" tanya Lea menyebut nama salah satu kelab malam terbesar di jakarta.
Alis Arka naik 2cm denger pertanyaan Lea
"Tau alamatnya nggak om?"
"Lo mau kesana?!" bentak Arka membuat nyali Lea ciut. Lea udah salah nanya ke Arka. Udah tahu kalau Arka tidak suka sikap liar Lea.
"Ishh, pake acara bentak segala. Iya gue mau kesana. Ada acara reuni SMA yang gue juga awalnya nolak nggak mau dateng. Tapi mau gimana lagi. Kalo kangen temen tuh rasanya dijauhin dari tv selama seabad , jadinya pengen ketemu," ucap Lea sok mendramatisir.
"Lo nggak inget status lo yang pendidik? O ... kayak gini guru jaman sekarang," sindir Arka.
Lea capek. Capek hati setiap ada yang menghubungkan sikap Lea dengan profesinya. Lea tahu dirinya tidak sempurna. Tapi seingat Lea, Lea belum pernah melakukan hal di luar batas. Lagian cuma ketemu temen. Lea tidak mungkin minum atau mabuk.
"Iya om gue inget. Makanya entar gue cuma mau say hai aja. Kalo udah puas gue pulang. Lagian gue takut begal om kalo pulang malem-malem."
Arka terkesiap mendengar kata begal. Memang akhir-akhir ini situasi sedang tidak aman apalagi malam hari.
"Gue pegang omongan lo."
Lea bernafas lega mendengar isyarat kalo Arka nggak bakal ngajak debat lagi. Belum juga Lea naik motor, Arka mendekati Lea dan menarik kunci motornya.
"Loh? Om ... loh? Ini ... ngapain?" panik Lea ketika Arka mencopot helmnya dan memanggil pak Kirman. Arka mengatakan sesuatu pada pak Kirman dan memberikan kunci motor Lea padanya.
Lea melihat itu hanya bisa membulatkan matanya dan melongo. Seperti tersihir, Lea tidak berusaha merebut kunci motornya. Tahu-tahu Arka sudah di depan Lea lagi.
"Lo ikut gue. Kebetulan gue juga mau kesana."
Arka lagi-lagi menarik kerah baju Lea dan menyeretnya ke mobil.
"Om, gue kesana minta tolong Febri aja buat jemput," pinta Lea dengan memelas.
Tarikan di kerah Lea semakin kuat ketika Arka mendengar nama seorang laki-laki dari mulut Lea.
"Gue bakal ngawasin lo dan buktiin omongan lo. Gue nggak bisa bahayain adek gue kalo punya guru kayak lo! Masuk!" perintah Arka dingin sembari menyuruh Lea masuk ke mobil. Akhirnya Lea pasrah dan menuruti kemauan Arka. Tapi Lea tahu di lubuk hati terdalamnya, dia dengan sangat ikhlas dan pasrah mau aja bareng Arka. Arka lalu masuk ke mobil dan seakan tidak menyadari kehadiran Lea, Arka memakai kacamata hitamnya.
Oh ya ampun! Gue nyerah! Kamera mana? Kamera mana?
Panik melanda pikiran Lea. Lea menggigit bibir bawahnya karena grogi. Setiap Lea grogi pasti Lea melakukan hal konyol seperti sekarang. Lea menempelkan muka dan kedua telapak tangannya ke kaca pintu mobil. Seperti terjebak akan situasi yang tidak diharapkannya. Tidak diharapkan karena bikin jantung Lea olahraga lompat tali.
Sebuah colekan di punggung Lea membuat Lea kaget dan berbalik.
"Lagi ngapain? Pake seatbelt-nya," perintah Arka dengan suara berat dan seksinya.
Lea menggeleng pelan kemudian memakai seatbelt. Arka mendecak sebal kemudian menyalakan mesin mobil dan melaju menuju tempat tujuan mereka.
Lea mencuri pandang ke Arka yang sedang menyetir. Lea tidak tahu kalau menyetir bisa membuat orang terlihat keren.
Oh Mon Dieu!
Seandainya ini dunia komik pasti sedari tadi Lea sudah mimisan!
*********
Satu mobil dengan perempuan aneh bin ajaib mungkin ide yang buruk.
Arka sengaja memakai kacamata hitamnya untuk menghindari kecurigaan Lea kalau sedari tadi Arka sibuk melirik ke Lea. Apalagi Lea menggigit bibirnya setiap 5 menit sekali.
Oh God! Kekuatan iman gue bener-bener diuji!
Dimas pasti ngetawain Arka kalau tahu Arka nyetir mobil di malam hari pakai kacamata hitam. Siapa yang mau ditipu disini? Well, cuma gadis di sebelahnya yang tidak merasa ada yang ganjil dengan sikap Arka.
Mau ngawasin gadis yang sekarang dia tahu bernama Lea?
Bagus Arka! Alesan lo aneh banget.
Alunan lagu lawas milik Maroon 5 she will be loved mengisi kesunyian karena tak ada satupun yang berani mengeluarkan suara. Arka menghembuskan nafas kencang. Gerah akan kebisuan. Tidak biasanya Arka merasa gatal ingin mengajak berbicara seseorang.
"Om ... gue ngantuk. Boleh nggak tidur dulu? Maaf nggak sopan tapi beneran gue ngantuk," pinta Lea setengah menguap.
"Iya. Lo tidur aja." Arka berusaha mengatur suaranya agar tidak terpengaruh suara ngantuk Lea yang terdengar seperti desahan.
"Om nggak bakal ngapa-ngapain gue kan?"
Arka mendengus kesal, "lo pikir gue nafsu sama lo? Pede!" sungut Arka.
"Ck. Maksud gue macem-macem itu misalnya ninggalin gue ke jalan yang gue nggak tau dimana. Om mikir m***m ya?" goda Lea sambil terkikik.
"Oh ... jadi mau diapa-apain nih sama gue," goda balik Arka. Lea langsung menoleh ke Arka karena menyadari nada suara Arka seperti ancaman.
"Om nggak serius kan?" ucap Lea hati-hati. Arka terkekeh pelan dan menggelengkan kepalanya. Perlahan, Lea memejamkan matanya dan kemudian tertidur.
Arka memarkirkan mobilnya di basement gedung berlantai 3 itu. Setelah terparkir, Arka lalu mematikan mesin mobilnya secara perlahan. Diliriknya Lea yang masih tertidur pulas. Sentakan musik yang terdengar kencang sampai di parkiran, menandakan kehidupan malam kota Jakarta sudah memulai aksinya.
Arka hendak membangunkan Lea ketika pandangannya jatuh ke pipi halus Lea. Tanpa Arka sadari, Arka mengelus pipi Lea dan mengumamkan kata lucu dan menggemaskan.
Pipi lo bikin gue pengen ngelus terus.
Disibaknya anak rambut Lea dan diletakkan di belakang telinganya. Lea yang merasa ada sentuhan halus di pipinya lalu mulai terbangun. Lea merenggangkan tubuhnya dengan gaya yang tidak perempuan banget. Salah satu tangannya menyentuh d**a Arka membuat Lea tersadar dia ada dimana, dengan siapa.
"Hudah Nyahmpeh Ohm?" tanya Lea sembari menguap.
"Cepet turun!" Perintah Arka berubah galak. Lea melepas seatbeltnya dan keluar dari mobil. Pengunjung kelab mulai berdatangan dan melihat penampilan mereka yang pakai gaun mini membuat Lea ingat tentang dresscode acara reunian mereka.
"Untung gue nggak pake mini dress. Kalo nggak mata om bisa mencelat keluar," sindir Lea karena Arka sibuk memandangi gadis-gadis berpakaian seksi.
Lea memikirkan bagaimana caranya agar penampilannya terlihat dewasa sedikit. Hanya ada satu cara. Lea lalu melepas gelungan rambutnya. Disisirnya dengan jari rambutnya yang panjang dan lurus sehingga tidak terlalu susah untuk dirapikan. Rambutnya dibuat sedikit berantakan. Lea memakai kaca mobil sebagai cerminnya.
Peristiwa itu tidak luput dari pandangan Arka. Arka menelan ludahnya kasar. Kali ini Arka benar-benar terpesona dengan rambut panjang Lea. Arka suka ketika Lea mulai menggerai rambutnya dan mengayunnya ke belakang. That's so damn sexy! Pengunjung laki-laki yang melihat Lea langsung menoleh dan tersenyum menggoda. Padahal mereka sudah membawa pasangan dengan pakaian yang seksi. Padahal Lea hanya memakai kemeja dan celana jeans. Hebat!
Saat itulah Arka bersumpah tidak akan menyebut Lea anak kecil lagi. Entah mengapa Arka merasa marah lalu menarik Lea untuk masuk ke kelab.
"Bentar om, belum rapi," protes Lea tapi ditanggapi dingin oleh Arka.
"Lo nggak pantes kalo rambut lo digerai," ucap Arka dingin, cukup dingin hingga membuat Lea tersentak.
Bagus Ar, lo gak bakal punya kesempatan buat ngeliat rambutnya yang digerai lagi.
**********