Tercyduk

1504 Words
“Dit?” panggil Dafa saat adiknya itu memutuskan untuk berbalik setelah mengetahui apa yang dilakukannya kepada Nadira. Tadinya Aditya tak fokus, berjalan di koridor itu dengan menundukkan kepalanya. Namun saat mengangkat wajahnya, ia melihat wanita yang sedang ia lamunkan sedang berciuman dengan kakaknya. “Sorry. Gue gak sengaja,” kata Aditya tanpa berniat untuk menatap Dafa apalagi Nadira. “Ada apa?” tanya Dafa mendekati Aditya, sedangkan Nadira mematung di tempatnya. Aditya tak menjawab apapun selain menyodorkan sebuah dompet kepada Dafa. Dafa mengerutkan keningnya bingung, lalu menatap Nadira yang sedang menatap Aditya, tentu tatapannya langsung teralih ke arahnya. “Punya kamu?” tanya Dafa kepada Nadira dan yang ditanya hanya mengangguk pelan. Dafa lalu ikut mengangguk sambil mengambil dompet Nadira dari tangan Aditya. “Thanks,” ucap Dafa yang tak mendapatkan jawaban apapun. Aditya segera meninggalkan koridor tersebut tanpa mengatakan sepatah katapun. Bagai tertusuk beribu duri, hatinya terasa sangat sakit melihat Nadira bersama Dafa. Ia sempat lega mengetahui Nadira kembali ke Indonesia, berharap dapat menjelaskan kesalahpahaman yang tercipta di masa lalu. Namun, saat ini rasanya tak mungkin untuk memperbaiki hubungannya yang sudah sangat jauh, bahkan sekarang ada Dafa yang menjadi penghalang mereka. Aditya tak tahu saja, jika sebenarnya mereka tidak memiliki hubungan apapun. Yang mereka lakukan adalah sandiwara. Entah sampai kapan akan seperti itu. Namun, Dafa benar-benar tak memiliki alasan lain. Jika saja ia memberitahu yang sebenarnya kepada Mega, maka sudah dipastikan Celline akan semakin menjadi untuk mendekatinya dan Mega. Dafa lebih baik seperti itu, bersandiwara memiliki kekasih yaitu Nadira. Masalahnya adalah, Nadira sendiri yang tentu tak suka berpura-pura menjadi kekasih Dafa, ditambah Aditya yang menjadi adik Dafa adalah masa lalunya yang ingin ia hindari tapi kini takdir membuatnya kacau. Setelah punggung aditya menghilang dari pandangan Dafa dan Nadira, Dafa segera menarik tangan Nadira untuk ikut dengannya. Mulut Nadira seolah terkunci, ia tak dapat mengatakan apapun selain menuruti apa yang diinginkan pria itu. Setelah cukup lama di dalam mobil, Nadira menghembuskan napasnya perlahan lalu menatap Dafa. “Sampai kapan mau berpura-pura seperti ini? Pak, percaya sama saya, Bu Mega akan kecewa kalau sampai Pak Dafa gak mau jujur,” ucap Nadira lemah lembut mencoba menasehati Dafa. Sesungguhnya ia sedang tidak ingin membicarakan apapun, tetapi ia juga tak ingin sandiwaranya berlarut-larut. “Kecewa karena apa?” Dafa pura-pura tak mengerti. “Pake nanya! Ya karena Bapak berbohong lah.” Nadira mengarahkan pandangan ke arah jendela, menggelengkan kepalanya dengan kesal. “Bunda gak akan tau sandiwara kita. Kecuali .... ” Dafa menggantung kata-katanya yang membuat Nadira penasaran sehingga ia kembali menatapnya. “Kecuali?” Nadira mengamati Dafa dan menunggu kelanjutan ucapan pria itu. “Kecuali, kalau kamu berani mengatakan itu semua sama Bunda,” jawab Dafa enteng. Nadira tersenyum menyeringai, dengan sombongnya ia berkata, “Kenapa tidak? Saya berani kok buat ngomong sama Bu Mega.” “Lalu, kenapa gak kamu lakukan?” Dafa memperhatikan mimik Nadira yang terlihat bingung untuk menjawab. “'Kan Bapak ngancem!” sungut Nadira kelepasan mengatakan itu yang membuat keangkuhan seorang Dafa meningkat dari sebelumnya. “Jadi kamu takut ancaman saya?” tanya Dafa dengan sombongnya. Nadira tak menjawab apapun, pandangannya beralih ke arah jendela seolah ia tak mendengar pertanyaan Dafa. “Baguslah.” Dafa manggut-manggut merasa puas walaupun Nadira tak menjawab apapun. Tak perlu dijelaskan, dari tatapannya saja sudah terlihat jelas, jika wanita itu merasa tertekan dengan ancaman Dafa yang tak pernah main-main. “Hey? Apa maksudnya, hah?!” bentak Nadira. Segera, ia melayangkan tangannya ke udara berniat ingin menampar wajah tampan Dafa. Namun, Dafa sudah tahu dari pergerakan Nadira sehingga ia segera menangkis tangan wanita itu lalu menatap wajahnya dengan murka. “Jangan mencari masalah di sini!” bentak Dafa memperingati. Nadira terdiam, ia akui gerakan Dafa sangat cepat dan sepertinya pria itu sudah sering melakukannya. Nadira hanya tidak tahu saja, jika Dafa sering berlatih bela diri. Sebagai orang penting, ia harus bisa membela dirinya meskipun pengawalan tak pernah lengah. “Sebaiknya kamu tetap berpura-pura sebagai pacar saya,” pinta Dafa kemudian melepaskan cekalan tangannya dari tangan Nadira. “Kalau tidak mau?” Nadira mengangkat satu alisnya dan memperlihatkan wajah angkuhnya. “Saya—” “Mau ngancem lagi? Iya?” potong Nadira yang sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan Dafa. “Kalau iya?” tantang Dafa serius. “Dasar—” Nadira hendak mengomeli, akan tetapi seorang sopir yang mengendarai mobil tersebut menyela pembicaraan. “Tuan, kita sudah sampai.” Nadira melihat ke arah jendela. Benar saja, ternyata ia sudah sampai di parkiran sebuah supermarket. Tanpa menunggu lagi, ia segera meraih handle mobil dan membukanya. Ia lalu berjalan ke arah pintu kaca berukuran sangat besar, tak berniat sedikitpun untuk menoleh ke arah belakang. Tak peduli jika akhirnya Dafa meninggalkannya, ia bisa pulang menggunakan angkutan umum ataupun ojek online yang bisa ia pesan melalui ponselnya. Dafa meminta 3 orang pengawalnya untuk membantu Nadira. Ia meminta mereka untuk mengambil bahan-bahan pokok sebanyak-banyaknya. Mereka membungkuk hormat sebelum akhirnya masuk ke dalam supermarket, sementara Dafa memutuskan untuk tetap berada di dalam mobil. Nadira terdiam bingung saat 3 orang yang ia ketahui adalah pengawal Dafa sedang mengambil banyak bahan makanan, lalu mereka simpan di keranjang belanjaannya masing-masing. Sempat percaya diri, bahwa bahan-bahan makanan itu untuk ia bawa pulang. Namun, mereka acuh tanpa berniat bertanya apa saja yang dibutuhkan Nadira. Mereka mengambil bahan makanan dengan asal, membuat Nadira berdecih sebal dan membuang rasa percaya dirinya. Mungkin saja memang itu yang mereka butuhkan dan bukan untuknya. Pikir Nadira. Mereka mengambil apapun yang menurutnya bisa dimasak nantinya, tanpa berpikir apakah itu akan disukai atau tidak oleh Nadira. Setelah keranjang belanjaan masing-masing sudah penuh, mereka bergegas menuju kasir untuk membayarnya. Salah satu dari mereka kembali ke arah Nadira yang saat itu sedang memilih sayuran yang akan ia ambil. “Nona, sudah selesai.” Pria itu membungkuk hormat. Sepertinya mereka menganggap bahwa Nadira benar-benar kekasih Dafa, padahal mereka sendiri tahu bahwa Nadira adalah adik Farel, sopir pribadi Dafa sendiri. “Belum,” balas Nadira setelah menatap pria itu, lalu pandangannya kembali ke arah sayuran. “Saya tidak bertanya, Nona. Maksud saya, yang mau Nona beli sudah kami bantu ambil. Sekarang Nona kembali ke mobil, kami akan mengantarkan Nona pulang.” Pria itu terlihat kikuk. Lagipula, ia tak bertanya apakah Nadira sudah selesai atau belum, ia hanya ingin melaporkan bahwa ia dan 2 temannya yang sudah selesai belanja untuk Nadira. Lagi-lagi pria itu salah menyampaikan. Yang memerintahkannya adalah Dafa, lalu mengapa melaporkannya kepada Nadira? Author ikut bingung. Tak ingin pusing, Nadira mengiyakan saja apa yang diucapkan salah satu pengawal Dafa. Ia berjalan menuju kasir yang saat itu sedang melayani kedua pengawal Dafa. Mereka meminta belanjaan Nadira untuk mereka bayar. Sempat bersitegang karena Nadira merasa malu, akan tetapi mereka sangat keras kepala sehingga lagi dan lagi Nadira hanya mengiyakan. Merasa tak nyaman karena diperhatikan banyak orang, ia memutuskan untuk keluar dari supermarket tersebut dan berjalan menuju mobil. “Saya naik taksi. Belanjaannya terserah mau diapain,” ketus Nadira saat Dafa membuka sedikit kaca jendela mobilnya guna mendengar apa yang akan dikatakan Nadira. Namun, kali ini Dafa terpaksa keluar dari mobilnya dan mengikuti Nadira yang sedang berjalan ke jalan raya. “Masuk ke mobil. Sekalian saya mau ke apartemen Farel,” pinta Dafa dengan nada tegas. “Ya kalo gitu Bapak tinggal ke sana aja. Gak perlu ajak saya segala! Saya mau naik angkutan umum.” Nadira berdecih sebal. Dafa menganggukkan kepalanya pelan akan tetapi pria itu seolah tak berniat untuk kembali ke mobilnya dan tetap berdiri di samping Nadira, di pinggir jalan yang sedang menunggu angkutan umum lewat. “Terus Bapak ngapain masih di sini?” geram Nadira berkacak pinggang dengan wajah masam. “Kamu mau naik angkutan umum? Saya pun sama,” jawab Dafa enteng. “Kalau gitu, kita naik angkutan yang berbeda,” tegas Nadira tak ingin diganggu oleh kehadiran Dafa. “Kenapa?” Dafa menaikkan satu alisnya seolah menantang. “Males lah. Pasti kayak anak presiden yang banyak pengawal ngikutin dari belakang,” desis Nadira geli sendiri membayangkan hal itu. Para pengawal pasti akan mengikuti kemana majikannya pergi. Yang benar saja! “Saya tidak peduli.” Dafa acuh dengan itu. Entahlah, sepertinya ia senang membuat Nadira tak nyaman dan kesal padanya. Nadira memandangi wajah Dafa dengan seksama, ia lalu memutar bola matanya dengan malas. Bukan hal wajar membiarkan pria itu ikut menaiki angkutan umum, juga tak yakin pria itu akan menuruti keinginan Nadira untuk menaiki angkutan umum yang berbeda. “Mau Bapak apa?” tanya Nadira tak enak didengar. “Masuk ke dalam mobil saya,” jawab Dafa tanpa berniat menatap ke arah Nadira. Nadira membuang napas sangat kasar, ia lalu memutar badannya dan berjalan ke arah mobil Dafa dengan mulut yang berkomat-kamit tak jelas. Tentu Dafa mengekorinya dari belakang, lalu ikut masuk ke dalam mobilnya di samping lain. Sopir yang mengemudikan mobil tersebut segera melajukannya setelah mendapat perintah dari Dafa untuk pergi lebih dulu. Sementara 3 pengawal yang diperintahkan Dafa untuk membeli beberapa bahan masakan, masih berada di dalam supermarket itu. Tak ingin diajak bicara, Nadira menghadapkan wajahnya ke arah jendela. Cara itu cukup berhasil membuat Dafa enggan bersuara, hingga hening di sepanjang jalan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD