“Akhirnya aku bisa menemuimu, Ra. Aku ingin bicara,” ucap pria itu, Aditya. Wajahnya terlihat muram, suaranya lemah ketika berhadapan dengan Nadira. “Aku gak bisa, Kak. Maaf.” Nadira menggelengkan kepalanya setelah ia sadar bahwa ia sedang tidak bermimpi. Ia berniat untuk menghindari Aditya, tetapi pria itu menghadang tubuh Nadira saat akan pergi. “Aku mohon, Ra.” Aditya memohon dengan tulus. “Lupakan semuanya Kak,” pinta Nadira yang juga memohon kepada Aditya untuk tidak mengingat masa lalu. “Gak bisa! Untuk saat ini, tolong dengarkan aku.” Suara Aditya begitu tegas menekankan ucapannya. Tangannya tak berniat untuk melepaskan cekalannya dari tangan Nadira sebelum wanita mengangguk dan mau bicara dengannya. “Tolong jaga batasanmu! Aku bukan Dira yang dulu, Dira yang pernah kamu

