Bab 6 : Memimpin permainan

1021 Words
Viona merebahkan tubuhnya. Ada yang berbeda kali ini. Dario benar-benar membuatnya bingung dengan sikapnya. Dia menyusu seperti bayi, tanpa henti, meskipun jelas tak ada ASI yang keluar. "Benar-benar seperti bayi," ucap Viona dalam hati. Viona mengusap rambut Dario, "Tuan Dario, hentikan.... " Pintanya pelan, setengah berharap Dario akan berhenti. Namun, Dario tampaknya menikmati sikuisi milik Viona yang enyoy itu. Laki-laki itu menyusu dengan tenang. Viona mencoba menarik sedikit tubuhnya, namun Dario tetap erat memeluknya. "Tuaj Dario, berhenti. Aku mohon," ucapnya sambil menghela napas. Tapi dia tidak mendengar apa pun selain dengusan pelan dari Dario. Namun, Viona merasakan sesuatu, terkadang ia merasa aneh dengan perlakuan Dario, di sisi lain, ada sesuatu yang menenangkan di dalam suasana ini. Selama bertahun-tahun hidupnya yang keras, Viona hampir tidak pernah merasakan sentuhan sengahat ini. Dia memandang ke arah jendela, melihat cahaya bulan masuk melalui celah tirai. Saat itu, pikirannya terbang jauh ke masa lalu, mengingat bagaimana hidupnya berubah drastis sejak kehilangan keluarganya. Semua terasa begitu cepat dan tak terduga. Dario masih memeluknya erat, seolah tak ingin melepaskannya. "Kau benar-benar seperti bayi,” gumam Viona pelan, sedikit tersenyum. Mungkin ia mulai menikmati, "Aku tidak pernah membayangkan seseorang sepertimu bisa bertingkah seperti ini." "Jangan protes, diam saja! Kau harus ingat tugasmu dalam kontrak, mengerti?" kata Diego saat ia berhenti menyentuh siukisi milik Viona. Viona meremas lembut rambut Dario, kali ini dengan lebih sadar. Dan Dario, ia kembali menikmati sikuisi itu. Viona menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya. Mungkin ini hanya bagian dari permainan aneh yang akan ia jalani, pikirnya. Viona menunduk, menatap Dario yang masih bersandar di dadanya. "Aku tidak mengerti dirimu," bisiknya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Mengapa kau sampai menjebak aku hingga menjadikan aku tawanan." Perlahan, Dario melepaskan diri, meskipun masih tetap memeluk Viona. Viona merasa tubuhnya lebih rileks, namun pikirannya justru semakin sibuk dengan berbagai pertanyaan yang muncul. Ada banyak hal yang ingin dia tanyakan, banyak hal yang ingin dia pahami. Namun, untuk saat ini, dia memutuskan untuk membiarkan semuanya mengalir. Mungkin, jawabannya akan datang sendiri. Entah bagaimana, dalam situasi yang paling aneh sekalipun, Viona merasa ada sesuatu yang sulit ia jelaskan. Dan lagi, Dario kembali menyusu di d**a Viona, bibirnya terus bergerak pelan namun penuh gairah. Viona merasakan sesuatu yang tidak biasa dalam sentuhan itu, kehangatan yang membuatnya menggigil halus. Sementara Dario terus tenggelam dalam posinya, jari-jarinya mulai menjelajah, menyentuh tubuh Viona di tempat-tempat yang paling sensitif. Awalnya, Viona hanya memejamkan mata, menikmati sensasi aneh yang merambat di tubuhnya. Dia tak pernah menduga, dalam situasi yang tampak sederhana ini, tubuhnya merespons dengan begitu kuat. Sentuhan lembut Dario membuat pikirannya kacau, semakin sulit untuk menolak atau menghentikan apa yang sedang terjadi. Dario menggerakkan jarinya dengan cekatan, menyentuh bagian paling wow dari tubuh Viona, membuat napasnya terputus-putus. "Tuan Dario..." desah Viona pelan, namun pria itu hanya menjawab dengan sentuhan lebih dalam. Gerakan jarinya membuat Viona mulai merasa tubuhnya panas, sensasi yang semakin mendominasi pikirannya. Viona tahu apa yang sedang terjadi. Sensasi ini membuat seluruh kendali yang biasanya ia pegang perlahan mulai goyah. Viona yang awalnya hanya membiarkan Dario memimpin, tiba-tiba merasakan dorongan kuat dalam dirinya untuk mengambil alih kendali. Seperti tersentak oleh sesuatu, tubuhnya mulai bergerak, tidak lagi pasif. Dia mendesah lebih keras, lalu tiba-tiba mendorong tubuh Dario ke belakang, membuat pria itu terkejut namun tak menolak. Tatapan mereka bertemu, dan Viona melihat sesuatu yang berbeda dalam mata Dario. Viona pun tahu bahwa Dario menyukai perempuan yang bisa mengendalikan situasi, dan ini memberinya dorongan untuk memimpin permainan. Viona bergerak cepat, memimpin dengan percaya diri, mengambil alih permainan. Tubuhnya menempel erat pada Dario, dan dia mengendalikan setiap gerakan, membuatnya jelas bahwa kali ini dia yang memegang kendali penuh. Tangan Dario berusaha menyentuh Viona lagi, tetapi dia menahannya, memberi isyarat bahwa sekarang Dario yang harus tunduk. "Jangan nakal! Biarkan aku yang bergerak," bisik Viona dengan suara rendah dan menggoda. Dia melanjutkan gerakannya, semakin cepat, semakin hangat. Dario hanya bisa mengerang, matanya tertutup menikmati setiap sentuhan dan gerakan Viona. Dia tak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Biasanya, dia yang memimpin, dia yang mengendalikan. Tapi kali ini, Viona mengubah segalanya. Ada sesuatu yang liar dan tak terduga dalam cara Viona bergerak. Dan itu membuat Dario benar-benar candu. "Terus...," desah Dario, napasnya berat. "Jangan berhenti." Viona tersenyum nakal. "Siapa bilang aku akan berhenti?" jawabnya. Dia semakin cepat, semakin dalam, memastikan bahwa Dario merasakan setiap detik dari apa yang dia berikan. Dario menggigit bibirnya, tubuhnya tegang di bawah kendali Viona. "Kau hebat, Viona," gumamnya antara mendesah dan tertawa. "Aku suka itu." Viona tahu dia sedang menang. Setiap gerakannya membuat Dario semakin tak terkendali. Bagian dari dirinya menikmati kemenangan ini—bukan hanya fisik, tapi juga emosi. Untuk pertama kalinya, dia kembali merasakan bahwa dia benar-benar memegang kendali, dan Dario kini tunduk padanya. Viona melanjutkan hingga akhirnya tubuh Dario tegang, dia mengerang keras saat puncak kenikmatan melanda. Viona, dengan senyum puas di wajahnya, perlahan mengurangi gerakannya, membiarkan Dario menikmati setiap detik pelepasan itu. Saat semuanya mereda, Viona masih duduk di atasnya, napasnya juga mulai teratur kembali. Dario menatapnya dengan ekspresi tersenyum puas. "Kau luar biasa," kata Dario dengan suara serak, masih terengah-engah. "Aku tidak akan pernah melepaskan kamu." Viona hanya tersenyum tipis, mengusap wajahnya yang berkeringat. "Aku bilang, aku akan membuatmu tak bisa berhenti memikirkanku. Aku terlanjur menjadi wanita tawananmu, Tuan Dario, maka aku akan menjalani peran ini meskipun hidupku terkurung sampai aku kehilangan kebebasan." Dario tertawa kecil, lalu menarik Viona ke dalam pelukannya. "Kau benar-benar sudah menerima kenyataan, ya?" katanya sambil mengusap punggung Viona. "Ya, untuk apa aku tangisi. Sepertinya kau suka itu," balas Viona sambil menatapnya penuh arti. Dario hanya mengangguk, bibirnya masih menyunggingkan senyum. "Lebih dari yang kau tahu." "Baik, aku akan menganggap kamu adalah bayiku, Tuan Dario. Tapi, aku minta kebebasan darimu." "Kebebasan hal apa? Apa kau menginginkan kebebasan berhubungan dengan laki-laki lain?" tanya Dario menatap intens. "Ya, salah satunya itu, Tuan Dario," ucap Viona, "Bagimu, aku hanya menjadi b***k nafsumu, saja, bukan? Tentu saja, aku pun menginginkan laki-laki yang tulus mencintaiku. Jadi, apakah Tuan Dario akan memberikan aku kebebasan?" Viona menatap Dario, berharap mendapatkan jawaban sesuai keinginannya. "TIDAK! Aku tidak akan memberikan kebebasan seperti itu padamu! Mengerti?" "Hah, mengapa? Yang penting aku setuju menjadi tawananmu, Tuan Dario."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD