Bab 5 : pengasuh bayi?

1001 Words
Viona duduk di sofa, ia tengah menggulir layar ponselnya dengan malas. Pikirannya masih kacau setelah kejadian di klub malam dua hari yang lalu. Namun, tiba-tiba matanya tertumbuk pada sebuah iklan di i********: yang menarik perhatiannya. Dicari pengasuh bayi. Gaji: Dua ratus ribu dolar per bulan. Viona hampir tidak percaya dengan angka yang tertera di layar. Gaji sebesar itu hanya untuk mengasuh bayi? Wow! Siapa yang tidak tertarik? Tentu saja, Viona sangat tertarik. Hanya menjadi pengasuh bayi, ia mendapatkan bayaran sebanyak itu. Kesempatan tidak akan datang dua kali, Viona akan memanfaatkan dengan baik meski dirinya belum berpengalaman. "Aku butuh uang, dan ini bisa jadi kesempatan bagus untuk aku," gumam Viona pada dirinya sendiri, lalu tanpa pikir panjang, ia mengirim pesan untuk mendaftar. *** Beberapa hari kemudian, Viona berada di depan sebuah mansion megah, tempat wawancara dilakukan. Seluruh proses seleksi sangat ketat. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan oleh dua orang juri—seorang wanita paruh baya berpenampilan rapi dan seorang pria dengan jas hitam yang dingin dan formal. "Selamat, Nona Viona Lovely. Anda diterima," kata wanita itu dengan senyum tipis. Dan akhirnya, setelah melewati tahap demi tahap, akhirnya Viona dinyatakan lolos. Ia masih tak percaya, dengan mudahnya ia lolos. Padahal Viona tidak memiliki pengalaman soal mengasuh bayi. "Terima kasih, Tuan, Nyonya. Tapi, bayi yang akan saya asuh di mana? Saya belum melihatnya," tanyanya. Sejak ia mengikuti tahap seleksi, ia tidak melihat bayi yang akan ia asuh. Pria berjas hitam itu hanya mengangguk, tanpa banyak bicara, lalu memberikan isyarat agar Viona mengikutinya. Mereka menaiki tangga menuju lantai atas rumah besar itu. Setelah beberapa langkah, mereka sampai di depan pintu. Pintu itu tertutup rapat, tidak ada suara apa pun dari dalam. "Ini kamarnya. Silakan masuk," ucap pria berjas itu, lalu mundur, membiarkan Viona masuk sendirian. Dengan sedikit ragu, Viona memutar gagang pintu dan mendorongnya perlahan. Kamar itu ternyata kosong, tanpa ada tanda-tanda keberadaan bayi yang seharusnya dia asuh. Hanya ada tempat tidur king size yang rapi, furnitur mahal, dan aroma kayu cendana yang memenuhi ruangan. Viona menatap sekeliling. "Mana bayinya?" gumamnya, bingung. Tiba-tiba, tanpa diduga, sepasang lengan kokoh memeluknya dari belakang. Viona terkejut dan segera berbalik, jantungnya berdegup kencang. "Aku bayinya," sebuah suara berbisik di telinganya. Suara yang sangat familiar membuat Viona membeku. Ia berbalik dan terbelalak saat melihat pria di depannya. "Tuan Dario?" suaranya hampir tidak keluar. Tubuhnya terasa dingin. Pria itu, pria yang kencan pertama dengannya, kini berdiri di depannya dengan senyum yang penuh arti. Dario hanya tersenyum miring, tampak puas melihat reaksi Viona. "Apa kau terkejut?" tanyanya, berjalan santai menuju tempat tidur sambil melepas jasnya. "Aku tahu kau tidak akan menolak tawaran sebesar itu. Aku sengaja membuat berita seperti itu hanya sebagai alasan untuk membuatmu datang padaku." Viona mundur perlahan, entah mengapa ia begitu takut. "Jadi ini semua jebakan? Kau sengaja memasang iklan itu?" Dario tertawa kecil, lalu duduk di tepi tempat tidur. "Bukan aku yang memasangnya, tapi aku yang mengaturnya. Aku tahu kau membutuhkan uang." Viona merasakan kemarahannya mulai mendidih, "Maaf, Tuan Dario, Saya memang butuh uang. Tapi, Anda telah menipu saya." Dario menatapnya tajam, tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Sudahlah, Viona, yang penting uang, kan?" "Tuan Dario. Maksud Anda, Saya jadi pengasuh Anda? Bukankah Anda sehat-sehat saja?" Viona masih bingung. Dario berdiri, mendekatkan wajahnya ke arah Viona. "Ya, aku ingin kau mengasuhku. Jangan sok polos, Viona, kau tahu sendiri apa maksudnya?." Viona terdiam sesaat, dan dia mengerti maksud dari ucapan Dario. Itu artinya.... "Saya tidak butuh uangmu, Tuan Dario," ucap Viona tegas. Dario mengangkat alis, tersenyum tipis. "Kau yakin tidak butuh uangku, Nona Viona?" Dario tersenyum menyeringai. "Ya, saya yakin, Tuan Dario. Saya lebih baik kerja di klub, melayani beberapa pria dari pada harus menjadi tawanan di sini. Dan itu artinya, kebebasanku dibatasi!" Viona memutar tubuhnya, ia memutuskan untuk pergi. Namun, saat Viona hendak membuka pintu untuk keluar dari kamar, tiba-tiba tangannya ditarik dengan kuat oleh Dario. Viona tersentak, berusaha melepaskan diri, namun genggaman Dario terlalu kuat. "Kau pikir kau bisa lari begitu saja?" kata Dario dengan nada dingin, menarik Viona kembali ke arahnya. "Apa maksudmu?" Viona menatapnya dengan bingung. Dario tersenyum sinis, tatapannya penuh kemenangan. “Sayangnya, kau tidak bisa lari. Kau sudah terikat kontrak, Viona.” Viona terdiam, bingung. “Kontrak apa? Aku tidak pernah menandatangani apa pun denganmu!” Dengan gerakan tenang, Dario mengambil sebuah dokumen dari atas meja kecil di dekat tempat tidur. “Kau lupa? Iklan yang kau lamar tadi. Kau sudah menandatangani kontrak saat mendaftar sebagai pengasuh 'bayi'.” Dia menyodorkan dokumen itu kepada Viona. Viona meraih kertas itu dengan tangan gemetar. Matanya menyusuri setiap kata di halaman tersebut, dan saat ia membaca, wajahnya pucat. “Ini tidak mungkin…,” bisiknya. Kontrak itu menyatakan bahwa Viona harus siap siaga kapan pun dibutuhkan dan harus memenuhi permintaan "majikannya"—yang tak lain adalah Dario—tanpa ada batasan. "Kau menjebakku," desis Viona dengan marah. “Tidak ada jebakan,” jawab Dario tenang. “Kau yang setuju untuk menandatangani kontrak itu. Kau tahu persis apa yang kau lakukan, Viona.” “Aku pikir ini hanya pekerjaan mengasuh bayi! Aku tidak tahu kalau kau akan menggunakan ini untuk memaksaku!” Dario mendekat, wajahnya semakin serius. “Aku sudah bilang sebelumnya, kau sudah terlanjur tandatangan. Dan sekarang, aku punya hak penuh atasmu.” Viona mencoba mundur, tapi Dario menariknya lebih dekat, hingga jarak mereka hanya beberapa inci. “Lepaskan aku!” Viona berusaha melawan, tapi Dario hanya tersenyum. “Kontrak sudah jelas. Kau milikku sekarang, dan aku ingin kau melayaniku di atas ranjang itu,” ucapnya. “Kau tidak bisa memaksaku! ” Dario menatapnya dengan mata yang tajam, penuh kendali. “Aku tidak perlu memaksa. Kau sudah setuju untuk ini saat menandatangani kontrak. Jangan salahkan aku, Viona.” Dengan gerakan cepat, Dario menariknya lebih dekat ke ranjang. Viona berusaha memberontak, tapi Dario jauh lebih kuat. Tubuhnya dipaksa duduk di tepi ranjang, sementara Dario berdiri di depannya, menatapnya dengan intens. Lalu, Dario mengangkat dagunya, menatap Viona dengan tatapan dingin. "Kau milikku," katanya, sebelum mendekatkan wajahnya, "Mulai sekarang, kau akan melayani aku sesuai dengan apa yang kau setujui di surat kontrak!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD