Bab 4 : Dua Ratus Juta Dolar?

1218 Words
Di sebuah ruangan, Dario duduk santai di atas sofa yang empuk, ia menunggu kedatangan Rere. Viona adalah wanita yang berbeda dari yang lain, dan Dario tidak akan membiarkannya lepas begitu saja. Dia sudah candu, dan ini bukan sekadar tentang nafsu—ada sesuatu tentang Viona yang membuatnya tak bisa berpaling. Pintu ruangan terbuka, Rere masuk dengan senyum kecil, "Selamat pagi presidir, ada apa Tuan memanggilku kemari?" tanyanya. "Apa yang bisa kubantu, Tuan Lucano?" Dario tersenyum menyeringai. "Aku ingin Viona," katanya langsung, tanpa basa-basi. "Aku ingin dia jadi milikku. Bukan cuma satu malam. Aku mau dia jadi teman ranjangku." Rere tertawa kecil, tapi suaranya terdengar sedikit kaku. "Viona? Serius, Tuan? Dia baru seminggu menjadi kupu-kupu malam di klub, dan sudah jadi primadona. Aku tidak bisa melepasnya begitu saja. Dan bukannya, Anda meniduri wanita hanya sekali pakai saja?" Rere sedikit menyelidik. Dario menatapnya tajam, "Aku tidak peduli apapun alasan kamu. Aku mau dia, dan aku tidak main-main soal ini. Kau mengerti?" Rere menghela napas, lalu mendudukkan dirinya di kursi di depan meja Dario. "Tuan, kau harus paham. Viona itu investasi besar buatku. Baru seminggu dia jadi wanita malam, dan dia sudah mendatangkan banyak keuntungan. Setiap malam, ada banyak pria yang rela bayar mahal hanya untuk ditemani dia. Kalau aku melepasnya, aku bakal rugi." Dario tersenyum tipis, seolah sudah menduga jawaban itu. "Berapa banyak kerugian yang akan kau dapatkan kalau dia berhenti bekerja untukmu?" Rere terdiam sejenak, matanya menatap Dario dengan penuh pertimbangan. Dia tahu pria ini bukan orang sembarangan. Dalam dunia yang dia geluti, nama Dario Lucano dikenal sebagai pengusaha besar. Dia tidak bisa asal bicara. Namun, Rere juga tidak ingin kehilangan keuntungan besar yang Viona berikan. "Dengar, Tuan," kata Rere dengan hati-hati, "Viona itu spesial. Aku tidak pernah lihat ada wanita malam yang begitu cepat naik daun seperti dia. Kalau kau benar-benar mau dia bebas dari kontrak, aku harus memastikan kerugianku tertutup." Dario mengangkat alis, masih terlihat tenang. "Sebutkan angkanya." Rere tersenyum sinis, lalu mengajukan harga yang dia pikir tidak akan mungkin diterima begitu saja. "Dua ratus juta dolar." Sebuah keheningan menyelimuti ruangan setelah angka itu keluar dari mulutnya. Rere mengira Dario akan bereaksi, ya mungkin marah, mungkin terkejut, tapi pria itu tetap tenang, seolah angka tersebut bukan apa-apa baginya. Dia hanya menatap Rere dengan pandangan dingin. "Dua ratus juta dolar?" ulang Dario, memastikan dia mendengar dengan benar. Rere mengangguk, meski ada sedikit keraguan di wajahnya. "Ya, Tuan. Dua ratus juta dolar, dan Viona bebas dari pekerjaanku." “Baik. Aku setuju." Mata Rere membelalak, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Tuan, kau serius?" Dario mengangguk. "Aku tidak pernah main-main soal ini. Kau akan dapat uangmu, dan aku akan mendapatkan Viona. Kita buat kesepakatan ini selesai secepatnya." Rere tersenyum lebar, merasa tidak percaya betapa mudahnya Dario menerima tawaran itu. "Baiklah, Tuan Lucano. Aku akan siapkan semua dokumen. Begitu uangnya masuk, Viona akan aku serakah padamu." Dario mengangguk lagi, lalu menatap Rere dengan mata tajam. "Dan satu hal lagi, Rere. Pastikan Viona tidak tahu tentang kesepakatan ini." Rere tertawa kecil, kali ini terdengar lebih santai. "Tentu, Tuan. Itu hal kecil yang bisa aku atur. Asal uangnya ada, semuanya bisa diatur." Setelah pembicaraan itu selesai, Rere berdiri, lalu memberikan Dario satu pandangan terakhir sebelum keluar dari ruangan. Dario tahu, kesepakatan ini akan segera membuatnya mendapatkan apa yang dia inginkan. Viona akan menjadi miliknya, dan ia tidak akan melepaskan wanita itu. Ia tidak peduli meski dalam waktu seminggu, Viona telah dijamah oleh para lelaki. Begitu pintu tertutup, Dario kembali duduk di kursinya, menghela napas panjang. Di pikirannya, wajah Viona terus menghantui. Wanita itu sudah menjadi candunya, dan dia tidak sabar untuk memiliki dia sepenuhnya. "Viona, kau akan menjadi milikku," gumam Dario pelan. *** "Apa? Aku dipecat, Mami? Kenapa? Salahku apa?" Viona berdiri dengan wajah memerah, matanya penuh dengan emosi. Ia tidak terima dengan kabar mengejutkan itu. Meski pekerjaannya kotor, ia tahu pekerjaan ini menguntungkan baginya. Uang yang ia dapatkan selama bekerja di klub sudah cukup untuk membuatnya menjalani hidup yang jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Rere duduk di sofa ruang tamu dengan ekspresi tenang, tidak terpengaruh oleh kemarahan Viona. "Ada pelanggan yang komen," ucapnya santai, sambil melirik kuku-kukunya yang baru saja dicat merah menyala. "Katanya kau jorok, bau, dan kelihatan penyakitan. Mereka takut ketularan, jadi lebih baik aku berhentikan kamu sebelum klubku kehilangan lebih banyak pelanggan." Viona membelalak tak percaya. "Itu tidak mungkin! Aku selalu menjaga kebersihanku. Bahkan, aku lebih bersih dari banyak wanita lain di sini. Tidak ada yang salah denganku, Mami!" teriaknya dengan nada tinggi. Rere menatapnya dengan dingin, lalu mengangkat bahu seolah tidak peduli. "Aku hanya menyampaikan apa yang dikatakan oleh para pelanggan. Mereka membayar mahal, Viona. Kalau satu orang saja merasa tidak puas, aku bisa kehilangan banyak uang. Dan aku tidak bisa ambil risiko." "Ini tidak adil! Siapa yang bilang begitu? Katakan siapa yang menuduhku!" Viona memaksa, suaranya gemetar antara marah dan terluka. "Aku tidak pernah jorok atau bau! Dan aku tidak penyakitan!" Namun, Rere tetap tak terpengaruh. Dia hanya menatap Viona dengan tatapan kosong, seolah tidak mau repot-repot mendengar pembelaan diri wanita muda itu. "Viona, sudah cukup. Aku sudah buat keputusan. Dan kau tidak punya hak untuk mempertanyakannya." Viona merasakan jantungnya berdebar keras. Seluruh tubuhnya bergetar karena marah. "Aku butuh pekerjaan ini, Mami! Kau tahu itu! Kau tidak bisa begitu saja membuangku hanya karena ada komentar bodoh dari seseorang yang mungkin tidak suka padaku!" Rere mengangkat tangan, memberi isyarat pada dua bodyguard besar yang berdiri di dekat pintu. "Aku tidak mau perdebatan ini berkepanjangan. Bawa dia keluar." Viona melangkah mundur ketika kedua bodyguard itu mulai bergerak mendekatinya. "Jangan berani-berani sentuh aku! Aku masih punya hak untuk bicara!" teriaknya dengan panik, tapi tidak ada rasa simpati di mata Rere ataupun bodyguard-nya. Kedua pria besar itu tidak menggubris teriakan Viona. Salah satu dari mereka meraih lengan Viona dengan kasar, sementara yang lain memegang bahunya, menyeretnya menuju pintu keluar. Viona mencoba melawan, meronta-ronta, tapi kekuatan mereka terlalu besar. "Lepaskan aku! Aku tidak jorok! Aku bersih!" teriaknya sambil mencoba melepaskan cengkeraman kuat dari kedua pria itu. Rere tetap duduk di tempatnya, menonton pemandangan itu dengan wajah yang tetap datar, tidak ada sedikit pun rasa kasihan. "Viona, sudah cukup. Kau tidak perlu datang lagi. Hidup di luar sana lebih luas daripada yang kau bayangkan,” katanya, lalu menghela napas, "Aku sudah terlalu baik padamu." Viona hampir menangis saat dia diseret ke luar, tapi dia menahan air matanya. Ini bukan sekadar soal kehilangan pekerjaan. Ini soal harga diri. "Kau akan menyesal, Mami! Aku tidak akan tinggal diam!" teriaknya sebelum pintu besar di belakangnya tertutup, mengunci dia dari tempat yang selama ini memberikan makan dan penghasilan. Dengan kasar, kedua bodyguard itu melepaskannya di luar gedung. Viona tersungkur di trotoar, wajahnya memerah karena marah. "Aku bersih! Aku tidak jorok!" bisiknya kepada dirinya sendiri, meski tidak ada orang yang mendengarnya. Pikirannya berputar-putar, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Semua ini terasa seperti jebakan. Tidak mungkin ada pelanggan yang benar-benar mengatakan itu. Mereka selalu puas dengannya. Lalu, kenapa Rere bertindak seperti itu? Ada sesuatu yang salah. Tapi siapa yang bisa memengaruhi keputusan Rere dengan begitu mudah? "Bagaimana, Rere? Apa kau sudah memecat Viona?" tanya Dario dari ujung telpon. "Sudah, Tuan. Saya sudah mengusir dia seperti seekor anjing seperti permintaan Anda." Dario tersenyum menyeringai, kemudian ia menutup telepon. "Viona Sayang, aku akan membuat kamu datang sendiri padaku," bisik Dario. "Setelah itu, aku tidak akan melepaskan kamu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD